“Kenapa kamu membentakku, Mike? Aku kan bertanya baik-baik,” Edgar sewot. Tak kalah heboh dengan Mike, sekretarisnya.
“Maaf, Bos! Aku keceplosan,” sesal Mike. Dia menyadari sedang berhadap-hadapan dengan siapa. Freddy (Edgar), pemimpin tertinggi di perusahaannya.
“Pokoknya, aku tidak mau tahu. Besok malam kamu harus sudah melengkapi semua kebutuhanku di kamar kontrakan itu. Aku butuh kenyamanan dan ketenangan dalam pelarianku. Mengerti?” tegas Edgar ketika sedang memperingatkan Mike.
Mike mengangguk sambil tertunduk lesu. Dia tidak berani melawan lagi pada atasannya. Semua permintaannya akan dia penuhi. Namun, sebelumnya dia harus melaporkan terlebih dahulu kepada Tuan Frans. Karena beliaulah yang akan memberi keputusannya.
Oh, iya. Mike lupa. Dia segera memberikan kartu identitas baru untuk Edgar. Semua penyamarannya sudah disamarkan oleh sang sekretaris. Edgar tinggal siap pakai saja. Baik itu kartu tanda pengenal, SIM, paspor, dan dokumen-dokumen lain atas nama Edgar.
Usai menemui Edgar, Mike pun segera pergi. Dia melihat-lihat dulu keadaan sekitarnya. Setelah dirasa aman, dia segera tancap gas meninggalkan kediaman sementara Edgar.
***
Pagi harinya, Siera sudah sibuk mondar-mandir tidak jelas di depan rumahnya. Bagaimana ini? Di hari pertamanya bekerja di perusahaan, dia malah kebingungan harus menitipkan si kembar. Edgar bangun pagi-pagi sekali. Tak sengaja dia melihat Siera begitu cemas di halaman depan rumahnya.
“Bukankah kamu harus pergi bekerja hari ini?” tanya Edgar ketika menghampirinya. Siera menoleh, menatapnya agak sedih. Dia tampak kebingungan.
“Entahlah. Padahal ini kesempatan bagus untukku bisa bekerja di perusahaan besar itu,” sahut Siera. Namun, raut wajahnya terlihat putus asa.
Siera bercerita pada Edgar. Setelah suaminya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas yang menimpanya tempo hari, Siera harus menjadi orang tua tunggal. Selain menjadi ibu, dia juga harus menjadi tulang punggung keluarganya. Membesarkan kedua anak kembarnya sendirian. Mendengar Siera bercerita, hal itu membuat Edgar merasa iba.
Siera harus menjalankan dua peran sekaligus. Menjadi ibu dan ayah bagi si kembar Audrey dan Austin. Di saat Siera harus bekerja dia kesulitan menjaga dan mengasuh buah hatinya itu. Menitipkan pada tetangga secara terus menerus bukanlah solusi yang tepat mengatasi permasalahan yang tengah dihadapinya saat ini. Siera malah menganggap menitipkan si kembar akan mengganggu tetangganya itu.
“Apa yang harus kulakukan sekarang?” Siera meminta pendapat pada Edgar. Dia berharap Edgar punya solusi lain dan membantunya keluar dari permasalahannya itu.
“Kenapa tidak mempekerjakan baby sitter saja? Atau menitipkannya di daycare. Bukankah sekarang sudah banyak jasa menitipkan anak yang lebih praktis? Kamu juga bisa lebih leluasa bekerja di luar tanpa harus mencemaskan anak kembarmu itu,” Edgar menyarankan.
Siera tersenyum. Bukannya tidak mau mengikuti saran Edgar. Tetapi, dia tahu diri kok. Ada banyak sekali beban kehidupannya yang memerlukan uang tak sedikit. Jika seandainya Siera menitipkan si kembar di tempat penitipan anak, harus berapa banyak uang yang dikeluarkannya? Itu yang jadi bahan pertimbangannya.
Sementara, uang asuransi peninggalan suaminya saja hanya cukup untuk memenuhi kebutuhannya sehari-hari selama satu bulan. Jika Siera mulai bekerja sekarang, dia baru bisa mendapatkan gaji di bulan depannya. Edgar paham kesulitan yang tengah dihadapi Siera saat ini. Dia jadi tidak tega melihatnya kebingungan seperti itu.
Beberapa menit kemudian, Edgar mulai memikirkan nasib Siera dan anak kembarnya itu. Tumben, dia mau repot-repot mengurus masalah orang lain. Biasanya kan dia tidak pernah peduli dan bodo amat dengan hidup orang lain. Kali ini, berbeda. Dia merasa kasihan pada Siera dan kedua anaknya. Dia mulai menyadarinya setelah merasakan hidup susah.
“Baiklah. Aku akan membantumu. Selama aku belum mendapatkan pekerjaan, aku akan menjaga anak-anakmu. Hanya untuk sementara,” kata Edgar menawarkan diri. Siera menoleh.
“Benarkah? Kamu bersedia menjaga si kembar?” Siera terlihat antusias sekali mendengarnya.
“Tapi, itu semua tidak gratis. Aku harus mendapatkan bayaran atas kerja kerasku mengurus anak-anakmu,” tawar Edgar.
“Tentu saja aku akan membayarmu. Tenang saja. Aku bisa mengaturnya soal itu.” Siera senang sekali. Dia setuju dengan penawaran Edgar. Akhirnya satu masalah terpecahkan.
Kalau begitu Siera akan siap-siap dahulu pergi bekerja. Tidak lupa dia juga memberitahu semua hal yang berkaitan dengan si kembar. Jam makan, jam tidur, jam bermain, dan jam sekolah. Semua itu sudah Siera buatkan jadwalnya. Jadi, Edgar tinggal mengikuti arahan yang sudah dirangkum Siera beberapa hari ini.
“Apa aku juga yang harus mengantar si kembar ke sekolah TK-nya?” Edgar mengerutkan keningnya hingga berlipat-lipat.
Apa jadinya seorang CEO perusahaan ternama macam Edgar harus mengantar anak-anak ke TK? Dia sendiri sulit untuk membayangkannya. Sesuatu yang belum pernah dia lakukan. Baginya, ini gila. Baru kali ini harkat dan martabatnya sebagai “The Rich Man” jatuh bagai diinjak-injak gajah. Hancur minah.
Edgar tidak bisa mengeluh sekarang. Pekerjaan itu sudah menjadi tanggung jawabnya. Tuntutan pekerjaan memang begitu berat untuknya. Dia tidak pernah menyangka saat-saat seperti ini yang menjadi titik terendahnya dalam menjalani hidup. Mau tidak mau, Edgar harus melakukan pekerjaannya dengan baik agar bisa mendapatkan gaji bulanan dari Siera. Untuk sekadar bertahan hidup. Sampai nama baiknya pulih dan terbebas dari hukum.
Setelah Siera pergi dan berpamitan, kini tinggal Edgar sendirian mengurus kedua anak kembarnya Audrey dan Austin. Apa dulu nih yang harus dia lakukan? Perkenalan dulukah? Atau langsung saja mengenalkan diri bahwa dia kini yang akan bertugas mengurus, menjaga, dan merawat si kembar menggantikan ibunya. Ya, begitu saja. Edgar tidak suka bertele-tele meski pun sedang ada di hadapan anak kecil.
“Halo, kalian berdua sudah tahu kan namaku?” tanya Edgar agak kaku. Pertanyaan macam apa itu hingga Audrey dan Austin saling beradu pandang satu sama lain.
“Kenapa kalian diam saja? Apa Ibu kalian tidak memberitahukan siapa namaku?” tanya Edgar sekali lagi. Kedua anak kembar lucu dan menggemaskan itu menggeleng.
Baiklah. Sesi perkenalan pun dimulai. Edgar memperkenalkan diri. Mulai dari nama sampai tugasnya menjadi pengasuh si kembar.
“Paman Edgar,” panggil Audrey. Iya, ada apa? Edgar langsung menanggapinya. “Bisa buatkan kami sarapan pagi? Tadi, Ibu tidak sempat membuatkannya,” pintanya.
“Sarapan pagi? Ah, iya. Tentu. Tunggu sebentar.” Edgar bergegas membuka kulkas. Dia menemukan s**u dan makanan sereal. Itu saja dulu sarapan pagi ini, pikirnya.
Edgar akan segera menghidangkannya di meja makan. Selagi Edgar menyiapkan sarapan, si kembar malah membuat ulah. Rumah yang semula rapi dan bersih setelah dibereskan oleh ibunya, mendadak berubah jadi kapal Titanic pecah. Amburadul. Austin mengeluarkan semua isi mainannya dalam kotak kontainer ke lantai. Berantakan sekali.
Tidak hanya Austin, Audrey pun melakukan hal yang sama. Dia menaruh semua boneka-bonekanya di ruang tengah. Hasilnya, ruang tengah di rumah itu kini seperti ‘pasar kaget’. Semrawut dan bikin Edgar darah tinggi.
“Apa yang kalian lakukan, hah?” Edgar hendak menertibkan kedua bocah nakal itu. Namun, tak satu pun dari mereka yang mendengar perkataannya.
Austin naik ke sofa, loncat-loncat kegirangan sambil memainkan pedang-pedangan ala pendekar. Sementara, Audrey lari-larian sambil menyeret boneka Teddy Bearnya dari ruang tengah ke ruang tamu. Sumpah, ini sangat memuakkan bagi Edgar.
Edgar tidak menyangka masalah mengurus si kembar bisa serumit ini. Dia pikir si kembar adalah sepasang anak manis penurut dan bisa diajak kompromi agar tidak menimbulkan masalah. Nyatanya, ekspektasi Edgar di luar dugaan dan jauh dari realita. Sepasang anak kembar itu berulah semakin menjadi-jadi setelah Edgar menasihatinya.
“DIAM KALIAN SEMUA!” teriak Edgar dengan nada suara meninggi. Audrey dan Austin berhenti sejenak. Mereka ketakutan mendengar teriakan Edgar yang melengking-lengking itu.
“Kenapa kalian tidak mau mendengarku? Apa-apaan semua ini? Kalian mau bikin aku jantungan dengan ulah kalian ini, hah?” Edgar emosi.
Audrey dan Austin tiba-tiba saja menangis kencang dan sesenggukkan. Mereka ketakutan melihat reaksi Edgar saat sedang menegurnya.
HUUUWAAAAAA!
“Tunggu! Kenapa kalian menangis?” Edgar bingung. Bagaimana cara mendiamkan anak kecil yang sedang menangis?
***