Mohon Selamatkan Anak Itu!

1172 Kata
“Apa yang Kakak lakukan?” Adam terkejut melihat aksi Edgar yang tiba-tiba berlutut di hadapannya. “Selamatkan anak itu! Aku mohon, Adam,” Edgar memohon pada Adam. Dia meminta adiknya itu untuk membantunya menyelamatkan adiknya Kevin yang mengalami kanker otak. “Kakak, bangun dulu! Malu dilihatin banyak orang,” Adam meraih tangan Edgar dan menyuruhnya berdiri. Dia kelihatan risih saat Edgar melakukan hal memalukan itu. Semua orang melihat kedua kakak beradik itu di lobby Rumah Sakit. Ini trik lama yang digunakan Edgar sebagai usaha terakhirnya membujuk Adam. Dia mengesampingkan harga dirinya demi menyelamatkan nyawa anak itu. “Kita bicara di ruanganku saja!” ajak Adam. Dia jalan duluan. Kemudian, Edgar dan Mike mengikutinya di belakang. “Aku yakin, cara ini pasti berhasil,” gumam Edgar sambil menyunggingkan senyum licik di belakang Adam. Adam berjalan cepat. Dia tidak ingin semua orang memandang sinis ke arahnya. Gara-gara insiden memalukan yang dilakukan kakaknya tadi. Adam geram sekali ketika membukakan pintu ruangannya. “Mau Kakak apa sekarang?” tanya Adam sekali lagi. “Aku hanya ingin kamu menyelamatkan anak itu. Jika kamu tidak ingin mengeluarkan uang sepeser pun untuknya, setidaknya bantu mereka untuk mengoperasinya. Kamu kan seorang dokter,” jelas Edgar. Adam berdecak. Dia melirik ke arah Mike. Rupanya ucapan Edgar tidak main-main. Mike pun membenarkan pernyataannya. Saat itulah, Adam memercayainya. “Aku akan memeriksanya lebih dulu. Setelah itu, aku akan membantumu, Kak,” Adam menjanjikan. “Beneran, kamu mau membantunya?” Spontan Edgar memegang tangan Adam. Dia begitu antusias mendengar Adam yang berjanji akan membantunya. “Iya. Nanti aku akan mengabarimu lagi, Kak. Aku minta alamat Kakak sekarang,” kata Adam. Edgar menatap ke arah Mike. Keduanya kini saling beradu pandang. Kenapa tiba-tiba Adam meminta alamat rumah kontrakannya? Kan bisa saja Adam menghubungi Mike sebagai perantara Edgar. “Kamu hubungi Mike saja. Kenapa bersikeras menemuiku di rumah kontrakan itu? Kamu sengaja ingin mengejek dan menertawakanku, ya?” Edgar jadi berprasangka buruk. “Aku tidak mengejek atau pun menertawakan Kakak,” Adam tersenyum dipaksakan. Selalu begitu. Edgar selalu berpikiran yang tidak-tidak tentang adiknya itu. “Pokoknya kamu jangan ke rumahku! Awas kalau kamu tidak menuruti perintahku. Tamat riwayatmu!” ancam Edgar. “Hah, Kakakku ini preman atau gangster sih? Kenapa Kakak selalu mengancamku? Padahal tadi, jelas-jelas Kakak berlutut di hadapanku sekadar meminta bantuanku,” Adam merasa heran. “Bukan urusanmu. Preman, gangster, atau mafia sekali pun kamu tidak berhak ikut campur dengan kehidupanku. Mengerti?” tegas Edgar. Edgar pergi meninggalkan ruang kerja Adam. Sebelum benar-benar pergi, Edgar memperingatkan Adam lagi. “Jangan lupa! Kamu harus menepati janjimu, Dam!” “Iya. Aku janji,” kata Adam. Dia terpaksa melakukannya. Bagus. Kali ini Edgar keluar dari ruangan Adam. Dia tersenyum puas setelah mendapatkan kepastian dari Adam. “Anda menggunakan trik lama lagi, Bos,” Mike menyadarinya. “Kalau tidak begitu, dia tidak mengabulkan permintaanku, kan?” Edgar memerintahkan Mike untuk mengawasi Adam. Jangan sampai Adam kelupaan atau sengaja ingkar janji. Baik, katanya. Mike akan melaksanakan perintah Edgar. *** Tok-tok-tok! Suara pintu kamar Edgar diketuk beberapa kali. Terdengar suara bising di luar sana ketika Edgar baru saja mencoba tidur siang di akhir pekan. Tok-tok-tok! Aish! Siapa itu? Mengganggu sekali. Edgar beranjak dari tempat tidurnya. Dia berjalan dan hendak membukakan pintu kamarnya. “Paman Edgar!” seru Austin. Bocah itu memegang bola di tangannya. “Austin, ada apa?” tanya Edgar. “Ayo main bola, Paman!” ajak Austin. Sembari memegangi tangannya, menggoyang-goyangkan tangannya. “Main bola siang-siang begini? Panas banget, Austin,” keluh Edgar. Secara tidak langsung dia menolaknya. “Tadi, Ibu juga bilang begitu. Terus siapa yang mau main bola bersamaku?” Austin menundukkan kepala. Tertunduk sedih. “Memangnya Ibu ke mana?” Edgar penasaran di mana Ibu si kembar. “Ibu ada di rumah tetangga sebelah, Paman. Kayaknya mereka sedang bergosip tentangmu, Paman,” Austin memberitahu. Bukankah ini akhir pekan? Seharusnya jatah libur Siera digunakan untuk menemani anak-anaknya. Ini malah keluyuran tidak jelas. Bergosip di rumah tetangga sebelah. Menyebalkan! Rutuk Edgar. Dia juga kan ingin liburan. Seharian tidur di kamarnya. Fiuh! “Ayolah, Paman!” ajak Austin lagi. Kali ini mau tidak mau Edgar harus menolaknya. “Austin, Paman ngantuk. Mau tidur dulu. Main bolanya agak sorean, ya,” bujuk Edgar. Austin malah merengek dan mengancam akan menangis kencang jika Edgar tidak menuruti keinginannya. “Iya-iya, baiklah! Tunggu di situ! Paman ganti baju dulu,” kata Edgar. Dia bergegas mengganti kausnya. Kemudian, dia meraih tangan Austin keluar dari kamarnya. Siang ini, Edgar akan bermain bola dengan Austin di taman dekat rumahnya. Tidak hanya Austin, teman-temannya yang lain pun ikut bermain bola dengannya. Kalau begitu, Edgar yang akan menjadi wasitnya. Dia mengarahkan semua pemain bola tersebut. Bocah-bocah seusia Austin dengan tertib berbaris dan mematuhi semua aturan yang diterapkan oleh Edgar. Siera dan Audrey baru saja tiba di rumah setelah pulang dari mini market terdekat. Dia tidak menemukan Austin di rumahnya. Ke mana Austin? Siera mencari Austin ke mana-mana. Di kamar Edgar pun tidak ada. “Audrey, kamu lihat adikmu?” tanya Siera panik. “Itu! Mereka sedang bermain bola di taman, Bu!” tunjuk Audrey mengarah ke taman komplek perumahannya. “Ah, jadi mereka main bola di sana. Kenapa tidak memberitahuku sebelumnya? Aku kan jadi khawatir,” gumam Siera. “Bu, aku mau ikut main bola. Bolehkah?” pinta Audrey. Siera mengangguk. Siera akan mengantar Audrey ke taman. Setelah menitipkan Audrey pada Edgar, Siera kini lebih leluasa memasak di rumah. Oh, iya. Siera lupa membeli s**u cair di mini market. Dia balik lagi ke mini market. Di sana dia tak sengaja bertemu dengan seseorang yang tak asing dengannya.   “Siera?” Seorang pria menepuk bahunya. Siera menoleh dan dia tertegun cukup lama memandanginya. “Adam?” Siera agak terkejut dengan kedatangannya tiba-tiba. Bagaimana bisa mereka kebetulan bertemu seperti ini? Siera melihat penampilannya sendiri. Dia hanya berpakaian seadanya. Celana pendek dan kaus oblong. Serta sandal rumahan yang lumayan terlihat lusuh. Sementara, penampilan Adam tampak begitu hebat. Pria itu masih sama seperti dulu, ketika mereka sekolah di SMA yang sama. Selain tampan, berkharisma, kini Adam terlihat seperti seorang dokter sungguhan. Ya. Siera mengetahuinya dari beberapa temannya. Jika sekarang, Adam sudah menjadi seorang dokter yang hebat. “Lama tidak bertemu denganmu. Apa kabar?” tanya Adam, basa-basi. “Baik. Kamu sendiri gimana?” Siera balik bertanya. “Aku sangat baik. Dan kamu semakin cantik saja, Siera,” goda Adam. Siera tersipu malu mendengar pujiannya. “Kamu tinggal di sekitar sini, Siera?” tanya Adam lagi. Dia ingin tahu. Siera mengangguk. “Iya, itu benar. Ada apa kamu tiba-tiba ke sini?” Giliran Siera yang penasaran sekarang. “Aku mencari rumah Kakakku. Katanya di sekitaran sini.” “Kakakmu?” Siera mengerutkan kening. “Kamu tahu alamatnya?” “Entahlah. Dia tidak memberitahuku. Tetapi, aku akan mencarinya di sekitaran sini,” sahut Adam. “Kalau boleh tahu siapa nama Kakakmu? Siapa tahu aku bisa membantumu. Aku kan tinggal di sini,” Siera menawarkan bantuan. “Namanya…” Adam tampak berpikir dahulu. “Freddy,” jawabnya. “Freddy?” Siera mengernyitkan dahi. Rasa-rasanya, di komplek sini tidak ada nama itu. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN