CEO Galak, Katanya

1135 Kata
“Entahlah. Kita lihat saja nanti. Sebaiknya kamu tidak bertingkah macam-macam dan patuhi semua aturan di kantor jika ingin selamat dari amukan CEO kita,” Mike memperingatkan. “Baik, Pak!” Siera mengangguk dan siap melaksanakan perintah atasannya. “Kembali bekerja! Ingat Siera, jangan macam-macam! CEO kita sangat galak.” Mike kembali memperingatkan Siera. Memangnya Siera salah apa? Dia diperingatkan dua kali oleh Mike. Dia merasa tidak melakukan kesalahan. Tunggu sebentar! Siera merasa ada yang janggal dengan pernyataan Mike tadi ketika menegurnya. Siera melirik jam tangannya. Tadi, Mike bilang kalau Siera terlambat lima menit. Padahal di jam tangannya masih menunjukkan pukul 12.55 pm. Itu artinya dia tidak terlambat masuk jam kantor usai makan siang bersama Adam. Karena aturan jam kantor pukul satu siang sudah kembali bekerja. Apa jam Mike bermasalah? Pikir Siera. Siera heran saja. Seingatnya, Siera sudah menyamakan waktu di jam tangannya dengan jam kantor. Jadi, mana mungkin dia terlambat, pikirnya. Gawat! Mike mempercepat langkahnya. Dia buru-buru pergi saja. Takut Siera menyadari bahwa alasannya tadi menegur Siera memang semata-mata karena Edgar yang menyuruhnya. Ya Tuhan! Kenapa Mike bisa terlibat dalam urusan Edgar? Menyebalkan sekali, dengus Mike agak kesal. *** Siera pulang ke rumah sambil menekuk wajahnya dan uring-uringan nggak jelas. Rupanya dia masih kesal karena Mike menegurnya usai jam makan siang. Padahal, dia tidak melakukan kesalahan seperti yang sudah dituduhkan kepadanya. Malam itu, Edgar melihat Siera duduk di balkon rumahnya. Dia menghampiri dan duduk di sampingnya. “Kamu mau kopi?” Edgar menawarkan kopi instan pada Siera. “Ambillah! Siapa tahu bisa membuat pikiranmu lebih rileks.” “Terima kasih,” Siera tidak menolak pemberian Edgar. Dia langsung menyeruput kopi dingin dalam kemasan kaleng. “Ada masalah apa?” tanya Edgar. “Aku lagi kesal,” jawab Siera agak ketus. “Iya, tahu. Kamu lagi kesal. Kesal kenapa?” tanya Edgar lagi. “Kesal sama orang,” jawab Siera ogah-ogahan. “Orangnya siapa?” Edgar makin penasaran. Habisnya Siera bicara setengah-setengah dan bikin anak orang penasaran saja. “CEO di perusahaanku,” Siera memberitahu. Deg! Edgar langsung tertarik mendengar cerita Siera. Dia langsung memutar badan dan memerhatikan gaya bercerita Siera. Wanita itu mengatakan bahwa CEO di tempatnya bekerja selain misterius juga sangat menyebalkan. Itu kesan pertama yang diceritakan Siera kepada Edgar. Edgar menyipitkan matanya. Malas sekali dia mendengar namanya dijelek-jelekkan seperti itu. Tetapi, dia masih ingin tahu kelanjutan ceritanya dari Siera. Terus? Edgar menantikannya. “Aku diberitahu bahwa ternyata CEO di perusahaanku itu kakaknya temanku,” terang Siera. Lantas? Siera panjang lebar menceritakan pengalaman pertamanya saat bertemu dengan CEO-nya. Dia juga sempat pergi menemui atasan tertingginya itu di ruang kerjanya. Namun, wajahnya tak nampak. Siera jadi menduga-duga. Mungkinkah CEO-nya itu berwajah buruk rupa? Atau jangan-jangan CEO itu memang sombong dan arogan. Sehingga tidak mau wajahnya diketahui oleh pegawainya sendiri. Konon katanya CEO-nya itu galak. Sering menghukum pegawai dan suka mengganti kebijakan kantor seenaknya. Kalau begitu, pantas saja dia tidak mau menunjukkan batang hidungnya. “Dari mana kamu tahu CEO itu galak? Memangnya apa yang sudah dia lakukan padamu, Siera?” Edgar geram mendengarnya. Namun, dia masih bisa mengendalikan perasaannya di depan Siera. Meski sudah gemas karena Siera tidak tahu jika Edgar adalah CEO itu. “Pokoknya begitulah. Aku juga tahu dari semua orang di kantor. Bayangkan saja, gara-gara tadi aku terlambat masuk jam kantor, Pak Mike sampai menegurku dua kali. Dia juga memperingatkan kalau aku mengulangi kesalahan yang sama maka CEO yang akan bertindak dan memberikan hukuman padaku. Menurutmu, apa itu tidak terlalu kejam?” cerocos Siera tanpa henti. Dia berbicara seperti kereta api. Panjang. “Jangan berburuk sangka dulu! Kamu kan tidak tahu dan tidak mengenal CEO itu dari dekat,” Edgar menasihati. “Malas. Aku tidak mau sampai berurusan dengannya. Akan sangat merepotkan sekali jika aku sampai mengenalnya atau dekat dengannya,” rutuk Siera. “Baguslah. Itu tidak perlu kamu lakukan Siera. Bekerja saja yang rajin dan lebih giat lagi, oke?” Edgar mendukungnya. Siera merasa terharu mendengar Edgar mendukungnya. Dia juga berterima kasih karena Edgar sudah mendengar keluh kesahnya malam ini. Siera merasa lega dan senang sekali ada teman mengobrol. “Oh, ya. Terima kasih kopinya. Besok, aku akan mentraktirmu makan mie instan,” kata Siera sambil berpamitan. Dia harus masuk ke rumah karena harus memasak makan malam untuk kedua anaknya. Mie instan? Ejek Edgar dalam hati. Dia tersenyum sinis mendengarnya. Siera tidak boleh tahu jika CEO yang dibicarakannya adalah Edgar. Ini PR besar untuk Edgar. Sebelum dia kembali memimpin perusahaannya, dia harus segera menyingkirkan Siera dari perusahaannya. *** Edgar pergi menemui Mike di lapangan bola dekat playground outdoor di komplek perumahannya. Malam itu, Mike dan Edgar janjian bertemu untuk melaporkan semua kegiatan Siera di kantornya. “Bagaimana? Kamu sudah menyelidiki hubungan Siera dengan Adam?” tanya Edgar setengah mendesaknya. Dia sungguh ingin tahu tentang kedekatan mereka. “Tidak ada. Mereka hanya berteman,” Mike melaporkan. “Kamu yakin, Mike?” Edgar memastikannya lagi. Mike yakin sekali. Dia mengangguk mantap dan berhasil meyakinkan Edgar. “Bos, apa Anda sudah mendapatkan cara untuk memecat Siera dari pekerjaannya?” Giliran Mike yang bertanya pada Edgar. Namun, jawaban Edgar tidak sesuai harapannya. “Belum. Aku juga merasa bingung jika harus memecatnya sebelum bulan depan,” sahut Edgar. Mike juga menyayangkan. Kenapa Edgar tidak berterus terang saja kepada Siera. Dengan begitu masalah bisa diselesaikan. Tidak segampang itu, Mike. Tetap saja, kendalanya adalah si kembar. Setelah kembali ke perusahaan Edgar tidak bisa bertemu lagi dengan Audrey dan Austin. Aha! Terlintas ide gila dalam benak Edgar. Dia mengemukakannya di depan Mike. “Bagaimana kalau aku tetap pada penyamaranku saja? Aku akan ke kantor pada akhir pekan saja. Dengan begitu aku masih bisa mengasuh si kembar dan Siera bisa melanjutkan lagi pekerjaannya. Bagaimana menurutmu, Mike?” Edgar menanyakan pendapat Mike. “Anda bercanda kan, Bos?” Mike merasa akan ada bencana besar bulan depan nanti. “Aku serius menanyakannya. Siapa yang bercanda?” “Maksudku Tuan Frans akan marah besar mengetahui ide gila Anda ini, Bos.” Mike menghela napas panjang. Mike tidak mengerti jalan pikiran Edgar. Kenapa sebagai CEO di perusahaannya, Edgar malas sekali datang ke kantor? Sampai detik ini Mike belum menemukan kejelasan dari alasan Edgar. Dia tidak bersikap seperti CEO pada umumnya. “Iya juga. Kalau begitu, aku jadi bingung lagi, Mike. Kamu dari tadi juga tidak memberikan solusi apa-apa padaku,” Edgar tiba-tiba sewot. Mike cuma bisa geleng-geleng kepala. Sementara, Edgar bersikap santai saja menghadapi situasi seperti ini. Ponsel Edgar bergetar. Panggilan masuk dari Adam. Dia tidak langsung menjawabnya. Santai saja dulu. Nanti, Edgar akan menjawabnya. Setelah agak lama melakukan panggilan telepon akhirnya, Edgar menerima panggilannya. “Mau apa dia menelponku?” ujar Edgar sambil menekan tombol teleponnya. “Ada apa?” tanyanya galak. “Kak, apa pegawai wanita bernama Siera bekerja di perusahaan Kakak?” tanya Adam di seberang sana. Edgar dan Mike saling beradu pandang. Kenapa tiba-tiba Adam menanyakan tentang Siera? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN