Awasi Siera!

1168 Kata
“Apa mereka saling mengenal?” Edgar terkejut melihat Adam menyapa Siera. Pemandangan yang cukup menarik. Sayang sekali jika terlewatkan. Edgar memerhatikan keduanya. Mereka tampak akrab. Bahkan, kelihatannya terlewat dekat. Sedekat itukah hubungan mereka? Tetapi, hubungan seperti apa yang mereka jalani saat ini? Edgar jadi ingin tahu lebih lanjut. Diam-diam, Edgar masih mengawasi keduanya. Dia bersembunyi di balik pohon. Seseorang dari belakang datang mengejutkan Edgar sambil menepuk pundaknya. “Bos!” panggil Mike. “Ngelihatin apa sih, Bos?” tanyanya mencari tahu. “Mike, kamu tahu, ada hubungan apa di antara mereka berdua?” Edgar malah balik tanya. “Mana saya tahu, Bos. Ini pertama kalinya saya melihat mereka,” jawab Mike. Ah, iya benar. Edgar pun baru mengetahuinya sekarang. Lah, ke mana mereka pergi sekarang? Edgar kehilangan jejak mereka. Aish! Sialan! Mereka tiba-tiba menghilang. “Mungkin Siera salah satu pasiennya Dokter Adam. Mereka tak sengaja bertemu dan saling menyapa. Setelah itu, mereka berpisah dan melanjutkan aktifitasnya masing-masing,” Mike menyimpulkan. Edgar menoleh ke arah Mike. “Menurutmu begitu, Mike?” Mike mengangguk mantap. Itu baru dugaannya saja. terlepas benar tidaknya, Mike tidak tahu. Itu yang dikatakan Mike kepada Edgar. Agar Edgar tidak berburuk sangka kepada Siera. Jawaban Mike masuk akal juga. Mungkin memang begitu keadaannya. Syukurlah. Jika benar demikian. Edgar merasa tenang sekarang. Dia tidak perlu repot-repot memikirkan hubungan Siera dengan adik tirinya, Adam. “Memangnya kenapa Bos dengan hubungan mereka?” Mike heran. “Bos, apa Anda sedang… jangan bilang kalau Anda sedang cemburu pada Siera.” Edgar refleks menjitak kepala Mike karena Sekretarisnya itu asal bicara di depannya. “Cemburu apa? Jangan berspekulasi begitu. Nanti orang lain bisa salah paham mengartikan maksud ucapanmu.” “Maaf, Bos. Atas kelancangan saya,” sesal Mike. Sembari menahan rasa sakit di kepalanya setelah dipukul oleh Edgar. “Mike, aku mau kamu mengawasi Siera selama di kantor. Laporkan padaku apa saja yang dilakukannya. Pekerjaan apa saja yang dikerjakannya. Mengerti?” perintah Edgar. “Untuk apa, Bos? Tadi katanya Bos tidak cemburu kepadanya. Kenapa sekarang Bos menyuruh saya mengawasi Siera?” Mike mengerutkan kening, bingung. “Untuk mencari celah pemecatannya,” terang Edgar. “Lakukan saja! Jangan lupa laporkan padaku setiap harinya.” “Siap, Bos!” Mike menuruti perintah bosnya. *** Adam dan Siera sudah ada janji makan siang bersama. Keduanya kini berada di kafe terdekat kantornya Siera. “Siera, sampai kapan kamu akan bekerja di perusahaan itu?” tanya Adam. Raut wajahnya terlihat serius sekali. Sepertinya Adam tidak suka Siera bekerja di sana. Apalagi dengan pekerjaan yang kini dijalani oleh wanita yang amat dicintainya itu. “Memangnya kenapa?” Siera balik bertanya. Dia harus tahu dulu alasan dari Adam. Setelah itu barulah dia akan menjawab pertanyaannya. “Karena perusahaan itu milik kakakku,” Adam beralasan. “Milik kakakmu?” Siera membelalak kaget. Dia tidak tahu jika dirinya bekerja di perusahaan keluarganya Adam. “Ya. Aku pernah cerita tentang kakakku, kan?” “Kakakmu yang bernama Freddy itu, bukan?” Siera memastikannya lagi. “Benar,” Adam mengiyakannya. Siera mengernyitkan dahinya. Jika kakaknya Adam pemilik perusahaan di tempat Siera bekerja. Berarti CEO menyebalkan itu… “Siera!” panggil Adam. Dia membuyarkan lamunan Siera. “Kamu kenapa bengong begitu?” Adam heran. “Makanlah! Sebentar lagi jam makan siangnya sudah habis. Kamu juga harus segera kembali bekerja, bukan?” dia mengingatkan Siera. Siera mengangguk. Selama menyantap makan siang dengan Adam, Siera banyak berpikir tentang CEO itu. Siera pernah bertemu dengan CEO misterius itu beberapa kali di kantor. Tetapi, sampai saat ini Siera belum pernah melihat wajahnya dengan jelas. CEO itu sering menghindarinya. Mengenai pertanyaan yang ditujukan Adam kepada Siera, wanita itu belum menjawab apa-apa. Dia belum yakin dengan keputusannya apakah mau dilanjutkan atau tidak. Tetapi, untuk saat ini hanya pekerjaan itulah yang menjadi alternatif terakhirnya. Setelah dia ditolak beberapa perusahaan. Sayang sekali jika Siera harus melepaskannya begitu saja. Karena belum tentu dia bisa bekerja di tempat lain seperti saat ini. “Kamu tidak ingin menjawab pertanyaanku, Siera?” Adam menagihnya lagi. “Maaf, Dam. Aku tidak bisa menjawab pertanyaannya sekarang. Jujur saja, aku masih membutuhkan pekerjaan itu untuk menafkahi anak-anakku. Aku akan berhenti jika kelak aku menikah dan suamiku nanti menyuruhku hanya tinggal di rumah mengurus anak-anak,” Siera beralasan. Wajahnya memerah dan tersipu malu. Adam tersenyum. Dia sangat mengerti keadaan Siera saat ini. Senyumnya juga penuh arti. Itu memang rencana Adam di masa depan. Dia ingin membina rumah tangga bersama Siera. Karena itulah dia menanyakannya langsung pada Siera. Sebagai gambaran jika pilihannya tepat untuk saat ini. “Siera,” desis Adam pelan. Saat itu dia melihat Siera sedang mengunyah makanannya. “Menikahlah denganku. Kamu mau, kan?” Uhuk-uhuk! “Siera, kamu tidak apa-apa?” Adam perhatian. Dia memberinya segelas air mineral. Siera tersedak. Dia menepuk-nepukkan dadanya. Lalu, dia mengambil air minum pemberian Adam. Meneguknya hampir habis. Dia terkejut mendengar pertanyaan itu dari Adam. Apa Adam sedang melamarnya sekarang? Kenapa begitu mendadak? “Maaf, ya pertanyaanku membuatmu terkejut. Ah, bodohnya aku. Seharusnya aku tidak mengatakannya saat kamu sedang makan,” sesal Adam. Dia menyalahkan dirinya sendiri. “Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja, Adam,” kata Siera. Dia bisa memakluminya. Adam merasa bersalah karena dia tidak sabaran. Dia tidak bisa menunggu sampai Siera selesai menghabiskan makanannya. Dia selalu ingin cepat-cepat mengatakannya. Jadinya, seperti itu tuh! Siera tersedak. Telepon Adam berdering. Sepertinya itu panggilan darurat dari Rumah Sakit. Adam segera menjawab teleponnya. Setelah itu, dia bergegas karena harus kembali ke tempat kerjanya. Siera mengerti kesibukan Adam. Dia juga sudah selesai makan dan harus kembali bekerja. Usai makan siang, Adam mengantar Siera kembali ke perusahaan tempatnya bekerja. Di samping itu, dia juga harus menuju Rumah Sakit karena ada pemeriksaan pasien rawat jalan siang ini. Siera melambaikan tangannya ke arah Adam setelah turun dari mobil kekasihnya. “Kalau luang telepon aku, ya!” kata Siera mengingatkan Adam. “Aku akan meneleponmu nanti malam. Sebelum kamu tidur,” Adam menjanjikan. Siera tersenyum lagi. Adam tancap gas dan melajukan mobilnya meninggalkan Siera. Pria itu harus segera sampai di Rumah Sakit. Sementara, Siera masih senyum-senyum sendiri ketika memasuki lobby kantor. Dia tidak menyadarinya. Sejak tadi, Mike memerhatikan gerak-geriknya dari kejauhan. Sesampainya di front office, Mike langsung menegurnya. “Siera, kamu telat lima menit!” tegur Mike. “Astaga!” Siera baru menyadarinya. Buru-buru dia langsung meminta maaf kepada Mike, “Maafkan saya, Pak,” sesalnya. “Dari mana saja kamu? Kenapa datang terlambat setelah makan siang?” tanya Mike agak galak. “Maaf, Pak. Tadi saya sedang bersama… teman,” Siera beralasan. “Teman?” Mike menatapnya curiga. “Yakin hanya sekadar teman?” tanyanya lagi penuh selidik. Sesuai perintah Edgar, bosnya. Siera mengangguk. “Iya, teman…” dia meringis. “Baguslah!” “Apa?” Siera tidak mengerti kenapa Mike, atasannya itu ingin tahu masalah pribadinya? “Ah, tidak apa-apa. Lanjutkan lagi pekerjaanmu. Lain kali, jangan terlambat lagi! Akan sangat berbahaya sekali jika CEO kita melihat pegawai sepertimu terlambat masuk jam kantor. Mengerti?” Mike menasihati. “Apa aku akan dihukum, Pak?” tanya Siera. Dia agak ketakutan mendengarnya. Segalak itukah perilaku CEO di perusahaannya? ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN