Adara menyusul Adnan ke dapur. Gadis berkulit putih itu membantu suaminya yang sedang menyusun barang belanjaan mereka. Adara menimbang-nimbang di dalam hatinya. Ingin rasanya ia menanyakan tentang kebenaran yang diucapkan oleh Melisa. "Nan," Setelah cukup lama diam. Akhirnya Adara meraih bahu suaminya yang sedang menyusun cabai dan tomat pada rak kecil yang terletak di dekat kompor gas. "Ya," Adnan menoleh. "Sepertinya Melisa menyukai kamu!" Adara memalingkan wajahnya. Berpura-pura menyusun sesuatu. "Kamu benar! Dia sudah mengungkapkan perasaannya kepadaku. Sebelum kamu datang kesini." Adara memberanikan diri untuk melihat Adnan. Pria itu sedang tersenyum manis kepadanya. Tidak ada raut ketakutan dari wajah tampan suaminya itu. "Aku tidak bisa melarang Melisa untuk mencintaiku.

