Tetangga Sebelah

1118 Kata
Edgar menoleh ke arah sumber suara yang telah memanggil nama Ibu Maura. Ibu gemuk tetangga sebelahnya Edgar. Seorang wanita sekitar umur 25 tahun. Sepertinya wanita itu baru saja lulus kuliah. Karena terlihat masih sangat muda bila dibandingkan dengan Siera, pikir Edgar. “Bibi Maura, tadi aku ke rumahmu. Rupanya Bibi ada di sini,” kata wanita itu sembari melempar senyum pada Edgar. Edgar membalas ala kadarnya. Dia tidak biasa diajak senyum seperti itu. Karena bisa salah tingkah ada wanita cantik menghampirinya. “Oh, iya. Kenalin Edgar ini keponakanku. Namanya Yesha,” kata Ibu Maura memperkenalkan keduanya. Edgar dan Yesha berjabat tangan dan saling berkenalan. Mereka menyebutkan nama masing-masing. Setelah itu, Edgar segera melepas tangannya. Yesha masih memandangi wajah Edgar dan membuat pria itu merasa tidak nyaman diperhatikan dari dekat seperti itu. “Kalau begitu, saya permisi dulu, Bu! Saya harus melatih ibu-ibu yang lain. Jika Ibu mau menemani keponakan Anda, silakan saja,” kata Edgar mempersilakan Ibu Maura bersama Yesha. Mereka kan baru bertemu. Barang kali mau bercengkerama dulu maka Edgar pun mengizinkan Ibu Maura pulang duluan. Edgar sendiri segera menyusul ibu-ibu yang lain di lapangan. Pandangan Yesha masih tertuju pada Edgar. Diam-diam wanita muda itu menaruh hati padanya. “Bibi, apa dia sudah menikah?” tanya Yesha langsung, terang-terangan. “Apa kamu menyukainya, Yesha?” Ibu Maura memastikannya lagi. Wanita itu hanya tersenyum. Sudah dia duga, keponakannya itu langsung jatuh cinta pada Edgar saat pandangan pertama. *** Edgar akan menjemput si kembar di sekolahnya. Jadi, hari ini Audrey dan Austin tidak pulang naik bus jemputan sekolah. Edgar sudah berjanji pada Audrey akan berkeliling kota sambil jajan es krim. Dia akan menepati janjinya karena Audrey sudah tidak demam lagi. Ketika Edgar keluar dari kamarnya, kebetulan Yesha sedang berada di halaman depan rumah sebelah, rumah bibinya. Wanita itu kegirangan melihat Edgar dan langsung menyapanya. “Hai, Edgar!” sapa Yesha. “Oh, halo Yesha!” balas Edgar. “Kamu akan pergi?” tanya Yesha. Dia selalu ingin tahu tentang Edgar.            Edgar mengangguk. “Permisi,” pamit Edgar sambil menutup pintu pagar rumah Siera. Edgar bergegas menjemput si kembar di sekolahnya. Taksi yang ada di hadapan rumah sudah menunggunya dari tadi. Setelah Edgar masuk ke dalam taksi, mobil itu segera melaju meninggalkan rumahnya. Edgar menoleh ke belakang. Wanita itu masih berdiri melihat mobil taksi yang ditumpangi Edgar pergi menjauhinya. Setengah jam kemudian, Edgar sudah sampai di depan sekolah TK Audrey dan Austin. Tinggal beberapa menit lagi mereka akan keluar dari kelasnya. KRIIIIINGGG! Bel sekolah berbunyi. Jam pelajaran telah usai. Kini, Edgar bersiap menyambut kepulangan si kembar. “Paman Edgar!” seru Audrey. Dia memegangi tangan Austin dan berlarian menghampiri Edgar. “Paman!” Austin tak kalah menyerunya. Kedua anak kembar yang begitu riang itu langsung memeluk Edgar yang sudah menjemputnya di depan sekolah. “Kita pergi sekarang?” Edgar memastikannya lagi. Kedua anak itu kompak menggangguk. Edgar menggandeng kedua anak itu. Siang ini mereka akan jalan-jalan di kota, melihat suasana kota dan jajan es krim tentunya. Edgar membawa si kembar ke George Square, Alun-alun kota Glasgow. Edgar, Audrey, dan Austin sedang menikmati makan es krim sambil melihat burung-burung berterbangan di sekitarnya. Ketika Edgar sedang berbincang-bincang dengan si kembar, tiba-tiba ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Mike. “Bos, Anda di mana sekarang?” tanya Mike agak panik karena tidak menemukan Edgar di rumah. “Aku sedang menjemput anak-anak di sekolahnya,” jawab Edgar. “Ada apa Mike?” dia balik tanya. “Di mana posisi Anda saat ini? Saya akan ke sana menjemput Anda,” kata Mike. “Tuan Besar ingin bertemu dengan Anda, Bos di rumahnya. Saya disuruh beliau untuk menjemput Anda. Katanya ada hal mendesak yang harus disampaikan oleh beliau,” jelas Mike. Gawat! Edgar harus mencari cara memulangkan si kembar. Bagaimana ini? Kalau membiarkan si kembar di rumah sendirian rasanya tidak tega saja. Kalau terjadi apa-apa kepada mereka bagaimana? Jam pulang kantor masih sangat lama. Tidak mungkin Edgar memerintahkan Siera untuk pulang cepat lagi. Semua orang di kantor bisa curiga kepadanya. “Bos, Anda masih di sana? Saya jemput sekarang, ya,” Mike membuyarkan lamunan Edgar. “Ah, iya.” Edgar tidak punya pilihan lain. Edgar akan membawa Audrey dan Austin ke rumah ayahnya. Itu solusi terbaik untuk saat ini, pikir Edgar. Setelah sepakat, Mike akan segera menjemput Edgar di George Square. “Anak-anak, sekarang kalian ikut Paman dulu ya. Paman mau menemui seseorang di suatu tempat. Kita akan dijemput oleh Paman Mike pakai mobilnya,” jelas Edgar pada Audrey dan Austin. “Asyik! Kita naik mobil Paman Mike lagi,” Austin bersorak. “Berarti kita jalan-jalan lagi naik mobil, Paman?” Audrey juga riang sekali setelah tahu Edgar akan mengajak mereka jalan-jalan di rumahnya. Edgar mengangguk mantap. Kedua anak itu akan pergi ke rumah Edgar untuk pertama kalinya. Tetapi, Edgar tidak akan mengakan kalau rumah besar itu adalah rumahnya. Nanti mereka syok mendengarnya dan bisa mengatakan yang tidak-tidak di depan Siera. Edgar harus mengantisipasinya nanti setibanya di rumah. “Ya begitu saja,” Edgar memikirkan suatu rencana. Beberapa menit kemudian, Mike tiba menjemput mereka. Audrey dan Austin langsung kegirangan melihat Mike datang menjemputnya. Kedua anak itu langsung duduk di belakang dan bernyanyi-nyanyi riang. Kelihatan sekali jika mereka amat senang diajak jalan-jalan. “Bos, Anda yakin mengajak mereka ke rumah?” Mike ragu-ragu. “Mau bagaimana lagi? Masa iya aku harus meninggalkan mereka sendirian di rumah? Yang benar saja.” Mike khawatir jika Tuan Frans melihat keberadaan Audrey dan Austin. Pasti akan menimbulkan masalah besar nantinya. Tidak akan, Edgar sudah mengantisipasinya. Dia juga memiliki rencana jika hal itu terjadi. Edgar sudah siap menghadapi ayahnya. Tidak lama kemudian, mereka sudah tiba di kediaman Tuan Frans. Edgar akan menemui ayahnya, Tuan Frans. Sementara, si kembar akan dititipkan dulu pada Mike. Siang ini, Mikelah yang akan menjadi tour guide si kembar selama berkeliling di halaman rumah Tuan Frans. “Paman tidak akan lama menemui orang kenalan Paman itu. Jadi, kalian jangan nakal dan jangan ke mana-mana selama Paman tidak ada. Kalian harus patuh pada Paman Mike. Rumah ini sangat besar, Paman takut kalian tersesat nantinya. Kalian mengerti?” Edgar menasihati si kembar. “Baik, Paman!” jawab keduanya kompak sekali. “Bagus! Kalau begitu Mike jaga mereka baik-baik,” Edgar mengedipkan mata pada Mike. Seolah itu suatu pertanda buruk yang akan Mike hadapi ketika menjaga si kembar. Edgar segera menemui Tuan Frans di ruang tengah kediamannya. Kata beberapa pelayan, Tuan Frans sudah menunggu kedatangan Edgar. Beliau sedang menyantap makan siang di ruang makan dekat kolam renang. Ketika Edgar ke sana, justru dia tidak menemukan ayahnya di sana. Ke mana Tuan Frans pergi? Edgar duduk-duduk santai di dekat kolam renang. Sementara, Tuan Frans malah menemukan seorang bocah berlarian di halaman rumahnya. “Siapa kamu, Nak?” tanya Tuan Frans pada Austin. ***  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN