Kehilangan kakek tercinta
"Kakek … kakek!” panggil Laura kepada sosok laki laki yang kini sudah memasuki usia 65 tahun itu.
Tubuh kekarnya terlihat kaku dan bibirnya sudah membiru. Laura sangat panik melihat apa yang terjadi dengan kakeknya. Dia mencoba memastikan keadaan kakeknya. Dia memegang dan mengecek denyut nadi kakeknya. Ternyata kakeknya sudah tidak bernyawa. Dia masih belum bisa menerima ini semua, Laura masih menyangkal ini semua terjadi.
Laura berlari ke kamar neneknya, dia membangunkan neneknya yang sedang terlelap dengan panik.
"Nek, ayo bangun. Coba tengok Kakek kenapa yah?” ucap Laura kepada Kartika- nenek, tidak ingin memberitahu bahwa sebenarnya denyut nadi kakeknya sudah tidak ada.
Neneknya langsung kaget mendengar ucapan Laura, nenek Laura langsung berlari menghampiri suami yang telah menemaninya sepanjang hidup itu. Mereka adalah pasangan sehidup semati bagi nenek Laura. Dia memeluk suaminya itu dengan erat, dia tidak merasakan detak jantung di tubuh suaminya itu. Tanpa terasa tubuhnya nenek Laura menjadi lemas menerima kenyataan bahwa suaminya sudah meninggalkannya.
“Laura, panggil ibu dan pamanmu. Kakekmu sudah meninggalkan kita!” Ucap nenek Laura dengan pelan dan sangat sedih.
Melihat kesedihan yang sangat mendalam neneknya, Laura pun tak sanggup menahan air mata yang terus menetes. Laura langsung memeluk neneknya, hanya sebentar saja dia memeluk tubuh itu. Dia lalu berlari ke kamar ibunya dan memberitahukan tentang kejadian ini.
Mengapa begitu kejamnya tuhan mengambil kakek Laura, benak Laura saat ini. Apakah harus dia kembali mengambil kebahagiaan Laura dalam kehidupan ini. Kakek Laura memang sudah tua, tahun ini dia sudah berumur 65 tahun. Sudah sejak 10 tahun lalu dia mengidap penyakit pernapasan yaitu penyakit asma.
Asma adalah jenis penyakit jangka panjang atau kronis pada saluran pernapasan yang ditandai dengan peradangan dan penyempitan saluran napas yang menimbulkan sesak atau sulit bernapas. Selain sulit bernapas, penderita asma juga bisa mengalami gejala lain seperti nyeri d**a, batuk-batuk, dan menggigil. Asma bisa diderita oleh semua golongan usia, baik muda atau tua.
Dia sering sekali tiba tiba sesak napas, hingga Laura sudah terbiasa jika melihat sang kakek sesak napas.
Laura mengetuk kamar mamanya, tak berapa lama mamanya membuka pintu dengan mata sembab karena bangun tidur dan kaget mendengar ketukan pintu Laura saat sedang terlelap.
“Kenapa nak???” mama Laura bingung melihat anaknya menangis dan terlihat sangat sedih.
“Kakek sudah meninggal mah!!” ucap Laura sambil menangis.
“Innalilahi wa innailaihi rojiun!!” ucap mama Laura saat mendengar ucapan Laura. Mereka berasal dari keluarga muslim.
"Aku mau ke rumah paman Hasan dulu ya mah!!” ucap Laura singkat.
"Iya sayang!!” jawab mama Laura.
Tidak ada sosok seorang ayah bagi Laura. Karena ayah kandungnya sudah meninggalkan Laura sejak dia masih bayi. Dia adalah sosok ayah baginya, walaupun statusnya adalah seorang kakek dalam kehidupan sesungguhnya. Dia adalah sosok yang dianggap dan jadikan ayah dalam kehidupan Laura.
Bagaimana mungkin dalam satu kehidupan, Laura mendapatkan dua mimpi buruk sekaligus. Pertama di tinggalkan ayah kandungnya sejak kecil, kedua memiliki ayah tiri yang sering melakukan KDRT terhadap ibunya.
Kakeknya benar benar menjadi pahlawan untuk Laura, dia menggantikan sosok ayah kandung Laura sejak kecil. Dia selalu menemani Laura kemana pun, bahkan dialah yang menemani Laura sebelum tidur. Kakek Laura juga yang menemani hari hari Laura seperti membuatkan makanan dan menyuapi Laura setiap harinya.
Hingga kadang Laura melupakan bahwa dia telah ditinggalkan oleh ayah kandungnya. Dia tidak pernah merasakan kekurangan kasih sayang karena kehadiran kakek yang sangat baik dan sempurna seperti dia. Rasanya Laura belum siap menerima ini semua, sangat berat rasanya menerima kenyataan ini.
"Maap kakek Laura belum bisa membalas semua kebaikan kakek, Laura belum bisa membuat kakek bangga. Padahal Laura berharap Kakek bisa hidup lebih lama dengan Laura, kalau nanti Laura sudah punya uang dan bekerja Laura ingin mengajak kakek dan nenek makan di restoran yang enak. Membelikan baju yang bagus bagus di mall yang terkenal!” ucap Laura dalam hatinya sambil berjalan menuju rumah pamannya.
Saat malam kejadian pun Laura sedang belajar di ruang tamu, sedangkan kakek Laura sedang berada di depan ruang nonton televisi. Laura sedang sibuk mengerjakan banyak PR sekolah, banyaknya PR membuat dia pusing saat itu. Dia sempat melihat kakeknya sesak napas saat itu.
Nenek Laura sedang tertidur di kamarnya, juga kedua orang tua Laura sedang berada di kamarnya. Hanya Laura yang menjadi saksi kematian kakeknya saat itu. Laura tidak tahu jika serangan asma bisa membuat kematian mendadak/seketika saat itu. Dia berniat menyelesaikan dulu PR Yang tinggal sedikit lagi dan baru melihat keadaan kakeknya yang saat itu beberapa kali terlihat sesak napas.
Dia merapikan buku pelajaran dan memasukkan ke dalam tas sekolah. Kemudian langsung berdiri dan menghampiri kakeknya, saat itu Laura ingin memeluk kakek tersayangnya itu. Tapi dia melihat ada yang aneh dengan tubuh kakek Diaz saat itu. Tubuhnya terlihat kaku dan sangat pucat. Matanya juga terpejam saat itu, badannya yang tinggi besar bersandar di pinggiran sofa didepan televisi.
Dia mencoba membangunkan dan memanggil kakeknya beberapa kali. Tapi tidak ada respon apapun saat itu. Dia sangat ketakutan dan panik, dia sangat bingung dengan keadaan yang terjadi saat itu. Dia bingung apa yang sedang terjadi kepada kakeknya. Sempat terbesit pikiran bahwa kakek Laura meninggal. Tapi dia menepis sendiri pikiran itu, dia tidak ingin hal itu terjadi di hidupnya. Dia tidak ingin kehilangan kakeknya.
Nenek dan ibu Laura menangis saat melihat keadaan kakeknya saat itu. Mereka langsung membawa kakeknya ke rumah sakit. Laura juga mengajak pamannya, kakak dari ibu Laura. Karena kebetulan paman Laura memiliki rumah bersebelahan dengan rumah peninggalan kakek Laura, dulu memang tanah itu milik kakeknya. Dia diberikan warisan berupa tanah saja,sedangkan dia membangun rumah itu dengan uangnya sendiri.
Laura ikut ke rumah sakit saat itu, dia mengenakan baju tidur yang sudah dia pakai saat itu. Tidak ada dalam benaknya untuk mengganti pakaian terlebih Dahulu, suasana saat itu benar benar membuat Laura kacau. Dia terus memeluk neneknya yang juga sangat sedih. Kakeknya di bawa ke UGD untuk diperiksa apakah masih hidup atau sudah meninggal.
Dokter kemudian memeriksa kondisi kakek Diaz dan menyatakan bahwa kakek Diaz sudah meninggal dunia. Sebenarnya Laura sudah berpikiran ini sejak tadi, tapi batin Laura mencoba menolak kenyataan ini.
Dia menangis sejadi jadinya di pelukan nenek Laura. Dia memeluk neneknya dengan sangat erat, karena rasanya badan Laura sudah sangat lemah dan tidak mampu untuk berdiri. Semua tenaga Laura terasa hilang entah kemana.
Paman Hasan yang saat itu menemani Laura ke rumah sakit langsung mengurus proses pemakaman. Karena Laura berasal dari keluarga muslim. Jenazah tidak boleh terlalu lama dibiarkan di rumah, misalkan malam ini meninggal. Besok siang harus sudah selesai dimakamkan. Mereka membawa jenazah kakek Laura pulang ke rumah duka.
Ibu Laura menghubungi Kakak perempuannya. Dia adalah anak yang bisa dibilang paling durhaka terhadap ayah mereka. Dulu dia pernah Menggadaikan rumah kakek kami, tanpa sepengetahuannya.
Tiba tiba datang rentenir menagih hutang kepada kami. Setelah berunding bersama, mereka tidak mengambil semua tanah yang ada dalam sertifikat. Mereka hanya mengambil 50 meter tanah kami. Karena memang mereka itu lintah darat sangat kejam.
Tante Laura Menggadaikan sertifikat rumah dengan uang 10 juta rupiah, tapi mereka menagih total sampai 50 juta. Bunga saja hampir 40 juta, jauh lebih besar bunga yang mereka pinta. Luas tanah yang awal 250 meter menjadi 200 meter saat itu. Betapa kesal perasaan kakek Laura saat itu. Anak perempuan yang sangat dia sayangi malah menghancurkan kepercayaannya. Dengan mengambil diam diam sertifikat rumah dan menggadaikannya kepada rentenir.
"Iya om!" jawab Laura singkat.
Laura sering kali mengatakan h iniSangat berat menerima ucapan belasungkawa dari semua orang. Apakah orang lain tahu bahwa kakeknya adalah dunia bagi Laura.
Sumber kebahagiaan Laura adalah kakek yang tidak pernah marah dan membentak Laura. Hingga akhir hayat pun hanya kenangan indah dan wajah tampan kakek Laura dan tersenyum termanis kakek Laura yang selalu terlintas di benak Laura. Hingga rasanya dia baik baik saja walaupun kenyataannya kehidupan Laura sangat menyakitkan harus ditinggal ayah kandung sejak bayi, saat dia masih berusia 6 bulan.
Dan harus menerima kenyataan memiliki ayah tiri yang memiliki sikap emosian terhadap dia dan ibunya. Padahal dia sangat berharap bisa memiliki ayah yang baik, yang tentu saja menyayangi ibunya. Dia rela menukar tidak memiliki ayah baik, tetapi memiliki sosok kakek sempurna seperti kakek Laura.
Matahari sudah mulai meninggi, menandakan waktu sudah siang. Sudah waktunya tubuh kaku kakek Laura di bawa ke tempat peristirahatan terakhirnya. Tempat pemakaman tidak terlalu jauh dari rumah Laura. Laura pasti akan sering kesana nanti, dia akan kesana untuk mencurahkan isi hati dan keluh kesah tentang kehidupannya.
Semua anaknya sudah berkumpul, termasuk tanteku. Mereka bertiga sangat kehilangan ayah mereka, bahkan anak yang paling durhaka itu yaitu Tanteku menjadi orang yang paling histeris saat jenazah kakekku ditutupi dengan tanah saat itu.
Mungkin dia merasa belum bisa menebus semua dosa dan kesalahan yang telah dia buat kepada kakek Laura. Nenek Laura hanya menangis tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Dan Laura tahu orang yang menangis tanpa suara adalah orang yang paling sakit dan sedih.
Paman Laura terus memeluk neneknya, Laura hanya bisa melihatnya, karena Laura sendiri tidak kuat menopang tubuhnya sendiri saat itu. laura belum bisa menerima semua ini, otak dan hatinya belum bisa menerima semua ini. Kenyataan ini sangat pahit bagi Laura.
*****