Rania merasa bersyukur karna perlahan tembok kokoh keegoisan Eros mulai terkikis.
Laki laki arogan itu tidak lagi bersikap kasar dan semena mena terhadap dirinya.
contohnya pagi ini,Eros memaksa mengantar Rania bekerja,bukan kah itu suatu hal yang menakjubkan?
ketika sebelumnya pria ganas itu meminta Rania berhenti dan menyiksanya ketika wanita itu memberontak.
"terima kasih,Eros atas tumpangannya"Rania hendak mendorong pintu mobil,namun sesegera mungkin Eros menahannya.
tentulah Rania terkejut karna itu,bagaimana pun dia merasa sedikit aneh ketika Eros melakukan skinship kepada dirinya.
"Maaf" perlahan Eros melepas lengan yang dia cengkeram kencang,membuat kerutan di dahi Rania pun memudar.
Eros yakin,Rania takut kalau Eros akan menyakiti dan berlaku kasar lagi.
"ada apa,Eros?"
"kamu melupakan sesuatu"kata Eros malu malu,membuat Rania mengernyitkan kening tanda tak mengerti
cup.
bibir nya berlabuh tepat diatas bibir Rania yang ranum.
membuat Rania terkejut sekaligus reflek mendorong d**a Eros,masih ingat betul bagaimana Eros menggigit bibirnya waktu itu,jadi itu masih terngiang sampai saat ini.
tangan Eros segera menangkup tangan Rania agar berhenti mendorong.Karna diperlakukan sangat lembut,Rania memejamkan matanya menikmati sentuhan itu.
sentuhan bibir yang berbeda saat beberapa waktu lalu,penuh siksa dan menyakitkan.
"selamat bekerja,saya jemput kamu nanti" ucap nya setelah mengakhiri ciuman mereka.
jangan lupakan bagaimana ekspresi Rania,dia menundukkan kepala seraya mengulum senyum,bagaimana bisa pipi nya merona seperti itu karna perlakuan tak biasa Eros pagi ini.
"hei..kenapa kamu suka sekali menunduk sih?"
Eros meraih dagu Rania,lalu Eros terkekeh ketika wajah wanita itu terlihat memerah dan menggemaskan.
"kenapa merah begitu?"
"Eros,apa bisa saya turun sekarang?dan kamu pergi ke kantor segera biar nggak terlambat"Rania mengalihkan pembicaraan .
"oke ,pulang jam berapa nanti?"
"jam empat "
"oke,jangan lupa tungguin saya,ya!saya akan jemput"
Rania mengangguk lalu turun dari mobil Eros.
~~~
"Eros!"Aruna mendorong paksa pintu ruangan yang tertutup rapat,laki laki yang semula tenang dengan segala pekerjaannya kini mengalihkan pandangan kearah wanita binal didepannya,kemudian melirik ke arah satpam dibelakangnya.
"saya sudah berusaha mencegah nona ini masuk ,pak.Tapi dia malah berteriak teriak dibawah dan lari kesini"
"ya sudah biarkan.Kamu boleh pergi sekarang!"
"baik pak,permisi" Satpam berseragam putih itu menundukkan kepala sebelum akhirnya beranjak dari ruangan CEO tersebut.
sudut bibir Eros tertarik sebelah begitu selesai memindai penampilan Aruna,bagaimana dia bisa buta selama ini mencintai wanita seperti ini?
"Eros,aku nggak bisa kamu giniin"
sebelah alis laki laki itu terangkat sebelah ,lalu bangkit dari kursi kebesarannya.
berjalan santai sambil memasukkan kedua tangannya disaku celana.
"jalang seperti kamu,tidak pantas berada disamping saya"satu kalimat pedas terlontar dari bibir Eros,yang biasanya selama ini selalu bersikap manis dan lemah lembut padanya.
"apa maksud kamu?aku tidak seperti yang ada dalam pikiran kamu "
"oh ya!ah ..lupa, bagaimana mungkin seorang jalang rendahan mengakui profesinya"
"jaga ucapan kamu Eros!kamu menghinaku "
"kalau tidak ingin dihina,jangan datang kesini!dasar sialan"
Eros tersenyum puas saat atensinya melirik kepada kedua tangan Aruna yang terkepal erat.
"oke !kali ini kamu bisa menindas ku seperti ini,tapi aku pastikan sesegar mungkin kamu kembali bertekuk lutut kepadaku ,cam kan itu!"
"sudah?kalau sudah silahkan keluar,mau lewat pintu atau jendela?"Eros tertawa mengejek kearah Aruna.
dia sendiri bingung,ke apa secepat itu membenci Aruna ,padahal sebelumnya bisa dikatakan dia b***k cinta nya Aruna.
Apa karna dia merasa sangat kecewa atas semuanya?atas kebohongan Aruna selama ini kepadanya?mengatakan bahwa dia virgin tapi ternyata sudah di cicipi oleh beberapa pria.
Aruna mengambil langkah lebar dengan menghentakkan setiap langkahnya di lantai
Eros tidak perduli,yang dia tahu saat ini harus segera menyelamatkan Rania dari jangkauan nenek sihir itu.
Karna Eros yakin,Aruna akan berbuat apapun agar kembali menarik Eros ke kehidupannya.
*
*
Rania mendesah kecewa karna sejak tadi menunggu ,Eros belum menampakkan batang hidungnya,hatinya gelisah menunggu kedatangan Eros.
"belum pulang,Ran?"tanya Salwa mengerutkan kening.
"belum Sal,lagi nungguin Eros"Salwa menghembuskan nafas,
"kamu yakin dia jemput kamu?"
Rani mengangguk yakin,meski ada sedikit keraguan yang menyelinap namun mencoba menepis rasa ragu itu.
"Ran"Razan baru saja keluar dari mobilnya ,dia memang sangat berniat mendatangi Rania di butik,beruntung takdir berpihak kepadanya.Rania masih belum beranjak dari butik sehingga mempermudah Razan.
Salwa yang sejak tadi menemani Rania mengobrol pun berpamitan,meski Rania sempat menahan agar Salwa tidak meninggalkan mereka berduaan,namun lagi lagi kecewa karna Salwa beralasan ada urusan mendadak.
"saya antar pulang, yuk!"Razan membuka obrolan setelah mereka melambaikan tangan kearah Salwa yang pergi menjauh dengan mobilnya
"tapi..."belum sempat menyelesaikan kalimatnya,sesuatu terjadi dihadapannya
"b******k,jangan lagi deketin istri saya!dasar nggak tahu malu"Razan yang mendapat serangan tiba tiba langsung terhuyung,menyeka sudut bibirnya yang berdarah.
"mas Razan"reflek Rania berjongkok berusaha membantu pria yang tersudut dilantai itu untuk bangun.
"mau apa kamu?ayo,pergi!"Eros menarik kasar tangan Rania,menyeret nya kedalam mobil.
Eros memacu kereta besinya dengan penuh kekesalan,wajah tampannya terlihat dingin tak tersentuh.
"maafkan saya,Eros" Rania meneteskan bulir beningnya begitu melihat kemarahan Eros.
dia takut,melihat suaminya begini,mengingat bagaimana Eros berbuat kasar kepadanya ditengah tengah emosi pria itu
"saya tidak mengampuni kamu kali ini"nada yang terdengar mengerikan ditelinga Rania,tubuhnya beringsut setelah nya.
Eros benci tentang hari ini,belum reda kemarahan nya karna bertemu dengan wanita sialan dikantornya,kini dia dihadapkan dengan satu parasit lagi yaitu Razan.
tidak kah dua orang benalu itu menyingkir dari rumah tangganya bersama Rania?
"sialan"Eros memukul kasar kemudi membuat Rania tersentak,Rania benar benar takut hal mengerikan itu terulang lagi.
"Eros"Rania berusaha membujuk pria disampingnya agar tidak mengendalikan kendaraan dalam keadaan marah
"tidak kah kamu mengerti,ucapan saya semalam Rania?"
bentak Eros membuat Rania semakin mengkeret.
"saya nggak mendekati mas Razan ,Eros percayalah!"
"setelah kamu kemarin berjanji,lalu hari ini kamu mengingkarinya?kamu minta saya harus percaya?"
tak terasa mobil yang membawa mereka berhenti tepat di basement apartemen ,tidak ragu Eros menyeret Rania yang tertatih,tak peduli dengan spekulasi orang orang sekitarnya.
"Eros,sakit!"
"saya nggak peduli"
setelah menempelkan keycard,Eros mendorong pintu apartemennya bersamaan mendorong tubuh Rania hingga terbentur lantai.
brakk...pintu tertutup kencang setelah Eros membantingnya
"pilih, disini atau dikamar kita?"satu pertanyaan yang membuat Rania tidak dapat menerka maksud Eros.
"maksud kamu apa?"
Eros menarik tubuh Rania lalu menyudutkan di dinding.
"bagian mana tubuh kamu yang disentuh oleh Razan?"
"astagfirullah,saya nggak ngapa ngapain sama mas Razan Eros"
"mustahil,setelah kalian berduaan?ditengah kesepian?"
"tunjukan sama saya!bagian mana saja yang dia pegang?"Eros mulai membuka satu persatu kancing kemeja panjang yang dipakai Rania,
"Eros,cukup!"Eros tidak mengindahkan penolakan Rania,tangannya tetap saja berusaha melucuti pakaian Rania.
"katakan!disini atau dikamar kita,Rania?"tanya Eros berbisik persis seperti penggoda.
glek
Rania menelan salivanya berkali kali,dia takut,takut saat Eros memperlakukannya dulu ,takut saat Eros merampas secara paksa kesuciannya kala itu.
semua itu terngiang ngiang di kepala Rania.
"Eros,saya mohon jangan!tolong jangan memperlakukan saya seperti ini!saya takut"Rania bersimpuh memegang kedua kaki Eros.
satu hentakan nafas keluar dari hidung pria itu
kemudian berjongkok meraih tubuh mungil istinya
"kamu tahu,saya tidak ingin kamu di jamah siapapun kecuali saya"Rania mengangguk dalam isakan tangisnya
"Razan,dia punya niat buruk untuk merebut kamu ,saya tidak akan biarkan itu Ran"
"maaf,karna saya hampir tidak menggunakan akal sehat saya,maaf" Eros meraih tubuh istrinya kedalam dekapannya.