Edgar memukul Adam sangat kencang, hingga sudut bibirnya berdarah. Adam segera menyeka bercak merah itu dengan jempolnya. Dia tersenyum sinis mendapat perlakuan semena-mena dari sang kakak. Kebiasaan!
“Jaga bicaramu, Dam!” Edgar memperingatkan Adam. Ketika Edgar hendak melayangkan lagi tinjunya, Mike buru-buru mencegahnya.
“Bos, sudahlah! Anda tidak boleh membuat keributan di sini. Semua orang memerhatikan Anda,” Mike mengingatkan. Edgar kini bisa mengendalikan diri dan menahan emosinya berkat Mike, sekretaris pribadinya.
Edgar sangat tidak suka dengan sikap Adam yang terlalu ikut campur dengan urusannya. Baginya, Adam memang selalu membuat kakaknya itu emosi. Padahal, pria yang berprofesi sebagai dokter itu hanya ingin mengingatkannya saja. Menyadarkan Edgar agar tidak lari dari masalah dan bertanggung jawab atas perbuatan yang dilakukannya tempo hari.
Mike berhasil membawa Edgar keluar dari kafe itu, menjauh dari Adam. “Bos, tenangkan diri Anda! Jangan sampai terpancing emosi lagi seperti tadi. Semua orang bisa mencurigai Anda,” kata Mike menasihatinya.
Di sisi lain, Adam terlihat agak marah pada Edgar. Dia tidak terima jika nasihatnya hanya dijadikan lelucon oleh Edgar. Bahkan, tanpa merasa bersalah sedikit pun Adam malah jadi sasaran empuk pelampiasan kemarahan Edgar. Entah bagaimana lagi caranya membuat Edgar sadar dari perbuatannya.
***
Edgar dan Mike sudah mendekorasi ulang kamar sewaan itu. Mereka menyulapnya dengan menambahkan berbagai furniture dan beberapa barang elektronik, seperti komputer karena Edgar suka sekali main game online, AC, TV, dan Playstation. Kini, sudah terlihat lumayan dan terasa nyaman untuk Edgar tinggali.
“Ini baru keren,” puji Edgar sambil menepuk punggung Mike dengan keras.
Keren sih keren. Tapi tidak usah segitunya harus mukul-mukul punggung orang lain. Mike baru mau memprotesnya. Namun, niatnya urung. Dia lebih tertarik dengan cerita Edgar yang kini menjadi pengasuh anak.
“Bos, gimana rasanya jadi pengasuh anak?” tanya Mike ingin tahu. Dia penasaran sekali dengan cerita Edgar.
“Rasanya? Aku tidak bisa menjelaskannya. Kamu harus merasakannya sendiri, Mike,” sahut Edgar.
“Apa?” Mike membelalak. “Tidak. Terima kasih, Bos atas tawarannya. Tapi, saya lebih suka bekerja di perusahaan Anda dari pada harus mengurus bocah kembar itu,” tolaknya.
Edgar tersenyum mendengar jawaban Mike. Memang tidak mudah juga bagi Edgar mengasuh si kembar. Oh, iya ngomong-ngomong kenapa mereka belum pulang dari sekolahnya? Edgar melirik jam tangannya. Harusnya jam segini si kembar sudah pulang.
“Bos, sudah selesai nih tugas saya. Saya harus kembali ke kantor,” kata Mike pamit.
“Oh, iya. Terima kasih atas semua usahamu, Mike,” balas Edgar.
Sebelum Mike pergi, pria itu mengingatkan Edgar akan sesuatu hal. “Bos! Jangan lupa, Anda harus segera membayarnya.”
Sialan! Soal itu tidak perlu diingatkan seperti itu. Kesannya kan jadi ngeburu-buru. Sudah tahu Edgar belum gajian. Mike terkekeh sambil meninggalkan Edgar di sana.
Edgar melirik lagi jam tangannya. Dia terlihat gelisah. Dia juga mondar-mondir nggak jelas di depan rumah sambil menunggu kedatangan bus sekolah yang mengantar si kembar pulang. Aneh, kenapa sampai sekarang belum pulang? Edgar mencari tahu ke tetangga sebelah. Tidak ada pilihan lain.
Edgar pergi ke rumah sebelah. Barang kali pemilik rumah itu, si ibu gendut tahu sesuatu tentang anak-anak di TK. Maka, bergegaslah Edgar pergi menemuinya.
Tok-tok-tok!
Tidak lama kemudian seseorang dari dalam sana menyahut, “Ya, tunggu sebentar!”
Edgar menunggu di depan pintu. Dia mulai tidak sabaran karena si empunya rumah lama sekali membukakan pintu untuknya.
“Edgar?” Ibu gemuk itu terkejut melihat kedatangan pria tampan di depan pintu rumahnya. “Ada apa, ya?” tanyanya sambil pasang muka kegeeran.
“Maaf, aku mau tanya soal anak-anak. Kenapa jam segini mereka belum pulang? Apa anakmu juga belum pulang?” Edgar panik.
“Anakku sudah pulang dari tadi. Memangnya si kembar belum pulang?” Ibu itu balik bertanya.
Gawat! Apa yang terjadi di sekolah? Edgar buru-buru meminta alamat sekolah dan nomor telepon guru TK-nya. Tanpa banyak pertanyaan lagi, dia segera menjemput si kembar ke sekolahnya.
Mumpung belum lama pergi, Edgar menghubungi Mike. Sang sekretaris memutar balik setelah mendengar alasan Edgar meneleponnya. Edgar panik sekali karena ini kali pertamanya si kembar pulang ke rumah tidak tepat waktu. Edgar dan Mike pergi bersama-sama akhirnya. Namun, Edgar menyuruh Mike turun di depan perusahaannya.
“Turun!” perintah Edgar.
“Lho, Bos! Anda mau mengemudi sendiri?” Mike heran.
“Iyalah. Memangnya mau ngapain lagi. Bukankah kamu sangat tidak suka sama anak kecil? Jadi, lebih baik kuantar kamu ke kantor dulu lalu mobilnya akan kubawa pulang nanti,” Edgar beralasan.
“Tapi, Bos! Gimana kalau Tuan Frans mengetahui Anda membawa mobil perusahaan?” Mike jadi panik.
“Ayahku tidak akan tahu. Kecuali kalau kamu sengaja memberitahukannya. Sudah cepat turun! Aku harus menjemput si kembar di sekolahnya,” usir Edgar.
Mike akhirnya turun dari mobil. Terpaksa. Itu karena Edgar sangat membutuhkan mobilnya untuk membawa pulang Audrey dan Austin.
Edgar melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dia memaksimalkan kecepatannya. Sudah lama sekali dia tidak balapan lagi. Rasanya ada yang hampa dalam dirinya selama pelariannya beberapa hari ini.
Mike hanya mengelus d**a melihat bosnya menyetir seperti orang gila. Untung saja dia sudah turun di depan kantornya. Kalau masih berada di dalam mobil itu, bisa-bisa dia ikut-ikutan gila seperti bosnya.
“Pak Mike?!” Siera menghampiri Mike yang masih berdiri mematung dalam keadaan kebingungan.
“Eh, iya. Ada apa, Bu?” Mike segera menoleh. Siera, petugas keamanan kantor yang cantik dan seksi itu menghampirinya.
“Pak Mike tidak masuk ke dalam? Kenapa masih berada di luar?” tanya Siera.
“Oh, ini juga mau masuk kok.” Mike agak grogi saat didekati oleh Siera.
“Kenapa mobil perusahaannya pergi lagi, Pak? Setahu saya tadi Anda mengendarainya sendirian.” Giliran Siera yang memandang Mike keheranan. Karena sedari tadi Siera memerhatikannya.
“Itu… Bos kita tadi itu. Dia membawa mobilnya. Katanya ada urusan mendadak,” Mike memberitahu.
Siera mengerti. Oh, jadi begitu ceritanya. Dia manggut-manggut. Selama dia bekerja menjadi satuan petugas keamanan di perusahaan itu, dia belum pernah sekali pun melihat pemimpin perusahaannya.
Konon katanya CEO di perusahaannya itu sedang berada di suatu tempat. Entah di mana. Rumor yang beredar juga menyebutkan bahwa CEO mereka terkenal dengan sikap arogan, sombong, tidak pernah peduli pada orang lain. Termasuk pada pegawainya dan sadis banget kalau sudah memberikan pekerjaan di kantor. Beruntung, CEO macam begitu sedang tidak ada di kantor. Siera bisa bernapas lega. Kalau bisa mending tidak usah ketemu, katanya.
Sesampainya Edgar di sekolah, dia segera menuju ruang kelas si kembar. Di sana, dia menemukan si kembar sedang bersama gurunya di kelas. Ada apa ini kenapa mereka menangis tersedu-sedu seperti itu? Edgar terkejut melihatnya.
“Permisi!” sapa Edgar di depan kelas. Guru TK si kembar menghampirinya.
“Maaf, Anda ini siapa?” tanya guru itu. Dia terkejut melihat seorang pria tampan datang ke sekolah TK. Ada keperluan apa memangnya? Terkanya.
***