"maaf,karna saya hampir tidak menggunakan akal sehat saya,maaf" Eros meraih tubuh istrinya kedalam dekapannya.
tubuh Rania masih bergetar hebat akibat perbuatan Eros barusan,membuat laki laki itu merasa menyesal telah memperlakukan Rania seperti tadi.
tidak,Eros seperti itu karna hanya tidak ingin hal seperti Aruna yang dinodai Razan terjadi kepada Rania,Eros tidak rela dan tidak akan pernah rela.
yang berhak atas Rania hanya Eros,suaminya.Didekapnya tubuh Rania yang nyaris berantakan karna ulah tangan laki laki itu.
"Rania,tolong maafkan saya!" ucap Eros menyesal,sembari mengeratkan pelukan itu,memberi ketenangan pada Rania yang masih ketakutan.
walau bibir wanita itu tak mampu bergumam,namun kenyataan nya ketenangan mulai melingkupi dirinya bersamaan dengan dekapan itu.
"Eros,jangan lagi seperti ini!saya ketakutan"ucapnya bergetar,demi apapun Eros sangat bersalah membuat Rania menjadi seperti ini,dia tau telah menyakiti hati sekaligus psikis wanita itu sejak malam itu terjadi
"saya janji,saya tidak akan melakukan hal buruk lagi sama kamu,tolong maafkan saya Rania!"Eros mengecup pucuk kepala dibalik hijab milik istrinya.
sedetik kemudian,laki laki itu menggendong tubuh Rania membuat empunya reflek memekik dan memeluk leher Eros.
mata mereka saling beradu,lama dan dalam.
seolah membiarkan tatapan itu saling berbicara.
hingga akhirnya membuat Rania menunduk ,jantungnya memompa sangat cepat sehingga nyaris terdengar ditelinga nya.
rasa takut itu kini mulai lenyap berganti rasa tenang dan hangat,setelah Eros membawa tubuhnya berbaring diatas ranjang,dan dipeluk seerat mungkin.
"Rania,jangan menunduk terus!"ucap Eros
"belajar menatap mata saya!saya janji tidak akan menyakiti kamu"
perlahan,Rania mendongak menatap hazel milik pria yang memeluk pinggangnya erat.Seulas senyum terbit dari kedua sudut bibir Eros.
"good" tangan kanannya terulur untuk membelai pipi merona Rania,membuat sensasi geli itu timbul hingga Rania reflek memejamkan matanya.
Meski takut, wanita itu tidak menyangkal bahwa dia menyukai sentuhan lembut itu.
melihat reaksi Rania yang menikmati dan tidak menolak sama sekali,membuat Eros bersorak riang.
"kamu milik saya,Rania.Kamu istri saya,tidak berhak siapapun mendekati kamu karna kamu milik saya,
Kamu mengerti?"terasa hangat hembusan nafas Eros yang dekat dengan wajahnya,bisa dirasakan bibir itu nyaris menempel pada pucuk hidung Rania.
"saya minta hak saya sebagai suami,saya mohon jangan menolak!"
glek
Rania merasa tak berdaya dengan posisi yang seperti ini,dadanya sangat dekat menempel pada d**a bidang Eros,sedangkan tangan pria itu semakin mengeratkan pelukan di pinggang Rania,membuat Rania sulit bernafas.
"Rania?"bisiknya parau.
"tapi,saya_"Rania menggigit bibir bawahnya.
"kita akan melewatinya pelan pelan,saya janji"
belum mendapat jawaban,Eros terlebuh dulu mendaratkan kecupannya di bibir Rania.
tubuh Rania bereaksi tak biasa,Eros tau Rania kembali ketakutan,meski kecewa Eros melepaskan ciumannya dan mengucapkan sesuatu
"tidurlah,Rania!tubuhmu menolak saya"
"m-maaf"jawab Rania lirih,ada rasa bersalah menyeruak ketika reaksi tubuhnya tercetak jelas tidak menginginkan sentuhan lebih dari suaminya.
Eros hanya tersenyum dan menenggelamkan wajah Rania ke d**a bidangnya.
"saya yakin,lambat laun kamu tidak akan seperti ini lagi.Maafkan saya ya,Ran!"
suara lembut itu mampu membuat Rania tersenyum tipis,Eros membiarkan wanitanya nyaman hingga tertidur pulas dalam pelukan panjang malam ini.
*
*
matahari mulai muncul untuk singgah keperaduan,setelah menyelesaikan sholat subuh tadi,Rania langsung masuk ke dapur,meraih peralatan masak untuk menyiapkan sarapan pagi ini.
sedangkan tidur nyenyak Eros yang bergumul dengan selimutnya,terusik saat bau masakan menusuk indra penciuman nya.
laki laki itu bangkit dari ranjangnya lalu melangkah ke dapur,bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman saat melihat punggung wanita nya sedang memasak.
"good morning"sapa Eros tepat di daun telinga yang tertutup hijab itu,membuat Rania terkejut hingga tak sengaja jarinya teriris pisau.
"astagfirullah"Rania memegang jarinya yang mulai mengucur darah segar.
dengan sigap Eros menghisap darah dijari telunjuk Rania.
sepersekian detik netra milik wanita itu terpaku ,tak menyangka Eros bersikap semanis ini padanya
"kenapa?"tanya Eros
"iya?"jawab Rania setelah beberapa kali mengerjapkan matanya.
Eros tersenyum mengangkat sebelah bibirnya "mulai terpesona ya?"
kedua tangan Eros bertumpu pada sisi meja mengurung Rania membuat wanita itu menunduk.
"bukannya tadi kamu lihatin saya terus?kenapa sekarang menunduk?hmm"
Rania tidak dapat menjawab apa apa,dia terlalu sibuk mengatur ritme detak jantungnya yang mulai tak beraturan
"Eros,kalau kamu begini terus saya tidak bisa lanjutin masaknya "Rania segera memutar otak agar bisa lepas dari kukungan pria yang mengurungnya.
"kamu ngomong sama siapa? kaki?"goda Eros,merasa lucu karna seringnya melihat Rania menunduk ketika salah tingkah.
sontak membuat wanita itu mendongak,bahkan nyaris terjungkal karna kepalanya sangat dekat dengan suaminya itu.
"Eros,bisa tolong geser?"
"kalau saya nggak mau gimana?"
Eros tidak tahu bahwa sejak tadi Rania berusaha menetralkan jantungnya yang berdetak bertalu talu
"saya nggak bercanda"Rania mulai mencebik.
"oke oke,daripada nanti masakan kamu jadi nggak enak karna mood kamu jelek,saya ngalah" jawabnya seraya meninggalkan Rania sambil bersiul melangkah kembali kedalam kamar.
~~~
"Ran,gimana kemarin ,Eros jadi jemput kamu?atau kamu diantar mas Razan?"tanya Salwa kepo.
"kemarin Eros jemput, tapi ada kesalah pahaman sedikit antara mereka"
Salwa membulatkan bibirnya seraya menutup dengan kedua tangannya.
"terus?"tanya Salwa sambil menarik kursi putar dan duduk disebelah Rania.
"kamu ingin tau banget ya?"tanya Rania sebal.
"ih...kalau pingin tau juga kenapa coba?"
Rania terkekeh,melihat pipi Salwa yang mengembung.
"jadi Eros ngiranya mas Razan deketin aku,makanya dia marah marah terus mukul mas Razan,terus aku diseret dibawa pulang"
"kamu diomelin?"
"iya lah,di omelin sampe unit juga masih ngomel" tiba tiba Salwa tersenyum jahil kearah Rania.
"kamu tau itu artinya apa?"
"apa emang?"
"Eros cemburu sama kamu"
"udah Salwa,jangan berasumsi yang terlalu tinggi.Dia kayak gitu sama aku karna aku ini istrinya,bukan karna cemburu"jelas Rania berusaha menepis bahwa itu memang benar adanya,karna dia sendiri takut jika terlalu berharap lebih pada Eros.
"kamu gimana sih?nggak peka banget deh"
"bukan nggak peka,Sal.Aku cuma takut kalau terlanjur GR taunya dia emang nggak ada rasa apa apa sama aku.Kan kamu sendiri yang ingetin,biar nggak jatuh cinta sama Eros"
"kan sekarang beda keadaannya,Rania sayang.Eros udah berubah sama kamu,udah nggak sama Aruna juga kan?"
sedetik kemudian Rania mengernyitkan dahi,sambil melirik curiga kepada Salwa "aku belum cerita apa apa loh sama kamu soal ini"
"hahaha ...aku tau sendiri dong,lihat dengan mata kepala aku sendiri"jawab Salwa enteng lalu bangkit dari kursinya ,menuju ruangannya.
sedangkan Rania hanya melongo,dan dipastikan Salwa harus menceritakan detail nya kepada Rania segera.