“A-aku…” Austin ketakutan. Dia gugup sekali.
Tangan dan kakinya gemetaran saat dia ditanya oleh Tuan Frans. Bocah laki-laki itu kikuk dan salah tingkah. Kedua bola matanya melirik kanan-kiri mencari pertolongan. Tolong, siapa saja! harapnya cemas.
“Kamu tidak menjawab pertanyaanku. Kamu siapa, Nak?” tanya Tuan Frans sekali lagi. “Kenapa kamu ada di rumahku?” desaknya.
“Aku ke sini karena…” Kalimat Austin terputus-putus. Dia tidak bisa berkata-kata saat Tuan Frans mendesaknya.
“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan, Audrey? Kamu di mana Audrey? Tolong aku!” ujar Austin dalam hati. Seraya meminta pertolongan pada saudari kembarnya.
Beberapa menit sebelum Austin hilang…
Setelah Edgar masuk ke dalam rumah menemui ayahnya, Tuan Frans, Mike mengajak anak-anak berjalan-jalan di halaman depan rumah. Saat itu, Austin kebelet ingin ke toilet. Mike mengarahkan Austin untuk ke toilet yang ada di halaman dekat kolam renang. Halaman itu tembus sampai ruang tengah rumah Tuan Frans.
Usai dari toilet, Austin hendak menyusul Audrey dan Mike. Sayangnya, dia malah tersesat dan tidak tahu arah jalan keluar. Austin terus berjalan malah sekarang dia sudah sampai di halaman belakang rumah Tuan Frans. Sialnya, kini dia sudah berhadap-hadapan langsung dengan sang pemilik rumah.
“Cepat jawab! Kamu siapa dan untuk apa ke mari, hah?” tegas Tuan Frans. Nada suaranya hampir membentak Austin.
“Aku sedang mencari saudara kembarku. Namanya Audrey. Tadi dia juga berada di sekitar sini,” Austin beralasan.
“Audrey? Di sini tidak ada yang namanya Audrey. Kamu jangan mengarang cerita, ya?” Tuan Frans tidak memercayai Austin.
Sungguh. Tadi, Austin datang bersama Audrey. Bagaimana mungkin sekarang Audrey meninggalkannya? Dia pasti masih berada di sekitar sini, kata Austin begitu yakin. Hanya saja, kini dia sedang kebingungan karena tersesat di rumah Tuan Frans.
“Aku berkata jujur, Tuan. Aku tidak berbohong,” Austin meyakinkan Tuan Frans.
“Lantas, untuk apa kalian ke rumahku?” tanya Tuan Frans menyelidiki Austin.
“Tadi, pamanku bilang mau menemui seseorang di rumah ini. Nama pamanku adalah Edgar. Mugkin Kakek tahu siapa dia,” jelas Austin. Dia mengatakannya dengan terbata-bata.
Tuan Frans mengernyitkan dahi. Dia semakin curiga pada Austin. Teknik penipuan macam apalagi ini? Kenapa pencuri sekarang memperalat anak kecil? Pikir Tuan Frans yang sudah berburuk sangka.
“Cepat katakan padaku! Apa kamu seorang bocah pencuri?” tuduh Tuan Frans.
Austin menggeleng, “Tidak. Aku bukan pencuri, Kek.”
“Katakan saja! Apa orang tuamu yang menyuruhmu?”
“Tidak, Kek. Aku tidak diajarkan orang tuaku untuk mencuri. Aku ke sini karena pamanku yang mengajaknya,” kata Austin. Matanya sudah berkaca-kaca. Dia berusaha meyakinkan Tuan Frans agar percaya kepadanya.
Sayangnya, Tuan Frans meragukan perkataan Austin. “Tetapi, nama pamanmu terasa asing bagiku. Aku tidak mengenal pamanmu,” kata Tuan Frans.
Perkataan Tuan Frans melukai perasaan Austin. Hingga bocah itu tersudut dan hampir saja menangis. Dari sudut lain, Edgar melihat Tuan Frans sedang bersama Austin. Gawat!
“Itu kan Austin. Kenapa dia bisa sampai di sana dengan ayahku?” Edgar segera menghampiri mereka.
“Austin!” seru Edgar. Austin menoleh ke arah Edgar. Dia langsung bersembunyi di belakang Edgar. Sambil sesekali melihat Tuan Frans dibalik tubuh Edgar.
“Freddy, siapa anak itu? Apa kamu mengenalnya?” tanya Tuan Frans pada Edgar.
“Ah… anak ini…” Edgar pun kebingungan menjawab pertanyaan sang ayah.
Edgar melihat Mike dan Audrey sedang mencari-cari Austin. Tanpa pikir panjang lagi, Edgar mengatakan pada ayahnya bahwa anak kembar itu adalah keponakan Mike.
“Benar, kan, Mike?” Edgar memastikannya pada Mike.
Mike pelanga-pelongo. Dia tidak mengerti maksud ucapan Edgar. Kemudian, Edgar memainkan mata, mengisyaratkan pada Mike supaya dia mengiyakannya di depan Tuan Frans.
“Apa benar mereka ini keponakanmu, Mike?” Pertanyaan Tuan Frans beralih pada Mike.
Mike mengangguk pelan, karena kebingungan. “I-iya,” jawabnya.
“Begitu rupanya. Kalau begitu, ajak mereka jalan-jalan dulu. Freddy, kita bicara di dalam saja,” perintah Tuan Frans.
“I-iya ayah,” Edgar patuh. Dia segera mengikuti langkah ayahnya menuju ruang tamu.
Sementara, Mike akan mengajak si kembar bermain di halaman sambil menunggu Edgar menyelesaikan urusannya dengan Tuan Frans.
***
“Ayah, ada apa memanggilku?” tanya Edgar polos.
“Persiapkan dirimu dan kembali ke perusahaan!” perintah Tuan Frans.
“Apa? Secepat itu?” Edgar membelalak kaget. “Tetapi, aku kan harus menjalani persidangan dulu, Yah?”
“Itu hanya formalitas saja. Pada akhirnya, kamu juga yang akan memenangkan persidangan. Keluarga korban tidak akan bisa menuntutmu sama sekali. Jadi, namamu akan dipastikan bersih lagi,” jelas Tuan Frans. Dia mengatakannya begitu optimis. Membuat harapan Edgar semakin melambung tinggi menatap masa depan.
Edgar tersenyum lega. Syukurlah. Kasus yang menjeratnya itu akan segera berakhir. Dia akan segera kembali menjadi dirinya sendiri, menguasai kekayaannya, dan posisinya di perusahaannya.
“Paling cepat bulan depan. Kamu harus segera mempersiapkannya, Freddy,” Tuan Frans mengingatkan Edgar lagi.
“Baik, Ayah. Aku akan menyiapkan diriku untuk kembali ke posisiku,” kata Edgar mantap.
“Bagus,” puji Tuan Frans.
Edgar merasa sudah tidak ada lagi yang akan dibicarakan ayah kepadanya. Dia melirik jam tangannya. Kemudian, pamit pergi karena Edgar harus segera pulang.
“Ayah, aku pergi dulu,” Edgar pamitan. Dia sudah membalikkan tubuh dan hendak pergi meninggalkan ayahnya.
“Tunggu!” cegah Tuan Frans. “Apa pekerjaanmu selama bersembunyi dibalik identitas palsumu, Freddy?” tanyanya.
Pertanyaan Tuan Frans pasti ada hubungannya dengan Austin dan Audrey. Edgar harus siap menghadapinya jika memang tujuan Tuan Frans mengarah ke sana. Pria tua itu pasti akan menentang pekerjaan yang sudah dilakukan Edgar saat ini. Ataukah Edgar harus berbohong saja di depan ayahnya?
“Aku… bekerja serabutan. Mike yang memberikannya.” Edgar terpaksa berbohong. Dia tidak ingin Tuan Frans tahu profesi apa yang tengah dijalani putra sulungnya saat ini.
“Lalu, apa hubunganmu dengan kedua anak kembar itu?” tanya Tuan Frans lagi.
“Ah, aku hanya mengasuh mereka saat senggang. Karena ibunya menitipkan padaku,” jawab Edgar. Ups! Keceplosan akhirnya.
“Apa? Mengasuh anak katamu?” Tuan Frans terkejut. Dia syok mendengarnya. Setelah tahu, Edgar membuang-buang waktunya untuk menjaga dua bocah kembar itu.
Edgar menundukkan pandangannya. Terlanjur keceplosan. Sekarang, Tuan Frans berkacak pinggang sambil memelototinya.
“Kamu itu CEO di perusahaan. Untuk apa kamu mengasuh anak kecil? Apa tidak ada pekerjaan lain yang bisa kamu lakukan, hah?” hardik Tuan Frans.
Aish! Sudah ketangkap basah. Sekarang mau menyangkal saja rasanya sulit sekali bagi Edgar. Dia masih terdiam. Mungkin dia sedang memikirkan alasan lain yang out of the box, menurutnya.
“Ah, Ayah menurutku saat ini tidak ada pekerjaan lain selain menjadi pengasuh anak. Yang penting aku bisa mendapatkan uang agar aku bisa bertahan hidup, bukan?” Edgar beralasan.
“Tetapi, pekerjaanmu itu menjatuhkan martabatmu sebagai seorang CEO.”
“Itu kan hanya sementara saja, Yah. Sebentar lagi juga aku akan bekerja di perusahaanku kembali. Jadi, Ayah tidak usah mengkhawatirkan martabatku.”
Kali ini, Edgar pamit pada Tuan Frans. Tenang rasanya sudah bicara dengan Tuan Frans. Tadinya, dia pikir ayahnya akan memarahinya. Ternyata tidak. Edgar sudah berpikir yang tidak-tidak barusan.
“Audrey! Austin! Ayo kita pulang!” ajak Edgar sambil menggandeng tangan mereka.
Tuan Frans masih memerhatikan Edgar di balik jendela rumahnya. Mereka kelihatan akrab sekali. Tuan Frans jadi penasaran. Dia menyuruh salah seorang anak buahnya untuk mengawasi Edgar mulai saat ini.
***