Tamu Tak Diundang

1168 Kata
Ketiganya sudah bersiap menyerbu potongan pizzanya. Tiba-tiba saja bel rumah berbunyi beberapa kali. Tidak sabaran amat, pikir Edgar. Sembari berjalan hendak membukakan pintu rumah. TING-TONG! “Astaga! Sebentar.” Edgar membukakan pintu. Nampak ibu-ibu komplek, tetangganya Siera yang berdatangan ke rumahnya. Ibu-ibu ada apa nih? Edgar mengerutkan kening hingga berlipat-lipat. Heran. Melihat banyaknya tetangga yang datang mengerumuninya sambil membawakan makanan masing-masing di tangannya. “Katanya si kembar sakit, ya? Sakit apa?” Si ibu gemuk, tetangga sebelah bertanya duluan. "Oh, itu..." Edgar menggaruk kepalanya. Belum sempat dia menjelaskan penyakit Audrey dan Austin, pertanyaan lain dilontarkan ibu-ibu komplek selanjutnya. "Kami ke sini mau jenguk si kembar. Sakit apa sih mereka? Kami kan jadi ikut khawatir," kata si ibu kurus. "Kasihan sekali si kembar. Anakku bilang, katanya si kembar sakit." "Iya, sakit apa sih? Cepat katakan, Edgar!" desak ibu-ibu itu. "Oh, begini ibu-ibu sekalian. Si kembar sedang demam. Jadi, mereka harus beristirahat dulu hari ini. Besok juga udah baikan dan sekolah lagi," jelas Edgar. Syukurlah, tidak terjadi hal yang serius pada si kembar. Ibu-ibu itu membawakan makanan untuk Audrey dan Austin. Mereka menerobos masuk, satu per satu ke dalam rumah. Astaga! Edgar tidak bisa mencegah mereka. Saat itu, Audrey dan Austin yang sedang menikmati hidangan pizzanya merasa terganggu dan tidak nyaman dengan kehadiran ibu-ibu yang tidak diundang itu. "Audrey! Austin! Kalian kenapa makan pizza? Harusnya kan makan bubur." "Ini udah Tante bikinin bubur. Dimakan ya, anak-anak." Audrey dan Austin saling beradu pandang, "Bubur lagi?" "Tante juga bawain kue yang enak buat kalian. Yang pasti, kue ini lebih menyehatkan dari pada pizza." "Puding Tante juga enak banget, lho! Setelah makan, kalian boleh nyicip pudingnya. Lembut banget deh di lidah kalian. Biar nggak terasa pahit saat makannya kalian boleh tambahin fla toppingnya, ya." Astaga. Ibu-ibu komplek saling promosi barang bawaannya di depan si kembar. Edgar memerhatikannya. Sepertinya, si kembar kewalahan menerima pemberian dari mereka. “Semoga si kembar bisa cepat sembuh dan sekolah lagi, ya,” harap si ibu gemuk. “Amin. Terima kasih, Bu,” ucap Edgar. “Beneran, lho. Kami sangat khawatir sekali dengan keadaan si kembar.” Masa sih? Sepertinya, kekhawatiran mereka hanya dijadikan modus. Mereka hanya ingin ketemu Edgar saja. Audrey dan Austin berpikiran hal yang sama. Lihat saja bagaimana cara ibu-ibu itu memandangi Edgar dengan tatapan genitnya. Audrey menoleh ke arah Edgar. Beruntung, Edgar meliriknya dan langsung mengerti bahasa isyarat Audrey. Sepertinya, si kembar merasa terganggu dengan kehadiran ibu-ibu itu. “Paman, tolong usir mereka!” Audrey menatap Edgar penuh harap. Sambil mengedip-ngedipkan mata. Dia berharap, semoga Edgar mengerti isi hatinya. Meski dia tidak harus mengatakannya langsung di depan ibu-ibu itu. “Audrey mau bilang apa, ya?” Edgar berpikir keras. Ah, mungkin mereka mulai risih dengan kedatanga ibu-ibu tak diundang itu. Dia segera mengerti maksud isi hati Audrey. "Maaf, ibu-ibu sekalian. Si kembar mau istirahat dulu. Terima kasih sudah menengok mereka, ya. Sampai jumpa lagi besok," usir Edgar secara halus. Dia menggiring ibu-ibu itu agar keluar dari rumahnya. Sebelum pergi, ibu-ibu menasihati Edgar. Harus menjaga dan merawat si kembar dengan telaten. Katanya, bahaya kalau demamnya sampai belum turun. Edgar mengangguk. Tak lupa, dia juga berterima kasih pada ibu-ibu karena sudah peduli dan perhatian dengan si kembar. Bruuukk! Edgar mengunci pintunya. Di balik jendela, dia mengintip. Ibu-ibu itu sudah pergi rupanya. Lega. Sekarang, dia mau melanjutkan lagi makan pizzanya yang tertunda. "Audrey! Austin! Kalian habis berapa potong?" Edgar kaget. Si kembar dengan mulut penuh makanan, mencoba menjelaskan. "Sudahlah! Kalian habiskan saja semuanya!" Edgar mengalah. Meski dia hampir tidak kebagian makan pizzanya. Edgar akan makan dari pemberian ibu-ibu saja kalau begitu. Lumayan, banyak pilihannya. Baru saja Edgar akan menyendokkan makanan ke mulut, suara bel rumah berbunyi lagi. TING-TONG! Aish, mengganggu sekali! TING-TONG! Belnya berbunyi lagi, tak sabaran. Edgar terpaksa meninggalkan makanannya dan bergegas membukakan pintu rumah. Kali ini siapa lagikah yang datang berkunjung ke rumah? Apa tamu itu akan menengok si kembar lagi? Pikir Edgar sembari membuka pintunya. “Mike?” Edgar terkejut melihatnya berada di depan pintu. “Ngapain kamu ke sini?” tanyanya heran. Karena tidak biasanya Mike datang mengunjungi Edgar di rumahnya. Edgar melirik kanan-kirinya. Aman. Dia segera membawa Mike masuk ke dalam rumah. Sebelum para tetangga heboh membicarakannya. “Bos, gimana? Apa pesanan pizzanya sudah sampai tepat waktu?” tanya Mike. “Kamu jauh-jauh datang ke sini cuma menanyakan tentang pizza? Kenapa tidak langsung saja ditelpon tadi?” ketus Edgar. “Maaf, Bos. Saya ke sini tidak hanya menanyakan soal pizza. Tetapi, Tuan Besar…” Mike beralasan. “Ayahku kenapa?” tanya Edgar. “Apa sesuatu yang serius terjadi di perusahaan?” dia penasaran. Mike mengangguk, mengiyakannya. “Ada harus menghadiri rapat pemegang saham dan pertemuan dengan seluruh staf pegawai terkait adanya perubahan kebijakan baru.” “Apa?” Edgar membelalak. Gawat! Jangan sampai hal itu terjadi. Karena bisa saja Siera akan melihat dirinya di perusahaan. “Anda kenapa sekaget itu, Bos? Biasa saja,” ujar Mike. “Memangnya kamu tidak bisa mewakilkanku di perusahaan, Mike? Buat apa aku menggajimu mahal sebagai Sekretarisku jika kamu tidak bisa memback-up pekerjaanku.” “Bukan begitu, Bos. Tetapi, Tuan Besar tetap menginginkan Anda harus menghadiri rapat pemegang saham. Karena pertemuan itu tidak bisa diwakilkan. Dan harus Anda yang menghadirinya sendiri,” jelas Mike panjang lebar. Aish, menyebalkan sekali! Gerutu Edgar dalam hati. Sebenarnya, dia paling tidak suka datang ke kantornya. Dia malas bekerja sekarang. Edgar memerhatikan kedua anak kembar yang masih makan pizza tersebut. Dia sudah nyaman dengan pekerjaan barunya sebagai pengasuh si kembar. “Bos!” Mike melambaikan tangan tepat di depan wajah Edgar, membuyarkan lamunannya. “Anda lagi mikirin apa, Bos?” tanyanya. Gawat! Edgar baru ingat sekarang. Sebentar lagi, Siera pulang bekerja. Siera tidak boleh melihat Mike di rumahnya. Berbahaya bagi Edgar. “Sebaiknya, kamu cepat pergi dari sini!” usir Edgar. Sembari mendorong punggung Mike, mengeluarkannya secara paksa dari rumah. “Kenapa buru-buru amat, Bos? Saya kan baru datang ke sini,” Mike protes. “Pokoknya kamu harus pergi. Tidak usah banyak tanya!” tegas Edgar. “Bos, tunggu dulu!” cegah Mike. Ketika Edgar akan menutup pintu rumahnya. “Apa?” Edgar tidak sabaran. “Bos, kenapa sih? Jelaskan dulu padaku, Bos!” Mike memaksa. “Nanti saja. Sekarang, kamu pergi saja! Nanti, besok-besok aku akan memberitahumu. Cepat pergi sana!” usir Edgar lagi. “Bos! Bos! Bos!” Mike memanggil-manggil sembari menggedor-gedor pintu. Percuma, Edgar tidak akan membukakan pintu untuknya lagi. Mike kecewa. Dia pergi sambil menekuk wajahnya. Edgar melihat dari balik jendela rumah. Tampaknya Mike sudah pergi. Aman kalau begitu. Ketika Siera pulang nanti, dia tidak akan kaget melihat Mike ada di rumahnya. “Paman, tadi Paman Mike datang ke sini, ya?” tanya Austin. Dia memerhatikan sedari tadi. “Ah, iya. Tetapi, dia sudah pergi lagi,” Edgar beralasan. TING-TONG! Astaga. Siapa lagi itu? Edgar sampai kesal sekali. Karena hari ini banyak sekali tamu tak diundang yang datang ke rumah. Mengganggu saja, pikir Edgar. TING-TONG! Edgar membukakan pintu rumah lagi. Kali ini dia amat sangat terkejut melihat tamu tak diundang yang tiba-tiba datang ke rumahnya. “Kamu?” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN