CEO Misterius

1189 Kata
Mike datang dan segera menghampiri Edgar di depan gedung kantornya. Keduanya segera masuk ke dalam, karena Tuan Frans sudah menunggu di ruang kerjanya. Edgar merasa tidak enak hati setelah bertemu dengan Siera. Dia tidak menyangka, jika Siera bekerja di perusahaannya.  “Astaga! Kenapa bisa kebetulan begini?” gumam Edgar saat sedang berjalan bersama Mike.  “Ada apa?” Mike ingin tahu. Edgar tidak bisa memberitahukannya. Dia sendiri masih syok mengetahui kenyataannya.  Ketika berjalan di sepanjang koridor, Edgar jadi pusat perhatian semua staf pegawainya di kantor. Mereka memandangnya terheran-heran. Baru sekarang, sosok CEO di perusahaan menampakkan dirinya. Meski sosok Edgar terlihat misterius dengan masker dan topi hitamnya.  Semua staf membungkuk saat Edgar melenggang bebas di kantornya. Mereka memberi penghormatan setelah bertemu langsung dengan pemimpin tertinggi di perusahaan. Edgar berjalan tegap dengan pandangan mata lurus ke depan.  “Aku ingin tidak ada orang lain yang ikut naik lift,” titah Edgar.  “Siap, Bos!” Mike mengerti. Dia akan menjaga dan melindungi privasi Edgar di dalam lift.  Ketika pintu lift terbuka, Edgar segera masuk ke dalam bersama Mike. Sementara yang lain, memilih untuk menunggu. Karena Mike memerintahkan staf pegawainya untuk naik lift selanjutnya. Mereka pasti merasa tidak nyaman saat harus berdesak-desakan dengan sang CEO di dalam lift.  TING!  Edgar dan Mike masuk ke ruang kerjanya. Sebuah ruangan CEO yang tidak pernah digunakan Edgar setelah dia menjabat sebagai pemimpin perusahaan.  Tuan Frans sudah menunggunya di sana. Dia bangkit dari tempat duduknya dan segera menghampiri putranya.  “Freddy,” sapa Tuan Frans. Pria tua itu berjalan mendekati putranya. Ayahnya itu pasti akan memeluk Edgar lagi, pikirnya.  “Iya, Ayah,” Edgar balas menyapa ayahnya.  “Anak kurang ajar!” Tuan Frans murka kepadanya. Ditamparnyalah wajah putra sulungnya itu tanpa menjelaskan duduk permasalahannya.  PLAAAKKK!  “Ayah, ada apa?” Edgar tidak mengerti.  “ANAK BODOH!” hardik Tuan Frans. “Apa kamu selalu membuat masalah di jalanan? Ayah sampai pusing harus menanganimu dengan cara apalagi, Freddy.”  Edgar mendapat teguran keras dari Tuan Frans. Dia ketahuan berkelahi dengan Adam di jalanan. Tidak hanya itu, kemarin Edgar sudah melarikan mobil perusahaan tanpa sepengetahuannya. Dan masih banyak lagi kesalahan-kesalahan Edgar lainnya yang masuk ke dalam daftar laporan Tuan Frans.  Saat ini, Edgar masih dalam pengawasan Tuan Frans. Catatan kriminalnya pun belum diselesaikan. Tuan Frans pikir, Edgar akan bertindak dewasa dan merenuhi semua kecerobohannya. Nyatanya, Edgar malah membuat ulah dan Tuan Frans geram sekali dengan sikapnya.  “Maafkan aku, Ayah. Aku bersalah,” sesal Edgar. Dia hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk dari sang ayah kepadanya. “Bersikaplah dewasa, Freddy! Jangan selalu membuat masalah,” kata Tuan Frans menasihati.  “Baik Ayah. Aku mengerti,” Edgar patuh. Apa hanya teguran itu yang ingin disampaikan Tuan Frans kepada Edgar? Jauh-jauh Edgar datang ke perusahaan hanya untuk mendengarkan nasihat dan amukan kemarahan ayahnya. Tahu bakalan seperti ini kejadiannya, lebih baik Edgar tidak datang saja.  Tuan Frans masih menceramahi Edgar panjang lebar. Edgar hanya diam saja mendengarkan ayahnya yang sedang nyerocos mirip rapper yang lagi ngerap. Masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Ngomong-ngomong, sudah jam berapa ini?  Edgar melirik jam tangannya. Sudah waktunya si kembar pulang sekolah. Dia nampak gelisah, menunggu ayahnya menyelesaikan kalimat terakhirnya. Berhentilah bicara, Ayah, ujar Edgar dalam hati. Sayangnya, pembicaraan Tuan Frans tidak pernah berhenti. Nyerocos terus seperti kereta api. Panjang sekali.  “Ayah, maaf,” sela Edgar memotong pembicaraan. “Aku harus pergi. Ada pekerjaan lain yang sedang menungguku. Permisi, Ayah!” pamitnya tergesa-gesa. Edgar segera keluar dari ruang kerja ayahnya. Tuan Frans dan Mike dibuatnya melongo dengan sikapnya. Tidak sopan!  “FREDDY!” teriak ayahnya. Dia sudah mengambil pena di meja kerjanya dan siap melemparnya. Ketika Tuan Frans sudah habis kesabarannya, pena itu meluncur dan mendarat cantik tepat di jidat Edgar saat dia berbalik.  Tuk!  Edgar mengerang kesakitan mendapati pendaratan pena salah sasaran itu. Sialan! Dengusnya kesal. “Maaf, Ayah! Aku harus pergi,” ucap Edgar. Dia langsung pergi meninggalkan ayahnya di kantor.  Edgar berlarian di koridor kantor. Sesampainya di lobby, dia yang tergesa-gesa tak sengaja menabrak Siera yang sedang berpatroli di dalam gedung.  JEDUK! “Auw!” Siera ambruk seketika. Bahunya berbenturan keras dengan tubuh Edgar yang bidang. Siera melihat ke arah pria yang tak sengaja menabraknya itu. Siera buru-buru meminta maaf pada Edgar.  “Maafkan saya, Tuan. Saya ceroboh. Maaf telah menabrak Anda,” sesal Siera. Setelah tahu yang ditabraknya adalah pria bermasker yang merupakan CEO di perusahaan tempatnya bekerja. Edgar segera bangkit. Kemudian, tanpa banyak bicara Edgar pergi meninggalkan Siera. Dia tergesa-gesa sekali dan tidak sempat membalas ucapan permintaan maaf Siera.  Siera tertegun melihat CEO itu. Punggungnya segera menjauh. Namun, Siera masih belum sadarkan diri dari lamunan panjangnya. Apa yang tengah dipikirkan Siera tentang CEO-nya? “Apa dia pemimpin perusahaan ini? Kenapa sikapnya tidak sopan sekali?” pikir Siera dari tadi.  Siera sangat menyayangkan sikap dan perlakuan tidak menyenangkan dari Edgar, selaku pemimpin di perusahaannya. Dia malah kepikiran yang tidak-tidak tentang Edgar saat ini.  “Padahal yang salah itu dia. Dia yang menabrakku duluan. Tetapi, kenapa harus aku yang meminta maaf kepadanya?” Siera baru ngeh. Jika yang melakukan kesalahan adalah Edgar. Bukan dirinya.  Siera menggaruk-garukkan kepala yang tidak terasa gatal. Heran saja, kelakuan CEO-nya itu tidak mencerminkan bahwa dia pemimpin di perusahaan itu, Siera menyimpulkan. ***  Edgar hampir datang terlambat ke sekolah TK. Beruntung, si kembar baru saja keluar dari kelasnya. Mereka langsung menyambut Edgar dengan penuh suka cita. Mereka berlari ke arahnya sambil memeluknya erat. Sontak saja, melihat kedekatan si kembar dengan Edgar membuat iri hati teman-temannya yang lain. Guru-gurunya juga.    “Pamannya Audrey dan Austin ganteng banget, ya, Bu Guru,” puji salah seorang siswa perempuan.  “Iya, benar,” Bu Guru mengiyakannya. Eh! “Bu Guru suka sama Pamannya si kembar?” tebak siswi itu sambil terus menggoda gurunya. Hush!  “Aku mau punya paman seperti pamannya si kembar, Bu,” rengek siswi lainnya. Yang kebetulan ikut nimbrung bersama guru dan temannya. Mereka bertiga memerhatikan sikap Edgar yang begitu perhatian pada Audrey dan Austin.  “Ayo pulang!” ajak Edgar pada kedua anak kembar yang sudah menggandeng tangannya.  “Paman nggak bawa mobil?” tanya Audrey.  “Tidak. Itu kan mobil temannya Paman. Pasti sedang dipakai oleh teman Paman. Kita naik bus sekolah lagi. Oke?” jawab Edgar.  “Aku nggak mau naik bus, Paman,” tolak Austin.  “Kenapa begitu, Austin? Apa teman-teman masih mengganggu kalian?” Edgar ingin tahu.  “Aku… malas aja naik bus. Boleh tidak kita naik kendaraan lain?” tawar Austin. “Mau naik apa? Taksi?” Edgar menawarkan. “Atau kendaraan umum lainnya?” “Aku mau naik kereta cepat, Paman,” Audrey mengusulkan. “Gimana kalau kita naik kereta aja, Paman.”  Edgar berpikir dahulu sejenak. Si kembar, dua-duanya merengek di depan Edgar. “Iya, baiklah.”  Edgar setuju. Dia tidak bisa menolak permintaan si kembar. Mereka bertiga kini sudah jalan bersama-sama meninggalkan sekolah. Sambil berpegangan tangan. Riang sekali kedua anak kembar itu dituntun Edgar. Ketika mereka hendak menyebrang jalan, tiba-tiba saja Audrey lepas dari genggaman Edgar. Gawat!  TIIIIDDDD! TIIIIDDDD! TIIIIDDDD!  Sebuah sepeda motor melintas dan membunyikan klaksonnya. Saat itu, Audrey tidak bisa mengelak untuk menghindarinya. Edgar segera memberitahu Audrey. Dia pun berteriak kencang.  “AUDREY AWAS!” ***                          
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN