“Siera, boleh aku menemuimu besok pada jam makan siang?” tanya Adam. Ketika pria itu menghubungi Siera via telepon.
“Aku tidak bisa,” tolak Siera, segera.
“Kenapa? Bukankah besok hari Sabtu? Kamu tidak bekerja diakhir pekan, bukan?” Adam memastikannya lagi.
Siera bilang tidak bekerja. Justru karena waktu akhir pekanlah, Siera ingin menghabiskan waktu bersama keluarganya. Anak-anaknya, Audrey dan Austin. Siera meminta maaf karena tidak bisa memenuhi undangan makan siang bersama Adam.
Adam agak terkejut mendengarnya. Bukankah Siera kini sudah punya pengasuh anak-anaknya di rumah? Kenapa tidak dititipkan saja pada pengasuhnya itu, pikir Adam. Siera tetap menolaknya. Dia bilang, lain kali saja ketemunya. Mungkin saat pulang jam kerja, Siera bisa mampir terlebih dahulu ke tempat Adam bekerja.
“Hari Senin, biar aku saja yang ke tempatmu, Dam,” Siera memberi solusi. “Apa kamu ada waktu luang di hari Senin?” tanyanya agak meragukan.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Karena jadwal operasiku biasanya tidak menentu. Kalau begitu aku akan mengabarimu lagi nanti,” jawab Adam. Seraya beralasan pada Siera. Dia juga tidak bisa menjanjikan apa-apa pada Siera. Takutnya dia berbicara tidak sesuai dengan ekspektasinya.
Klik!
Siera menutup teleponnya. Usai berbicara dengan Adam, dia mulai merasa bimbang. Di satu sisi, dia sangat membutuhkan kehadiran seorang pendamping hidup. Dia pikir, Adamlah orang cocok dan bisa mengisi ruang kosong di hatinya. Tetapi, di sisi lain, dia juga sangat membutuhkan sosok seorang ayah untuk kedua anaknya, Audrey dan Austin.
“Bagaimana ini?” Siera tidak bisa menentukan pilihan.
“Apanya yang gimana, Siera?” tanya salah seorang rekan kerjanya. Seorang petugas keamanan wanita.
“Aku lagi bingung. Menurutmu, mana yang harus didahulukan pendapat anak-anak atau hati nuraniku?”
“Apa? Kamu ini bicara apa sih?” Temannya Siera tidak mengerti maksud ucapannya itu.
Terang saja tidak mengerti. Siera asal bertanya saja. Dia pikir, temannya itu bisa menjawab pertanyaannya dengan cepat dan simple. Ternyata, untuk menemukan jawabannya saja temannya itu harus berpikir berulang kali hingga bisa mencerna perkataannya.
“Kalau begitu, lupakan saja! Itu tidak penting,” Siera mengurungkan niatnya. Tidak jadi memberitahukan permasalahan rumah tangganya kepada rekannya itu.
“Ya sudah. Kembali lagi bekerja! Karena CEO kita katanya sedang mengawasi pekerjaan kita. Jangan sampai kita ketahuan mengobrol di jam kerja!” Teman Siera memperingatkannya.
***
“Hey, Edgar!” seru tetangga sebelah, si Ibu gemuk. Dia melambaikan tangannya ke arah Edgar dan menyuruhnya untuk segera mendekat.
“Ada apa, Bu?” tanya Edgar setelah mendekati ibu itu.
“Si kembar katanya sedang sakit? Sakit apa?” bisiknya.
“Oh, itu… biasa. Demam katanya,” sahut Edgar.
“Pantas saja kata anakku, si kembar nggak masuk sekolah. Ternyata, mereka sedang sakit rupanya.” Ibu gemuk itu manggut-manggut, seolah mengerti.
“Apa Siera sudah membawa mereka ke dokter? Setahuku, mantan kekasih Siera kan seorang dokter,” Ibu yang bertubuh bulat besar itu memberitahukan Edgar lagi.
“Seorang dokter?” Edgar mengerutkan kening. Dia bahkan tidak tahu tentang soal itu.
“Masa sih kamu tidak tahu? Kamu kan kerabat dekat Siera,” si Ibu itu menyipitkan mata dan merasa heran dengan sikap yang ditunjukkan Edgar yang serba lemot. Selalu saja begitu. Edgar selalu telat mendapatkan informasi yang berhubungan langsung dengan Siera.
“Permisi, Bu! Aku harus kembali mengecek keadaan si kembar,” pamit Edgar. Dia langsung masuk ke rumah dan menutup rapat-rapat pintu rumahnya.
Seorang dokter? Edgar mengulanginya lagi. Jika memang benar demikian, kenapa Siera tidak membawa si kembar untuk diperiksakan pada mantan kekasihnya itu? Ah, Edgar tahu alasannya sekarang. Mungkin, karena Siera gengsi meminta bantuan sang mantan. Edgar menyimpulkannya demikian.
Edgar memeriksa kembali suhu tubuh si kembar. Keduanya masih terbaring lemah di tempat tidur masing-masing.
“Paman, apa kami akan terus-terusan sakit? Atau jangan-jangan kami akan segera meninggal?” tanya Austin putus asa. Bocah laki-laki nan cengeng itu sudah menitikkan air mata hingga membasahi pipinya.
“Siapa bilang kalian terus-terusan sakit? Jangan dong! Terus nanti Paman mainnya sama siapa kalau bukan dengan kalian?” hibur Edgar. Seraya menenangkan pikiran kedua anak itu.
“Dan… jangan bilang soal kematian lagi, ya! Kalian akan berumur panjang dan tetap sehat. Masa depan kalian masih jauh di sana. Sudah-sudah! Jangan dipikirkan lagi tentang hal itu, ya,” Edgar menasihati.
“Kamu sih, Austin! Ngomongnya kok sembarangan,” tegur Audrey, selaku sang kakak.
“Aku kan cuma bertanya saja pada Paman Edgar,” Austin tidak mau kalah.
“Nanyanya biasa aja dong! Masa nanya-nanya soal meninggal sih?” Audrey agak kesal dengan sikap adiknya. Ditegur, Austin malah balik sewot.
“Sudah-sudah! Jangan berantem lagi! kalian kan masih sakit butuh banyak istirahat. Kalau berantem terus kapan sembuhnya. Iya, kan?” Edgar menengahi. Dia melerai pertengkaran mulut antara Audrey dan Austin.
Seharian ini, Edgar menghabiskan waktunya untuk merawat dan menjaga anak-anaknya Siera. Bahkan, dia tidak bisa tidur karena semalaman harus terjaga demi si kembar. Sekarang, Edgar akan membuatkan bubur hangat untuk Audrey dan Austin. Sudah masuk jam makan siang. Jadi, Edgar akan memasak untuk anak-anak itu.
“Tunggu di sini, ya! Paman akan masakin bubur untuk kalian. Pasti, kalian lapar, kan?” tebak Edgar.
“Iya, Paman. Aku lapar banget,” keluh Austin sembari mengelus-elus perutnya yang rata.
“Paman mau masak bubur apa?” Audrey tertarik mendengarnya.
“Cuccia. Kalian suka pakai toping cokelat atau buah-buahan?” kata Edgar memberi mereka pilihan. Kedengarannya sangat lezat. Memangnya Edgar bisa masak? Secara, dia tidak pernah melakukannya.
“Apa saja, Paman. Yang penting masakan Paman bisa kami makan,” gurau Audrey.
Wah, Audrey meremehkan Edgar. Dia belum tahu saja, kalau Edgar yang doyan makan pernah juga membuatnya dahulu di rumah.
“Baiklah. Tunggu saja di kamar! Setelah jadi buburnya, Paman akan antarkan ke sini.”
Si kembar, Audrey dan Austin mengangguk mantap. Mereka jadi tidak sabaran bakalan selezat apa masakan Edgar nantinya.
Oke. Edgar bersiap-siap di dapur. Dia mulai menyiapkan bahan-bahannya lebih dahulu setelah membaca resep di internet. Cuccia atau disebut juga dolce di Santa Lucia merupakan dessert khas Sissilia.
Bahan-bahan yang digunakan pun tidak terlalu ribet kok. Edgar hanya perlu menyiapkan gandum, keju ricotta, dan gula. Sedangkan untuk topingnya dia akan menambahkan cokelat hitam, kayu manis, dan manisan buah.
Beberapa menit kemudian, bubur buatan Edgar pun kini sudah siap untuk dihidangkan. Semoga saja hasilnya memuaskan dan rasanya lezat seperti ekspektasinya.
“Taraaaa! Akhirnya jadi juga,” Edgar kelihatan senang sekali melihat hasil bubur buatannya. “Kira-kira, anak-anak bakalan suka tidak ya?”
Edgar mencicipinya sedikit. Rasanya… lumayanlah! Terasa di lidah. Audrey dan Austin diam-diam mengintip di balik dinding ruang dapur. Keduanya saling beradu pandang dan tersenyum licik. Seolah-olah, mereka sedang merencanakan sesuatu untuk Edgar.
“Ingat! Ini rahasia kita,” Audrey memastikan Austin terlebih dahulu.
***