“Apa maksudmu, Siera?” Edgar langsung menghindari Siera.
Bahaya jika sampai Siera mencurigai apalagi mengetahui identitas asli Edgar sebagai seorang CEO di perusahaan tempat ibu si kembar bekerja.
“Benar. Kamu sangat mirip pria bermasker itu,” Siera merasa yakin sekali.
“Bicara apa kamu ini. Pria bermasker apa? Jangan menuduh sembarangan!” sangkal Edgar. Dia berusaha mengelak.
Siera mengamati lagi dari dekat. Edgar agak risih, sehingga dia membalikkan tubuhnya dan membelakangi Siera.
“Postur tubuhmu sama persis orang itu,” Siera ngotot.
Edgar membalikkan badan sambil berkacak pinggang. Lalu, dia mendorong tubuh Siera keluar dari kamarnya.
“Aku ngantuk. Mau tidur. Sebaiknya kamu pergi saja. Besok pagi, aku harus mengurus anak-anakmu,” kata Edgar.
BRUUKK!
Edgar menutup pintunya rapat-rapat. Menguncinya dari dalam supaya Siera tidak mengganggunya lagi.
“Dih, dia kenapa? Galak banget,” ketus Siera. Dia segera pergi meninggalkan kamar kontrakan Edgar.
“Apa dia sudah pergi?” Edgar mengintip di balik tirai jendela kamarnya.
Syukurlah. Siera segera pergi. Edgar mengelus d**a. Hampir saja dirinya ketahuan. Siera sudah mencurigainya. Dia harus waspada sekarang.
“Huh, ada-ada saja,” pikir Edgar.
Edgar mengambil buku hariannya. Sebuah note book kecil yang selalu menjadi tempat curahan hatinya. Dia selalu menuliskan kejadian unik atau pengalaman menarik dalam buku hariannya itu. Sebelum tidur, Edgar terbiasa menuliskannya. Ketika luang, dia bisa membaca kembali rutinitasnya itu dan kadang senyum-senyum sendiri saat mengingatnya.
***
Pukul 5 pagi, Edgar menemui Mike di sebuah taman dekat rumah kontrakannya. Pagi buta begini, ada apa Edgar menyuruh Mike datang? Mike agak kesal karena bosnya itu mengganggu tidur nyenyaknya.
“Bos, ada apa Anda memanggil saya pagi-pagi sekali?” Mike protes. Ketika Edgar datang menghampirinya.
“Aku ingin kamu menyelidiki seseorang,” kata Edgar memberitahu.
“Menyelidiki orang sepagi ini, Bos? Kan bisa, Bos, saat jam kerja nanti,” keluh Mike.
“Harus hari ini. Aku butuh informasi tentang seorang anak. Kamu bisa membantuku, kan?” pinta Edgar.
“Siapa anak itu, Bos? Apa dia putramu?” celetuk Mike. Dia tercengang mendengarnya.
Edgar menoleh ke arah Mike, “Sembarang! Jangan bicara yang tidak-tidak!”
Edgar menyuruh Mike menyelidiki seorang pemuda bernama Kevin. Bocah malang yang kemarin tak sengaja bertemu dengannya dan hampir saja menabrak Audrey. Edgar menceritakannya pada Mike. Dia meminta tolong Mike untuk mencari semua informasi yang berhubungan dengan Kevin dan adiknya yang sakit.
Tidak hanya itu, Edgar juga meminta bantuan kepada Mike untuk mencairkan sejumlah uang untuk biaya perawatan dan pengobatan adiknya Kevin di Rumah Sakit.
“APA?” Mike membelalak kaget. “Bos, Anda sudah gila?”
“Gila? Aku masih waras kok,” Edgar menanggapinya datar.
Edgar tahu, Mike pasti akan keberatan dengan permintaannya itu. Tetapi, dia memohon dengan sangat kepada Mike agar mau membantunya. Jika memang uangnya tidak bisa diambil di perusahaan mau pun di bank karena akunnya sudah dibekukan, tolong bujuk ayahnya, Tuan Frans untuk meminjamkan uang kepada Edgar.
“Tidak bisa, Bos!” tolak Mike. “Anda tahu sendiri, kan, Tuan Frans seperti apa?”
Mike harap-harap cemas jadinya. Setelah mendengar permohonan Edgar. Tuan Frans pastinya tidak akan menyetujui permintaan Edgar begitu saja. Apalagi Edgar meminjam uang dalam jumlah yang sangat banyak. Auto ditolak, kata Mike memberitahu.
“Lalu, apa yang harus kulakukan? Nyawa anak itu berada dalam bahaya jika tidak segera dioperasi,” Edgar memelas.
“Bos, Anda mulai aneh sekarang.” Mike menatap Edgar terheran-heran. “Dahulu, boro-boro Anda memikirkan masalah orang lain. Kenal sama pegawai di kantor saja Anda tidak peduli dan sering lupa. Anda melalaikan tugas sebagai seorang pemimpin di perusahaan. Kenapa tiba-tiba jiwa sosial dan kemanusiaan Anda mulai bangkit, Tuan?”
“Itu karena… aku merasa kasihan pada Kevin,” Edgar beralasan singkat. Mendengar anak itu bercerita tentang kesulitan menjalani hidupnya telah mengetuk hati nurani Edgar saat ini.
“Tumben, Anda peduli pada orang lain. Ini adalah kejadian yang sangat langka,” kata Mike. Dia mencoba membandingkan sikap Edgar yang terdahulu dan yang sekarang. Ada perubahan yang signifikan pada Edgar.
Mike senyum-senyum sendiri. Dia merasa senang sekaligus was-was. Senangnya, Mike melihat perubahan Edgar yang sangat drastis. Setelah skandal keterlibatannya dalam kasus tabrak lari beberapa waktu lalu kini telah menyadarkannya. Edgar berubah menjadi pribadi yang lebih baik.
“Tolong bantu aku sekali lagi, Mike,” mohon Edgar dengan wajah memelas. Hal itu membuat Mike merasa iba dan mulai mempertimbangkan permintaannya.
“Saya akan mengusahakannya. Tetapi, saya tidak bisa menjanjikan apa-apa, Bos. Karena membujuk Tuan Frans untuk mengeluarkan sejumlah uang tidak semudah seperti memintanya dahulu kepada Anda, Bos.”
“Terima kasih, Mike. Aku sangat mengandalkanmu. Tolong dipercepat! Karena anak itu butuh pertolonganku,” desak Edgar. Mike mengangguk. Dia sangat mengerti dan memahaminya.
“Semoga saja, Ayah bisa membantuku mendapatkan uang untuk biaya operasi adiknya Kevin,” harap Edgar.
***
Usai pulang sekolah, Edgar mengasuh si kembar di rumah. Hari ini, mereka akan nonton kartun bareng, katanya. Edgar sudah menyiapkan popcorn dan milkshake. Audrey dan Austin sangat menyukainya. Mereka sudah bersiap dan duduk manis di sofa panjang depan televisi. Hiburan murah meriah di rumah.
Edgar mulai menyalakan televisi. Dia duduk di tengah-tengah, antara Audrey dan Austin. Memangnya mau nonton apa mereka? Sampai harus menyiapkan sedemikian rupa, senyaman mungkin saat menontonnya.
“Jadi, kalian mau nonton film kartun apa?” tanya Edgar antusias.
“SPONGEBOB THE MOVIE!” teriak si kembar begitu kencang dan memekakan telinga Edgar.
Apa? Kartun si sponge kuning itu lagi? Edgar tersenyum dipaksakan. Meski pun agak membosankan, dia tetap harus menyaksikan film animasi kartun itu demi menemani anak-anak.
“Baiklah. Kita akan menonton itu saja.” Edgar tidak punya pilihan lain.
Awalnya, film itu menjenuhkan. Inginnya sih, Edgar menonton film action saja. tetapi, di depan anak-anak mana mungkin dia menyaksikan adegan tembak-tembakan, berdarah-darah, dan ada adegan dewasa lainnya. Sangat tidak layak ditonton bersama anak-anak. Edgar memilih mengalah saja. Yang penting anak-anak merasa senang saja. Itu lebih baik dibandingkan main di taman.
Selama menonton film animasi kartun itu, pikiran Edgar melayang entah ke mana. Ada yang tengah dipikirkannya saat ini. Tentang operasi adiknya Kevin. Apa Mike berhasil membujuk ayahnya untuk mengucurkan sejumlah dana yang dibutuhkan untuk biaya operasi tersebut?
Ponsel Edgar berdering panjang. Mike menghubunginya saat itu. Pasti Mike akan memberitahukan tentang pencairan dana yang diminta oleh Edgar.
Edgar segera beranjak dari tempat duduknya. Dia menerima panggilan telepon dari Mike. “Bagaimana Mike?” tanyanya.
“Tuan Frans tidak mengizinkan Anda membantu anak itu, Bos,” Mike memberitahu beritahu buruk.
“Apa? Kenapa ayahku bisa setega itu?” Edgar tidak habis pikir.
“Kata Tuan Frans, Anda harus mendapatkan uang itu sendiri. Tidak boleh menggunakan uang perusahaan,” jelas Mike.
“Lalu, bagaimana caranya aku mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu sehari? Itu mustahil, Mike,” Edgar putus asa.
“Anda mungkin bisa meminta langsung pada Tuan Frans,” Mike mengusulkan.
“Jika ayahku tidak mengizinkannya, aku malas berdebat lagi dengannya,” ketus Edgar.
“Kalau begitu, minta bantuan pada adik Anda saja,” saran Mike.
“Maksudmu, aku harus meminjam uang pada Adam?” Edgar mengernyit. Masa sih, tidak ada pilihan lain selain harus meminjam pada Adam?
“Bagaimana menurut Anda, Tuan?”
“Tidak. Aku tidak sudi berurusan dengannya,” Edgar geram. Si kembar kompak menoleh ke arahnya. Mereka melihat Edgar berkata kasar di telepon.
***