Kesempatan Kedua

1092 Kata
DRRRTTT! Ponsel Siera bergetar. Panggilan masuk dari Edgar. Siera buru-buru menjaga jarak dengan Adam lalu dia menjawab teleponnya terlebih dahulu. "Siera, kamu di mana? Kenapa belum pulang?" semprot Edgar di seberang sana. Suaranya melengking-lengking mirip nenek cerewet yang memekakan telinga Siera. Siera menjauhkan ponselnya, kemudian dia berujar pada Adam, "Sebentar. Aku terima telepon dulu." Siera menjawab telepon Edgar, tak kalah sewot. "Aku sedang ada urusan di luar. Kenapa memangnya?" "Cepat pulang! Aku ngantuk mau tidur," desak Edgar. Ckckck. Siera berdecak. "Iya, baiklah. Aku akan pulang sekarang." Klik! Siera menutup teleponnya duluan. Dia agak kesal karena Edgar menyuruhnya cepat-cepat pulang. Siera masih menekuk wajahnya. Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di pinggang Siera. Deg! Siera terkejut dengan cara Adam memeluknya dari belakang. "Kamu akan pulang?" tanya Adam dengan lembut. Siera mengangguk pelan. "Iya. Pengasuh anak-anakku sudah menelponku tadi," Siera memberitahu. Dia melepas pelukan Adam. Adam meraih tangannya, mencegahnya pergi. "Aku masih merindukanmu, Sayang," ungkapnya tanpa basa-basi lagi. "A-apa? Sayang?" Siera kegeeran sendiri. Wajahnya langsung memerah karena malu. "Kemarilah!" Adam membawanya kembali dalam pelukan. "Kuharap, kamu mau menerimaku lagi Siera. Aku sangat mencintaimu," bisik Adam di telinga Siera. Yang dilakukannya berhasil membuat Siera merinding dan membayangkan sesuatu yang agak 'nakal'. Aish! Apa yang sudah dipikirkan Siera saat ini? Dia harus segera pergi sekarang. Sebelum Edgar ngamuk karena Siera pulang larut malam. "Aku tahu kamu juga sangat mencintaiku, Siera. Aku bisa lihat dari caramu menciumku tadi," Adam membalikkan tubuh Siera kemudian memerhatikan wajahnya lagi. Terutama bagian bibirnya. Rasanya pria itu ingin menciumnya sekali lagi. Siera malu-malu. "Apa kelihatan sekali kalau aku masih memendam perasaanku padamu?" Adam mengangguk mantap. "Ya, aku tahu. Kamu sangat mencintaiku Siera. Jadi, mulai sekarang apa kita akan memulai lagi dari awal?" tanyanya karena ingin memastikan. Tanpa pikir panjang lagi Siera langsung mengiyakannya. Jika memang ada kesempatan kedua memulai lagi hubungan yang serius dengan Adam, maka Siera akan memanfaatkannya. Dia tidak ingin menyia-nyiakan lagi waktu bersamanya. "Aku pulang dulu. Istirahatlah," kata Siera pamitan. "Kamu juga. Cepat pulang dan tidur! Kita akan bertemu lagi, Sayang," Adam mengecup kening Siera dengan mesra. Siera mengangguk. Dia segera pulang setelah taksi online menunggunya di depan rumah Adam. Sebelumnya, dia meminta maaf karena tidak bisa mengantar Siera pulang. Tidak masalah. Siera mengerti jika saat ini Adam sedang kelelahan. Dia tidak memaksakan diri meminta kekasihnya itu mengantarkannya pulang. *** Setibanya di rumah, Edgar kelihatan kesal sekali karena Siera pulang terlambat. Dia uring-uringan nggak jelas dan membuat Siera terheran-heran dengan sikapnya. "Apa pekerjaanmu sangat banyak? Sampai kamu pulang larut malam begini," tanya Edgar seperti sedang menginterogasinya. Dia berkacak pinggang seperti atasan yang sedang memarahi bawahannya. Siera mengangguk pelan. Terpaksa dia harus berbohong di depan Edgar. Mana mungkin dia mengatakan kebenarannya. Jika dirinya tak sengaja ketiduran di rumah Adam. Cari mati saja kalau Siera sampai keceplosan mengatakannya. "Maaf, Edgar," sesal Siera. "Lain kali, tidak akan kuulangi lagi. Aku akan pulang tepat waktu," janjinya. Dia tidak berniat mengatakan alasan sebenarnya. Bukannya begitu. Edgar heran saja, apa jam kerja petugas satuan keamanan berlebih? Sehingga hal itu membuat Edgar berspekulasi ada sesuatu yang salah dengan sistem kerja satuan keamanan di perusahaannya. Kalau begitu dia harus mengurangi jam kerjanya dan menambah lagi pegawainya. “Apa kamu sedang menguji kesabaranku, Siera? Mana ada jam kantor sampai larut begini. Apalagi kamu!” tunjuk Edgar. “Kamu itu petugas keamanan wanita, yang hanya boleh lembur itu petugas keamanan pria,” jelasnya. “Dari mana kamu tahu detail pekerjaanku, Edgar?” Siera heran. Dia menggaris bawahi perkataan Edgar terakhir. "Ah, itu…” Edgar menggaruk kepalanya. Dia salah bicara rupanya. “Sudahlah. Aku mau ke kamar saja. Aku lelah," pamit Edgar. Dia buru-buru pergi meninggalkan Siera. Jangan sampai Siera menanyakannya lebih lanjut. Bisa kacau urusannya jika Edgar terlalu banyak bicara di depan Siera. "Dia pasti marah padaku. Sampai-sampai dia lupa untuk memaafkanku," cibir Siera. BRUUUKK! Edgar menutup pintu kamarnya. Malam ini dia akan memikirkan cara untuk memberhentikan Siera dari pekerjaannya. Karena sebentar lagi dia akan kembali ke perusahaannya. Siera tidak boleh tahu jika Edgar adalah CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Tetapi, bagaimana caranya? Harus ada solusi dari pemberhentiannya. *** “Selamat pagi, Edgar!” sapa Yesha. Dia bangun lebih pagi karena diberitahu bibinya kalau Edgar sering berolah raga di pagi hari. “Oh, pagi Yesha,” balas Edgar. Dia hendak membangunkan anak-anak untuk melakukan sprint pendek di lapangan depan rumahnya. “Kamu mau olah raga, ya? Boleh tidak, aku ikut jogging denganmu?” Yesha memastikannya dahulu. Edgar tersenyum kecut mendengarnya. “Si-silakan saja,” Edgar mengizinkannya. Edgar masuk ke dalam rumah dan mengajak si kembar yang sudah siap dengan setelan training juga sepatu ketsnya. Tumben, Siera yang menyiapkannya. “Edgar, kamu lupa ya?” Siera menanyakannya kembali. “Apa?” Edgar tidak ingat. “Kamu belum memaafkanku semalam,” Siera mengingatkannya lagi. “Oh, itu. Aku sudah lupa. Jadi, lupakan saja,” kata Edgar enteng. “Lain kali jangan diulangi lagi. Aku tidak akan memaafkanmu kalau kamu sampai pulang larut malam lagi.” “Kenapa memangnya? Apa kamu mengkhawatirkanku?” “Aku… ah sudahlah!” putus Edgar. Dia kehabisan kata-kata jika Siera menyudutkannya seperti itu. “Ayo, anak-anak!” ajak Edgar sembari menggandeng tangan Audrey dan Austin. Siera mengantar sampai di depan rumah. Edgar membawa anak-anaknya berolah raga pagi. Siapa wanita itu? Apa dia warga baru di sini? Siera mengerutkan keningnya. Dia terheran-heran melihat wanita asing itu begitu akrab dengan Edgar. “Siapa dia?” Siera penasaran sekali. “Hey, Siera!” sapa Ibu Maura, si ibu gemuk yang tinggal di rumah sebelah. “Itu keponakanku. Gimana menurutmu, dia cantik, kan?” tanyanya pada Siera meminta pendapatnya. “Biasa aja,” ketus Siera. Tetangga sebelah itu tersenyum kecut mendengar pendapat Siera. “Kamu cemburu, ya?” tebak Ibu Maura. Deg! “Cemburu?” ulang Siera bergumam bingung. Masa iya dirinya cemburu pada Edgar? “Kelihatan tuh dari mukamu. Kamu tidak suka melihat kemesraan yang ditunjukkan keduanya, kan? Bilang aja, Siera. Sebenarnya kamu dan Edgar itu ada hubungan apa sih?” Ibu Maura mulai kepo. Dia ingin tahu jawaban Siera. Karena langka saja. Jarang-jarang Siera ada di rumah di pagi hari. Dia belum pergi bekerja dan menyempatkan mengobrol dengan tetangganya. “Kami tidak ada hubungan apa-apa,” jawab Siera. Dia segera masuk ke dalam rumahnya sambil menahan kesal. Cemburu katanya? Mana ada perasaan itu dalam diri Siera. Tidak, dia meyakinkan dirinya sendiri untuk tidak cemburu melihat kedekatan Edgar dan wanita itu. Apalagi dengan anak-anaknya. Mereka kelihatan seperti sebuah keluarga yang utuh. Semua orang yang sekilas memerhatikannya pasti akan beranggapan demikian. “Tidak! Aku tidak cemburu sama sekali,” tegas Siera saat memandangi dirinya di dalam cermin. Tapi, kenapa hatinya merasa kesal? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN