Mike mengantar Edgar dan si kembar ke rumahnya. Setelah turun dari mobil dan berpamitan dengan Mike, si kembar tampak murung. Edgar merasa ada yang aneh dengan Austin. Sejak bocah itu bertemu dengan Tuan Frans.
“Austin, ada apa?” tanya Edgar sambil duduk jongkok. Lalu, dia memerhatikan raut wajah Austin lekat-lekat.
“Paman, kenapa Kakek itu terlihat sangat menakutkan?” kata Austin.
Rupanya Austin masih memikirkan kejadian saat dirinya tersesat tadi di rumah Tuan Frans. Edgar menjelaskan pada Austin. Dia juga menenangkan Austin agar tidak takut lagi jika suatu hari nanti kembali berhadap-hadapan dengan Tuan Frans.
“Kakek itu sebenarnya baik hati. Hanya saja, Kakek itu punya sikap tegas. Makanya, kelihatan sangat menakutkan. Padahal aslinya nggak kok,” bela Edgar.
Terang saja Edgar bisa berkata demikian karena kakek tua menakutkan yang dibilang Austin adalah ayah kandungnya. Mana mungkin Edgar menjelek-jelekkan ayahnya sendiri. Walau pada kenyataannya Tuan Frans memang tipikal orang galak dan tampangnya sangat menakutkan. Itu kalau dia sedang marah. Apalagi jengkel mendengar tingkah laku Edgar yang sering membuat darah tingginya makin naik.
“Memangnya kakek itu siapanya Paman Edgar?” Austin ingin tahu.
“Ah, itu… Kakek itu hanya seorang kenalan paman saja. Sudahlah! Jangan sedih lagi ya, Austin,” hibur Edgar.
“Kamu tenang aja, ada aku ini kan?” Audrey turut menenangkan adiknya yang hampir menangis.
Edgar mengajak si kembar masuk ke dalam rumah. Dia mengarahkan Audrey dan Austin untuk mengganti seragamnya. Lalu, menyuruh mereka untuk segera mencuci kaki, cuci tangan, makan siang, setelah itu tidur siang.
“Cepat! Cepat! Kalian pasti lelah,” Edgar menggiring keduanya masuk ke dalam kamar.
“Paman, aku nggak bisa tidur,” keluh Austin.
“Pejamkan matamu, berdoa dulu sebelum tidur, lalu mulai menghitung domba dalam imajinasimu. Bisa?” Edgar menyarankan.
Austin menggeleng. “Aku mau Paman membacakan dongeng utukku,” pintanya.
“Apa? Mendongeng?” Edgar terbelalak. Lalu, keningnya mengkerut. “Baiklah,” katanya menyanggupi permintaan Austin.
Edgar naik ke tempat tidur Austin. Dia juga membawakan buku cerita. Lalu, dia mulai membacakannya perlahan-lahan. Hingga Austin terlelap di pelukannya.
“Austin, kamu sudah tidur, Nak?” tanya Edgar.
Tidak ada jawaban dari Austin. Syukurlah. Austin sudah tidur. Audrey juga sudah tidur. Spontan, Edgar mencium kening Austin. Rasanya, aneh saja. Kenapa dia sampai melakukan hal itu pada Austin? Seperti ada perasaan sayang kepada kedua bocah itu.
Sekarang, Edgar akan mengerjakan hal lain di rumah. Perlahan-lahan, dia beranjak dari ranjang Austin kemudian meninggalkan kamar si kembar tanpa bersuara.
Ceklek!
Pintu kamar si kembar ditutup Edgar. Biar mereka tidur nyenyak. Kira-kira, apa yang akan Edgar lakukan di rumah Siera? Menonton acara televisi saja.
***
Siera berjalan pulang menuju halte bus. Dia menunggu bus di sana. Tanpa sengaja sebuah mobil melewati hal bus dan seseorang di dalamnya membunyikan klakson, memanggil Siera.
“Ah, itu Adam. Tumben, dia berkeliaran di jam-jam seperti ini,” pikir Siera. Dia menghampiri Adam.
“Ayo, kuantar kamu pulang!” ajak Adam sembari menawarkan.
Siera tersenyum manis pada dokter itu. Lalu, dia membuka pintu mobil dan ikut pulang bersama Adam.
“Apa tidak merepotkanmu sampai harus mengantarku pulang segala?” tanya Siera malu-malu. Dia merasa tidak enak pada Adam. Dokter itu kan sangat sibuk sekali.
“Tidak. Aku baru selesai bekerja. Semalam aku lembur karena ada jadwal operasi mendadak. Tapi, sekarang aku senggang,” kata Adam memberitahu.
“Oh, begitu. Baguslah.” Dengan begitu Siera jadi tidak merasa bersalah pada Adam karena sudah menyita waktunya yang sangat berharga.
Adam menepikan kendaraannya. Sejenak matanya terpejam. Hal itu membuat Siera bertanya-tanya.
“Ada apa, Dam? Apa kamu mengantuk?” Siera memberanikan diri melihat wajahnya. Saat itu Adam memang terlihat kelelahan. Dia merasa tidak tega.
Lantas, Siera yang akan mengambil alih kemudi. “Istirahatlah. Biar aku saja yang menyetir,” Siera menawarkan.
“Benar, kamu mau menyetir? Aku ngantuk sekali Siera,” Adam beralasan.
Siera menyuruh Adam pindah ke jok sebelah. Lalu, dia duduk di jok kemudi dan mulai mengendarai mobil Adam. Kasihan sekali, dokter itu pasti sudah berjuang keras demi menyembuhkan pasien-pasiennya. Maka, Siera akan mengantarnya pulang. Sebagai balas jasa pada Adam karena pekerjaannya teramat mulia.
Setengah jam kemudian, Siera tiba di rumah Adam. Dia hendak membangunkan Adam. Namun, tidak tega. Jadi, dia akan membiarkannya dulu sampai Adam bangun dari tidurnya.
Hampir satu jam Siera menemani Adam tidur di dalam mobilnya. Perlahan, Adam membuka matanya. Dia menemukan Siera berada di sampingnya. Tertidur pulas. Ya ampun! Wanita ini masih seperti yang dulu, pikir Adam.
Adam turun dari mobil. Kemudian, dia memutar dan membukakan pintu mobil, posisi Siera menyetir. Dia menggendong Siera yang masih tertidur nyenyak dan masuk ke dalam rumahnya.
Adam membaringkan Siera di sofa panjang. Dia juga memberinya selimut agar Siera merasa nyaman dan tidak merasa kedinginan. Sementara, Adam akan membuatkan makan malam untuknya.
Ketika memasak, aroma masakan Adam tercium hingga membangunkan tidur Siera. Dia beranjak dari sofa dan mencari tahu aroma sedap apa yang begitu menggairahkan selera makannya malam ini.
“Kamu masak apa?” tanya Siera mendekati Adam di dapur.
“Pasta. Kamu suka pasta, Siera?” jawab Adam. Siera mengangguk. Suka, katanya. Sembari memerhatikan wajah Adam yang berseri-seri saat sedang memasak.
“Kalau begitu, coba cicipi ini,” Adam menyuapi Siera. Dia menyuruh Siera berkomentar tentang masakannya.
“Enak. Ini enak sekali. Kamu pandai juga memasak, Dam,” puji Siera.
Adam tersenyum. Dia melihat saus bolognese tertinggal di sudut bibir Siera. Kemudian, refleks jempolnya menyeka saus itu. Siera hampir saja menghindar. Dia tersipu malu dan wajahnya mulai memerah lagi.
“Apa kamu sudah memikirkan jawaban dari pertanyaanku kemarin?” Adam mengalihkan pembicaraan.
“Aku… entahlah,” Siera masih ragu-ragu.
“Kenapa?” Adam penasaran sekali dengan sikap jual mahal yang ditunjukkan Siera. “Apa ada seorang pria yang mendekatimu saat ini?” desak Adam.
Adam mematikan kompor. Lalu, dia kembali menyudutkan Siera dengan pertanyaan-pertanyaan yang menjurus ke hal lebih serius lagi.
“Aku ingin memulai lagi denganmu. Izinkan aku untuk mencintaimu lagi, Siera,” pinta Adam.
Siera agak gugup menjawabnya. Dia malah memundurkan langkahnya. Hal itu justru membuat Adam semakin ingin menempel dengan wanita itu. Siera selalu menghindarinya. Namun, kali ini Adam ingin bergerak cepat menangkapnya. Dia tidak ingin kehilangan wanita yang amat dicintainya dari dulu.
“Kamu masih mencintaiku, Adam?” tantang Siera.
“Ya. Aku sangat mencintaimu. Bahkan, detik ini pun aku masih tergila-gila padamu,” ungkap Adam. Terang-terangan dia mengakui perasaannya pada Siera. “Kamu menginginkan bukti?” Adam balik menantang Siera.
Siera mendongakkan wajahnya lalu menatap dokter itu lekat-lekat. Dia ingin melihat ketulusan hati Adam dengan cara melihat sepasang matanya. Karena mata tidak bisa berbohong.
Ketika keduanya tengah beradu pandang, saling menatap satu sama lain, tiba-tiba tangan Adam mulai bergerak aktif menyentuh wajah Siera. Dia membelai rambut Siera dengan lembut dan mendaratkan ciuman mesra di bibirnya.
Adam menekan pinggang Siera ketika bibir keduanya saling berpagutan. Napas pria itu mulai memburu. Tangan nakalnya menjelajahi area sensitif Siera dan membuat kedua insan yang tengah di mabuk asmara itu mengeluarkan desahan manja yang sudah lama mereka rindukan.
***