“Paman bicara dengan siapa?” tanya Audrey. Sembari menyipitkan matanya, tanda sedang mencurigai Edgar.
“Ah, bukan siapa-siapa. Tadi itu teman Paman. Ayo, kita nonton lagi saja,” Edgar mengalihkan pembicaraan.
Edgar segera duduk kembali di sofa, antara Austin dan Audrey. Mereka kembali menonton film animasi kartunnya.
Selama satu setengah jam lebih, mereka menonton film animasi kartun. Tanpa disadari ketiganya terlelap dalam waktu bersamaan. Edgar nyenyak sekali. Dia merangkul kedua anak kembar itu di pelukannya.
Tak terasa waktu bergulir begitu cepat. Siera datang di saat mereka sedang tertidur pulas di ruang tengah. Siera mematikan acara televisinya. Kemudian, dia menyalakan lampu karena hari sudah petang.
Silau. Edgar terbangun dari tidurnya. Dia melihat Siera sudah pulang ke rumahnya. “Oh, kamu sudah pulang rupanya,” kata Edgar sambil mengucek-ngucek matanya yang setengah mengantuk.
“Iya. Apa anak-anak tidur dari tadi?” tanya Siera.
“Sekitar satu jam yang lalu,” jawab Edgar. “Aku akan memindahkan mereka ke kamarnya dulu,” katanya mengalihkan. Siera mengangguk.
Edgar menggendong Austin terlebih dahulu ke kamarnya. Dia membaringkan anak lelaki itu di tempat tidurnya. Setelah itu, gantian Audrey yang digendongnya. Siera tersenyum melihat Tindakan Edgar yang begitu perhatian kepada anak kembarnya.
“Dia seperti ayahnya saja,” gumam Siera pelan. Seraya membayangkannya.
“Aku harus pergi. Istirahatlah!” kata Edgar kepada Siera.
“Edgar, tunggu!” cegah Siera. Edgar menoleh. “Aku mau masak dulu. Kita makan malam bersama ya,” tawarnya.
“Ah… itu…” Edgar malu sekali. Sebenarnya dia juga merasa lapar. Tetapi, dia tidak mau merepotkan Siera yang baru saja pulang bekerja.
“Aku makan di luar saja,” tolak Edgar.
“Tidak apa-apa. Aku akan senang sekali jika kita bisa makan berdua. Karena anak-anak sudah tidur, jadi kita makan saja berdua,” kata Siera sambil membujuk Edgar.
“Oke, baiklah.” Edgar tidak bisa menolaknya lagi. Dia tidak mau mengecewakan ibu si kembar yang sudah mengajaknya makan malam bersama.
Siera menghidangkan makan malam di meja makan. Setelah makanannya siap disajikan, keduanya pun menyantap makan malam bersama. Suasana malam itu cukup hening. Keduanya malah saling curi pandang dan agak kikuk. Tidak tahu harus memulai pembicaraan dari mana.
“Makananmu, enak juga,” puji Edgar. Dia harus mengalihkan pembicaraan sebelum suasana mulai terasa garing.
“Makasih, ya,” ucap Siera. Dia tersipu malu mendengar kalimat pujian yang terlontar dari mulut Edgar.
Edgar tersenyum sekilas, “Sama-sama Siera.”
Keduanya kini sedang mengobrol. Mereka sudah tidak canggung lagi setelah berbasa-basi barusan. Sekarang, Siera nyerocos terus panjang lebar tentang pekerjaannya. Edgar hanya diam saja mendengarkan ocehannya.
Jika Siera bertanya, maka Edgar akan menjawabnya. Sebaliknya, Edgar hanya akan menanggapinya biasa saja jika Siera tidak melontarkan pertanyaan kepadanya. Ketika Siera sedang bercerita pun Edgar setia mendengarkannya. Begitu saja sampai larut malam.
Siera senang sekali ada Edgar menemaninya di rumah. Dia tak lagi kesepian setiap malam jika anak-anaknya sudah tertidur nyenyak.
“Aku sangat berterima kasih sama kamu, Edgar,” ucap Siera dengan mata berkaca-kaca.
“Terima kasih untuk apa?” Edgar mengerutkan keningnya.
“Terima kasih karena kamu sudah menjaga anak-anakku. Mereka bilang, kalian sudah berteman baik. Apa itu benar?” Siera memastikannya lagi. Edgar ketawa.
“Anak-anakmu berkata begitu? Padahal sebelumnya, mereka ngerjain aku habis-habisan,” kata Edgar.
Ups! Edgar keceplosan mengatakannya pada Siera. Dia harus segera meralatnya sebelum Siera berprasangka yang tidak-tidak pada si kembar.
“Ngerjain kamu? Maksudnya?” Siera tidak mengerti maksud ucapan Edgar.
Ah, bukan apa-apa. Edgar segera menutup mulutnya rapat-rapat. Dia tak lagi asal bicara di depan Siera. Bisa bahaya jika Siera tahu kedua anak kembarnya berhasil membuat Edgar sport jantung kemarin. Jangan sampai Siera mengetahuinya! Karena Edgar sudah berjanji kepada anak-anaknya untuk tidak mengatakannya pada sang ibu.
***
“Bos, tetap tidak bisa,” kata Mike. Ketika bertemu dengan Edgar di taman kota pagi hari setelah mengantar si kembar ke sekolahnya.
“Bagaimana ini?” Edgar mondar-mandir tidak karuan di depan Mike. Dia sedang memikirkan cara lain untuk mendapatkan uang pengobatan adiknya Kevin yang sedang sakit parah.
“Bos, coba saja pada adik Anda, Adam. Saya yakin Tuan Adam akan meminjamkan uangnya kepada Anda. Lagi pula, dia kan seorang dokter. Setelah Anda menjelaskan permasalahannya, dia tidak akan tinggal untuk membantunya,” Mike menyarankan.
“Haruskah aku pergi menemuinya, Mike?” Edgar gengsi sekali. Dia ragu-ragu hendak pergi menemuinya.
“Tidak ada cara lain, Bos. Hanya Tuan Adamlah yang bisa menyelamatkan anak itu, Bos,” bujuk Mike lagi. Kali ini, Edgar harus mengalah. Dia akan mengikuti saran Mike, Sekretarisnya.
Edgar dan Mike pergi ke Rumah Sakit, tempat Adam bekerja. Edgar sudah mengirim pesan pada Adam beberapa menit yang lalu. Tidak lama, Adam yang super sibuk dengan jadwal pemeriksaan pasiennya terpaksa harus memenuhi permintaan sang kakak untuk bertemu dengannya di lobby Rumah Sakit.
“Tumben, Kakak mencariku. Ada apa nih?” tebak Adam. Seraya menyipitkan matanya. Dia menatap Edgar penuh selidik.
“Aku membutuhkan uang yang banyak darimu,” sahut Edgar.
“Apa? Uang banyak? Untuk apa memangnya?” tanya Adam. Dia harus tahu visi dan misi Edgar terlebih dahulu. Kira-kira untuk apa Edgar meminjam sejumlah uang kepadanya.
Edgar yang didampingi oleh Mike menjelaskan duduk permasalahannya. Saat ini, Edgar sangat membutuhkan biaya untuk pengobatan adiknya Kevin yang terkena penyakit kanker otak stadium 3. Seorang anak perempuan berusia sepuluh tahun yang sangat membutuhkan pertolongan para dermawan.
Adam mengernyit setelah mendengar penjelasan dari Mike. Dia kurang memercayai ucapan Edgar.
“Kak, apa itu benar? Apa Kakak meminjam uang jutaan dollar kepadaku untuk mengobati pasien kanker otak?” Adam memastikannya lagi. Edgar mengangguk pelan.
“Itu… benar.” Sayangnya, jawaban Edgar terdengar tidak meyakinkan Adam.
“Aku tidak mau membantu Kakak. Jika uang yang kupinjamkan itu digunakannya untuk foya-foya dan balapan liar lagi,” ketus Adam. Seraya memalingkan wajahnya dari Edgar.
“Jadi, kamu tidak memercayaiku? Dasar adik durhaka!” umpat Edgar. Dia kelewat emosi karena sikap Adam yang tidak mudah memercayainya.
“Kalau begitu, aku tidak mau memaksamu untuk beramal, Dam. Kamu egois dan pilih kasih. Kenapa manusia tidak berperikemanusiaan sepertimu harus menjadi dokter?” Edgar sewot.
“Apa Kakak bilang? Aku tidak pantas jadi dokter? Begitu maksudmu?” Adam bangkit dari tempat duduknya dan dia balas memaki Edgar. Bahkan, dia bisa lebih galak dari pada Edgar.
“Dengar, Kak! Aku ini menjadi dokter butuh waktu yang tidak sebentar. Aku tidak terima Kakak mengatakan kata-kata ejekan itu di depanku,” balas Adam. Dia merasa sakit hati karena Edgar sesumbar berkata-k********r kepadanya.
“Sudah-sudah!” Mike melerai pertengkaran mereka. “Tuan Adam, maafkan Bos. Jika Tuan tidak berkenan tidak apa-apa. kami sangat memakluminya.”
Mike turun tangan dan harus menengahi pertengkaran kedua kakak beradik itu. Namun, sepertinya Edgar keburu kesulut emosi dan dia hendak mendaratkan bogem mentahnya seperti biasa di depan Adam. Sebelum terjadi baku hantam, Mike harus memisahkan mereka terlebih dahulu.
“Bos, ayo kita pergi saja!” ajak Mike pada Edgar.
Edgar menuruti kata-kata Mike. Mereka berdua segera pergi dari hadapan Adam. Namun, setelah dipikir-pikir, Edgar berubah pikiran. Dia membalikkan tubuh, berjalan ke arah Adam dan dia melakukan sesuatu yang di luar nalar.
“Aku mohon! Selamatkan anak itu,” mohon Edgar sembari berlutut di hadapan Adam. Edgar mengesampingkan harga dirinya di depan Adam demi menyelamatkan nyawa anak malang itu.
***