Modus

1158 Kata
“Adam, aku harus pulang. Sudah malam dan anak-anak pasti sudah menungguku,” Siera pamit. Dia terlanjur kikuk di hadapan Adam. Setelah insiden barusan. “Oh, baiklah,” Adam pun mempersilakannya. Sama seperti Siera, dia juga kebingungan. Karena apa yang sudah dilakukannya tadi spontan dan murni karena desakan hati nuraninya. Hati Siera masih berdebar-debar setelah keluar dari mobil Adam. Begitu pula sebaliknya. Keduanya masih merasakan hal yang sama. Saling menyukai satu sama lain. Adam tersenyum sekilas membayangkan kejadian tiba-tiba yang baru saja dialaminya tadi. “Perasaan apa ini?” tanya Siera pada dirinya sendiri. Sambil berjalan menjauhi mobilnya. “Mungkinkah aku masih mencintainya?” Raut wajah Siera memerah. Dia senyum-senyum sendiri dan tak sadar ketika memasuki rumahnya. Edgar berdiri di hadapannya sambil menyilangkan kedua tangannya. Pria itu dengan seksama memerhatikan perubahan yang terjadi pada Siera. “Ada apa dengan wajahmu, Siera?” tanya Edgar. “Wajahku? Memangnya kenapa dengan wajahku?” sahut Siera. Dia agak gugup dan buru-buru melihatnya dalam cermin. Siera tidak menemukan keanehan dalam dirinya mau pun wajahnya. Dia menoleh ke arah Edgar. “Kamu membohongiku, Edgar?” tuduh Siera. “Wajahku tidak kenapa-napa,” dia merasa yakin. Edgar mendekatinya. Lalu, dia mengarahkan pada Siera sambil memegangi pundaknya. Dia juga menekan pipi Siera sebelah kanan dan kirinya dengan telunjuknya. “Tadi, ketika kamu masuk ke dalam rumah pipimu mengembang. Kamu senyum-senyum sendiri. Apa kamu baru saja mendapatkan sesuatu yang membahagiakanmu?” Edgar ingin tahu. “Sesuatu?” ulang Siera bingung. “Tidak ada.” “Lantas, kenapa kamu senyum-senyum sendiri seperti orang yang lagi jatuh cinta?” Edgar makin penasaran dan terus menginterogasi Siera. Siera memukul pelan perut Edgar. “Jangan sok tahu, Edgar! Sudah… jangan mengurusi hidupku! Kamu tidak boleh melanggar privasiku,” katanya sembari memperingatkan Edgar. Baiklah. Edgar menyerah. Dia tidak akan bertanya-tanya lagi. Siera mulai kelihatan galak kalau sudah disinggung tentang hal-hal yang bersifat pribadi. Lebih baik, Edgar segera keluar dari rumah Siera dan pergi tidur saja. Rasanya lelah sekali menjaga anak-anak seharian di rumah. Malam ini, biar ibunya saja yang menjaga anak-anak, pikir Edgar. “Tunggu, kamu mau ke mana Edgar!” cegah Siera sembari menahan lengan Edgar pergi. “Tugasku sudah selesai. Aku mau tidur. Capek!” Edgar beralasan. “Kamu sudah makan malam?” tanya Siera. Edgar mengangguk. “Aku sudah makan sama anak-anak. Ah, iya. Tadi siang para tetangga datang menjenguk si kembar dan mereka membawakan banyak makanan. Aku menyimpannya di lemari es,” katanya memberitahu. “Begitu rupanya. Baiklah. Terima kasih ya, kamu sudah menjaga dan merawat anak-anakku,” ucap Siera. “Itu sudah menjadi pekerjaanku. Makanlah yang banyak, Siera. Akhir-akhir ini kamu kelihatan kurus sekali. Setelah makan pergi tidur. Jangan bergadang dan memikirkan tentang hal-hal lain. Fokus pada kesehatanmu saja!” cerocos Edgar ketika sedang menasihati Siera. Siera mengangguk. “Dia kelihatan seperti ibuku yang cerewet,” gumam Siera dalam hati. Edgar pergi menuju kamarnya. Sesampainya di sana, dia merebahkan tubuhnya yang hampir remuk dan ambruk. *** “Bos, jadwal persidangan Anda sudah ditentukan,” Mike memberitahu Edgar via telepon keesokan harinya. “Apa aku harus menghadirinya?” tanya Edgar. “Anda harus datang, Bos. Ya, formalitas saja,” sahut Mike. “Apa tidak bisa diwakilkan saja, Mike? Aku kan harus antar jemput anak-anak ke sekolah,” Edgar berkilah. Dia beralasan semampunya karena tidak ingin menghadiri persidangan itu. “Tidak bisa, Bos. Anda harus datang kata pengacara yang menangani kasus Anda,” Mike menegaskan sekali lagi. “Oh, ya sudah. Nanti aku akan menghubungimu lagi. Aku akan bicara terlebih dahulu pada ibu si kembar agar aku bisa hadir di persidangan.” Klik! Edgar menutup teleponnya. Bus sekolah sudah tiba di depan rumah. Edgar mengantar Audrey dan Austin sampai naik bus. Edgar tersenyum sambil melambaikan tangan ke arah anak-anak itu. Setelah anak-anak pergi ke sekolah, Edgar langsung diserbu ibu-ibu komplek. Mereka langsung mengerumuninya. “Edgar, bukankah hari ini kita ada jadwal senam aerobik?” Si ibu gemuk mengingatkan Edgar. “Ah, iya!” Edgar tepuk jidat. Hampir saja dia lupa. “Kalau begitu, ibu-ibu semua tunggu saya di lapangan ya. Setengah jam lagi kita berkumpul di sana. Bagaimana?” dia menjanjikan. Ibu-ibu langsung setuju. Mereka langsung bubar dan mempersiapkan diri untuk mengikuti senam aerobik yang akan dipandu oleh Edgar. Astaga! Apa yang sudah Edgar lakukan setelah dirinya tidak menjadi CEO lagi? Dia berdecak. Pekerjaannya sekarang selain menjadi pengasuh anak, juga instruktur senam untuk ibu-ibu komplek. Dunia Edgar sudah berubah sekarang. Walau hanya sementara, Edgar tetap enjoy menikmati hari-harinya. Bagi Edgar, pekerjaannya yang sekarang lebih asik dan menantang dibandingkan dulu. Ketika dirinya masih sibuk mengurus perusahaan dan hanya bekerja di depan layar laptopnya. Satu jam kemudian. Edgar sudah melatih ibu-ibu komplek senam aerobik. Sebelum itu, dia menyuruh ibu-ibu lari keliling lapangan. Baru beberapa keliling saja mereka sudah terlihat kepayahan. Terutama si ibu gemuk, tetangga sebelah rumahnya. “Bu, Anda kenapa?” tanya Edgar mengkhawatirkannya. Karena hanya ibu itu yang terlihat ngos-ngosan sembari menepuk-nepuk dadanya. “Sepertinya aku sudah tidak kuat lagi berlari, Edgar. Istirahat dulu, ya! Capek banget,” keluh si ibu gemuk. “Baiklah, Bu! Ibu istirahat saja. Minum air putih yang banyak. Setelah baikan nanti Ibu bisa melanjutkannya lagi,” kata Edgar. Ibu itu mengangguk mendengar nasihat Edgar, instrukturnya. “Makasih ya, Edgar. Kamu baik banget. Udah ganteng perhatian lagi,” ucap si ibu centil sambil mengedip-ngedipkan mata genit. “Maaf, Bu! Sepertinya saya harus ninggalin Ibu di sini. Saya harus mengawasi ibu-ibu yang lainnya,” Edgar berasalan. “Tunggu sebentar, Edgar!” cegah ibu itu. “Kamu belum pernah menikah, kan?” tanyanya. Pertanyaan out of topic itu. Edgar tersenyum sinis menanggapinya. “Memangnya kenapa, Bu?” “Mau tidak, kujodohkan dengan keponakanku?” tawar ibu itu pada Edgar. “Hah, apa?” Edgar membelalak mendengarnya. Dijodohkan? Apa Edgar tidak salah dengar? Edgar harus segera menghindarinya. Mungkin itu hanya modus karena ibu itu ingin mendapat perhatian lebih darinya. Dia langsung mengalihkan perhatian dan pergi mengawasi ibu-ibu yang lain. “Maaf, Bu. Saya tidak bisa. Saya ini pengangguran dan tidak punya banyak uang. Sebaiknya keponakan ibu dijodohkan dengan orang lain saja,” tolak Edgar. “Kamu kan belum ketemu sama keponakanku masa udah nolak? Nanti kamu nyesal lho, Edgar,” goda ibu itu. Sebenarnya Edgar tidak begitu tertarik dengan keponakan ibu itu. Lagi pula, dia juga belum sempat memikirkan untuk menikah. Boro-boro mau menikah, dekat dengan wanita saja dia tidak ada. Satu-satunya orang yang sedang dekat dengannya hanya Siera. Masa iya, Edgar harus menikah dengan ibu si kembar? Ups! Terlintas begitu saja pemikiran seperti itu di dalam benaknya. Tidak, sangkalnya. Edgar hanya merasa iba saja kepada Siera. Tidak ada perasaan lebih kepadanya. Itu yang dirasakan Edgar saat ini. “Keponakanku itu sangat cantik, lho! Dia juga berencana akan tinggal beberapa hari di rumahku. Nanti kalian bisa berkenalan,” kata si ibu itu. Dia begitu gigih membujuk Edgar. “BIBI MAURA!” teriak seseorang dari kejauhan. Ibu gemuk itu menoleh sambil melambaikan tangan pada seorang wanita yang memanggil namanya. Edgar jadi penasaran. Dia pun menoleh ke belakang. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN