Tersangka Kasus Tabrak Lari

1289 Kata
Sudut bibir Freddy berdarah akibat pukulan keras dari Tuan Frans, sang ayah. Pria paruh baya umur enam puluh tahunan itu marah besar saat mengetahui putra sulungnya terlibat kasus tabrak lari. “Ayah,” Freddy hendak menjelaskan pada ayahnya. Namun, Tuan Frans keburu marah dan memukulinya habis-habisan. Freddy terpaksa menerima pukulan demi pukulan itu, membiarkan ayahnya melakukan kekerasan padanya. Itu sudah biasa. Didikan ayahnya memang seperti itu. Dia sama sekali tidak akan melawannya. Dia menyadari bahwa dirinya memang bersalah dan lari dari masalah. Setiap kali Freddy berbuat kesalahan, hukumannya selalu berakhir dengan pukulan. Tetapi, tenang saja, Tuan Frans tidak akan sampai hati menyebabkan putranya itu babak belur dihajar olehnya. “Ayah, sudah cukup! Tolong hentikan, aku mohon!” Freddy memohon ampun. Tuan Frans berharap, semoga pukulan itu akan segera menyadarkan dan membuat Freddy jera atas sikapnya yang selalu berbuat seenaknya. “Anak tidak tahu diri!” pekik Tuan Frans. Napasnya tersenggal-senggal. Dia tidak habis pikir, Freddy bisa melakukan tindak kejahatan seperti itu. “Maafkan aku, Ayah,” sesal Freddy. “Maaf katamu? Setelah kamu menabraknya, lantas kamu kabur begitu saja. Begitu? Ayah tidak pernah mengajarimu lari dari masalah. Sebaliknya, Ayah selalu menyuruhmu bertanggung jawab atas semua perbuatanmu,” kata Tuan Frans menasihatinya. “Aku benar-benar tidak sengaja menabraknya. Bahkan, aku sendiri tidak menyangka pria itu akan berlari ke arah mobilku. Aku yakin ini semua bukan salahku,” Freddy sibuk membela diri. Dia merasa yakin dirinya tidak bersalah. Tuan Frans berkacak pinggang. Dia geram sekali dengan alasan yang dikemukakan oleh putranya. Amarahnya memuncak setelah beberapa polisi datang ke rumah sambil membawa surat penangkapan untuk putranya. “Ayah, aku mohon. Tolong, bantu aku sekali lagi,” Freddy memohon dengan wajah memelas. Dia berusaha membujuk sang ayah yang berkuasa itu untuk segera membantunya agar terhindar dari jeratan hukum. Polisi telah menetapkannya sebagai buronan kota. Tuan Frans harus segera bertindak, membantu Freddy, agar putranya itu terbebas dari masalah hukum. Segala cara akan dilakukan sang ayah demi menyelamatkannya. Kuasa hukumnya pun akan segera bertindak. Baik itu pengacara, jaksa, sampai hakim bisa saja disuap oleh ayahnya. Sampai Freddy benar-benar dinyatakan bebas dari hukuman. Namun, tidak semudah itu bagi Freddy. Dia sangat mengenal sifat ayahnya. Ada balas jasa yang harus ia bayar ketika sang ayah turun tangan membantu mengatasi permasalahannya. “Ayah akan membantumu. Tetapi, Ayah punya syarat yang harus kamu penuhi.” Tuan Frans akan bernegosiasi dahulu dengan Freddy. “Apa itu, Yah?” Freddy penasaran sekali. Dia tak sabaran, menantikan syarat apa yang harus ia penuhi agar ayahnya itu mau meloloskannya dari kejaran polisi. Tuan Frans menjelaskan bahwa Freddy belum bisa kembali ke perusahaan. Ada syarat tertentu yang harus ia penuhi pada sang ayah. Freddy harus menyembunyikan identitas aslinya sebagai seorang CEO juga sebagai tersangka tabrak lari itu. Freddy harus memalsukan identitasnya jika masih ingin berkeliaran bebas di kotanya. Tidak ada pilihan lain, Freddy langsung setuju dengan keputusan sang ayah agar ia bisa bersembunyi untuk sementara waktu. Lagi pula, itu sangat menguntungkan baginya. Dia tidak begitu suka dengan kehidupannya sekarang, menjadi seorang CEO di perusahaannya. “Jika itu syaratnya, aku bersedia Ayah.” Freddy langsung menyetujuinya. Mereka berdua pun telah bersepakat. Freddy harus segera mengganti namanya, semua identitasnya di perusahaan akan disamarkan dengan bantuan sekretarisnya. Semua uang dan seluruh aset kekayaannya segera dibekukan oleh sang ayah untuk menghilangkan jejak. Untuk mengelabui polisi yang masih mengejarnya. “Kamu tidak akan mendapatkan apa-apa sekarang. Jika kamu ingin bertahan hidup, berjuanglah sendiri!” tegas Tuan Frans sambil berlalu. Pria tua itu harus segera pergi untuk menemui beberapa pejabat penting yang akan dimintai tolong. “Mike, apa sekarang aku jatuh miskin?” tanya Freddy pada sekretaris pribadinya. “Benar, Bos. Sekarang, Anda tidak bisa menggunakan fasilitas apa pun baik dari keluarga Anda mau pun perusahaan. Seperti kata Ayah Anda bilang barusan, Anda harus berjuang sendiri saat ini. Anda tidak diperkenankan menggunakan akun bank atas nama Anda,” Mike memberitahu Freddy secara rinci. “Aish! Sialan!” Freddy mendengus kesal. Dia mondar-mandir tidak jelas dan membuat Mike pusing memerhatikannya. “Apa Anda sudah memikirkan nama lain yang akan Anda gunakan, Bos?” tanya Mike ingin tahu. Freddy tampak berpikir. Spontan saja, dia mengatakan sebuah nama yang baru saja terlintas dalam benaknya. “Edgar,” ucapnya mantap. “Aku akan memakai nama itu saja.” “Baik, saya akan selalu mengingat nama baru Anda, Bos.” Freddy mengubah namanya menjadi Edgar. Dia akan memulai hidup baru dengan nama itu. Semoga saja, nama itu membawa keberuntungan baginya. Tetapi, di mana dia akan tinggal? “Anda akan tinggal di sebuah kamar kos, paviliun rumah seorang ibu beranak dua,” Mike memberitahunya. “Apa? Secepat itukah kamu mencarikannya untukku?” Edgar heran. Mike memang sekretaris yang paling bisa ia andalkan saat ini. “Kebetulan tadi di jalan, saya melihatnya Bos. Ada kamar yang dikontrakkan. Nanti kita pergi ke sana sama-sama.” “Lalu, untuk membayarnya gimana? Kamu yang bayar, Mike?” “Tidak, Bos. Dengan berat hati saya mengatakan, Anda harus membayarnya sendiri.” “Apa?” Edgar membelalak. Dengan apa dia akan membayarnya nanti? Ah, Edgar masih bisa meminta uang saku pada ayahnya nanti. *** Edgar dan Mike pergi ke rumah kontrakan yang dimaksud. Tampak kecil dan sangat mirip sebuah gudang tua yang sudah usang. Apa itu kamarnya? Mike mengangguk, mengiyakannya. Edgar meringis melihatnya. Mike harus pergi sekarang. Dia pamit pergi pada Edgar, bosnya. Karena suasana di perusahaan masih belum stabil. Dia berjanji akan menghandle semua pekerjaan Edgar di kantor. “Bos, kalau ada apa-apa beritahu saya saja. Ini saya membelikan Anda ponsel baru. Mohon digunakan dengan bijak,” kata Mike. Sebelum pergi meninggalkan Edgar, Mike memberikan goodiebag yang berisikan ponsel baru. Itu baru saja dibelinya. Edgar tersenyum sinis pada Mike. Dia melihat ponsel yang dibeli Mike terlalu murah. Dia tidak terbiasa memakai ponsel tak bermerek. Minimal sekelas apple. Wah, rupanya Edgar akan memprotesnya pada Mike. “Kamu membelikanku ponsel murahan ini?” cibir Edgar pada Mike. “Maaf, Bos. Saya tidak punya cukup uang membelikan Anda ponsel mahal. Itu pun… saya meminjamkannya untuk Anda. Nanti, setelah Anda mendapatkan pekerjaan dan menghasilkan uang, Anda boleh membayarnya langsung pada saya.” “Apa? Jadi, maksudmu aku membeli ponsel ini darimu dengan cara berutang sama kamu?” Edgar mengerutkan kening. Mike mengangguk mantap, “Benar.” Ada-ada saja Mike ini. Edgar tersenyum melihat-lihat bentuk ponsel murahan itu. Dia bahkan gengsi sekali memakainya. “Maaf, Bos. Apa Anda tidak suka? Jika tidak suka saya akan mengambilnya kembali.” Edgar merasa rugi jika ponsel itu diambil kembali oleh Mike. Jika itu satu-satunya alat komunikasi yang bisa digunakannya saat ini, maka tidak ada alasan bagi Edgar menolak pemberian Mike. Anggap saja Edgar sedang dalam keadaan darurat saat ini. Oh iya, Mike tidak bisa berlama-lama dengan Edgar. Dia harus segera pergi ke kantor. Lantas, dia meninggalkan Edgar sendirian di depan rumah itu. Tampaknya rumah itu kosong. Edgar akan menunggu si pemilik rumah kalau begitu. Dia duduk-duduk di sebuah bangku panjang di halaman depan rumah tersebut. Tidak lama kemudian, si pemilik rumah pun tiba. Raut wajahnya terlihat pucat dan sangat sedih. “Permisi, Anda siapa?” tanya wanita itu. Edgar segera menghampirinya. Lalu menyapanya. “Aku ingin mengontrak kamar di paviliun itu,” tunjuk Edgar pada sebuah gudang yang terletak di samping rumah wanita itu. “Ooh, begitu rupanya.” Wanita itu segera mengerti maksud Edgar. Mereka berdua saling berbincang-bincang mengenai kontrakan yang akan ditinggali oleh Edgar. Wanita itu tidak banyak bicara dan matanya sembab seperti habis menangis. Ketika Edgar menanyakan keadaannya, wanita itu menangis sejadi-jadinya di hadapan Edgar. “Suamiku… aku sangat merindukannya. Kenapa dia tega meninggalkanku sendiri?” kata wanita itu bercerita pada Edgar sambil terisak. Edgar terkejut saat wanita itu tanpa sadar tiba-tiba saja memeluknya. Sangat erat. Membuat Edgar kikuk dan salah tingkah. Apa yang harus Edgar lakukan pada wanita yang menangis di pelukannya? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN