Siera Mengintip

1126 Kata
“Lama-lama kamu jadi seperti ayahku saja, Mike,” sindir Edgar. “Seperti ayah Anda, maksudnya apa Bos?” Mike tidak mengerti. Mike mengerutkan keningnya. Dia berpikir, apa wajahnya kelihatan tua dan keriput seperti Tuan Frans? Mike melihat lagi kaca spion mobilnya. Ah, tidak juga, pikirnya. “Maksudku, kamu itu banyak omong dan sok ingin tahu,” kata Edgar memberitahunya. Dia langsung membuka pintu lalu keluar dari mobil Mike. Dia tidak sengaja menutup pintunya agak kekencangan tadi. “Astaga!” Mike mengelus d**a. Dia harus berusaha lebih sabar lagi dalam menghadapi tingkah atasannya yang satu itu. Setelah Edgar menjauh dari mobilnya Mike, dia berjalan menuju rumah kontrakannya, Mike pun melajukan mobil perusahaan meninggalkan Edgar. Dia menoleh ke arah Edgar yang sedang berjalan kaki di siang bolong itu. Cuaca cukup terik saat itu. Akhir-akhir ini cuaca di kota Glasgow sedang tidak menentu. Pada musim panas seperti saat ini, langit Glasgow terasa agak tenang, hangat, dan sangat cerah. Mungkin itu karena angin yang berembus berasal dari angin barat dan adanya aliran teluk. Aliran teluk membuat Glasgow terasa lebih hangat dari pada kota lainnya di Skotlandia. “Seharusnya aku mengambil cuti saat-saat seperti ini,” khayal Mike. Ah, mana bisa dia mengambil cuti. Libur satu hari saja Edgar langsung memburunya. Mana bisa Mike hidup tenang sebelum bosnya itu menikah, pikirnya. Selalu saja Mike yang dijadikan alasan Edgar jika dia sedang suntuk di rumah. “PAMAN EDGAR!” teriak Austin sembari melambaikan tangannya. Ketika dia melihat Edgar sedang berjalan ke arah yang sama dengannya.   “Ah, bocah itu memanggilku,” Edgar balas melambaikan tangan. Si kembar dan Siera berhenti di depan rumah. Sepertinya mereka menunggu Edgar juga masuk ke dalam rumah. Biar bareng saja mungkin masuknya. Tidak hanya Austin yang melambaikan tangan pada Edgar. Audrey pun melakukan hal yang sama. Hanya ibu mereka saja yang tidak melakukannya. Siera hanya tersenyum melihat Edgar pulang ke rumah. Agak gengsi kayaknya. Mana mungkin dia bersikap seperti kedua anaknya. Itu kan norak sekali. Kekanak-kanakan, pikirnya. “Paman, tadi Bu Guru nanyain Paman,” kata Austin memberitahu. “Oh ya?” Edgar antusias sekali ingin segera mendengar cerita si kembar di sekolah. “Paman!” Audrey menarik-narik sweater hoodie Edgar. “Kenapa Paman tidak menjemput kami di sekolah?” tanyanya dengan nada mengeluh. Raut wajahnya terlihat agak kecewa. Karena Edgar tidak menjemput mereka di sekolah. “Karena Paman ada urusan sebentar di luar rumah. Maaf, ya! Untung ada Ibu yang menjemput kalian,” hibur Edgar sambil mengusap kepala si kembar bergantian. “Dari mana kamu tahu aku akan menjemput anak-anak?” Siera heran. “Ah, itu…” Edgar menggaruk kepalanya. Dia keceplosan lagi bicara. Dia langsung menyadarinya setelah Siera bertanya. Oow! Hampir saja ketahuan. Bukannya dia sendiri yang tadi menyuruh Siera pulang dan menjemput anak-anaknya di sekolah? “Aku hanya menebak saja,” sangkal Edgar semampunya. “Gara-gara Paman tidak menjemput kami, jadinya jatah jajan es krim kami berkurang,” keluh Audrey sambil mendengus kesal. “Maaf ya,” sesal Edgar. “Nanti Paman akan menggantinya. Besok, ya. Dua kali lipat deh!” janjinya. Si kembar saling beradu pandang. “Benarkah?” Kompak keduanya. Edgar mengangguk mantap. “Sekarang kalian berdua ganti baju, makan siang dulu. Nanti main lagi sama Paman. Oke?” kata Edgar menasihatinya. Siera tersenyum memerhatikan cara Edgar memperlakukan anak-anaknya seperti anak sendiri. Eh! Kenapa Siera jadi membayangkannya seperti itu? Siera menggelengkan kepala, membuyarkan lamunan yang baru saja terlintas di benaknya. “Kamu istirahat saja, Edgar. Hari ini, biar aku saja yang menjaga anak-anak,” kata Siera berbaik hati meliburkan Edgar dari pekerjaannya mengasuh si kembar. “Serius nih? Aku boleh libur dulu?” Edgar memastikannya lagi. Siera manggut-manggut, mengiyakannya. “Kalau kamu mau tidur, silakan saja. Sepertinya kamu kelelahan menjaga anak-anakku setiap hari. Aku akan menggantikan hari minggumu yang kemarin,” Siera meyakinkan Edgar. “Baiklah kalau begitu. Jangan bangunkan aku seharian ini! Aku tidak menerima mengasuh dadakan. Mengerti?” Edgar memperingatkan. Siera mengangguk lagi. “Aku mengerti. Selamat beristirahat!” ucap Siera. Keduanya mulai berpisah memasuki ruangan masing-masing. Edgar segera merebahkan tubuhnya di kasur empuk, di kamarnya. Dia bernapas lega. Akhirnya hari ini dia bisa libur sejenak. *** Malam semakin larut. Edgar terbangun dari tidur panjangnya. Dia tidak sadar jika hari sudah malam. “Astaga! Apa aku ketiduran selama ini?” Edgar meraba ponselnya. Dia melihat banyak notifikasi di layar ponselnya. Kepalanya terasa pusing sekali. Dia mencoba beranjak dari tempat tidurnya. “Tuh, kan! Beneran puyeng kepalanya.”   Perutnya mulai keroncongan. Dia melewatkan makan siang tadi. Ya ampun! Dia harus segera mengisi perutnya malam ini. Edgar keluar menuju mini market terdekat. Dia akan membeli makanan cemilan dan mie instan saja di mini market, katanya. Beberapa menit kemudian, Edgar kembali dari mini market membawa kantung belanjaan. Banyak sekali barang-barang yang dibelinya. Ketika pulang ke rumah, dia melihat Siera sedang duduk di teras depan rumah sambil memerhatikan cahaya bulan purnama. “Kamu belum tidur?” tanya Edgar ketika mendekatinya. “Anak-anak sudah tidur?” “Belum. Kalau anak-anak, mereka sudah tidur duluan,” jawab Siera. “Begitu rupanya. Padahal, aku membeli banyak sereal dan s**u kotak untuk mereka. Simpan saja untuk sarapan pagi besok,” kata Edgar. Sembari menyerahkan kantung belanjaan satunya lagi pada Siera. “Kenapa kamu repot-repot segala, Edgar?” Siera jadi merasa tidak enak pada Edgar. “Tidak apa-apa. Anggap saja itu untuk mengganti janjiku yang tidak bisa membelikan mereka es krim tadi siang.” “Ah, iya. Ngomong-ngomong, terima kasih banyak ya, Edgar,” ucap Siera. Kriuk-kriuk! Di tengah keheningan malam, di kala pembicaraan antara keduanya sedang ada jeda sejenak, tiba-tiba saja suara perut Edgar berbunyi. Aish! Itu kan memalukan sekali, pikir Edgar. Menyebalkan, gerutunya dalam hati. Siera menoleh ke arah Edgar. Kemudian, wanita manis itu menertawakannya. “Kamu belum makan, Edgar?” Edgar nyengir kuda. Ketahuan ya kalau dia belum makan seharian ini? Jangan salah sangka dulu, Siera. Perutnya mendadak live concert bukan karena dia tidak mampu membeli makanan. Tetapi, karena dia lupa. Saking nyenyaknya tidur siang tadi. Bangun-bangun malah sudah hampir larut malam. “Masuklah! Aku tadi masak makan malam agak banyak,” ajak Siera. Tadi, Siera mau membangunkan Edgar ketika makan malam. Sayang sekali, suara pintu kamar yang diketuk Siera tidak kedengaran oleh Edgar. Bablas. Siera berpikir mungkin Edgar masih tidur. Karena dia tak sengaja mengintip di celah-celah jendela kamarnya. “Maaf, ya! Aku tadi tak sengaja mengintip,” Siera memberitahu Edgar. “Apa?” Edgar membelalak kaget. Uhuk-uhuk! Dia langsung batuk-batuk, keselek mendengarnya. Siera segera membawakan Edgar segelas air putih. Kemudian, dia juga memukul-mukul punggung Edgar dengan pelan. “Minum dulu! Kamu tersedak Edgar,” Siera jadi khawatir. Jika Siera mengintip barusan di sebuah lubang kecil dekat jendela kamarnya, apa dia juga melihat cara Edgar tertidur yang tidak biasa? Jika iya, dia melihat segalanya hancur sudah masa depan Edgar. Aibnya akan segera terbongkar. ***            
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN