"Bagaimana keadaan Adnan?" tanya Ryan. Begitu masuk ke kamar rawat Adnan. Menampakkan Adara yang sedang duduk termangu, menatap kepada sang suami. Adara menggeleng lemah. "Seperti yang kamu lihat, Yan. Dia belum tertarik untuk bangun. Tapi keadaannya sudah lebih baik daripada kemarin. Sudah tidak lagi kejang." Adara menggenggam erat tangan Adnan. Tangan yang selalu memeluk dirinya. "Bersabarlah. Aku yakin Adnan akan segera sadar. Dia adalah pria yang sangat kuat." Ryan berpindah ke sofa, dan mendaratkan bokongnya di sana. "Aku sudah meminta Rere untuk pulang. Untuk menemani kamu disini, Dar," ucapnya lagi. Adara mengulas senyum. "Tidak perlu repot-repot, Yan. Aku tidak ingin menyusahkan siapapun. Aku …," "Tidak repot," potong Ryan cepat. "Tapi kamu memang membutuhkan seseorang untuk

