Melarikan Diri

1382 Kata
Edgar tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Ketika ada seorang wanita cantik tiba-tiba memeluknya sambil meneteskan air mata. Dia tidak berani menyingkirkan tubuh wanita itu darinya. Biarkan saja. Ini tidak akan berlangsung lama, kok. Wanita itu sedang bersedih setelah pemakaman suaminya. Wajar saja dia meluapkan semua kesedihannya pada Edgar. Selang beberapa menit kemudian, wanita itu tersadar. Dia lupa sedang bersandar pada seorang pria yang baru saja dikenalnya. “Maafkan aku,” ucap wanita itu dengan nada menyesal. Dia segera menyeka air matanya dan mencoba tersenyum di depan Edgar, orang yang akan mengontrak di sebelah rumahnya. “Tidak apa-apa,” sahut Edgar. Dia memandangi wajah wanita itu lekat-lekat. Ada kesedihan mendalam yang tengah dirasakan wanita malang itu. Oh, iya. Mereka belum berkenalan. “Namaku Siera, pemilik rumah ini.” Siera mengulurkan tangannya pada Edgar. Edgar segera menjabat uluran tangannya sambil menyebutkan namanya, “Edgar.” Siera bercerita banyak hal tentang rumahnya itu. Sekaligus menemani Edgar melihat-lihat kamar yang akan disewanya. Lumayan, kata Edgar. Untuk dirinya ditinggal, kamar kecil itu tidak terlalu buruk. Hanya butuh sentuhan dekorasi sedikit dan mengecat ulang dindingnya, pikirnya. “Kapan Anda akan segera menempati kamar ini?” tanya Siera saat berbicara formal di depan Edgar. “Kalau bisa, uang sewanya dibayar dimuka.” “Aku butuh kamar ini segera. Aku juga akan membayarnya untuk dua bulan ke depan,” sahut Edgar. Dia segera mengeluarkan dompet dan memberikan sejumlah uang pada Siera. Segera saja Siera mengambil uang tersebut dan mempersilakan Edgar untuk beristirahat di kamarnya. “Aku permisi dulu. Mau jemput anak-anak di rumah sebelah, tetanggaku.” Siera buru-buru pergi meninggalkan Edgar sendirian di kamar itu. Edgar melihat-lihat sekitarnya. Dia tidak punya tempat tidur, tv, AC, lemari, dan lain sebagainya. Lalu, dia menghubungi Mike dan hendak menyuruh sekretarisnya itu untuk segera berbelanja menyiapkan kebutuhannya selama pindahan. “Aish! Kenapa Mike tidak menjawab panggilanku?” Edgar putus asa. Hari sudah malam, lantas gimana Edgar bisa tidur tanpa ranjang dan kasur yang empuk? Masa iya, dia harus tidur di lantai tanpa alas? Bisa remuk nanti badan Edgar setelah bangun tidur. “Ke mana si Mike itu? Kenapa dia tidak balas meneleponku?” Edgar agak kesal. Dia keluar dari kamarnya. Tanpa sengaja ia melihat Siera dan kedua anak kembarnya. “Ibu, siapa Paman itu?” tanya salah satunya, yang laki-laki. “Oh, Paman itu yang akan mengontrak di sebelah rumah kita,” Siera memberitahu putra-putrinya. “Halo!” sapa Edgar agak kaku. Dia tidak terbiasa menyapa anak-anak. Raut wajah kedua anak Siera berubah masam. Rupanya mereka tidak senang ada orang asing tinggal di dekat rumahnya. “Bu, aku tidak menyukainya,” bisik si kembar perempuan. Matanya melirik dan terlihat sinis ke arah Edgar. “Audrey dan Austin nggak boleh gitu sama Paman itu. Dia itu tamu kita di sini. Kalian harus menjaga sikap di depan orang yang lebih tua dari kalian. Mengerti?” Siera menasihati si kembar. “Ah, tidak apa-apa. Itu karena kami belum saling mengenal,” kata Edgar menghibur diri. Dia jadi merasa tidak enak karena mendapat perlakuan tidak menyenangkan dari Audrey dan Austin. Siera pamit dahulu. Dia harus segera membawa kedua putra-putrinya masuk ke rumah. Hari sudah malam, sudah saatnya mereka makan malam. Edgar mengerti dan ia mempersilakannya masuk ke rumah. Sementara, Edgar masih berdiam diri di luar menanti telepon dari Mike yang tak kunjung menghubunginya. *** DRRRTTTT! Ponsel Edgar bergetar. Dia melihat nomor tak dikenal memanggil-manggil di layar ponselnya. Segera saja Edgar menjawab teleponnya. “KAKAK!” teriak suara dari seberang sana. Suara seorang pria yang memanggil Edgar dengan sebutan ‘kakak’ berhasil memekakakkan telinganya. “Adam?!” Edgar mengernyit. Dia tahu betul suara siapa yang tengah menghubunginya saat ini. “Ada apa?” Edgar penasaran sekali dari mana bocah tengik itu bisa mengetahui nomor barunya? Selain Tuan Frans dan Mike, nomor teleponnya tidak dibagikan secara bebas kepada orang lain. Termasuk pada Adam, adik tirinya. “Jadi, Kakak melarikan diri lagi?” sindir Adam. Dia iseng sekali ngerjain kakaknya. “Sialan! Jika kamu menelepon hanya untuk mengejekku, aku akan menutup teleponnya,” ancam Edgar. “Tidak-tidak! Tunggu sebentar, Kak. Aku tidak akan lama. Aku hanya mengingatkan… cepat bertobat, Kak! Dengan begitu Tuhan akan mengampuni semua dosa-dosamu.” “k*****t!” Edgar mendengus kesal sambil menutup teleponnya sangat kasar. Kurang ajar sekali bocah ingusan itu berani menceramahi Edgar. “Suatu hari akan kubalas dia.” Edgar geram sekali karena Adam kerap kali mengusiknya. Entah kenapa bocah sinting itu tahu nomor teleponnya. Di sisi lain, Adam tertawa puas sekali karena sudah menjahili kakaknya. Tidak lama, seorang perawat memanggil namanya untuk segera masuk ke ruang operasi. “Dokter Adam!” Adam menoleh dan bergegas membasuh kedua tangannya dengan sabun sebelum memasuki ruang operasi. Malam ini, dia akan mengoperasi seorang pasien yang menderita penyakit kanker otak. *** Edgar masih menunggu Mike menghubunginya. Malam ini dia tidak bisa tidur. Gimana bisa tidur? Di kamarnya banyak nyamuk, kecoak, dan lantai tanpa alas duduk. Karena tidak bisa tidur, Edgar mengambil sebungkus rokok dari dalam ranselnya. Sambil merokok, dia juga membuka buku hariannya. Sebuah buku yang mencatat seluruh kegiatannya selama menjabat sebagai CEO di perusahaannya. Siapa tahu itu bisa jadi catatan sejarah hidupnya yang bisa ia berikan kepada putranya kelak. Edgar mulai menulis sesuatu sambil duduk bersandar di dinding dekat pintu kamarnya. “Kemarin itu, hari paling sial yang pernah kualami. Aku merasa bersalah pada pria itu karena membiarkannya sendirian di jalanan. Apa yang harus kulakukan untuk menebus dosaku?” Tok-tok-tok! Seseorang mengetuk pintu kamar Edgar. Buru-buru Edgar menutup buku hariannya dan segera membukakan pintu kamarnya. Oh, itu Siera. Ibu si kembar datang menemuinya. Ada apa malam-malam begini Siera datang ke kamar Edgar? Apa dia butuh pelukan lagi? Pikirnya. “Aku bawakan bantal, selimut dan tikar. Barang kali kamu membutuhkannya malam ini,” Siera menyerahkan perlengkapan tidur untuk Edgar. Edgar segera mengambilnya. Memang itu yang sangat ia butuhkan sekarang. “Makasih, ya.” Edgar menyimpannya di kamar. Kemudian dia kembali berdiri mematung melihat Siera yang belum beranjak meninggalkan kamarnya. “Maafkan atas perlakuan anak-anakku tadi, ya. Tapi, mereka baik kok setelah kalian saling mengenal suatu hari nanti.” “Ah, iya.” Edgar agak canggung menghadapi Siera. “Kalau boleh tahu, apa pekerjaanmu?” tanya Siera ingin tahu. “Aku… tidak bekerja. Maksudku… aku belum mendapat pekerjaan,” sahut Edgar blak-blakan. Kebetulan sekali. Siera mau menawarkan pekerjaan untuk Edgar. Dia bilang, besok butuh seorang pengasuh untuk anak kembarnya. Karena Siera sudah mendapat pekerjaan dan mulai besok dia sudah bekerja di perusahaan. “Maaf, aku tidak bisa,” tolak Edgar. Raut wajah Siera langsung berubah. Begitu ya? Siera mengira Edgar bisa menerima pekerjaan itu. Mungkin Edgar akan mencari pekerjaan lain, Siera bisa memakluminya. Dia berbaik sangka dahulu dengan penolakan Edgar. Memang tidak mudah mendapatkan seorang pengasuh untuk menemani kedua anaknya di rumah dan mengantarnya ke sekolah. “Kalau gitu, selamat malam. Semoga harimu menyenangkan,” ucap Siera sebelum meninggalkan kamar Edgar. Wanita itu tertunduk lesu. Edgar hanya menganggukkan kepala. Dia menutup pintu kamarnya sambil menggerutu. Jadi pengasuh anak kembarnya? Yang benar saja, cibir Edgar. Dia tidak mau dekat-dekat dengan makhluk asing seperti mereka. Baginya, sangat merepotkan mengasuh dan berinteraksi dengan bocah macam Audrey dan Austin. Beberapa jam kemudian, jelang tengah malam, Mike menghubungi Edgar. Mereka bertemu di depan rumah Siera. Katanya, Mike tidak bisa leluasa menemui Edgar karena polisi masih mengawasi gerak-geriknya. Itu pun harus sembunyi-sembunyi di malam hari baru bisa menemui Edgar. Itu tidak masalah. Sekarang, Edgar menyuruh Mike membawakan semua keperluannya dan dia juga meminta ini itu pada Mike. Dia minta dicarikan pekerjaan yang penghasilannya tinggi. Tidak hanya itu, Edgar juga minta dibelikan mobil untuk keperluannya sehari-hari. “Anda keterlaluan, Bos!” Mike habis kesabaran. Dia agak kesal karena Edgar meminta ini itu yang cukup menguras dompetnya. “Apa maksudmu?” Edgar mengerjap-ngerjapkan matanya melihat reaksi Mike yang dirasa berlebihan. “Bos, apa Anda berniat membuat saya bangkrut?” Mike naik pitam. Dia merasa harus membungkam mulut bosnya yang super menyebalkan itu. “Kamu kenapa Mike?” Edgar bertingkah polos. Padahal sekertarisnya itu sudah stress mencapai level tertinggi. Tidak hanya harus mengurus perusahaan, Mike juga harus mengurus bosnya yang reseh itu. “BOS! SAYA TIDAK PUNYA UANG SEBANYAK ITU UNTUK MEMENUHI SEMUA KEBUTUHAN ANDA. ANDA MINTA MOBIL? SAYA SAJA KADANG NAIK BUS PERGI KE KANTOR.” Emosi Mike membludak, tak tertahankan. Tanpa sadar dia sudah berani membentak Edgar, bosnya. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN