Cemburu

1122 Kata
“Bodo amat!” Kenapa juga Siera harus mengurusi urusan tidak penting itu? Sebaiknya Siera bersiap-siap saja pergi bekerja. Tinggal setengah jam lagi. Siera pun bergegas. Dia tidak boleh datang terlambat. Karena kalau terlambat bisa dipotong gajinya, katanya. Entah benar atau berita bohong. Siera tetap akan mematuhi peraturan di jam kerjanya. Siera sudah berangkat kerja. Dia melirik ke samping kiri. Edgar dan anak-anaknya masih lari pagi di jogging track. Audrey dan Austin melambaikan tangannya pada ibu mereka yang akan pergi bekerja. Siera balas melambai. Tiba-tiba dia melihat pemandangan yang tidak biasa. “Aish! Apa-apaan mereka ini? Kenapa harus melakukannya di depan anak-anak?” Siera ingin menimpuk wajah Edgar dengan sepatu pentopelnya. Langkah Siera terhenti. Dia berkacak pinggang sambil menyaksikan Edgar mencium wanita itu. Tidak mungkin. Pasti Siera salah lihat. Menyebalkan! Kejadian yang sebenarnya tidak seperti itu. Siera telah salah paham. Saat itu, Edgar sedang membantu meniup mata Yesha yang kelilipan. Kemasukkan debu katanya. Jadi, Edgar membantunya. Rupanya itu yang terjadi. Tetapi anggapan Siera berbeda. Ada yang salah dengan penglihatannya. “Bagaimana? Matamu sudah tidak apa-apa, kan?” Edgar memastikannya lagi. Yesha mengangguk pelan. Dia malah mengucek-ngucekkan matanya dengan tangan. Spontan Edgar melarangnya dengan meraih tangan Yesha. Ups! Bisa salah paham lagi perlakuan Edgar pada gadis itu. Deg! Perasaan Yesha berdebar-debar ketika Edgar mendekatinya. Wanita itu menelan salivanya bulat-bulat. “Paman, ayo kita pulang! Sebentar lagi bus sekolah akan menjemput kami,” Audrey mengingatkan. “Ah, baiklah. Kita siap-siap dulu ke sekolah,” Edgar membawa serta anak-anak. Dia pergi meninggalkan Yesha yang masih berdiri mematung. Sepertinya Yesha sudah terbius pesona Edgar sejak pria itu membantunya meniup debu yang tiba-tiba masuk ke dalam matanya. Tanpa disadarinya Edgar dan si kembar sudah berjalan menjauhinya. “Aish! Mereka meninggalkanku,” dengus Yesha. Setelah dia tersadar dari lamunan panjangnya. *** "Bos!" panggil Mike setibanya di sebuah restoran ternama dekat kantor. Edgar menoleh kemudian melambaikan tangan pada Mike, menyuruhnya untuk segera menghampirinya. Sebelumnya mereka sudah janjian bertemu di saat jam makan siang. "Ada apa Bos memanggil saya?" tanya Mike. "Tolong bayar semua kopi, cemilan, dan makan siangku," kata Edgar memerintah. Dia juga menyodorkan tagihannya pada Mike. "APA?" Mike membelalak kaget melihat nominal angka di struk tagihannya. Nggak salah tuh? "Ada apa?" Edgar menanggapinya dengan datar. Dia menyepelekan tagihannya. Banyak sekali Edgar makannya. "Anda makan semua makanan yang dipesan ini, Bos?" Mike memastikannya lagi. Ada ragu di dalam hatinya. Takutnya Mike salah bayar. Sayang sekali kan jika sampai salah. Sialnya, itulah kenyataannya. Hari ini Edgar makan banyak sekali. Tidak biasanya memang. Entah kesurupan setan mana sampai-sampai Edgar menghabiskan lima menu makanan dalam porsi besar sekaligus. "Bayar saja semuanya. Nanti kuganti bulan depan. Setelah aku kembali ke perusahaanku," Edgar meyakinkan. Mike menelan ludah. Bosnya itu rakus atau kelaparan atau gimana sih? Skip saja masalah itu. Sekarang, kembali ke pembicaraan awal saja, kata Edgar. Dia bertemu dengan Mike karena ada sesuatu yang ingin disampaikannya. Sebelum dia masuk kerja lagi ke perusahaan. "Apa yang ingin Anda bicarakan dengan saya, Bos?" Mike mengalihkan. "Kurangi jadwal petugas satuan keamanan untuk personil wanita!" perintah Edgar pada Mike. "Alasannya kenapa Bos kalau boleh tahu?" Mike mengerutkan keningnya. Dia menunggu penjelasan dari Edgar. "Tidak ada alasan. Tambahkan saja personil prianya. Sementara untuk wanita, kurangi saja jam kerjanya dan berikan mereka libur di akhir pekan. Biar personil pria saja yang masuk semua pada akhir pekan," terang Edgar panjang lebar. Penjelasan Edgar masih menjadi tanda tanya besar dalam benak Mike. Tetapi, masuk akal juga menurutnya. Tidak masalah menurut Mike. Edgar sebagai CEO di perusahaannya masih memiliki wewenang untuk mengubah kebijakan-kebijakan di kantor. Satu hal lagi, unek-unek yang ingin disampaikan oleh Edgar kepada Mike. Sudah lama dia ingin menceritakannya pada Mike. Namun, selalu belum sempat. Alasannya selalu ada saja. Salah satunya Edgar belum siap ditertawakan oleh Mike. “Ada apa Bos? Kok kelihatan tegang begitu ngomongnya,” goda Mike. “Sembarangan kamu! Siapa yang tegang? Bagian mana yang kelihatan tegang?” semprot Edgar. “Ah, tidak apa-apa, Bos,” sanggah Mike. Edgar menjelaskan kepada Mike. Saat ini, dia bekerja sebagai pengasuh anak kembar di rumahnya Siera. Pegawai wanita yang menjadi salah satu personil satuan keamanan di perusahaan yang Edgar Kelola. “Apa?” Mike tidak memercayainya. Awalnya, dia agak melongo mencerna perkataan Edgar. Lama kelamaan, bocah tengik itu malah ketawa terbahak-bahak di depan Bosnya. Sudah Edgar duga, Mike pasti menertawakannya. Memang terdengar konyol. Tetapi, itulah kenyataan yang harus Edgar hadapi. Dia tidak bisa menghindarinya. Itulah alasannya kenapa Edgar buru-buru mengubah kebijakan-kebijakan di kantor. Lalu, masalahnya di mana? Mike masih bingung. Yang jadi masalahnya, Siera tidak pernah tahu jika Edgar adalah pemimpin tertinggi di perusahaannya. Sementara, Edgar bakalan sering mondar-mandir di perusahaannya mulai bulan depan. Setelah kasus yang menjeratnya dinyatakan ditutup. Siera pasti terkejut mengetahuinya. Karena itu, Edgar berencana akan memberhentikan Siera dari pekerjaannya. “Anda yakin, Bos dengan keputusannya?” Mike ragu lagi. “Jika Siera dipecat, lalu bagaimana dengan kehidupannya, dan kedua anak kembarnya? Sementara, dia adalah tulang punggung keluarganya.” “Itu dia masalahnya, Mike. Tolong bantu aku mencarikan solusinya. Aku tidak ingin melihat dia berseliweran di hadapanku. Di sisi lain, aku juga tidak tega melihat Siera tak berpenghasilan lagi,” papar Edgar. “Ini masalah yang rumit, Bos,” Mike berpendapat. “Makanya itu, tolong beri aku ide bagus untuk merumahkan Siera.” Mike sama bingungnya dengan Edgar. “Memangnya kenapa, Bos jika Siera tahu Anda pemimpin perusahaan di sini? Dia masih bisa bekerja di sini, kan?” “Lalu, urusan si kembar gimana?” Edgar membalikkannya pada Mike. “Mereka butuh pengasuh kalau Siera masih bekerja di kantorku.” Benar juga, ya. Mike berpikir ulang. “Carikan saja solusinya! Sebelum aku kembali ke perusahaan kamu harus sudah menyetorkan solusinya padaku.” Edgar beranjak dari tempat duduknya. “Lantas, Bos mau ke mana?” cegah Mike. “Jemput si kembar,” Edgar beralasan. “Hari ini kami akan pergi berenang,” dia memberitahu Mike. “Boleh saya ikut, Bos?” rengek Mike. “Tidak!” tegas Edgar. “Lakukan perintahku dulu!” “Baik, Bos,” Mike patuh. Dia tidak berhak untuk tidak melaksanakan perintah Bosnya. Harga mati soalnya. Edgar pergi meninggalkan restoran. Dia menutupi kepalanya dengan sweater hoodie berwarna navy. Sekilas dia melihat Siera yang sedang melayani tamu dengan sangat ramah. “Kasihan sekali dia jika aku memecatnya dari pekerjaannya,” pikir Edgar. Edgar akan mempertimbangkan lagi keputusannya. Dia tahu Siera pekerja keras. Dia berjuang mati-matian, banti tulang demi menafkahi kedua anak kembarnya. Jika mengingat perjuangannya yang melelahkan seperti itu, membuat Edgar jadi iba kepadanya. Astaga! Sejak kapan Edgar jadi memedulikan perasaan orang lain? Perlahan-lahan, sikapnya mulai berubah. Mungkin kasus tabrak lari yang tengha menimpanya itu sudah memberikannya kesadaran akan pentingnya hidup bersosialisasi dan memiliki kepedulian terhadap sesama. “SIERA!” panggil seorang pria. Edgar menoleh. Dia terkejut melihat Siera dan pria itu begitu akrab. ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN