“AUSTIN!” teriak Edgar saat mencari Austin. Dia kelihatan panik saat mencarinya ke mana-mana. Apa dia benar-benar hilang? Tidak. Jangan sampai hal itu terjadi.
“Audrey, di mana adikmu?” tanya Edgar sekali lagi. Audrey menggeleng.
“Aku nggak tahu, Paman. Tadi, dia masih bermain di sini bersamaku,” jawab Audrey.
“Apa dia memberitahumu akan pergi ke mana dulu?”
Audrey menggeleng. “Tidak. Mungkin dia sedang ke toilet,” Audrey beralasan.
“Kamu tunggu di sini, ya! Paman akan mencari adikmu dulu,” kata Edgar seraya memperingatkannya. Audrey mengangguk.
Ibu-ibu turut mencari keberadaan Austin di sekitar taman dan jogging track. Mereka kompak sekali, mau membantu Edgar mencari salah satu si kembar yang hilang. Sementara itu, Audrey sempat ketawa memerhatikan semua orang panik setengah mati mencari adiknya, Austin.
Ckckck, Audrey berdecak. “Itulah akibatnya, jika orang dewasa lalai dan mengabaikan tugasnya menjaga anak kecil,” pikir Audrey.
“Sssttt! Audrey!” Austin berdesis. “Udah aman, belum?” bisik Austin yang sedang bersembunyi di balik rumah jamur mainan.
“Sebentar lagi. Kamu sembunyi dulu di sana. Jangan bersuara!” kata Audrey pada Austin.
Rupanya Audrey dan Austin bersekongkol mengerjai Edgar. Aneh sekali, Austin tidak bisa ditemukan di mana pun. Edgar kembali menghampiri Audrey.
“Audrey, kenapa kamu tidak membantu Paman mencari adikmu?” tanya Edgar heran.
Audrey mesam-mesem penuh arti. Edgar jadi curiga, jangan-jangan ada yang tengah disembunyikan Audrey darinya. Edgar mengamati ekspresi wajahnya dengan seksama. Tidak lama kemudian, Edgar menemukan keanehan dibalik rumah jamur pada playground samping Audrey. Aaahh, begitu rupanya. Edgar sudah menduganya.
“Austin, keluarlah! Paman tahu kamu ada di dalam sana,” perintah Edgar. Seraya mengetuk-ngetukkan pintu rumah jamur tersebut.
“Oow! Ketahuan,” gumam Audrey.
“Cepatlah, Austin! Sudah waktunya kita pulang dan bersiap-siap pergi ke sekolah. Kalau kamu masih bersembunyi di sana, Paman tidak akan mengantar kalian ke sekolah,” ancam Edgar.
“Jangan gitu Paman!” protes Audrey. “Paman sudah janji mau mengantar kami.”
Austin langsung keluar dari tempat persembunyiannya. Edgar berkacak pinggang. Kira-kira harus diapakan kedua anak kembar yang sudah mengerjai Edgar habis-habisan ini? Mereka sudah membuat Edgar sport jantung pagi-pagi.
“Kalian berdua keterlaluan sekali sudah mengerjai Paman. Hari ini, Paman tidak mau mentraktir makan es krim lagi,” tegas Edgar yang menghukum kedua anak kembar itu.
“Ya… kok gitu sih, Paman?” Giliran Austin yang memprotes pada Edgar. Dia tidak terima jatah traktirannya berkurang.
“Lebih baik kalian segera pulang dan mandi. Sebentar lagi sudah masuk jam sekolah,” Edgar mengingatkan.
Si kembar terdiam. Mereka kompak menundukkan kepala karena sedih. Gara-gara tidak bisa mendapatkan es krim gratisan lagi dari Edgar.
“Kenapa kalian diam?” tanya Edgar. Sembari melirik satu per satu anak kembar yang sedang merenungi kesalahannya.
“Kalian tidak mau sekolah?” tanya Edgar lagi, memastikan. Si kembar menggeleng.
“Ya sudah. Kalau gitu, Paman akan memberitahu Ibu kalian. Kalau kalian tidak mau sekolah,” ancam Edgar lagi.
Si kembar langsung meraih tangan Edgar, menggagalkan rencana Edgar yang akan menghubungi ibunya via telepon.
“Jangan Paman!” cegah keduanya. Masing-masing memegang tangan Edgar.
“Jadi, kalian mau sekolah, kan? Paman yang akan mengantar kalian,” Edgar menjanjikan.
Edgar membawa Audrey dan Austin pulang ke rumah. Sudah waktunya mereka berangkat ke sekolah. Dia sudah berjanji pada anak-anak manis itu akan mengantarkannya ke sekolah.
Selang beberapa menit kemudian, bus sekolah datang menjemput anak-anak di depan rumah. Edgar membawa Audrey dan Austin ke dalam bus sekolah. Tidak hanya anak-anak, Edgar pun akan ikut pergi mengantar sampai ke sekolah.
“Maaf, Pak! Apa Bapak juga akan ikut ke sekolah?” tanya supir bus sekolah. Edgar mengangguk.
“Iya, benar. Saya akan mengantar mereka sampai depan kelasnya,” jawab Edgar. Dia mengiyakannya.
Supir bus sekolah itu mengerutkan kening hingga berlipat-lipat. Dia merasa aneh saja. Karena baru pertama kalinya ada wali siswa yang ikut naik bus sekolah, mengantarkan anak-anak sampai ke kelasnya. Fenomena yang aneh menurut bapak tua itu.
Sesampainya di sekolah TK, Edgar mengantar Audrey dan Austin sampai di depan kelasnya. Sesuai dengan janjinya. Edgar melambaikan tangannya saat melepas kepergian si kembar menuntut ilmu di sekolah. Edgar disambut baik oleh guru-guru di TK itu.
“Oh, Pamannya si kembar datang mengantar ke sekolah. Apa kabar, Pak?” sapa Ibu Guru TK, wali kelas si kembar.
“Baik. Terima kasih, Bu Guru,” balas Edgar dengan sangat ramah.
Bu Guru TK itu langsung pasang senyum di depan Edgar. Dan terjadi lagi. Wanita berusia sekitar tiga puluh limaan itu tersipu malu saat Edgar balas melempar senyum kepadanya. Padahal, Edgar melakukan hal itu hanya karena formalitas saja.
“Kalau begitu saya permisi dulu, Bu. Ada yang harus saya kerjakan lagi di luar,” pamit Edgar.
Bu Guru sangat menyayangkan sikap terburu-buru Edgar saat pamitan meninggalkan sekolah. Namun, dia juga sangat mengerti dengan kesibukan Edgar. Sehingga, Bu Guru itu pun mempersilakannya.
Ada beberapa jam lagi. Lumayan bisa mengisi waktu luang selagi menunggu si kembar selesai belajar di sekolah. Enaknya ngapain ya? Edgar pikir, jalan-jalan di kota bisa mengusir rasa penatnya hari ini setelah dikerjai si kembar. Ponsel Edgar berdering panjang. Panggilan masuk dari Mike.
“Bos, Anda di mana? Kenapa rumah kontrakan Anda terlihat sepi?” tanya Mike.
“Aku sedang di sekolah si kembar. Ada apa?” jawab Edgar.
“Bos, Anda disuruh datang ke kantor. Ada yang ingin disampaikan oleh Bos Besar, ayah Anda di kantor,” Mike memberitahu.
“Oh, ya? Ada apa memangnya?” Edgar menanggapinya dengan datar.
“Pokoknya Anda disuruh datang menghadap ke ruangannya, Bos.”
Edgar mengernyit. Kira-kira ada apa Tuan Frans, ayahnya ingin bertemu dengannya di perusahaan? Apa Edgar sudah bebas dari segala tuduhan itu? Seharusnya kasus itu sudah selesai sekarang. Ah, mungkin Tuan Frans ingin memberitahukan soal masalah itu, pikir Edgar.
Edgar segera menuju perusahaannya. Dia mengenakan masker dan topi hitam. Semoga saja tidak ada yang mengenali identitasnya di kantor, harap Edgar. Katanya, Mike akan menjemputnya dan melindunginya saat Edgar sampai di gedung perkantorannya.
“Ke mana si Mike? Apa dia lupa untuk menjemputku di sini?” Edgar melihat-lihat keadaan sekitar kantornya. Dia tidak melihat ada tanda-tanda Mike menjemputnya.
Sial! Sampai kapan Edgar akan berdiri di sana? Dia terlihat mondar-mondir seperti orang mencurigakan di depan perusahaannya sendiri? Siera dan petugas keamanan lainnya mengamati Edgar.
“Apa dia penjahat? Perampok? Atau…” Siera memerhatikannya terus. Dia tidak berhenti mengarahkan pandangannya pada pria bermasker itu.
“Apa yang kamu bayangkan saat ini Siera? Apa kamu juga mengira orang mencurigakan itu adalah penjahat?” Teman di sebelahnya menyikut Siera. Keduanya tengah membicarakan orang aneh di depan gedung tempatnya bekerja.
“Menurutku, dia kelihatan lebih dari sekadar penjahat. Seperti teroris,” terka Siera.
Para petugas keamanan sudah bersiap-siap hendak mengepung pria bermasker itu. Saat Edgar bergerak, mereka dengan sigap menangkapnya.
“Berhenti! Jangan bergerak!” Siera membunyikan peluitnya. “Siapa kamu?” tanyanya penuh selidik.
“Ya ampun!” Edgar terkejut.
Siapa wanita itu? Apa dia Siera? Edgar ragu-ragu. Namun, setelah memerhatikannya lagi, wanita berseragam petugas keamanan itu memang dirinya. Ibu si kembar. Astaga! Edgar tidak menyangka jika dia akan bertemu dengan Siera di perusahaannya sendiri. Beruntung, saat ini Edgar mengenakan masker dan Siera tidak mengenalinya.
“Kamu penjahat ya?” Siera memastikan. Edgar diam saja. Dia tidak bisa membalasnya. Karena jika dia bersuara, Siera bisa saja mengenalinya.
“Kenapa diam saja? Kamu perampok atau teroris?” tanya Siera dengan berani.
Edgar coba menghubungi Mike secepatnya. Tidak lama kemudian, Mike datang menjemputnya di depan gedung kantor sebelum Edgar meneleponnya.
“Bos, Anda di sini rupanya,” Mike menyambutnya.
Siera melongo. Pria jangkung yang mengenakan masker itu adalah bosnya?
***