Audrey berusaha menghindar dan dia terjatuh saat sepeda motor yang melewatinya hampir saja menyerempetnya. Beruntung, sepeda motor itu langsung mengerem secara mendadak. Pengendaranya pun sudah meminta maaf karena sudah melakukan tindakan ceroboh. Yaitu menelepon saat berkendara. Itu kan sangat membahayakan sekali bagi pengguna jalan. Apalagi ada anak kecil macam Audrey yang hendak menyebrangi jalan.
“Audrey, kamu tidak apa-apa?” Edgar langsung menghampirinya. Dia terlonjak kaget ketika melihat Audrey hampir saja tertabrak sepeda motor.
“A-aku… tidak apa-apa, Paman.” Audrey masih terlihat syok. Tangan dan kakinya gemetaran saat Edgar dan Austin membantunya berdiri.
“Hati-hati makanya, Audrey!” Austin menasihati. Audrey cuma mengangguk.
“Saya minta maaf, Dek,” ucap pengendara sepeda motor itu. Dia merasa bersalah kepada Audrey. Karena lalai dalam berkendara dan mengabaikan peraturan lalu lintas.
Audrey hanya menganggukkan kepala. Dia sudah memaafkan pengendara sepeda motor itu. Lagi pula, Audrey juga salah karena tidak sabaran ingin menyebrang jalan.
Edgar pun turut menasihati pemuda itu. “Lain kali, berhati-hatilah! Tidak baik menggunakan telepon saat sedang berkendara,” kata Edgar.
Pemuda itu meminta maaf kembali. Dia masih merasa bersalah rupanya. Padahal, Edgar dan Anudrey sudah memaafkannya. Karena pemuda itu sudah berani bertanggung jawab dan tidak melarikan diri saat berbuat salah. Edgar pun respek kepada pemuda itu.
Memangnya kenapa pemuda itu harus menelepon saat berkendara? Itu kan melanggar aturan lalu lintas? Edgar menanyakannya baik-baik pada pemuda itu. Tiba-tiba saja, mata si pemuda berkaca-kaca. Ada yang tengah dipikirkannya saat ini.
Edgar bisa langsung mengetahuinya dari raut wajah pemuda itu yang terlihat sangat sedih. Edgar dan si kembar mengajak pemuda itu duduk bersama di sebuah taman dekat sekolah. Edgar berbincang-bincang sejenak. Dia mengajak bicara baik-baik tentang permasalahan yang tengah dihadapi pemuda itu.
“Adik saya harus segera dioperasi, Tuan,” kata pemuda itu memberitahu Edgar.
“Adikmu kenapa?” tanya Edgar. Dia begitu antusias ingin mengetahui kelanjutan cerita pemuda itu.
Awalnya, pemuda itu bungkam. Tidak ingin menceritakan permasalahan keluarganya. Namun, setelah Edgar memberinya pengertian, akhirnya pemuda itu mau angkat bicara. Bahwa adiknya itu menderita penyakit kanker otak dan membutuhkan biaya yang tidak sedikit.
Jadi, karena alasan biaya itulah si pemuda bekerja keras banting tulang untuk membiayai perawatan adiknya di Rumah Sakit. Sampai saat ini, pemuda itu masih belum mendapatkan uang untuk membiayai semua perawatan adiknya.
Edgar merasa iba setelah mendengar cerita pemuda itu. Dia berjanji pada pemuda itu untuk membantunya. Mendengar bantuan itu, membuat si pemuda kembali bersemangat. Tunggu sebentar! Edgar pun bingung, uang dari mana dia sesumbar ingin menolong pemuda itu? Bukankah semua uangnya sudah dibekukan oleh Tuan Frans?
Nanti, Edgar akan memikirkan lagi caranya. Dia akan pergi menemui ayahnya, besok untuk meminta sejumlah uang. Siapa tahu, Tuan Frans tergerak hatinya mau membantu anak malang itu, pikir Edgar sederhana. Oh, iya ngomong-ngomong, Edgar belum tahu nama pemuda itu.
“Kevin,” pemuda bernama Kevin itu memperkenalkan dirinya pada Edgar dan si kembar. Dia mengulurkan tangannya. Berharap Edgar mau menjabatnya.
Tentu saja, Edgar langsung menyalaminya. Dia akan membantu sebisanya. Untuk meringankan beban Kevin dan keluarganya. Kasihan sekali, Edgar tidak tega membiarkan anak remaja seperti Kevin harus bekerja keras mencari uang yang banyak untuk biaya pengobatan adiknya yang sedang sakit.
Kevin pamit pergi. Dia harus bekerja lagi. Setelah Edgar mendapatkan informasi tentang Kevin dan keluarganya, dia akan segera mengurusnya. Dengan bantuan Mike, tentunya.
“Paman Edgar, memangnya Paman punya banyak uang?” bisik Austin pelan. Edgar menoleh. Sebenarnya dia punya banyak uang. Tetapi, sekarang tak sepeser pun dia bisa mempergunakannya.
“Dulu, Paman pernah punya banyak uang. Tetapi, sekarang sepertinya Paman harus bekerja keras lagi untuk mendapatkannya,” kenang Edgar.
Edgar teringat pada masa kejayaannya dulu sebagai seorang CEO di perusahaannya. Kini, dia sedang mengalami masa-masa sulit dan suram. Gara-gara tersandung kasus tabrak lari itu.
“Aku tidak tahu jika Paman sebenarnya orang kaya yang punya banyak uang. Memangnya, dulu Paman bekerja apa?” Austin ingin tahu.
Edgar tersenyum menanggapinya. Si kembar antusias sekali ingin mendengar cerita masa lalu Edgar yang berlimpah harta.
“Paman kenapa senyum-senyum sendiri? Paman nggak mau cerita ya sama kami?” tebak Audrey.
“Suatu hari nanti, Paman akan menceritakannya pada kalian. Hanya saja tidak sekarang. Kalian masih terlalu kecil untuk mengerti permasalahan yang sedang Paman hadapi saat ini,” jelas Edgar.
“Janji sama kami, Paman! Suatu hari nanti Paman akan menceritakannya pada kami saat dewasa nanti. Oke?” Audrey membuat kesepakatan dengan Edgar.
“Ayo, anak-anak! Kita segera pulang!” ajak Edgar pada si kembar.
Austin segera menyusul Edgar yang lebih dulu jalan meninggalkan taman. Tiba-tiba, langkah kaki Audrey terhenti. Lututnya berdarah.
“Paman Edgar!” seru Audrey. Edgar dan Austin menoleh ke arah Audrey. Kenapa lagi anak itu?
“Kamu kenapa Audrey?” tanya Edgar. Dia dan Austin menghampiri Audrey yang sedang merengek hampir menangis bombay.
“Lututku terluka,” tunjuk Audrey memperlihatkan luka di lututnya.
“Astaga!” Edgar baru menyadarinya. Tadi, dia tidak memerhatikannya. “Ya sudah, Paman gendong saja ya. Setelah sampai di rumah, Paman obati lukamu.”
Audrey mengangguk mantap. Dia segera naik ke punggung Edgar.
***
Siera pergi ke kamar si kembar usai pulang bekerja. Mereka tampak kelelahan seharian ini setelah habis bermain perang-perangan dengan Edgar. Ketika Siera hendak mengucapkan selamat malam pada putra putrinya, mereka sudah tertidur pulas.
Siera mencium kening Audrey dan Austin. Malam itu, Siera membetulkan posisi selimut Audrey. Tanpa sengaja dia melihat lulutnya dibalut perban.
“Ada apa ini? Kenapa lutut Audrey terluka?” Siera merasa heran.
Sementara, Austin tidak kenapa-napa. Apa Edgar melewatkan sesuatu dan belum memberitahukan tentang luka yang ada di lutut Audrey? Siera buru-buru pergi menemuinya. Saat ini, Edgar sudah berada di kamarnya.
Tok-tok-tok!
Siera mengetuk pintu kamar Edgar. Padahal, baru saja Edgar hendak memejamkan mata dan pergi tidur, Siera malah datang membangunkannya.
“Siapa?” tanya Edgar dari dalam kamarnya.
“Ini aku… Siera,” sahut Siera dari balik pintu kamar kontrakan Edgar.
Edgar bergegas turun dari ranjangnya. Lalu, dia berjalan membukakan pintu untuk Siera. “Ada apa?” tanya Edgar.
“Ada luka di lutut Audrey. Apa yang terjadi kepadanya?” tanya Siera secara langsung.
“Oh… itu…” Edgar lupa memberitahukannya pada Siera.
Edgar menceritakan kejadian sebenarnya. Insiden yang dialami Audrey sepulangnya dari sekolah. Siera sempat terkejut mendengarnya. Namun, lama kelamaan dia berterima kasih juga pada Edgar karena sudah membantu merawat luka Audrey.
Siera memerhatikan raut wajah Edgar. Kemudian, dia menatapnya lebih dekat. Dia membayangkan jika pria bermasker yang menabraknya di kantor tadi pagi adalah Edgar.
“Gawat! Siera mulai mencurigaiku,” ujar Edgar dalam hati.
“Kamu mirip sekali dengan pria bermasker hitam itu,” kata Siera di depan Edgar.
***