Pagi menjelang, sinar matahari tampak begitu terik sampai masuk dari celah gorden ruangan. “Engghhhh," Latif perlahan membuka matanya, sambil memijat kepalanya yang begitu sakit. “Sudah bangun?" Latif langsung mendongak menatap sasa yang berdiri tegak sambil melipat kedua tangannya di depan d**a. "Ah ternyata kamu," Latif terlihat memandang kesana dan kemari, “Kamu yang bawa mas kemari?" Sasa langsung tersenyum miring, "Tidak ingat atau hanya pura-pura lupa? sudahlah bangun dan pergi dari sini." “Apa maksud kamu sasa, mas baru bangun kenapa malah kamu mengusir mas? dimana toilet mas ingin buang air, kepala mas juga pusing tolong bantu mas ya," pinta Latif dengan wajah penuh harapnya. "Tidak," jawab sasa tegas, “Aku hanya mengizinkanmu disini hari ini, selebihnya silahkan perg

