Adara memajukan bibirnya. Gadis itu juga menekuk wajahnya sambil memainkan kuku-kuku jarinya. "Hei …, jangan cemberut, dong. Aku hanya sebentar!" Adnan kembali duduk di hadapan sang istri. Semenjak Adnan memberitahu Adara, kalau ia akan berangkat bekerja. Sore hari yang cerah tersebut mendadak menjadi mendung. Seakan hujan badai akan datang menyapu seluruh kota. Begitulah kira-kira kalimat yang menggambarkan suasana hati seorang Adara. Ia mendadak murung karena suaminya pamit untuk bekerja. "Aku takut sendirian disini, Nan! Aku ingin ikut. Boleh, ya. Aku mohon …" Adara menggoyangkan lengan suaminya. Adnan mengusap wajahnya. Hampir satu jam istrinya merayu dan membujuknya. Membuat pria itu tidak tega untuk mengatakan kata 'tidak' untuk yang kesekian kalinya. "Boleh …, tetapi tidak

