Pizza Party

1109 Kata
“Audrey! Austin! Ayo makan dulu!” ajak Edgar pada si kembar. Kedua anak itu langsung duduk manis di meja makan. Sambil menunggu Edgar menghidangkan buburnya. “Cicipi dulu! Setelah itu, makannya pelan-pelan saja ya,” kata Edgar menasihati. Si kembar kelihatan mengangguk. Sekilas. “Bagaimana? Enak tidak bubur buatan Paman?” Edgar tak sabaran menunggu komentar si kembar. Tidak lama kemudian setelah mencicipi Cuccia Edgar, Austin merasa agak mual-mual. Sementara, Audrey mengerutkan kening hingga berlipat-lipat. Apa Cuccia buatan Edgar rasanya tidak enak dan tidak layak dimakan? Padahal, tadi dia sudah mencicipinya kok. Rasanya enak. Tidak ada masalah, pikirnya. “Ada apa Austin?” Edgar langsung kena serangan panik. Dia mengambilkan air minum untuk Austin. Lalu, dia menoleh ke arah Audrey. “Audrey, bagaimana menurutmu?” Edgar mengalihkan. Baik Audrey maupun Austin, keduanya terdiam cukup lama. Mereka saling beradu pandang tak menjawab pertanyaan Edgar. Akhirnya, Edgar penasaran dan mencicipinya sendiri. “Enak, kok,” kata Edgar. “Kalian tidak suka, ya? Mau Paman buatkan yang lain?” tawarnya. Si kembar terdiam lagi. Sebenarnya mereka ini kenapa sih? Edgar jadi bingung karena usia makan Audrey dan Austin tidak bicara sepatah kata pun. "Paman Edgar, tidak usah!" cegah Audrey. "Sebenarnya, kami ingin makan yang lain." "Katakan saja! Kalian mau makan apa?" tantang Edgar. "Es krim," pinta Austin. "Banana split," pinta Audrey. Berbeda dengan Austin. Namun, tetap saja sama-sama es krim permintaan mereka. Baiklah. Edgar akan membelikannya di mini market terdekat. Tetapi, dengan satu syarat. Apa itu? Keduanya kompak tak sabaran menanti Edgar melanjutkan perkataannya. Sepertinya mereka akan melakukan apa saja demi mendapatkan es krimnya. "Habiskan dulu Cuccia yang Paman buatkan! Setelah kalian menghabiskannya, barulah Paman akan membelikannya," kata Edgar memberitahu keduanya. Rencana Audrey dan Austin gagal total. Keinginannya makan es krim malah dijadikan syarat oleh Edgar. "Biar mereka jera saja dan sama-sama enak. Jadi, aku tidak merasa rugi karena sudah membuatkan mereka Cuccia," ujar Edgar dalam hati. Dia paling bisa bernegosiasi. Dengan anak-anak sekali pun. Seperti yang Edgar duga sebelumnya, anak kembar itu akan menuruti apa saja yang diperintahkan Edgar asal bisa mendapatkan jatah makan es krimnya. Meski pun keduanya dalam keadaan demam. Edgar mengawasi keduanya. Takutnya mereka berbuat curang. Dia mengamati gerak-gerik keduanya sambil menyilangkan kedua tangan di d**a. Ya ampun! Saking tidak percayanya Edgar kepada Audrey dan Austin. Dia sampai berbuat seperti itu, memata-matai mereka. Membuat mereka tidak nyaman saat menikmati makanannya. Usai menghabiskan makanannya, si kembar pun menagih janji pada Edgar. Tentu saja, Edgar akan menepati janjinya. Dia bukan tipe pria dewasa yang suka ingkar janji. Apalagi janjinya pada anak kecil. Tetapi, Edgar harus memastikan lebih dahulu kondisi kesehatan si kembar. “Paman akan mengecek suhu tubuh kalian. Kalau masih panas Paman akan membatalkan es krimnya,” kata Edgar yang berlalu mengambil thermometer. “Gawat, bagaimana ini?” ucap Austin saat melirik pada kakaknya. Edgar kembali dengan thermometer di tangannya. “Jika salah satu dari kalian masih panas, terpaksa Paman juga akan menundanya sampai kalian berdua benar-benar sembuh. Kalian mengerti?” Audrey tertunduk lesu mendengar syarat yang diajukan Edgar begitu berat baginya. Dia merasa suhu tubuhnya masih panas. Dengan cepat Audrey menempelkan telapak tangannya di dahi. Dia harus memastikannya sendiri. Bahwa dirinya sudah sembuh dari demam. “Austin, panasmu sudah turun,” kata Edgar yang sudah memeriksa suhu tubuhnya. “Hore!” Austin bersorak. Sekarang, giliran Audrey yang akan diperiksa oleh Edgar. Dia menolak untuk diperiksa. “Lah, kenapa kamu menghindariku Audrey?” Edgar heran. “Aku…” Audrey merasa ragu-ragu ketika Edgar menghampirinya. “Kamu tidak mau makan es krimnya? Atau kamu sudah berubah pikiran?” tanya Edgar memastikannya lagi. “Audrey, ayolah! Tunggu apalagi? Kita bisa cepat-cepat makan es krim sebelum ibu pulang nanti,” bujuk Austin pada kakaknya. Agak takut untuk memeriksakan dirinya pada Edgar, Audrey terpaksa mendekatinya sambil memejamkan mata. Sepertinya anak itu sudah pasrah. Terserah nanti hasil pemeriksaannya akan seperti apa. “Audrey, kamu…” Edgar terputus-putus menjelaskan hasilnya. “Ada apa Paman?” Audrey sudah menduganya. “Masih panas, ya?” tebaknya. Edgar mengangguk mantap. Austin dan Audrey agak kecewa mendengar hasilnya. Rupanya Audrey masih demam. Kalau begitu jajan es krimnya tidak jadi saja. Kasihan sekali mereka. Audrey melirik Austin dan tengah menundukkan pandangannya saking kesal dan menahan kecewa. “Paman, aku tidak apa-apa tidak dibelikan es krim juga. Yang penting, Austin dibelikan,” kata Audrey yang berusaha mengalah demi adiknya. “Sungguh?” Edgar terkejut mendengar keputusan Audrey. Dia merasa terharu dengan kesungguhan Audrey yang mau mengalah demi membuat adiknya senang. “Audrey, kalau kamu nggak makan, maka aku juga nggak akan makan,” ucap Austin. “Austin, kamu kan kepengin banget makan es krimnya?” “Tapi, kalau kamu tidak makan, gimana bisa aku makan sendirian?” Sekali lagi, Edgar dibuat haru oleh kedua bocah itu. Dia tidak menyangka dari si kembar, Edgar belajar tentang arti kebersamaan dan solidaritas. Begitu kuatnya ikatan batin di antara keduanya. Mungkin karena mereka kembar, kakak beradik. Jadinya, satu sama lain saling merasakan. Pikir Edgar begitu. “Ya sudah. Kita tunggu hingga sore. Gimana? Kalau sore ini Audrey belum turun panasnya kita tunda dulu jajan es krimnya. Tapi, jika ada keajaiban Audrey demamnya turun, Paman akan membelikannya untuk kalian,” janji Edgar. Dia mengambil jalan tengah dan memberi solusi dari permasalahan si kembar. “Benar nih, Paman?” Austin menyipitkan mata. Tak percaya begitu saja. “Janji!” Edgar memastikannya lagi. Dia menyilangkan kelingking, tanda perjanjian dengan Audrey dan Austin telah disepakati. Beberapa jam kemudian, kedua anak itu masih menunggu dengan sabar. Menanti setiap detik jarum jam yang berdetak di dinding ruangan tengah. Agak membosankan dan terasa lama sekali. Tetapi, Edgar punya cara lain agar si kembar tidak jenuh. “Kalau es krimnya diganti Pizza, mau nggak?” Edgar menawarkan. “Boleh juga, Paman!” Audrey langsung setuju. Begitu juga dengan Austin. Keduanya langsung bersorak kegirangan. Menurut Edgar, makanan itu cukup aman dikonsumsi orang sakit. Syukurlah. Mereka tidak terlalu kecewa setelah Edgar mengganti menu jajannya. Edgar merogoh saku celananya. Gawat! Dia tidak memiliki uang sepeser pun. Lantas, tak mau ambil pusing, Edgar langsung menghubungi dan menyuruh Mike untuk membelikan, lalu mengirimkan pizza ke rumah. Dalam waktu beberapa menit, terdengar bunyi bel rumah. Sepertinya pengirim pizzanya sudah datang. Edgar segera keluar dari rumah dan menerima kiriman pizzanya. “Terima kasih, ya,” ucap Edgar. Dia membawa pizzanya ke rumah dan buru-buru disambut oleh si kembar. “Anak-anak, apa kalian sudah lapar?” tanya Edgar sambil memandangi pizzanya di depan mata. “Hmm,” kompak keduanya. “Kalau begitu, cepat kita habiskan pizza ini!” “Siap, Paman!” Si kembar sudah siap-siap mengambil potongan pizzanya. Dalam hitungan ketiga, mereka akan menyerbu makanan lezat itu. Satu… dua… ti… Tiba-tiba terdengar bunyi bel di luar rumah. TING-TONG! ***        
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN