“Apa aku salah sudah memberikan mereka permen?” tanya Edgar polos.
Karena setahu Edgar, hanya permenlah yang bisa membuat si kembar berhenti menangis. Dan itu terbukti. Mereka diam tidak menangis lagi. Tetapi, kenapa Siera marah sekali pada Edgar?
“Ini sudah malam. Memangnya kamu tidak tahu kalau jam malam begini anak-anak tidak boleh makan permen atau makan yang manis-manis? Gigi mereka bisa rusak,” tegur Siera.
Wanita itu agak kesal karena Edgar abai dan tidak mematuhi larangan itu. Sudah jelas-jelas Siera menulisnya di daftar kegiatan si kembar. Edgar melupakannya secara tidak sengaja.
“Maaf, aku tidak tahu hal itu,” sesal Edgar kemudian. Setelah ditegur Siera, Edgar menyadari kesalahannya.
Siera baru saja menasihati Edgar karena kesalahannya sudah memberikan si kembar permen manis. Audrey dan Austin cekikikan, menertawakan Edgar yang sedang dimarahi ibunya. Siera menoleh ke sumber suara yang tengah menertawakan Edgar. Si kembar buru-buru masuk ke kamar mandi dan segera menggosok gigi. Mereka patuh pada perintah ibunya. Sebelum ibunya marah lagi pada mereka.
Kini, Siera sudah ada rumah, Edgar pamitan dan segera meninggalkan rumah. Malam ini dia ada janji bertemu dengan Tuan Frans, ayahnya di suatu tempat. Edgar siap-siap dahulu. Tidak lama lagi, Mike akan menjemputnya. Sudah ada di jalan katanya. Beberapa menit lagi Mike akan sampai.
“Seandainya saja ada mobil, kan lebih mudah bagiku bepergian tanpa harus menunggu pengawalan. Merepotkan sekali kalau begini terus,” gumam Edgar.
Edgar mengganti pakaiannya. Dalam penyamarannya, dia harus terlihat seperti orang lain. Untuk mengelabui polisi lalu lintas yang masih berpatroli di sekitar perusahaannya. Setelah berdandan rapi, Edgar pun diam-diam keluar dari kamar sewanya dan pergi menemui Mike di depan komplek perumahan tempat tinggalnya.
“Mike, apa kamu sudah membelikan barang-barang yang kubutuhkan?” tanya Edgar sesampainya di mobil.
Mike menggeleng. Apa? Jadi, dia tidak membelikannya? Edgar tanya kenapa. Jawaban Mike di luar ekspektasinya. Katanya, pembelian barang-barang tersebut harus mendapat persetujuan Tuan Frans terlebih dahulu.
“Gila! Yang benar saja,” Edgar protes. Masa iya, beli barang-barang pribadi saja harus meminta izin terlebih dahulu pada Tuan Frans?
Tentu saja. Itu sudah menjadi peraturan yang ditetapkan oleh Tuan Frans semenjak Edgar dicoret dalam kartu keluarga. Kini, Mike bertanggung jawab penuh atas keselamatan bosnya itu. Alih-alih melindungi, Mike juga tetap harus melaporkan semua kegiatan yang dilakukan Edgar kepada ayahnya. Itu harus. Tidak boleh tidak.
Edgar geram sekali dengan sikap ayahnya. Nanti pas ketemu, Edgar akan menanyakannya langsung kepada Tuan Frans. Apa maksud semua ini? Kenapa dia tidak bisa berbelanja memenuhi kebutuhannya sehari-hari?
Mike menepikan kendaraannya. Setelah itu, diam-diam mereka memasuki gedung perkantoran di kantor cabang. Tempat mereka bertemu secara rahasia. Di sana, Tuan Frans sudah menunggu kedatangan Edgar.
“Ayah, aku sudah datang,” sapa Edgar ketika menemui Tuan Frans di sebuah ruangan, kantor kepala cabang.
Tuan Frans yang sedang melihat-lihat maket gedung menoleh ke arah Edgar. Pria tua itu kemudian berjalan ke arah putranya, lalu memeluknya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya Tuan Frans pada Edgar. Pria tua itu sangat merindukan putranya.
“Aku kerepotan karena Ayah,” sahut Edgar. Apa? Tuan Frans berhenti memeluknya.
“Benar, Yah. Aku kerepotan karena Ayah tidak mengizinkan Mike berbelanja kebutuhanku sehari-hari. Apa Ayah tahu? Aku tidur di lantai tanpa kasur. Aku kepanasan karena tidak ada AC di kamar sewaan itu,” cerocos Edgar mengadu pada Tuan Frans.
Tuan Frans tersenyum mengejeknya. “Itu baru permulaan, Freddy. Kamu harus siap menanggung semua resikonya. Suruh siapa kamu berulah. Justru kamulah yang sangat merepotkan Ayah saat ini,” balas Tuan Frans.
Edgar agak kesal mendengar jawaban dari ayahnya. Lantas, apa yang ingin Tuan Frans bicarakan dengan Edgar mengenai kasusnya? Apa Tuan Frans sudah menyelesaikan masalah hukum yang menjerat putranya itu?
“Itu tidak mudah. Ayah tetap harus menyembunyikanmu sementara waktu. Sebelum masa persidanganmu selesai. Keluarga korban mungkin saja akan menuntutmu. Sebaiknya kamu diam saja menjadi rakyat biasa dan berhentilah berulah. Semua orang sedang membicarakanmu di kantor. Terutama para pemegang saham. Mengerti?” Tuan Frans menasihati.
“Jadi, sampai kapan aku harus bersembunyi?” Baru beberapa hari saja sepertinya Edgar sudah tidak tahan. Dia merindukan kebebasannya.
“Sampai semua masalah hukummu selesai. Bersabarlah! Ayah tidak mau kamu tersandung masalah yang sama. Jadi, mulai sekarang Ayah tidak akan mengizinkanmu memakai kendaraan lagi atau berbelanja berlebihan. Polisi masih mengawasi Ayah.”
“Tapi, Yah…” Edgar protes lagi. Namun, Tuan Frans buru-buru memotong pembicaraannya.
“Berhenti mengeluh dan lakukan kegiatan seperti orang normal lainnya. Mike akan mencari pekerjaan serabutan untukmu. Kamu harus mau melakukannya. Jangan sampai orang lain curiga dan tahu identitasmu yang sebenarnya. Mengerti?” tegas Tuan Frans. Edgar mengangguk.
“Iya Ayah. Aku paham.” Edgar menuruti perintah ayahnya.
Tunggu! Pekerjaan serabutan maksudnya apa? Edgar menoleh pada Mike. Sekretarisnya itu hanya tersenyum kuda pada bosnya itu. Nyengir penuh arti. Apa yang sedang direncanakan Tuan Frans pada Edgar?
Tidak lama kemudian, pertemuan rahasia pun berakhir. Mike akan mengantar Edgar kembali ke tempat persembunyiannya. Sepanjang perjalanan pulang, Edgar tampak berpikir. Dia masih penasaran dengan pekerjaan serabutan yang dimaksud ayahnya itu. Kira-kira pekerjaan apa yang akan dikerjakan Edgar nantinya?
“Bos, apa Anda masih belum mengerti maksud pekerjaan serabutan itu?” tanya Mike.
“Terserahlah. Apa pun pekerjaannya aku akan terima. Asalkan aku cepat mendapat uang. Hidupku hampa tanpa uang,” sahut Edgar ogah-ogahan.
“Anda yakin mau menerima semua pekerjaan serabutan itu, Bos? Misalkan jadi tukang kuli bangunan,” Mike memberitahu.
“Apa?” Edgar membelalak kaget. Kuli bangunan? Itu kan pekerjaan kasar yang sangat berat.
“Anda tidak mau Bos?” Mike memastikannya lagi.
Dengan tegas Edgar menolak tawaran Mike. Memangnya tidak ada pekerjaan lain yang lebih mudah dan menghasilkan uang banyak? Edgar menyuruh Mike mencarikan pekerjaan lain. Sementara, jika tidak ada pekerjaan yang cocok dengannya dia masih bisa jadi pengasuh si kembar di rumah Siera. Meski sebenarnya dia jengkel dengan ulah si kembar kepadanya.
“Mike, pokoknya aku tidak mau tahu. Besok malam kamu antarkan semua barang-barang yang kubutuhkan itu. Minimal tempat tidur dan AC dulu,” perintah Edgar sebelum keluar dari mobil.
“Lantas, bayarannya gimana Bos?” Mike khawatir. Edgar berdecak.
“Aku akan membayarmu nanti. Bulan depan pas gajian pertamaku dari Siera,” Edgar memberitahu. Oh, begitu rupanya. Aman kalau begitu.
“Saya akan mengusahakannya Bos. Tapi, jangan protes kalau kemampuan saya diluar dugaan Bos.”
“Iya. Jangan beritahu ayahku soal ini. Aku tidak mau bermasalah lagi dengan ayah,” Edgar mengingatkan Mike. Mereka berdua akhirnya sepakat.
Edgar turun dari mobil Mike sesampainya di depan rumah Siera. Setelah melihat mobil perusahaan yang dikendarai Mike pergi, Edgar pun segera masuk ke dalam rumah.
“Edgar…” Terdengar sebuah suara memanggil Namanya. Agak seram kedengarannya.
“Astaga! Ngagetin aja,” Edgar terkejut melihat Siera berdiri di depan rumah dekat pohon sambil mengenakan pakaian tidur serba putih. Kan mirip hantu yang berkeliaran di tengah malam.
“Kamu ngapain berdiri di situ?” Edgar mengelus d**a. Jantungnya hampir copot melihat Siera seperti itu.
“Apa aku mengagetkanmu Edgar?” tanya Siera merasa tak bersalah.
“Iya, kamu mengejutkanku. Kenapa malam-malam begini kamu belum tidur?” sahut Edgar dengan napas terengah-engah.
“Aku… hanya sedang mencari udara segar di luar. Kebetulan aku melihatmu,” Siera beralasan.
Oh, begitu rupanya. Edgar mengerti. Tetapi, kenapa Siera berpakaian setipis itu di malam hari? Apa dia tidak takut masuk angin? Di luar kan udaranya sangat dingin.
“Edgar!” seru Siera. “Aku minta maaf atas kejadian tadi. Aku sudah memarahimu di depan anak-anak,” sesalnya.
Edgar menggeleng, “Tidak apa-apa.” Fokus Edgar teralihkan saat dia melihat Siera malam itu berpakaian agak seksi.
“Aku… mau masuk dulu. Selamat malam, Siera,” ucap Edgar sambil berlalu. Dia agak menundukkan pandangannya melihat Siera berpakaian tipis seperti itu. Apa dia tidak menyadarinya?
Edgar menghentikan langkahnya. Kemudian, dia berbalik pada Siera yang masih menatapnya. “Cepat masuk ke rumah! Pakaian tidurmu terlihat transparan,” Edgar memberitahunya.
“Apa?” Siera spontan menutup dadanya dengan kedua tangan. Dia baru menyadarinya. Malu sekali kalau begitu.
Sementara, Edgar tersenyum memerhatikan wajah wanita itu agak kikuk setelah dia memberitahunya. Edgar masuk ke kamarnya, menguncinya rapat-rapat. Sebuah senyum genit dan agak nakal tersungging di bibirnya.
“Dia seksi sekali,” ujar Edgar.
***