Basah-basahan

1213 Kata
“Siapa kamu? Apa kamu malaikat maut yang akan mencabut nyawaku?” Edgar meracau dalam tidurnya. Dia tengah bermimpi didatangi malaikat maut berwujud setan. Seorang pria berlumuran darah yang pernah dia tabrak beberapa waktu lalu. Menyeramkan sekali melihatnya secara langsung. Malaikat maut itu sedang menghantui mimpinya. “Kamu harus mempertanggung jawabkan perbuatanmu, Tuan,” ucap pria berwujud setan itu. “Apa?” Edgar ketakutan setengah mati. Rasanya seperti dikejar-kejar setan beneran. Dahinya mengeluarkan keringat dingin. Napasnya tersenggal-senggal persis sama seperti dalam pelariannya tempo hari. “Kenapa kamu tidak menolongku dan malah melarikan diri?” Pria itu mendekati Edgar. Apa dia akan menuntut balas padanya? Edgar ketakutan. “Aku… sudah minta maaf sebelumnya. Waktu itu posisiku sangat tidak memungkinkan untuk menolong orang. Aku pun dalam keadaan darurat. Jadi, aku minta maaf karena tidak bisa menolongmu,” sesal Edgar. Dia menjelaskan kronologis kejadian sebenarnya waktu itu. “Sekarang, tolong aku Tuan. Ikutlah denganku ke alam baka. Biar pengadilan akhirat yang akan menghukummu,” ucap pria itu sambil memelas. “TIDAK! Jangan dekat-dekat!” tolak Edgar. “Ayo, Tuan! Sebentar lagi malaikat maut akan menjemputmu,” ajaknya. “Aku tidak bersalah,” Edgar ngotot mengatakannya. Dia tidak pernah merasa bahwa itu adalah kesalahannya. “Pergi! Pergi sana!” usir Edgar. Setan itu bukannya pergi malah berjalan lebih cepat mendekatinya, menyudutkan dan hampir mencekik lehernya. Dalam mimpinya Edgar berteriak meminta tolong. “Tolong aku! Siapa pun itu. Segera bangunkan aku dari mimpi buruk sialan ini,” mohon Edgar. Tok-tok-tok! Saat itu, sekitar pukul 6 terdengar suara orang mengetuk pintu kamar Edgar. Suara ketukan pintunya semakin kencang terdengar. Tok-tok-tok! Siapa itu? Edgar segera terbangun dari tidurnya. Dia terlonjak kaget dan membukakan pintu kamarnya. Syukurlah! Dia bisa segera bangun dan kembali ke dunia nyata. Jika tidak, mungkin dia bisa mati saat berada di alam mimpi. Setelah pintu terkuak seorang malaikat berpakaian serba putih tengah berdiri di hadapannya kini. Apa dia malaikat maut yang akan menjemput ajalnya? Tetapi, kenapa wajahnya mirip sekali dengan Siera? Pikir Edgar. “Siera? Kamukah itu?” Edgar memastikannya lagi. Wanita itu mengangguk meski agak bingung menanggapi sikap Edgar. Tentu saja itu Siera. “Iya, ini aku,” Siera meyakinkannya. Tiba-tiba saja, refleks kedua tangan Edgar memeluk tubuhnya yang mungil itu. Siera terkejut mendapat perlakuan spontan itu dari Edgar. “Terima kasih, Siera,” ucap Edgar penuh haru. Siera tidak mengerti maksud Edgar. Sekarang, Edgar merasa lega karena wanita itu menyelamatkan hidupnya dari kejaran mimpi buruk tadi. Edgar semakin mengencangkan pelukannya dan membuat Siera sesak napas. Tidak lama kemudian, Edgar tersadar dari lamunannya. “Edgar, lama-lama aku bisa kehabisan napas jika kamu memelukku terus seperti ini,” kata Siera. “Maafkan aku, Siera,” sesal Edgar. Dia buru-buru menyingkirkan tubuhnya yang menempel dengan Siera. “Ah, tidak apa-apa,” sahut Siera. Namun, keduanya terlihat agak canggung setelah Edgar tiba-tiba memeluknya tadi. “Ada apa pagi-pagi sekali ke sini?” Edgar yang tadinya masih mengantuk mendadak melek. Matanya langsung terbuka lebar. “Edgar, maaf ya, aku sudah membangunkan tidurmu. Aku mau minta tolong sama kamu,” kata Siera beralasan. “Minta tolong apa?” Edgar mengerutkan kening. Sepagi ini, Siera membangunkan Edgar dan meminta tolong kepadanya. Pasti ada sesuatu yang sangat mendesak, pikirnya. “Kran air di kamar mandiku tidak menyala. Bisa kamu mengeceknya sebentar,” kata Siera meminta tolong. Edgar segera membantu Siera. Meski sebenarnya dia sendiri tidak tahu cara membetulkan kran air yang tidak menyala. Kalau Edgar menolaknya, dia bisa gengsi. Seumur-umur, Edgar belum pernah mengerjakan pekerjaan pria normal seperti itu. Ya, maklum saja. Semua pekerjaan itu selalu dibereskan dengan bantuan tukang. Mana mau dia repot-repot membetulkannya seorang diri. “Gimana? Sudah bisa diperbaiki?” tanya Siera. Dia penasaran dan masuk ke dalam kamar mandi. Saat itu, Edgar masih kebingungan mencari tahu penyebab kran air itu bisa mampet. “Aku masih memperbaikinya. Bersabarlah sebentar lagi,” sahut Edgar. Sembari pura-pura menyelediki permasalahannya. Padahal, mana mengerti dia soal begituan. “Edgar, cepatlah! Aku harus mandi. Sebentar lagi aku harus pergi bekerja,” Siera mengingatkan. Edgar mengerti. Masalahnya, dia sendiri tidak tahu bagian mana yang harus dia perbaiki. “Biasanya krannya dibuka dulu. Coba saja,” Siera mengusulkan. Benar juga, Edgar yang polos itu mengikuti usulan Siera. Ketika kran dibuka, airnya langsung menyembur ke arah Siera hingga wanita itu terlihat basah kuyup. Hah, apa-apaan ini Edgar? Siera tersembur air kran yang sangat kencang. Kini seluruh tubuhnya basah dan baju tidur transparan itu kini semakin memperlihatkan setiap lekuk tubuhnya dengan sangat jelas. Edgar tertegun melihat kemolekan tubuh Siera. Dia buru-buru mengalihkan pandangan dan keluar dari kamar mandinya. “Edgar, tutup matamu!” perintah Siera. Dia sadar dengan pakaiannya yang basah. Sayangnya, Edgar sudah terlanjur melihat tubuh Siera secara keseluruhan. “Maaf, Siera. Aku tidak bermaksud memandangimu barusan,” sesal Edgar. “Apa? Jadi, tadi kamu melihat tubuhku?” Siera langsung menyilangkan tangan di d**a. Dia harus melindungi tubuhnya dari pikiran jahat seorang pria asing, pikirnya. “Kita panggil tukang air saja. Agar masalah ini segera terselesaikan,” Edgar memberi saran. Bukannya mencari solusi malah melimpahkan pekerjaan pada orang lain. Payah! “Bilang saja kalau kamu tidak bisa memperbaikinya. Malah sok-sokan mau membetulkannya,” ejek Siera dalam hati. “Hubungi tukang pipa air saja,” kata Edgar. Dia menyerah pada pekerjaan itu. “Oke, baiklah. Kukira kamu bisa memperbaikinya,” sindir Siera ditengah gelak tawanya yang hampir saja menggelegar. Sekarang, Siera tahu. Pria bertubuh kekar, tampan, dengan postur tubuh menjulang tinggi bak tiang listrik itu ternyata tidak bisa mengerjakan pekerjaan pria pada umumnya. Dahulu saja, mendiang suami Siera selalu bisa diandalkan dalam pekerjaan rumah seperti ini. Sementara, Edgar? Kacau. Ups! Siera tak sengaja membandingkannya. Edgar segera keluar dari rumah Siera. Dia agak gugup tadi di depan Siera. Setelah Edgar kembali ke kamarnya, ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Mike. Edgar segera menelepon balik. Barang kali ada yang ingin disampaikan oleh sekretaris pribadinya itu. “Aneh? Kenapa Mike tidak menjawab teleponnya? Kebiasaan,” Edgar kesulitan menghubungi Mike. Apa jangan-jangan Mike ketahuan oleh Tuan Frans mengeluarkan sejumlah uang untuk memenuhi kebutuhannya? Edgar jadi berburuk sangka duluan. Ya Tuhan, kenapa masalahnya bisa jadi serumit ini? Edgar melihat jam dinding di kamarnya. Sudah waktunya dia harus menyiapkan keperluan sekolah si kembar. Sebentar lagi juga Siera akan pergi bekerja. “Edgar, aku harus pergi. Si kembar belum bangun. Titip salam untuk mereka, ya. Maaf aku buru-buru,” ucap Siera yang berlalu dengan tergesa-gesa. Edgar hanya mengangguk, mengiyakannya. Setelah melihat Siera pergi, Edgar memasuki kamar si kembar. Kedua anak pembawa masalah itu tengah tertidur nyenyak, rasanya jadi tidak tega untuk membangunkannya. Edgar akan menyiapkan sarapan terlebih dahulu sebelum anak-anak bangun. Beberapa menit setelah sarapan pagi siap, Edgar pun membangunkan si kembar di kamarnya. “Audrey, Austin bangunlah! Sudah waktunya sarapan. Cepat bangun!” perintah Edgar. “Aku masih ngantuk Paman,” Audrey ogah-ogahan. Dia menarik selimut, menutupi dirinya karena malas bangun. “Bangunkan aku lima menit lagi, Paman.” Sama seperti Audrey, Austin pun tidak mau bangun. “Apa-apaan ini? Kenapa kalian tidak mau bangun juga?” Edgar berkacak pinggang memerhatikan kedua anak itu. “Apa Paman harus menelepon ibu kalian karena tidak mau berangkat sekolah?” ancam Edgar. “Telepon saja. Ibu sangat sibuk mana ada waktu membangunkan kami,” sahut Audrey. Edgar geram sekali mendengar jawaban si sulung. Dia menarik napas panjang kemudian segera membangunkan mereka lagi. “BANGUUUUUNNN!!!” teriak Edgar. ***      
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN