“Bos Edgar,” desis bayangan hitam itu pelan.
Edgar ketakutan setengah mati saat sosok bayangan hitam itu muncul di depannya dan berhasil mengejutkannya.
“Bos, saya mau menagih janji Anda,” kata bayangan hitam itu lagi.
“Menagih janji apa?” ulang Edgar bingung.
Tangan dan kakinya ikut gemetaran saat bayangan hitam mirip malaikat pencabut nyawa itu mendekatinya lagi. Dalam situasi ketakutan seperti ini, sempat-sempatnya Edgar berpikir, apa pernah dia mengatakan sesuatu? Seperti sumpah serapah atau kutukan, mungkin? Rasanya Edgar tidak pernah mengatakan hal-hal yang demikian.
“Bos, ini saya, Mike,” aku bayangan hitam itu. Apa? Siapa tadi dia bilang?
“Jadi, itu kamu, Mike? Kurang ajar! Kamu bikin aku jantungan saja,” Edgar menimpuk Mike dengan sendal jepitnya.
Mike tidak bermaksud menakuti Edgar barusan. Edgarnya saja yang terlalu paranoid dan membayangkan sesuatu yang tidak-tidak. Lantas, kenapa Mike bisa datang ke rumah kontrakannya dan menakut-nakutinya?
“Saya mau mengambil mobil perusahaan, Bos,” kata Mike memberitahunya.
“Oh, begitu rupanya,” Edgar mengerti. Dia langsung merogoh saku celananya kemudian mengembalikan kunci mobilnya pada Mike.
“Bos, kalau gitu saya permisi dulu. Sudah malam,” pamit Mike. Edgar mengangguk-angguk. Kemudian, dia bergegas masuk ke dalam kamarnya.
BRUUUUKKK!
Edgar membanting pintu kamarnya. Astaga! Mike mengelus d**a memerhatikan sikap bosnya.
“Menyebalkan! Kalau saja bukan anak buahku, sudah kuremas-remas wajahnya dan kuhancurkan sampai tak berbentuk lagi,” Edgar mendengus kesal. Rupanya dia masih sebal dengan tingkah laku Mike yang sengaja membuatnya takut.
***
KRIIIIINGGGG!
Jam digital tanda alarm berbunyi di ponsel Edgar. Matanya langsung terbuka lebar dan dia segera bangun dari tidurnya. Dia melirik ponselnya. Sudah pukul 6 pagi rupanya. Edgar janji pada si kembar akan berolahraga, lari pagi keliling komplek.
Edgar masuk ke dalam rumah. Tak sengaja dia melihat Siera keluar dari kamar mandi sambil mengenakan handuk minim. Astaga! Refleks, Edgar menutup kedua matanya. Kemudian, dia langsung membalikkan badan.
“STOP! TUNGGU DI SITU!” kata Siera menahannya. Dia akan segera masuk ke dalam kamar sebelum Edgar membuka matanya.
“SUDAH!” teriak Siera ketika sudah berada di kamarnya. “Kamu sudah boleh buka matamu, Edgar.”
Siera merasa tidak nyaman karena Edgar keluar masuk rumah seenaknya. Ini semua salah Siera karena memberinya kunci rumah. Mana Edgar tahu jika Siera sedang mandi dan belum berpakaian. Edgar juga bersalah. Dia main nyelonong masuk begitu saja. Tanpa memikirkan situasi dan kondisi rumah saat itu.
“Siera, maaf ya!” sesal Edgar. Dia merasa bersalah karena sudah lancang masuk ke rumah Siera dan tidak sengaja melihatnya belum berpakaian.
“Sudah. Lupakan saja,” balas Siera. Keduanya sama-sama bersalah. Jadi, tidak usahlah meminta maaf, pikirnya.
Edgar segera masuk ke kamar si kembar, lalu membangunkan keduanya yang masih tertidur lelap.
“Anak-anak, ayo bangun!” perintah Edgar sambil membangunkan mereka. “Austin!” Edgar mengguncang-guncangkan tubuh anak lelaki itu.
Austin tidak menghiraukannya. Dia berbalik ke samping, membelakangi Edgar. Kemudian, bocah itu menarik lagi selimutnya dan tidur lelap. Seraya menutup kedua telinganya dengan tangannya.
Posisi duduk Edgar beralih ke tempat tidur Audrey. Dia menepuk-nepuk punggung Audrey, membangunkannya agak pelan.
“Audrey! Ayo kita olah raga dulu!” ajak Edgar.
“Paman, ini jam berapa? Aku masih ngantuk,” ucap Audrey ogah-ogahan.
“Kenapa kalian jadi malas begini? Katanya mau berolah pagi biar kuat,” bujuk Edgar. “Ayo, ayo! Bangun! Kalau kalian lembek begini, nanti kalian tidak bisa menghadapi teman-teman kalian yang suka mengejek.”
Austin menguap panjang. Dia memerhatikan Edgar sudah berdiri di sampingnya. “Cepat bangun!” perintah Edgar. Seraya mendorong tubuh Austin agar cepat bangun.
“Audrey, cepatlah!”
“Iya-iya, Paman,” kata Audrey yang terpaksa turun dari tempat tidurnya.
Si kembar kompak mengucek-ngucekkan kedua matanya. Kemudian, mereka berjalan perlahan-lahan mengikuti arahan Edgar. Keluar kamar menuju kamar mandi untuk cuci muka.
Siera terkejut melihat kedua anak kembarnya bangun sepagi itu. Tidak biasanya. Heran saja, kenapa mereka begitu patuh pada Edgar?
“Kalian sudah bangun sepagi ini, hebat!” puji Siera. Namun, kedua anak kembarnya tidak begitu menghiraukannya.
Siera menyikut Edgar. “Apa yang kamu lakukan sama mereka?” dia penasaran rupanya.
Ternyata Edgar bisa mendisiplinkan anak-anak bandel itu. Siera terkagum-kagum melihat perubahan drastis yang ditunjukkan anak-anaknya. Tunggu sebentar! Audrey dan Austin lama sekali berada di dalam kamar mandinya. Edgar dan Siera saling beradu pandang satu sama lain.
“Ya ampun, Audrey Austin?” Siera membelalak kaget sekaligus ingin ketawa melihatnya.
Si kembar masih terkantuk-kantuk di kamar mandi. Austin duduk di closet sambil memejamkan mata, sementara Audrey tidur berbaring di bathtub.
“Aku akan menyiapkan sarapan untuk kalian. Edgar tolong bantu mereka, ya!” kata Siera. Dia hanya senyum-senyum sendiri sambil berlalu meninggalkan kamar mandi.
Edgar berkacak pinggang. Setelah itu, dia langsung membangunkan keduanya. Audrey dan Austin membuka matanya lebar-lebar. Setelah mencuci mukanya, mereka digiring ke ruang makan untuk sarapan.
Beberapa menit kemudian, si kembar sudah siap menyantap sarapannya. Setelah itu, mereka berpamitan kepada ibunya yang hendak pergi bekerja.
“Ibu pergi dulu, ya! Baik-baik di rumah dan jangan nakal di sekolah. Kalian mengerti?” Siera pamit.
“Mengerti, Bu!” Si kembar manggut-manggut. Mereka melambaikan tangan pada Siera dan melihat punggung ibunya menjauh.
“Ayo, kita lari pagi dulu!” ajak Edgar. Audrey dan Austin tidak bersemangat. Mereka berlari ogah-ogahan.
Edgar harus mengeluarkan jurus pamungkas kalau begitu. “Semangatlah, anak-anak! Nanti, Paman antarkan kalian ke sekolah. Gimana, mau kan?” bujuk Edgar.
Audrey dan Austin langsung bersemangat mendengarnya. “Mauuu!” ucap keduanya serentak.
Aktifitas pagi yang dilakukan Edgar dan si kembar mendapat sorotan publik. Terutama masyarakat sekitar. Ibu-ibu komplek, tepatnya.
“Edgar! Mau dong, ikutan lari pagi,” goda ibu-ibu komplek itu. Seperti biasa, mereka nimbrung sambil menunggu tukang sayur lewat.
Edgar hanya melempar senyum ke arah ibu-ibu itu. Sekarang, ibu-ibu sekomplek tengah memerhatikan cara Edgar melatih si kembar berolah raga.
“Edgar, boleh nggak anakku ibu berolah raga sama kamu?” tanya si ibu gendut, tetangganya.
“Boleh,” sahut Edgar. “Tetapi, tidak gratis,” katanya sambil bergurau.
“Wah, harus bayar rupanya,” Ibu itu agak kecewa. “Memangnya berapa tarifnya per bulan?” godanya.
“Berapa ya?” Edgar tampak berpikir dahulu. Kalau dipikir-pikir, lumayan juga tuh ada pemasukan uang.
“Jangan mahal-mahal dong! Kan buat anak-anak,” goda ibu yang lainnya.
Audrey dan Austin geleng-geleng kepala. Mereka kesal karena Edgar dikerumuni ibu-ibu sekomplek.
“Kita kerjai Paman Edgar. Dia genit,” bisik Audrey. Austin setuju.
Audrey berbisik-bisik di telinga Austin. Mereka sedang merencanakan sesuatu tanpa sepengetahuan Edgar. Setelah keduanya sepakat, Austin pun segera pergi untuk bersembunyi. Dan tugas Audrey sekarang adalah berteriak sekencang-kencangnya.
“PAMAAAANNN!” teriak Audrey histeris. Edgar langsung mengarahkan pandangannya pada Audrey.
“Austin ke mana dia?” Spontan, Edgar mencari anak lelaki itu. Dia menghampiri Audrey. “Ada apa? Mana Austin?” tanyanya panik.
“Austin hilang!” Audrey memberitahu.
“Apa? hilang?” Raut wajah Edgar berubah pucat. Dia segera mencari Austin. Ibu-ibu sekomplek turut heboh mendengar Austin menghilang dari pandangan Edgar.
***