Obrolan Unfaedah

1157 Kata
Audrey dan Austin segera bangun setelah mendengar teriakan Edgar. Mereka langsung berbaris rapi di hadapan Edgar. Seperti seorang tentara militer yang menghadap komandannya dan harus siap-siap menjalani tugas. Yaitu sekolah. Si kembar berdiri tegak, busungkan d**a, tidak letoy, tidak manja, dan harus menjawab pertanyaan Edgar dengan kata “siap!”. Begitulah Edgar mendidik si kembar. “Audrey! Austin!” panggil Edgar bergantian. “Siap!” Si kembar dengan kompak dan tegas menjawabnya. “Kalian tahu sudah jam berapa ini?” tanya Edgar sambil memerhatikan mereka satu per satu. Sambil menunjukkan wajah garang, namun tetap berkharisma. “Pukul 7 pagi,” sahut Audrey setelah melirik jam dinding di kamarnya. “Kalian tahu kan sebentar lagi sudah masuk jam sekolah?” tegas Edgar. Austin mengangguk. Disusul Audrey. Keduanya sekarang sedang ditegur Edgar. Dia juga menasihati si kembar yang malas bangun pagi. Lantas, apa mereka akan mendapat hukuman dari Edgar? “Lakukan push up sebanyak 10 kali,” kata Edgar memerintah. “APA?” kompak keduanya. Mereka saling beradu pandang. “Cepat lakukan! Tunggu apa lagi?” desak Edgar. Raut wajahnya terlihat makin galak biar anak-anak itu segan kepadanya. “Aku tidak mau,” tolak Austin dengan nada bicara ogah-ogahan. Audrey menyikut lengan adiknya itu. “Jangan melawan! Nanti Paman kasih tahu ibu kalian. Biar ibu saja yang menghukum kalian nanti. Gimana?” tawar Edgar. “JANGAN!” seru Audrey setengah berteriak. Tuh, kan! Mereka takut jika Edgar mengadukannya pada Siera. Mau tidak mau si kembar pun mengikuti kemauan Edgar. Disuruh push up, ya lakukan saja. Terlepas benar tidaknya gerakan push up yang mereka lakukan. Abaikan saja. Edgar tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang penting mereka sudah patuh dan mau belajar bertanggung jawab atas perbuatannya. Padahal, Edgar sendiri sering melarikan diri dari masalah. Ckckck. Kontras sekali apa yang diajarkan Edgar pada bocah-bocah lugu itu. “Paman! Udahan, ya. Pegal nih,” keluh Austin. “Baru juga hitungan kelima sudah mengeluh. Lakukan lagi!” perintah Edgar. Dia tidak pandang bulu. Perintahnya harus segera dituruti. “Paman, sampai hitungan kedelapan aja, ya,” tawar Audrey. Edgar melirik ke arah Audrey yang sudah kelelahan dan tidak sanggup lagi melanjutkan push upnya. Ya ampun! Kalian ini jarang sekali berolah raga, ya? Payah. Gimana mau semangat belajarnya? Gerakan seperti itu saja mereka sudah sangat kelelahan. Ckckck. Edgar berdecak. Dia merasa harus membimbing mereka melakukan aktifitas fisik. Seperti lari keliling komplek atau melakukan push up, sit up, dan olah raga ringan lainnya di pagi hari. “Mulai besok, kalian harus bangun lebih pagi dan kita akan berolah raga sebelum kalian pergi ke sekolah. Mengerti?” Edgar menjanjikan. “APA?” Audrey dan Austin terlonjak kaget. “Harus mau. Ini perintah!” tegas Edgar memperingati mereka. “I-ya…” sahut mereka malas. *** Satu jam kemudian, Edgar dan anak-anak sudah siap di depan rumah menunggu bus jemputan sekolah. Sambil menggandeng kedua anak itu, Edgar terlihat keren dengan kacamata hitamnya. Lihat tuh! Ibu-ibu komplek langsung histeris, teriak-teriak lebay saat Edgar menoleh ke arah mereka yang tengah berbisik-bisik membicarakannya. Mana nih busnya kok belum datang juga? Edgar melirik jam tangannya. Telat beberapa menit jadinya. Mungkin macet di perjalanan menuju komplek perumahan. Ibu-ibu genit itu langsung menghampiri Edgar. Kompakan mengelilingi Edgar sambil pasang muka senyum paling manis versi mereka. Namun, Edgar terkesan cuek dan lurus-lurus saja menanggapi tingkah mereka. “Hai ganteng!” sapa si ibu gemuk. “Halo, Madam,” Edgar balas menyapa. Ibu gemuk itu langsung jingkrak-jingkrak senang karena Edgar balas menyapanya. Mereka berbisik-bisik di belakang Edgar. Entah itu pujian, nyinyiran, atau celotehan tidak berguna yang unfaedah, Edgar tetap tidak peduli. Dia hanya fokus memegangi si kembar sampai mobil jemputan sekolah datang. Tidak lama kemudian, bus sekolah pun tiba. Edgar mengantar Audrey dan Austin ke bus, memastikan mereka duduk dengan aman dan nyaman. Setelah itu, Edgar turun sambil melambaikan tangan pada si kembar lewat kaca jendela bus. “Paman Edgar!” Austin dadah-dadah. Begitu juga dengan Audrey. Mereka berdua terlihat riang sekali saat melambaikan tangan perpisahan dengan Edgar. “Audrey, itu ayahmu ya? Eh, kayaknya bukan deh,” ujar teman yang duduk di belakang Audrey mencibirnya. “Dia pamanku. Kenapa memangnya? Pamanku ganteng, kan?” puji Audrey sambil balas menyindir temannya. Dia membanggakan Edgar di depan temannya itu. “Bilang aja kamu iri sama kami karena nggak punya paman seganteng itu. Iya, kan?” timpal Austin. Temannya itu langsung diam tak berkutik. Audrey dan Austin memunculkan kepalanya di kaca jendela sambil ‘say goodbye’ pada Edgar. Setelah bus sekolah meninggalkan area komplek, Edgar pun segera masuk ke dalam rumah. Ibu-ibu dengan sigap mencegahnya pergi. Katanya, ada yang harus mereka tanyakan pada Edgar sebelum berpisah. “Tunggu Edgar!” panggil si ibu kurus. Edgar menghentikan langkahnya dan dia menoleh ke arah ibu-ibu itu. “Sebenarnya pekerjaanmu itu apa sih? Kelihatannya selalu ada di rumahnya Siera,” tanya ibu kurus itu. Sorot matanya tajam seolah sedang menyelidiki sesuatu tentang Edgar. “Aku? Aku ini pengasuh anak-anak. Aku bekerja sebagai pengasuhnya si kembar,” sahut Edgar. Apa? Pengasuh si kembar? Maksudnya Edgar itu bekerja di rumah Siera sebagai baby sitter, gitu? Ibu-ibu komplek itu kembali berbisik-bisik membicarakan Edgar. Mereka terkejut dengan pengakuan Edgar tentang pekerjaannya. Lah, memangnya kenapa? Apa yang salah? *** Edgar pergi ke suatu tempat. Dia harus membeli sesuatu dengan Mike di pusat perbelanjaan. Tak sengaja mereka berpapasan dengan Adam di sana. Sebenarnya malas sekali menyapa Adam. Namun, Edgar tidak bisa menghindarinya. Kalau sudah ketemu otomatis mengobrol sebentar sambil ngopi-ngopi di kafe. Basa-basi saja. “Jadi, sekarang Kakak sudah tidak bersembunyi lagi? Apa Ayah sudah membebaskan Kakak dari semua tuduhan itu?” tanya Adam. Nada suaranya kurang nyaman terdengar di telinga Edgar. Itu pertanyaan tapi kesannya jadi sindiran secara halus. “Memangnya untuk apa aku bersembunyi. Aku tidak salah, kok,” sangkal Edgar penuh rasa percaya diri. Adam tersenyum sinis mendengarnya. Lagi-lagi Edgar menyangkalnya. Adam sudah tahu sifat kakak tirinya itu sejak kecil. Mike menyikut tangan Edgar. Sebagai tanda jika Edgar harus berhati-hati dalam berucap. Mike sengaja memperingatkan Edgar agar tidak sembarangan bicara di tempat umum. Itu perintah ayahnya, Tuan Frans. “Apa Kakak tidak merasa bersalah sedikit pun pada korban tabrak lari itu? Apa Kakak tidak memikirkan bagaimana perasaan keluarganya saat itu? Sadarlah, Kak! Sebaiknya Kakak menyerahkan diri pada polisi sekarang juga,” bujuk Adam. “Apa? Menyerahkan diri?” Edgar naik pitam. “Iya, dengan begitu Tuhan akan mengampuni semua dosa-dosa Kakak,” Adam mengingatkan. “Lebih baik kamu urus dirimu sendiri. Fokus saja mengobati pasien-pasienmu di Rumah Sakit. Tidak usah memedulikanku. Hidupku biar aku yang atur. Mengerti?” Adam geleng-geleng kepala memerhatikan sikap Edgar. Sudah beberapa kali diingatkan, Edgar tetap ngeyel dan keras kepala. Tidak mau mendengar nasihat adiknya. Beberapa menit kemudian, Edgar dan Mike pergi duluan. Obrolan tidak penting itu membuat Edgar muak. Adam selalu bisa menyulut emosi kakaknya. “Kakak!” panggil Adam. “Sebaiknya Kakak menyerah saja.” Edgar menoleh. Kemudian, dia berjalan mendekati Adam dan tiba-tiba saja bogem mentah mendarat tepat di pipi kanan Adam. BUUUGGHHH! “Tutup mulutmu, b******k!” ***                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN