10.Berubah pikiran

1026 Kata
Rania mendorong pintu utama hingga lonceng berbunyi. Salwa langsung berhambur memeluk tubuh Rania. "Ran,kemana aja,aku kangen!"Rania membalas pelukan erat sahabatnya,diapun sama merasa rindu dengan celotehan Salwa. "kamu kenapa nggak datang kemarin?ponsel kamu nggak aktif juga" Rania menunduk kepala,harus bagaimana dia menjelaskan dari awal tentang musibah yang menimpa dirinya "aku...."Salwa menarik tangan Rania untuk masuk kedalam ruangannya,tidak mau mungkin membiarkan Rania mengungkapkan semuanya didepan halayak mengingat butiknya hari ini sangat ramai pengunjung. "ada apa?ceritakan semuanya!"pinta salwa setelah menutup pintu rapat. "Sal,aku minta maaf,aku harus berhenti dari sini"Rania memilin ujung hijab segiempat nya,menunggu Salwa memberikan respon. Rania paham pastilah Salwa terkejut karna Rania berhenti mendadak seperti ini. "ada masalah apa sebenarnya Rania?"tanya Salwa,dia yakin ini ada sangkut pautnya dengan Eros. "Salwa,ini menyangkut rumah tanggaku,Eros_" "melarang kamu bekerja?"sambung Salwa yang diangguki oleh Rania,dugaan Salwa tidak meleset!. "lalu, dengan bodohnya kamu menuruti keinginan dia?" Salwa memijit pelipisnya,kenapa Rania harus kelewat polos begini menghadapi pria berengsek seperti Eros. "aku tidak menginjinkan kamu Resign"kalimat penolakan itu membuat Rania mendongak. "tapi Salwa_"Rania menggantung kalimatnya keudara,tidak mungkin dia menceritakan tentang pemerkosaan yang dilakukan oleh Eros. "kenapa?Rania,tolong kamu tegas sedikit,paling tidak kamu bisa menggunakan cara lain untuk bisa bertahan bekerja.Jangan membiarkan dia merampas semua yang kamu punya termasuk pekerjaan kamu!"Salwa kehabisan kesabaran,tak bisa menahan untuk tidak mengoceh panjang lebar. "aku harus bagaimana ,Salwa?"Salwa tampak berpikir dirinya sangat ingin membantu Rania keluar dari masalahnya,dia juga tidak ingin Rania keliar begitu saja dari butik ini. . . . . Rania menekan tuas unit apartemennya setelah menempelkan keycard nya. tampak Eros sedang duduk santai sambil menonton televisi. Dari pintu,Rania dapat melihat wajah kaku suaminya,seperti biasa wajah itu tampak datar tanpa ekspresi. Rania berharap ,semoga keputusan yang akan dia ambil adalah benar. setelah menghembuskan nafas pelan,perlahan Rania mendekat kearah Eros. "kenapa baru pulang?"tanya Eros "saya,berubah pikiran"jawab Rania Eros bangkit dari duduknya menghampiri Rania lalu mencengkram dagu gadis itu. "apa maksud kamu?"gadis itu mengaduh kesakitan,dagunya serasa berdenyut karna tangan kekar itu menjepitnya. "sa-saya akan tetap bekerja" "oh .jadi kamu berubah pikiran setelah bertemu dengan Razan?iya?"bentak Eros membuat Rania tertunduk . "sa-saya hanya ingin kita tetap konsisten pada perjanjian kita" "sudah saya bilang,saya nggak peduli lagi dengan perjanjian itu.Apa kamu tuli untuk mendengarnya?" entah keberanian dari mana Rania menepis tangan Eros dari dagunya,menatapnya tajam "kalau begitu,tinggalkan Aruna!"satu kalimat yang membuat Eros terkejut berhasil meluncur dari bibir tipis Rania. "kamu gila?"jawab Eros seraya menyugar rambutnya "tidak bisa kan?"ejek Rania "kalau begitu,biarkan saya tetap bekerja dan jangan atur hidup saya,jika kamu ingin bebas maka saya juga sama"sambungnya,tak ada lagi hormat sebagai istri kepada suaminya,semua rasa hormat itu hilang bersamaan dengan harga dirinya yang diinjak injak oleh pria arogan itu. Rania kembali ke kamarnya,mengemas seluruh barang barangnya. cukup sudah kesabarannya,dihina,diperlakukan buruk layaknya binatang. Brakk., pintu terdorong keras membuat Rania terkejut,mendongak kearah suara itu berasal kilatan amarah Eros sangat tercetak jelas di mata yang tampak berapi. "mau kemana kamu?"Eros menarik paksa lengan Rania hingga terbentur dinding. "kamu pikir ,kamu bisa pergi seenaknya?"sambungnya,seringai jahat terpatri dari bibir Eros,membuat Rania meneguk salivanya ketakutan. kakinya bergetar,terasa tak mampu lagi menopang tubuhnya,dia hanya takut kejadian waktu itu terulang lagi . otaknya bekerja,mendorong Rania agar melawan Eros. "lepaskan saya!atau lepaskan Aruna!"titah Rania menyembunyikan ketakutannya "saya tidak akan melepas Aruna!" "sudah jelas kan?mari kita jalani sesuai kesepakatan. Jangan urusi urusan saya,begitupun dengan saya" permintaan Rania tentu saja tidak dengan mudah disetujui oleh Eros,dia tidak ingin Rania memegang kendali disini. sudut bibirnya terangkat,menatap dalam netra milik Rania, "ada satu syarat,layani aku malam ini!"Rania tersentak mendengar kalimat yang diucapkan Eros. dan Eros yakin ,Rania tak akan melakukannya, dengan begitu Rania akan tetap berada dalam kuasanya. "akan saya pikirkan!"jawab Rania singkat. "saya tidak punya waktu untuk menunggu,katakan ya atau tidak" "E..eros"terlambat tanpa aba aba pria itu mencium bibir Rania,kali ini tidak sekasar kemarin, dia melakukannya dengan lembut agar Rania terbuai dan menarik ucapannya. sungguh,Eros merasa bingung mengapa hatinya tidak rela jika Rania didekati oleh Razan,menginginkan Rania tetap terkurung disini agar Razan berhenti mengharap istrinya. apakah dia mulai menginginkan Rania?tidak,itu tidak mungkin. Eros hanya mencintai Aruna. Rania mendorong kasar pria yang menciumnya, "baik!saya akan lakukan malam ini,setelah ini beri saya kebebasan!"Rania meninggalkan Eros yang masih mematung. Flashback on "aku harus bagaimana ,Salwa?"Salwa tampak berpikir dirinya sangat ingin membantu Rania keluar dari masalahnya,dia juga tidak ingin Rania keliar begitu saja dari butik ini. "kamu harus bersikap tegas ,Ran!" "jangan sampai dia menganggap kamu lemah dan mudah diinjak injak!ingat Rania!pernikahan kalian itu hanya pura pura,jangan sampai kamu lemah dan satu lagi jatuh cinta" Salwa memberi dorongan agar Rania memiliki kekuatan melawan Eros,Salwa benar!dia tidak boleh bertekuk lutut pada Eros berpasrah diri meski telah diinjak injak. cukup sudah membiarkan Eros merenggut kesuciannya secara paksa,tapi jangan dengan yang lain! "jadi aku harus bagaimana?" "bilang saja,kalau kamu berubah pikiran!kalau dia marah karna kamu merubah keputusan,kasih pilihan sama dia. pilih kamu atau Aruna.Aku yakin,dia nggak akan ninggalin Aruna,kamu paham kan maksud aku?" Rania mengangguk setuju,dia akan menemui Eros setelah ini dan bicara padanya. "terima kasih ,Salwa"Rania memeluk erat sahabatnya,beruntung gadis itu memiliki Salwa bagaimana jika tidak? Salwa pun membalas pelukan Rania,dalam hatinya berjanji agar Rania tidak membiarkan Rania disakiti oleh siapapun. Salwa menyayangi Rania lebih dari sahabat,bahkan Salwa telah menganggap Rania saudara. seandainya jika Rania belum menikah,pasti Salwa akan menjodohkan gadis itu dengan Firdaus,abangnya. **** Rania menatap pantulan dirinya dicermin,menatap betapa kelamnya kehidupan rumah tangganya satu yang membuat nya selalu bertanya tanya,namun tak kunjung menemukan jawaban. mengapa dia harus menanggung penderitaan yang sedalam ini? ceklek... Eros membuka knop pintu kamar Rania,masuk lalu menutupnya kembali. Jantung Rania berdebar debar ketika Eros mulai menghampirinya. "Eros ka_" "saya menagih janji malam ini"Rania terhenyak,bagaimana ini? apakah dia akan melakukannya lagi dengan Eros? "ba-baiklah,kamu t-tunggu dulu"tanpa pikir panjang Eros mendorong tubuh Rania keranjang kecil milik gadis itu. "saya nggak suka menunda waktu,Rania!"Eros merangkak,mengukung tubuh Rania yang masih terbungkus rapi. sementara gadis itu,hanya mampu menelan saliva. "bisa kita mulai?"tanya Eros. "ta-tapi ja_" "kita pelan pelan"jawab Eros seolah tahu kemana tujuan pembicaraan Rania. Rania pun mengangguk lalu memejamkan mata,begitupun dengan Eros dia mulai beraksi mulai mengecup kening istrinya lama dan lembut membuat Rania meyakinkan diri agar tidak terjatuh pada pesona Eros. mensugesti diri,dia melakukan ini untuk kebebasannya turun ke kedua matanya,lalu ke hidung kemudian bibirnya . memperlakukan Rania malam ini dengan sangat istimewa ,entah mengapa ,dia tidak mengerti
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN