Siera tertawa. Sudah dipastikan jika dia melihat sesuatu yang tidak layak untuk dilihat. Edgar mendadak diam. Dia menundukkan kepala dan tidak berani menatap Siera. Malu sekali rasanya.
“Aku kelihatan konyol jadinya,” gerutu Edgar. Dia tidak menghabiskan makanannya.
“Edgar, kamu kenapa?” tanya Siera keheranan.
“Ah, tidak apa-apa,” sangkal Edgar. Dia menutupinya.
“Habiskan makanannya! Setelah itu, bawa piring kotornya ke dapur,” kata Siera. Dia beranjak dari tempat duduknya. Kemudian, dia menutup semua jendela dan pintu belakang.
“Siera!” panggil Edgar. Siera menoleh ke arah Edgar.
“Apa ada yang aneh denganku ketika sedang tidur tadi?” Edgar memberanikan diri melontarkan pertanyaan itu pada Siera.
“Aneh?” Siera mengerutkan dahi. “Aneh bagaimana maksudmu?”
Bagaimana ya, menjelaskannya? Sebenarnya, Edgar memiliki keunikan khusus saat sedang tidur. Dia kadang-kadang suka meracau tidak jelas. Kadang juga suka berpindah-pindah tempat tidurnya. Yang paling parah lagi, dia sering tertawa, menangis, atau berteriak sendiri ketika sedang berada di alam bawah sadarnya.
Yang ingin Edgar tanyakan, apakah Siera melihat keanehan-keanehan itu? Karena bagi Edgar, itu suatu yang tidak boleh diketahui orang lain selain dirinya sendiri.
“Oh, itu rupanya,” Siera mengerti. Edgar menunggu Siera melanjutkan lagi kalimatnya. Dia jadi tidak sabaran.
“Ya. Kamu agak aneh, Edgar,” kata Siera memberitahunya.
“Astaga!” Edgar menepuk jidatnya sangat keras. “Sudah kuduga dia melihatnya. Aibku terbongkar.”
Edgar pasrah ketika Siera mengetahui aibnya. Terserahlah! Edgar sudah tidak berselera lagi sekarang. Moodnya hancur seketika dan dia akan kembali lagi saja ke kamarnya.
“Edgar! Bagiku, itu tidak masalah. Jadi, untuk apa kamu mempermasalahkan tentang hal itu,” hibur Siera.
Edgar tersenyum sekilas menanggapinya. Terlambat. Harga dirinya sudah hancur berkeping-keping seperti bom atom yang sudah meledak.
“Aku mau ke kamarku dulu. Permisi,” pamit Edgar sambil berlalu.
“Baiklah, kalau begitu,” Siera mempersilakannya. Dia tersenyum lagi.
***
Edgar melihat Siera pergi tergesa-gesa keluar rumah. “Kenapa dia berlarian seperti itu?” Edgar heran.
Edgar yang begitu penasaran akhirnya membuntuti Siera tanpa sepengetahuannya. Wanita itu pergi ke mini market terdekat. Kira-kira Siera sedang membeli apa di sana? Kenapa wajahnya kelihatan panik sekali?
Siera membeli obat rupanya. Tetapi, obat untuk apa? Edgar mendekatinya usai dari mini market.
“Kenapa kamu keluar malam-malam begini?” tanya Edgar.
“Aku… beli obat paracetamol untuk si kembar,” jawab Siera. “Tetapi, di mini market sedang kosong. Sementara, apotek sudah tutup semua. Apa yang harus kulakukan Edgar?” jelasnya.
“Mereka demam?” tebak Edgar. Raut wajahnya langsung berubah panik.
“Suhu badannya cukup tinggi. Edgar bisakah kamu membantuku?” Siera meminta bantuannya.
Edgar bersedia membantu Siera. Dia akan pergi mencari apotek yang buka 24 jam. Sementara, Siera pulang saja dulu ke rumah untuk merawat si kembar. Siera setuju. Dia bergegas kembali ke rumahnya. Sedangkan Edgar langsung mencari apoteknya.
“Apa yang terjadi pada si kembar? Kenapa mereka bisa terkena demam?” pikir Edgar dalam perjalanan mencari apotek.
Edgar yang masih diliputi rasa khawatir. Dia berlarian ke sana ke mari mencari apotek yang buka 24 jam. Ke mana lagi dia harus mencarinya? Dia berlari lagi sampai menemukannya. Dengan napas terengah-engah, Edgar terus berlarian tanpa merasa lelah.
“Audrey! Austin! Bertahanlah sebentar lagi,” mohon Edgar dalam hati.
Edgar melihat apotek yang akan menutup gerainya. Sebelum mereka menutupnya, Edgar mempercepat langkahnya dan berhasil mencegah petugas apotek menutup gerainya.
“Tunggu!” seru Edgar. “Jangan dulu tutup! Aku mau membeli obat penurun panas untuk anak-anak,” ucapnya dengan terputus-putus.
“Sebentar!” Petugas apotek itu membuka kembali gerainya dan melayani Edgar.
Syukurlah. Obat penurun panasnya sudah Edgar dapatkan. Dia pergi dengan cepat menuju rumah kontrakannya.
“Ini obatnya!” kata Edgar menyerahkan obat penurun panas pada Siera.
Kasihan sekali kedua anak itu. Mereka menggigil kedinginan. Edgar hendak menyelimutinya. Namun, Siera menahannya.
“Jangan! Biarkan saja. Jika diselimuti panasnya tidak akan turun. Aku sudah memberi mereka obat penurun panasnya. Sebaiknya kita biarkan saja mereka tertidur malam ini,” kata Siera memberitahu Edgar.
“Beneran, mereka tidak akan kenapa-kenapa?” Edgar masih mengkhawatirkan si kembar. Siera meyakinkannya.
“Tidak apa-apa. Aku sudah terbiasa menangani hal ini.”
Edgar dan Siera keluar dari kamar si kembar. Mereka duduk-duduk dulu si sofa ruang tamu. Edgar ingin tahu, apa yang sebenarnya terjadi pada Audrey dan Austin. Siera pun menjelaskannya. Agar Edgar tidak lagi penasaran.
Kata Siera, si kembar kecapaian saja. Biasa anak-anak memang suka begitu. Terlalu aktif dengan kegiatannya di sekolah dan di luar rumah membuat mereka kelelahan dan virus mudah menyerah mereka jika sistem imunnya sedang dalam keadaan drop. Setelah demam, biasanya akan diiringi dengan batuk dan pilek. Itu hal biasa yang terjadi pada penyakit anak-anak. Tetapi, nantinya bisa baikan lagi, kok.
“Lalu, apa mereka besok tetap akan ke sekolah?” tanya Edgar.
“Tergantung. Kita lihat dulu perkembangannya malam ini dan besok pagi. Jika demamnya tidak turun, terpaksa mereka tidak bisa pergi ke sekolah,” jawab Siera.
“Semoga mereka bisa cepat sembuh,” harap Edgar. Siera juga mengharapkan seperti itu.
Siera menyuruh Edgar untuk pergi tidur. Tetapi, Edgar menolaknya. “Aku akan menjaga anak-anak di sini. Kamu istirahat saja. Besok pagi, bukannya kamu harus berangkat kerja?” kata Edgar.
“Kamu tidak tidur?”
“Aku baru saja bangun tadi malam. Jadi, rasa kantukku hilang. Aku akan menjaga mereka. Jika ketiduran, aku bisa tidur di dekat mereka,” Edgar beralasan.
“Baiklah, kalau begitu. Aku ke kamarku dulu. Terima kasih sudah mau menggantikanku menjaga anak-anakku,” ucap Siera. Seraya berterima kasih pada Edgar.
Siera pergi meninggalkan kamar anak-anaknya. Kini, tinggallah Edgar bersama Audrey dan Austin. Dengan telaten, Edgar mengompres dahi Audrey dan Austin secara bergantian. Dia juga mengukur suhu badan kedua anak itu setiap setengah jam sekali.
“Kasihan sekali mereka,” Edgar merasa iba.
Dalam hatinya, Edgar bertekad. Jika suatu hari nanti dia bisa mengembalikan nama baiknya dan hidup normal lagi dengan semua kekayaannya, dia akan menjamin hidup si kembar tidak akan kekurangan. Dia akan membantu biaya pendidikan si kembar hingga ke perguruan tinggi.
“Cepatlah sembuh, anak-anak! Kita akan bermain lagi. Paman janji akan mengajak kalian jalan-jalan lagi suatu hari nanti,” kata Edgar optimis.
Siera mendengar perkataan Edgar sebelum dia benar-benar pergi meninggalkan kamar anak-anaknya. Dia masih memerhatikan cara Edgar merawat kedua anaknya bak seorang ayah yang sedang menjaga anak-anaknya.
Momen langka yang tidak didapatkannya pada suaminya yang terdahulu. Karena ayah kandung si kembar selalu sibuk bekerja di kantor. Nyaris tidak pernah ada waktu luang untuk menemani Audrey dan Austin.
Tak terasa Siera menitikkan air mata melihat cara Edgar yang begitu menyentuh hatinya. Sosok seperti Edgarlah yang sangat dibutuhkan oleh Audrey dan Austin saat ini. Lalu, apakah Siera mulai mempertimbangkan lagi perasaannya? Tetapi, bagaimana dengan Adam? Pria itu juga masih sangat mengharapkan bisa kembali pada Siera.
***