Hari Pertama Bekerja

1329 Kata
Waduh, gimana nih? Si kembar malah menangis. Edgar sibuk mendiamkan mereka agar tidak menangis lagi. Meski tidak tahu caranya. Boro-boro nenangin anak kecil, adik tirinya saja yang bernama Adam, dulu waktu masih SD menangis, dia langsung meninggalkannya di sekolah begitu saja. Saking tidak pedulinya Edgar pada urusan orang lain.  Kali ini Edgar harus mendiamkan Audrey dan Austin. Karena itu sudah menjadi kewajibannya. Ini pengecualian karena tuntutan pekerjaan. Merepotkan sekali dua bocah itu, gerutu Edgar. “Sudah-sudah. Kalian jangan menangis lagi. Maafkan Paman ya. Paman nggak sengaja membentak kalian tadi,” sesal Edgar. “Kalian pasti ketakutan tadi. Udah ya, jangan nangis lagi.” Edgar masih berusaha mendiamkan mereka. Audrey dan Austin malah semakin mengencangkan tangisannya. Ya ampun! Apa yang harus Edgar lakukan? Tunggu sebentar. Edgar browsing dulu. Cara mendiamkan anak kecil yang sedang menangis. Tenang, jangan ikut-ikutan panik. Edgar harus terlihat lebih tenang agar anak-anak tidak semakin ketakutan saat berada di dekatnya.  Edgar sudah berhasil membuka sebuah artikel di internet. Dia membacanya sekilas. Biasanya anak kecil menangis tanpa sebab itu karena perut mereka sedang lapar. Benarkah? Baru tahu kalau anak kecil menangis karena lapar. Edgar mengernyit di sela-sela tangis si kembar. Dia menatap satu per satu kedua anak itu. “Kita sarapan dulu yuk!” ajak Edgar. “Kalau kalian berhenti menangis nanti Paman akan belikan permen. Mau nggak?” tawarnya. “Paman janji?” Audrey langsung menunjukkan kelingkingnya. Edgar mencantelkan kelingkingnya tanda sebuah kesepakatan telah terjalin. Apa seperti ini janji seorang anak kecil? Edgar takjub. Unik sekali. “Iya, Paman janji.”  “Paman juga harus janji sama aku,” Austin ikut-ikutan.  Audrey dan Austin mendadak berhenti menangis setelah diiming-imingi permen. Tuh, kan! Edgar pandai bernegosiasi walau dengan anak kecil. Kedua anak itu kembali ceria dan bergegas menuju ruang makan. Menyantap sarapan pagi yang sudah dihidangkan Edgar di meja makan. Sialan! Mereka ngerjain Edgar tuh.  Dengan lahap si kembar pun menghabiskan makanannya. Nyaris tanpa sisa. Edgar melihat ke arah mereka satu per satu. Mereka lucu juga kalau sedang makan, pikirnya. Usai sarapan pagi, kedua anak itu bergegas memasuki kamar mandi. Mandi dan gosok gigi. Sebentar lagi sudah masuk jam sekolah. Edgar menyiapkan seragamnya terlebih dahulu. Agak bingung juga karena seragam hariannya banyak amat. Edgar coba menghubungi Siera. Sayang sekali, tidak ada jawaban dari seberang sana.  Mungkin Siera sedang sibuk bekerja, pikirnya. Edgar melihat-lihat kembali seragam si kembar. Siapa tahu ada petunjuk. Oh, rupanya sudah ada jadwal masing-masing di gantungan bajunya. Benar, kan? Sudah Edgar duga.  Setelah menyiapkan seragam, Edgar mengecek si kembar ke kamar mandi. Bukannya mandi, Audrey dan Austin malah sibuk bermain air. Semprot-semprotan pakai shower. Ya ampun! Edgar segera memisahkan mereka.  Satu per satu diurusnya. Mulai dengan memandikan Audrey, setelah itu Austin. Buset dah! Repot banget ngurusin dua krucil itu. Edgar kewalahan sekali. Padahal ini hari pertamanya bekerja sebagai pengasuh si kembar. Sabar. Orang sabar pasti kesal. Itu yang tengah dipikirkan Edgar saat ini.  Satu jam kemudian, Edgar sudah menyiapkan semua kebutuhan si kembar. Tinggal mengantarnya ke sekolah. Ketika hendak keluar rumah, semua orang, tetangganya menatapnya keheranan.  Ada yang syok, ada yang say hai, ada yang mesam-mesem penuh arti, dan ada pula yang mencibir. Banyak sekali macam karakteristik tetangganya Siera. Yang kepo apalagi. Buanyaakkk.  Edgar menghampiri para tetangga. Rata-rata semuanya ibu-ibu komplek. Mereka berbaris rapi menunggu jemputan bus sekolah. Ibu-ibu yang kepo mulai mendekati Edgar.  “Maaf, Anda siapanya si kembar ya?” tanya seorang ibu berwajah bulat dan badannya agak gemuk. Sambil tersenyum genit ibu itu menyenggol lengan Edgar.  “Saya Pamannya,” ujar Edgar. Dia agak risih didekati sama emak-emak berdaster itu. Ibu itu menoleh ke arah si kembar untuk memastikan keakuratannya. Apa benar yang diucapkan pria itu. Bahwa dirinya paman si kembar? Jangan-jangan penjahat atau p*****l yang sedang menyamar untuk mengelabui anak-anaknya Siera. Tuh, lihat saja! Ibu-ibu menatap Edgar penuh selidik. Beruntung, si kembar mengangguk dan sangat meyakinkan mereka. Oh, jadi begitu rupanya. Edgar itu pamannya si kembar. Mereka tak lagi mencurigai keberadaan Edgar yang misterius dan menarik perhatian ibu-ibu komplek.  “Paman kalian tampan sekali. Kalau boleh tahu siapa namanya?” tanya ibu-ibu yang agak kurusan dan sok cari perhatian. Colek-colek centil segala. Edgar makin risih jadinya. Tidak nyaman berada di tengah-tengah mereka.  “Edgar. Nama saya Edgar, Bu,” kata Edgar memperkenalkan diri.  Ibu-ibu komplek langsung menyerobot dan berebut untuk berkenalan dengan Edgar. Ya ampun! Apa-apaan ini? Norak sekali. Satu per satu mereka menyalami Edgar. Mereka terlihat antusias sekali saat berkenalan dengan pria tampan memesona macam Edgar.  “Kamu punya aura ketampanan sekelas Tom Cruise dan seimut Leonardo Dicaprio,” puji si ibu gendut. Dia menggoda Edgar. “Lihat badannya, otot-ototnya. Kekar banget. Wajahnya cool banget,” si ibu kurus terpana memandangi Edgar.  Meski agak risih dengan sikap yang ditunjukkan ibu-ibu komplek, Edgar tetap berusaha menampilkan senyum ramah. Dia harus bersikap baik agar tidak dikucilkan di lingkungan masyarakat sekitar.  Tidak lama kemudian, bus sekolah pun tiba. Edgar mengantar Audrey dan Austin sampai bus. Dia memastikan terlebih dahulu jika si kembar bisa duduk dengan nyaman. Setelah itu, dia keluar dari bus sambil melambaikan tangan pada Audrey dan Austin.  Sikap Edgar yang pengertian dan peduli pada anak-anak membuat ibu-ibu komplek kelepek-kelepek. Sudah tampan, baik hati, pengertian, sayang pula pada anak-anak. Beruntung sekali yang menjadi istrinya. Bisik-bisik para tetangga itu sampai kedengaran di telinga Edgar. “Saya belum menikah, kok,” celetuk Edgar sambil berlalu pergi. Dia kembali ke rumah, menutup pintu pagarnya. Agar ibu-ibu itu tidak terlalu kepo dengan urusannya.  Ibu-ibu komplek menjerit histeris setelah diberitahu jika Edgar belum menikah. Lah, lantas kenapa? Mereka itu ibu-ibu yang sudah bersuami. Kenapa mereka begitu genit dan mengharapkan perhatian dari Edgar? Ada-ada saja tingkah laku para tetangga. Edgar masuk ke dalam rumah. Dia melongo memerhatikan keadaan dan seisi rumah Siera yang acak-acakan karena ulah si kembar. Bagaimana cara merapikannya jika kapal sudah pecah begini? Pikirnya sambil geleng-geleng kepala dan pasrah. ***  Telepon Edgar berdering. Panggilan masuk dari Tuan Frans. Tumben ayahnya menelepon, ada apa? Tanyanya dalam hati sebelum menerima panggilannya.  “Iya Ayah,” sapa Edgar. “Temui Ayah malam ini. Ada yang harus kita bicarakan mengenai kasusmu. Kita bertemu di kantor cabang,” kata Tuan Frans menjanjikan. Edgar segera mengerti. “Baik Ayah. Aku mengerti.” Edgar segera menutup teleponnya ketika Siera pulang bekerja di sore hari. Siera melihat Edgar sedang berbicara di telepon barusan. Namun, dia tidak ingin menanyakannya. Itu pasti masalah pribadi Edgar, pikir Siera. “Bagaimana anak-anak hari ini? Apa kamu kesulitan saat menjaga mereka?” tanya Siera to the point.  “Lumayan. Anak-anakmu sangat merepotkan,” sahut Edgar menahan kesal. Namun, dia berbicara dengan nada bercanda.  “Apa? Mereka pasti membuatmu pusing, ya?” tebak Siera. Dia merasa bersalah dan prihatin pada Edgar. Jika tidak suka dengan anak-anak sebaiknya Edgar menyerah saja.  “Hmm,” gumamnya. Edgar sedang memikirkan hal lain selain si kembar. Dia penasaran sekali dengan apa yang akan dibicarakan Tuan Frans kepadanya.  “Di mana mereka? Apa mereka sudah tidur?”  “Tidak. Mereka sedang menonton film kartun di dalam,” Edgar memberitahu. “Oh, begitu ya.”  Sukurlah, Audrey dan Austin akur-akur saja dengan Edgar. Tadinya Siera khawatir, takut terjadi sesuatu pada Edgar. Justru yang dia cemaskan saat ini bukanlah si kembar, melainkan Edgar. Karena Siera tahu, sebagai ibunya si kembar sudah bisa dipastikan bahwa kedua anaknya yang hiperaktif itu pasti akan merepotkan Edgar di rumah.  Jangankan Edgar, Siera saja sampai kewalahan mengurus si kembar sendirian. Dulu sewaktu masih ada suaminya, mereka sering berbagi tugas. Tetapi sekarang, Siera benar-benar sendirian. Untung saja ada Edgar yang mau membantu meringankan pekerjaannya. Siera begitu memercayai Edgar. Meski mereka belum lama saling mengenal. Siera segera menemui kedua anaknya di ruang tengah. Dia terkejut melihat Audrey dan Austin tengah menikmati permen gulali besar malam-malam begini.  “Audrey… Austin! Apa yang kalian makan? Cepat sikat gigi kalian sekarang juga!” perintah Siera. Dia nyaris mengamuk menemukan permen di tangan putra-putrinya.  Memangnya kenapa dengan permen? Edgar tidak mengerti kenapa Siera semarah itu pada si kembar hanya karena permen?  “Apa kamu yang memberi mereka permen?” tanya Siera galak sambil memelototi Edgar. ***                  
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN