Cinta Lama Bersemi Kembali

1109 Kata
"Adam?" Edgar terkejut melihat kedatangan adik tirinya ke rumah. Kok bisa Adam sampai sini? pikir Edgar. "Jadi, ini tempat tinggalmu, Kak?" Adam langsung menerobos masuk ke rumah. Dia melihat-lihat keadaan rumah Edgar. Lalu, manggut-manggut penuh arti. Ketika sedang melihat-lihat seisi rumahnya, Adam dikejutkan sesuatu. Ada pemandangan menarik ketika Adam masuk ke rumah sementara yang Edgar tinggali saat ini. "Siapa mereka, Kak?" tunjuk Adam saat bertanya pada Edgar. Audrey dan Austin agak ketakutan melihat orang tak dikenalnya menunjuk mereka. Keduanya langsung menghampiri dan bersembunyi di belakang Edgar. Tenang saja, anak-anak. Orang itu tidak jahat, kok. Edgar harus menenangkan mereka terlebih dahulu. Adam tersenyum sinis. "Apa mereka anak-anakmu, Kak?" tanyanya lagi. "Ah, itu..." Edgar mendadak gelagapan di depan Adam. Tumben, dia kebingungan menjawab pertanyaan yang dilontarkan Adam kepadanya. Adam curiga kepada Edgar. Jangan-jangan, alasan Edgar pergi dari rumah selain tersandung kasus tabrak lari, ternyata Edgar juga sudah berkeluarga dan punya dua anak, pikir Adam. Dia jadi membayangkan sesuatu yang tidak-tidak tentang Edgar. "Jangan berpikir macam-macam kamu, Dam!" Edgar memperingatkan. “Aku hanya bertanya. Tetapi, Kakak tidak menjawab pertanyaanku,” sahut Adam enteng. “Bukan tidak mau menjawab. Tetapi, kamu nyerocos terus seperti kereta api,” ketus Edgar membela dirinya. "Oh, ya. Ke mana istrimu? Apa sekarang, dia yang bekerja sementara Kakak yang mengurus dua anaknya?" sindir Adam. Sialan! Adam telah mengejeknya. Edgar geram mendengar sindirannya. “Apa maksudmu istriku? Aku belum menikah,” kata Edgar mengklarifikasi. “Lalu, siapa kedua anak itu?” tunjuk Adam lagi. Dia makin tidak paham dengan maksud pembicaraan Edgar. “Pokoknya, mereka bukan anak-anakku. Aku di sini hanya menjaganya. Itu saja,” jelas Edgar. Namun, penjelasannya malah terdengar ambigu menurut Adam. “Menjaganya? Lantas, ibunya ke mana? Apa ibunya meninggalkan mereka begitu saja?” Adam semakin penasaran. Adam jadi berpikir, jangan-jangan Edgar mau meminta bantuannya lagi untuk membiayai kedua anak tidak berdosa itu. Seperti yang tempo hari Edgar lakukan pada Kevin, anak jalanan yang berhasil ditolong olehnya. Waduh! Jika benar demikian, sepertinya Adam datang di saat yang tidak tepat. Sebentar lagi, Edgar pasti mau meminta bantuan soal keuangannya, pikirnya sudah berburuk sangka. “Ibunya sedang bekerja. Jadi, dia menitipkan si kembar kepadaku.” Edgar harus bilang. Sebelum Adam berpikiran lagi yang tidak-tidak tentangnya. “Oh begitu rupanya.” Sekarang Adam mengerti. “Ini sudah malam. Sebaiknya kamu pulang saja, Dam. Ibu mereka sebentar lagi akan pulang. Cepat pergi sana!” usir Edgar. “Memangnya kenapa? Apa ibu mereka kekasihmu, Kak?” celetuk Adam. Spontan, Edgar menutup mulut bawelnya Adam. Tidak enak kedengaran oleh anak-anak. Mereka masih kecil. Belum mengerti tentang sebuah hubungan. “Pergi sana! Pergi!” Edgar mendorong tubuh Adam hingga keluar dari rumahnya. “Kak, tunggu! Aku belum selesai bicara,” cegah Adam. Sayang sekali, Edgar keburu langsung menutup pintu rumahnya. “Lain kali saja,” ucap Edgar setengah berteriak. Adam merasa kecewa. Edgar sudah mengusirnya. Padahal, Adam jauh-jauh datang ke sana untuk menemuinya. Walau hanya sekedar mengobrol antar keluarga. Malam ini, Adam lelah sekali dan butuh seseorang yang bisa diajak mengobrol dengannya. Mendengarkan keluh kesahnya selama di Rumah Sakit. Adam berjalan lunglai menuju mobilnya. Kemudian, dia segera melajukan kendaraannya meninggalkan rumah kontrakan Edgar. Tanpa diduga olehnya, ketika di perjalanan pulang dia melihat Siera berjalan kaki melewati mini market. Kebetulan sekali mereka bertemu. Adam menyuruh Siera masuk ke dalam mobil. Mereka akan berbincang-bincang di sana sambil minum kopi instan. “Kamu ke sini lagi, Adam. Apa kamu sudah menemukan Kakakmu?” tanya Siera. Dia memulai pembicaraan karena suasana terasa hening sejak keduanya duduk di jok depan, tak saling bicara. “Hmm,” Adam bergumam. “Aku sudah bertemu dengannya.” “Benarkah? Aku lupa, siapa nama Kakakmu?” Siera penasaran. “Freddy. Nama kakakku,” Adam memberitahu. Siera mengerutkan kening. Rasa-rasanya, Siera tidak pernah mendengar nama itu di komplek perumahannya. Tetapi, Adam bersikeras bahwa Freddy, kakaknya memang tinggal sementara di sana. Hal yang sama pernah Adam katakan tempo hari. “Freddy?” Siera berusaha mengingatnya. Nanti, kapan-kapan saat senggang Siera akan bertanya pada Edgar atau ibu-ibu komplek di sana. Yang lebih tahu tentang sensus kependudukan komplek perumahannya yang sering berubah-ubah. “Sepertinya Kakakku sudah punya anak. Kamu tahu tidak, Siera? Kakakku itu kan tidak bekerja. Tetapi, dia malah tinggal bersama kekasihnya dan dua anaknya di satu rumah sederhana.” Adam merasa heran. Kok bisa-bisanya, Edgar kepikiran membina rumah tangga tanpa penghasilan yang pasti. “Jika memang kakakmu sudah berniat berumah tangga, biarkan saja. Itu kan kehidupannya. Bukan urusanmu, Dam,” Siera berkomentar. “Iya juga sih. Tetapi kan, kenapa juga Kakakku tidak memberitahukan sebelumnya pada keluarga kami? Jika dia sudah punya dua anak yang lucu-lucu,” cerita Adam. Siera hanya tersenyum sekilas membayangkannya. Cerita Adam memang menarik kedengarannya. Sayangnya, Siera malas mengomentarinya. Dia sangat lelah dan ingin cepat-cepat pulang ke rumah saja. Dia sangat merindukan kedua anaknya, Audrey dan Austin. Siera ingin pamit pulang duluan. Tiba-tiba, Adam mencegahnya dengan sebuah pertanyaan yang ditujukan kepadanya. “Siera, bukankah kamu juga sudah punya dua anak? Bolehkah aku menemui mereka suatu hari nanti?” pinta Adam. Raut wajahnya terlihat sangat serius. Siera merasa senang sekali mendengar Adam mempertanyakan tentang kedua buah hatinya. Pertanyaan itu sangat ditunggu-tunggu olehnya. “Apa kamu serius ingin bertemu dengan mereka, Dam? Kamu tahu, kan, apa itu artinya bagiku?” Siera memastikannya terlebih dahulu. Adam mengangguk mantap. Kemudian, pria yang berprofesi sebagai dokter itu meraih tangan Siera. Lalu, dia menatap lekat-lekat ke arah wajah Siera. “Apa aku terlihat tidak serius menjalin kembali hubungan denganmu?” tanya Adam. Kali ini dia menanyakan kesungguhan hati Siera. “Aku sangat mencintaimu. Dari dulu aku hanya mencintaimu, Siera. Jika sekarang aku berniat kembali padamu dengan statusmu seperti ini. Itu artinya aku siap menerimamu dalam keadaan apa pun. Termasuk dengan anak-anakmu. Begitu, kan, seharusnya?” jelas Adam panjang lebar. Perkataan Adam begitu menenangkan hati Siera saat ini. Saking terharu mendengarnya, sekarang Siera pun berkaca-kaca. Sebentar lagi, air matanya akan jatuh membasahi pipinya. “Percayalah padaku, Siera. Kali ini, aku akan membahagiakanmu. Jika kamu menjadi istriku nanti, aku ingin kamu di rumah menjaga anak-anak kita. Aku tidak akan membiarkanmu bekerja sampai larut seperti ini,” kata Adam meyakinkan. “Terima kasih. Aku senang sekali mendengarnya,” Siera menyeka air matanya. “Lalu, apa jawabanmu?” desak Adam. “Aku… harus memikirkan dulu tentang hal ini.” Adam mendekatkan wajahnya hingga sejajar dengan Siera. Keduanya berpandangan cukup lama hingga terbawa perasaan masing-masing. Kemudian, pria itu mengecup bibir Siera duluan. Dengan sangat lembut dan penuh cinta. Siera membelalak kaget dengan perlakuan Adam yang begitu tiba-tiba. Namun, lama-lama dia memejamkan matanya. Menikmati setiap sentuhan bibirnya. Sudah lama sekali dan keduanya sangat merindukan masa-masa indah dulu. TID-TID-TIIIIDDD! Suara klakson mobil di belakang membuyarkan semuanya. Keduanya terkejut dan kini saling menjaga jarak. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN