Ada Apa Dengan Si Kembar?

1130 Kata
“Paman Edgar!” Si kembar kompak berlari ke arah Edgar. Lalu, mereka memeluknya dengan erat. “Audrey! Austin! Kenapa kalian menangis?” tanya Edgar pada mereka. Si kembar belum mau bercerita. Akhirnya, gurunyalah yang menjelaskan alasan mereka menangis dan tidak mau pulang bersama teman-temannya naik bus sekolah. Si kembar menangis karena teman-teman sekelas mengejeknya. Mereka bilang bahwa si kembar sudah tidak punya ayah lagi. Merasa sakit hati dengan ucapan teman-temannya, Audrey dan Austin pun tidak mau pulang bersama mereka. Begitu ceritanya. Edgar mengerti. Ketika Edgar berbicara dengan guru TK si kembar, fokusnya teralihkan pada sosok Edgar yang tampan. Gurunya terlihat kegeeran setiap kali Edgar balas menatapnya saat berbicara empat mata. Edgar merasa tidak nyaman jika guru itu terus saja memerhatikannya. “Permisi Bu, saya akan segera membawa anak-anak pulang. Biar saya saja yang akan menenangkan mereka nanti,” Edgar pamit. “Kenapa buru-buru amat, Pak?” cegah Guru TK itu. “Ah, saya masih banyak urusan,” Edgar beralasan. Memangnya kenapa harus berlama-lama berada di TK? Pikirnya. “Oh, begitu. Silakan, Pak!” Guru TK itu mengangguk dan mempersilakan Edgar untuk membawa si kembar. “Anak-anak!” seru Edgar ketika menghampiri Audrey dan Austin. “Ayo, kita pulang!” ajaknya. Audrey dan Austin bersikeras tidak mau pulang. Lha, kenapa? Katanya, mereka masih tidak mau pulang jika harus naik bus sekolah. Si kembar kompak sekali menolak ajakan Edgar untuk pulang ke rumah. Tidak kok. Edgar terpaksa harus membujuknya lagi. Bahkan, dia harus memperlihatkan mobil perusahaannya di depan anak-anak. “Kita pulang naik mobil itu,” tunjuk Edgar. “Gimana menurut kalian?” tanyanya lagi meminta pendapat anak-anak. “Apa itu mobil Paman Edgar?” tanya Audrey. Dia sampai melongo melihat mobil Edgar. “Itu… mobil milik teman Paman. Kebetulan dia menitipkannya pada Paman hari ini. Sekalian saja, Paman meminjamnya biar bisa jemput kalian ke sekolah,” Edgar bercerita sambil meyakinkan kedua anak kembar itu. “Keren banget, Paman!” kagum Austin. Dia belum pernah naik mobil sebagus itu, katanya. “Sebelum pulang, gimana kalau Paman belikan kalian es krim. Mau nggak?” tawar Edgar. Edgar sedang berusaha membujuk si kembar. Tentu saja. Itu harus. Kalau tidak, mereka belum tentu mau pulang ke rumah. Tanpa tapi, tanpa banyak cingcong lagi, Audrey dan Austin langsung setuju dengan tawaran Edgar. Si kembar senang sekali pulang dijemput Edgar pakai mobil bagus. Kedua anak itu langsung berebut naik ke dalamnya. Sabar-sabar! Hati-hati, jangan sampai kotor joknya, ya! Edgar menasihati keduanya. Sayangnya, mereka tidak begitu menghiraukan ucapan Edgar. Alias bodo amat. DRRRRTTTTT!!! Panggilan telepon dari Siera. Edgar buru-buru menjawab telepon dari ibu si kembar. Jangan ditunda-tunda lagi. Bisa bahaya. Siera bisa ngamuk-ngamuk nantinya. Edgar segera menjawab panggilan teleponnya. “EDGAR! ADA APA DENGAN ANAK-ANAKKU?” teriak Siera di seberang sana. Suaranya melengking-lengking dan memekakan telinga Edgar. “KATANYA MEREKA TIDAK MAU PULANG? KENAPA BISA BEGITU?” tanya Siera ingin tahu. Edgar sempat menjauhkan ponselnya saat Siera teriak-teriak menanyakan keadaan si kembar. Aish! Apa tidak bisa bicaranya pelan sedikit? “Nanti, aku akan menjelaskannya di rumah. Sekarang, aku akan membawa anak-anak pulang dulu. Sudah ya, sampai nanti,” putus Edgar. “Tunggu! Edgar!” cegah Siera. “Edgar!” panggilnya. Tuuuttt! Sambungan terputus. Edgar segera menyimpan ponselnya ke dalam saku kemejanya. Kemudian, dia masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraannya, meninggalkan sekolah si kembar. “Paman, jangan lupa! Katanya, mau beli es krim,” Audrey mengingatkan. “Iya, Paman. Boleh, kan, aku beli es krim yang banyak?” Austin menimpali. “Iya, boleh-boleh. Tapi, jangan beritahu ibu kalian, ya!” kata Edgar membuat kesepakatan. Si kembar kompak mengangguk. Mereka akan menurut pada Edgar setelah menyepakati perjanjian rahasia di antara Edgar dan kedua anak kembar itu. *** Siera buru-buru pulang ke rumah. Dia langsung memburu Edgar dan menanyakan keadaan putra putrinya. Malam itu, si kembar sudah tidur duluan sebelum ibunya pulang. Kasihan sekali, si kembar merasa kelelahan setelah puas bermain dan jalan-jalan bersama Edgar di taman playground. “Edgar, ada apa dengan mereka? Beritahukan padaku!” desak Siera. Dia tidak sabaran menunggu Edgar bercerita tentang kejadian hari ini yang dialami oleh si kembar. Edgar mengajak Siera duduk dahulu. Setelah Siera merasa tenang, barulah Edgar akan menceritakan kronologis kejadian yang menimpa si kembar di sekolah. “Apa? Teman-temannya di sekolah mengejek si kembar? Apa anak-anakku mendapat perlakuan bullying di sana?” Siera langsung sewot. Dia agak geram ketika Edgar menceritakan permasalahan yang tengah dihadapi si kembar di sekolah. “Tidak. Bukan seperti itu. Menurut gurunya, Audrey dan Austin hanya tidak tahan saja dan merasa sakit hati karena teman-teman membicarakan tentang kedua orang tua mereka saat jam pelajaran. Kemudian, teman-teman mengata-ngatai si kembar yang ayahnya telah meninggal dunia,” jelas Edgar panjang lebar. Saat itu, entah kenapa Siera pun ikut berkaca-kaca dan langsung menitikkan air matanya. Setelah tahu kedua anaknya diejek teman-teman di sekolah karena tidak punya seorang ayah. Siera menundukkan pandangannya. Dia sedih sekali melihat nasib putra putrinya yang malang. “Aku takut anak-anakku kena mental. Apa yang harus kulakukan sekarang, Edgar? Mereka berdua pasti akan mengalami trauma pergi ke sekolah,” kata Siera. Dia berdiskusi dengan Edgar dan meminta pendapatnya. Meski Edgar belum punya anak dan tidak pernah memiliki pengalaman mengurus anak, namun dia bisa merasakan kesedihan mendalam yang dirasakan oleh si kembar. Pasca ayahnya tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas. “Kamu harus memberi waktu dan pengertian lebih untuk mereka. Biarkan saja mereka berpikir untuk menerima keadaan. Karena ini bukanlah kehendak kita, melainkan kehendakNya,” Edgar berpendapat. Kata-katanya begitu menyentuh hati dan membuat haru Siera. Tumben, tidak biasanya. Dia melontarkan kata-kata bijak setelah beberapa hari menjadi pengasuh anak-anak. Naluri kebapakannya mulai muncul. Edgar sangat mengerti dan memahami situasi yang sedang dihadapi si kembar. Mereka terlalu dini saat harus menerima kenyataan pahit ini. Tetapi, takdir tidak bisa diubah. Hanya Tuhanlah yang berhak menentukan nasib semua makhluk-makhluknya. Termasuk nasib Edgar saat ini. Menyedihkan dan sangat mengenaskan. “Sudah malam, tidurlah Siera! Aku juga akan segera beristirahat,” pamit Edgar. “Edgar!” panggil Siera. Edgar menoleh ke arahnya. “Terima kasih, ya,” ucapnya. Edgar mengernyit. “Ah, bukan apa-apa. Itu sudah menjadi kewajibanku mengurus anak-anakmu, kan? Karena aku dibayar untuk melakukan hal itu.” “Bukan itu maksudku,” sanggah Siera. Edgar membelalak. Lantas, apa? “Terima kasih, kamu sudah memberitahuku tentang keadaan si kembar. Aku merasa gagal menjadi seorang ibu,” ungkap Siera. Sembari menyalahkan dirinya sendiri di depan Edgar. “Jangan bicara begitu! Semua wanita, apalagi single parent sepertimu pasti akan melakukan hal yang sama juga. Kamu sudah bekerja keras demi anak-anakmu, Siera,” hibur Edgar. Siera jadi merasa tenang ada Edgar di sampingnya. Yang mau mengurus kedua buah hatinya. Edgar lega. Kini, sudah ada Siera yang menemani si kembar. Dia pergi ke kamarnya. Ketika membuka pintu rumah, Edgar terkejut melihat sosok bayangan hitam berdiri di hadapannya. “Astaga! Siapa kamu?” tanya Edgar. ***    
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN