Namaku Laura Wardani

2557 Kata
Empat tahun telah berlalu, sekarang Laura sudah lulus SMA. Kakeknya meninggal saat dia kelas 2 SMP. Laura sudah mulai menerima kenyataan dan sudah semakin dewasa menghadapi semua kenyataan. Laura Wardani adalah nama lengkapnya. Dia memiliki zodiak Scorpio dan lahir pada tanggal 28 Oktober. Dia memiliki sifat Scorpio yang pekerja keras, perencana yang baik, tekun, dan ambisius. Dia selalu mendapat rangking sepuluh besar di sekolah dari SD sampai SMA. Mungkin karena sifatnya yang pantang menyerah, dia memang termasuk anak yang rajin dalam belajar. Scorpio adalah orang yang rendah hati, penuh kasih, dan suka membela kaum yang lemah. Mereka memiliki insting yang kuat, pandai menyimpan rahasia, dan setia pada orang-orang terdekatnya. Seperti Laura yang sering menyimpan perasaannya sendiri, dia bukan tipe orang yang akan dengan mudah membuka hati dan pikirannya terhadap orang lain. Dia akan memilih menyimpan perasaannya untuk dirinya sendiri. Walaupun sesungguhnya hal itu sangat tidak boleh dilakukan. Saat ini dia kuliah hasil dari beasiswa, dia mencoba melamar saat lulus kuliah. Karena memang nilai Laura bagus maka dia dapat kesempatan beasiswa. Laura memiliki nilai pelajaran yang cukup bagus, terlebih di pelajaran matematika. Bayangkan saja Nilai matematika Laura saat lulus SMA adalah 9,75. Nilai yang benar benar nyaris sempurna. Hanya satu soal saja yang salah. Pelajaran yang bagi sebagian orang adalah pelajaran yang menakutkan, anehnya menjadi pelajaran yang paling dia sukai. Alasan dia menyukai pelajaran matematika adalah matematika adalah pelajaran yang tidak mengalami pembaruan atau perubahan. Sampai kapanpun 1 tambah 1 hasilnya tetap akan dua sampai kapanpun. Berbeda dengan pelajaran biologi, fisika , dan geografi akan selalu ada pembaruan informasi. Dia mulai berpikir untuk mencari pekerjaan, dia tidak ingin merepotkan kedua orang tuanya lagi. Dia ingin bisa menghasilkan uang sendiri dari hasil keringatnya sendiri. Dia mulai mencari lowongan pekerjaan di internet, dia mencoba melamar pekerjaan yang memang menerima mahasiswa paruh waktu. Banyak sekali ternyata yang menerima part time job di internet. Dia mencoba mengapply beberapa lowongan pekerjaan di internet. ****** Setelah menunggu beberapa hari, ternyata ada email masuk yang meminta Laura untuk datang interview pekerjaan di sebuah Coffee shop besok hari. Bekerja dimana saja tidak masalah untuk Laura, selama itu halal dan tentu saja part time agar tidak menganggu kuliahnya. Ini adalah pekerjaan pertama baginya. Rasanya sangat tidak karuan, rasa deg degan dalam dirinya sangat tidak terkontrol, dan tentu saja jantung Laura berdegup sangat kencang. Terlintas di benaknya apakah dia diterima atau tidak. Bahkan dengan wajah cantik diatas rata rata miliknya, dia merasa takut tidak diterima karena kurang cantik. Dia memiliki kulit putih dan tubuh ramping, tinggi badanya 170cm. Rambut hitam tebal milik Laura sangat indah, dan bergelombang. Dia menguncir rambutnya dengan tinggi, muka nya yang manis makin kelihatan cantik. Dia menambahkan lipstik warna nude di bibir tipis miliknya, warna lipstik nude memang membuat bibir Laura semakin cantik natural. Sangat berbeda pasti jika Laura memakai lipstik warna merah merona, akan terlihat habis makan bayi saking merah lipstik Laura. Dia sudah sampai di tempat melamar pekerjaaan, dia berdiri di depan coffee shop dan kembali memastikan penampilannya di pintu kaca depan coffee shop tersebut, melihat dari atas kepala sampai bawah kakinya. Memang bukan coffee shop terkenal dan besar. Tapi gajinya lumayan besar karena sudah standar UMR. Dia membuka pintu coffee shopnya, saat itu berdiri dua orang barista laki laki dan ada 3 orang pengunjung. Pengunjung satu perempuan dan laki laki. Coffee shop itu kecil tapi berlantai dua. Ruang bawah mungkin hanya bisa menampung 15 orang saja. Dan lantai dua mungkin sekitar 20 orang. Dua barista itu langsung tersihir dengan kecantikan Laura. Laura memang gadis yang lumayan cantik dan wajah yang manis, dia sudah terbiasa mendapat respon seperti ini. Dia mencoba menghampiri dua barista itu dan menanyakan dengan sopan dimana tempat interviewnya. "Pagi mas, maaf mau nanya kalau mau interview dimana yah?" tanya Laura sambil tersenyum berusaha untuk sopan dan ramah, mungkin saja mereka berdua menjadi rekan kerjanya nanti. "Ohh mau ngelamar kerja yah, kebetulan bos sudah datang. Boss ada di lantai dua, naik aja!" perintah laki laki yang biasa di panggil Herman itu. "Oh gitu … Makasih yah!" ucap Laura sambil berjalan menuju tangga coffee shop tersebut. Entahlah karena kesopanan atau wajah cantik yang dimiliki Laura, dia memang menjadi pusat perhatian saat ini. Dua barista dan dua pengunjung laki laki disana terus menatap Laura tanpa berkedip. "Mudah mudahan kamu diterima yah, biar aku tambah semangat kerjanya!" teriak Herman. Temannya langsung memukul pelan punggung Herman dan tertawa. Laura hanya membalas tersenyum ke arah mereka. "Waduh ternyata bos nya langsung yang interview!" benak Laura dalam hati sedikit takut. Ternyata hanya ada satu orang disana, mungkin pria ini yang disebut bos oleh laki laki tadi. Laki laki berusia 40 tahunan, berwajah oriental dan memiliki tubuh berisi dan kulit yang bersih. Dalam pikiran Laura akan ada banyak saingan yang melamar pekerjaan disana. "Permisi pak!" ucap Laura pelan dan mencoba sangat sopan. "Kamu mau ngelamar kerja disini?" tanya pria berwajah chinese itu. "Iya pak!" ucap Laura sambil mengangguk. "Sebenarnya hari ini ada dua orang yang melamar pekerjaan disini, tapi yang satu lagi barusan telepon saya sakit dan nggak jadi melamar pekerjaan disini!" ucap si pak boss. "Cuma dua orang pak yang ngelamar, saya kirain banyak!" ucap Laura keceplosan bicara. Dia langsung diam dan menutup mulutnya rapat rapat. Dia malu dan menunduk. "Kamu polos banget yah, silahkan duduk!" perintah pak boss yang bernama asli Rudi Hartono itu. Dia menyuruh Laura duduk di depannya. Di meja yang sudah dia siapkan untuk interview. Mereka berdua saling berhadapan, dan saling bertatapan. Tapi bukan suasana romantis kali ini. Saat ini benar benar saat yang menegangkan bagi Laura. Tatapan pak boss benar benar membuat jantungnya berdegup sangat kencang. Bahkan keadaan yang sedang dialami Laura saat ini lebih menakutkan dari adegan film horor yang sering ditonton Laura, tatapan si boss tersebut bahkan terasa sampai menusuk jantungnya. Menjadi sangat menegangkan karena si boss hanya menatap tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. "Kamu saya terima!" ucap pak boss kemudian. Membuat Laura bingung dengan ucapanya. "Saya enggak dites dulu pak?” tanya Laura masih bingung. "Gausah!" jawab si boss sambil tersenyum ke arah Laura. "Beneran pak?" tanya Laura lagi. Dia benar benar bingung kenapa dia bisa langsung diterima. "Iya benar. Kamu percaya nggak kalau saya bisa baca sifat dan karakter orang saat pertama kali ketemu?" ucap si boss. "Masa sih pak? Hebat banget!" ucap Laura heran, antara percaya dan tidak percaya dengan ucapan bosnya. "Saya ada keturunan paranormal soalnya!" ucap si boss bercanda. "Ohh pantesan!" jawab Laura dengan polos. Sikap bos yang baik dan sering tersenyum terhadap Laura. Benar benar membuat Laura merasa nyaman, padahal baru mengenal si boss hari ini. Si boss yang dari awal kelihatan pendiam malah tersenyum seperti menahan untuk tertawa melihat tingkah Laura yang polos. Laura heran apa yang membuat nya menahan tawa seperti itu. Apakah ada hal lucu yang membuat dia seperti itu. "Pak, saya belum ada pengalaman kerja dimanapun. Bapak yakin mau terima saja kerja disini?" tanya Laura. "Kamu itu beneran polos menurut saya. saya juga yakin kamu orang jujur. Saya cuma butuh orang yang jujur dan pekerja keras. Lagian saingan kamu juga tiba tiba mengundurkan diri tadi. Jadi cuma kamu yang ngelamar hari ini. Setelah saya melihat penampilan kamu, kamu juga cantik dan sifat kamu menarik. Jadi kamu pantas jadi karyawan saya!" ucap si boss menjelaskan mengapa dia menerima Laura bekerja disana. "Terima kasih pak. Saya janji akan rajin bekerja disini!" ucap Laura dengan senang. "Kamu boleh pulang, besok datang lagi pagi yah. Besok kita tanda tangan kontrak dan peraturan kerja disini!" ucap si boss. Laura memang bisa membuat orang suka terhadapnya pada pertemuan pertama, tentu saja karena wajah cantiknya dan kepribadianya yang menarik. Baru pertama bertemu saja, orang langsung tahu kalau dia gadis yang baik. "Siap pak!" jawab Laura dengan cepat, dia langsung berdiri dan meninggalkan bossnya. Dia berjalan dengan kecepatan diatas rata rata. Dia ingin meninggalkan tempat yang membuat jantungnya hampir copot itu, saking cepatnya jantungnya berdegup. Ini adalah pertama kali dia melamar pekerjaan. Dia menuruni tangga dan menghampiri mas barista yang tadi. "Mas, gue diterima bekerja disini. Makasih yah mas!" ucap Laura kepada Herman. "Wah selamat yah!" ucap Herman sambil menyalami nya. "Selamat yah!" ucap barista satu nya yang bernama Yudi. Laura meninggalkan coffee shop tersebut dan berniat pulang ke rumahnya. Dari kejauhan dia melihat anak kecil berpakaian kurang layak, bajunya lusuh dan sobek di bagian kiri. Dia menghampiri gadis berusia sekitar 6 tahun itu. Dia teringat dengan adiknya di rumah, yang juga berusia 6 tahun. Tetapi adiknya berjenis kelamin laki laki. Gadis itu duduk di bawah lampu jalanan di pinggiran jalan dekat coffee shop dia melamar pekerjaan. "Kamu ngapain?" tanya Laura. "Ngamen kak!" sambil menunjukkan ukulele yang dimilikinya. "Wah hebat kecil kecil sudah bisa main ukulele. Kakak aja enggak bisa main kaya gituan loh de!" Ucap Laura memuji gadis kecil itu, Laura merapikan rambut gadis kecil yang memiliki wajah manis dan cantik itu. Hanya saja tubuh nya kotor dan tidak terawat. Mungkin karena dia hidup di jalanan. "Kamu udah makan?" tanya Laura. "Belum kak!" jawab nya singkat. "Makan bakso Sama kakak yuk, kita cari bakso yang enak!" ucap Laura. "Nanti aja kak. Aku nungguin Abang aku, aku makannya bareng sama Abang aku!" ucap si gadis. Laura tidak menanyakan keberadaan orang tua gadis itu, bukan karena tidak peduli. Tapi dia takut membuka semenyakitkan apa kehidupan mereka hingga mereka hidup di jalanan seperti itu. Caranya berbagi kebaikan dan kebahagiaan adalah dengan menawarkan untuk memberikan makanan kepada gadis itu. "Yah padahal kakak mau makan bareng kamu, emang Abang kamu mana?" tanya Laura. "Maaf ya kak. Itu Abang aku kak!" sambil menunjuk seorang anak laki laki berusia 10 tahun sedang berjalan ke arah mereka dengan membawa sebungkus nasi dalam plastik yang ia bawa. Anak laki laki itu menghampiri Laura dan gadis kecil itu. Mereka berdua memang memakai pakaian yang lusuh dan kotor. Tapi Laura yakin hati mereka sangat bersih, dua anak kecil dengan mata yang sangat indah. Anak laki laki berusia 10 tahun itu tersenyum dan menghampiri adiknya. Sangat jelas terlihat sifat gentle darinya, dia sangat melindungi adiknya. Dia langsung bertanya siapa Laura. "Kakak siapa ... Kakak mau ngapain?" tanya anak laki laki itu sok jagoan dan berdiri di depan adik perempuannya itu. "Kakak cuma mau beliin makanan buat kalian, tapi kamu udah beli makanan yah!" ucap Laura berusaha lembut, karena sepertinya sang kakak tidak senang dengan keberadaannya. Mungkin mereka pernah mengalami kejadian yang tidak mengenakan sebelumnya. Laura mengambil sebuah dompet dari tas nya, ada dua lembar uang 50.000 di dalam sana. Dia mengeluarkan 50.000 dari dalam dompet nya untuk di berikan kepada mereka. Walaupun hanya itu uang yang dimiliki saat ini. Dia ingin berbagi kebahagiaan karena hari ini diterima kerja. "Jangan kak, uang nya besar banget!" jawab sang kakak. "Ambil aja kak. Nanti kita kasih mamah, mamah pasti seneng banget dapet uang warna biru kaya gitu!" ucap sang adik. "Iya dong. Diambil aja uangnya. Kakak ikhlas kok, kakak malah sedih kalau uangnya tidak diambil!" ucap Laura sambil menaruh uang di tangan sang kakak. "Makasih kak!" Ucap anak laki laki itu akhirnya mereka menerima uang tersebut. Laura memasukkan dompetnya dengan terburu buru dan meninggalkan mereka. Laura merasa sangat haus dan menuju ke sebuah minimarket. Dia terburu buru mencari minuman dingin. Dia menabrak seorang laki laki yang sedang berada di barisan makanan ringan, secara tiba tiba saja dia membalikkan badannya. Membuatnya yang sedang setengah berlari menjadi sangat kaget, apalagi wajah laki laki itu lumayan tampan. Dia memiliki hidung mancung dan alis tebal, serta kulit putih mirip aktor aktor Thailand. "Maaf!" ucap Laura karena memang dia yang salah. Dia berjalan sangat kencang, seperti berlari saat itu. Laura kembali berjalan ke arah lemari pendingin dan mengambil minuman teh dingin rasa apel di lemari pendingin dan buru buru menuju kasir agar segera bisa meminum apa yang baru saja dipilihnya. Dia sudah membayangkan betapa segar rasa minuman itu. Kasir menyebutkan total harga minuman itu, dia pun segera merogoh tas kecil yang sedari tadi dia bawa dan mengambil dompetnya. Isi di dalam tas hanyalah selembar uang 50.000 tadi. Dia heran kenapa tidak ada disana, dia bingung kenapa tidak ada dompetnya disana. Laki laki yang barusan bertabrakan dengannya keluar dari minimarket tanpa membayar, sepertinya dia tidak jadi berbelanja, karena tidak membawa apapun di tangannya. "Mba, maaf yah. Saya nggak jadi beli minumnya, dompet saya hilang!" ucap Laura. "Ya ampun kasian banget, yaudah bawa aja minumannya nanti saya yang bayar!!" ucap kasir minimarket tersebut. "Nggak usah... Makasih yah mba!!" ucap Laura sambil berpikir kemana dompetnya, kenapa bisa hilang. Apa mungkin laki laki tampan tadi yang mengambil dompetnya. Sekarang banyak modus pencopetan, bisa jadi dia memanfaatkan ketampanan untuk menghipnotis dan mencopet orang. Laura langsung berlari keluar dan berharap laki laki itu masih berada tidak jauh dari sana. Benar saja, laki laki itu sedang berada di pinggir jalan. Dia seperti sedang menunggu orang, tapi Laura yakin dialah yang sudah mengambil dompet nya. "Balikin enggak?" ucap Laura langsung membentak dan membuat pria tampan itu kaget dan bingung. "Balikin apaan?" tanya Pria bernama Hasta itu. "Loe copet kan, udah ngaku aja. Lo ngambil dompet gue kan. Bukan masalah uangnya, disitu banyak kartu penting yang harus gue urus nanti!" ucap Laura. "Wah rese Lo ya, nuduh nuduh orang sembarangan. Duit gue banyak, gue nggak butuh nyopet duit lo buat gue makan!" ucap Hasta membela diri. "Tadi di minimarket lo nabrak gue kan, terus sekarang dompet gue hilang. Kalau bukan lo siapa yang ngambil coba?" ucap Laura ngotot menuduh Hasta. "Setan kali … Lagipula coba lo inget lagi yah, yang tadi nabrak itu lo. Bukan gue yang sengaja nabrak!" ucap Hasta membela diri. "Bodo amat, balikin sekarang atau gue lapor polisi!" dengan segala cara Laura tetap kekeh menuduh Hasta agar mengembalikan dompet nya. Karena jika dompet nya tidak kembali, dia bingung gimana cara dia pulang nanti. Dia tidak memiliki uang sepeser pun. Uang tabungannya juga tidak bisa diambil jika tidak ada kartu debit milik Laura. "Laporin aja, emang gue salah apaan coba. Ayok mana gue anterin sekarang juga, cepetan jalan kita cari kantor polisi yang paling Dekat dari sini!" ucap Hasta. "Nih orang kok nggak ada takut nya sama sekali sih. Apa emang bukan dia yang ambil dompet nya!" benak Laura dalam hati dan terdiam sejenak. "Kakak!" panggil seseorang dari belakang Laura. Ternyata anak kecil yang tadi dia kasih uang. "Hai, kenapa?" tanya Laura. "Ini dompet kakak jatuh!" ucap kedua anak kecil tersebut. "Makasih yah!" ucap Laura kepada kedua anak itu. Laura langsung malu mendengar ucapan mereka, rasa nya ia ingin menghilang saja dari sana. Dia tidak tahu harus bagaimana saat itu, tapi dia masih ingat bahwa guru di sekolahnya selalu mengajarkan minta maaf jika kita memiliki salah.Jadi dia memutuskan untuk minta maaf kepada laki laki tampan itu. "Maaf yah udah salah menuduh!" ucap Laura menahan malu. "Kita nggak jadi ke kantor polisi, padahal gue nungguin di bawa ke kantor polisi dari tadi loh. Lagian mana ada copet cakep kaya gini!" ucap Hasta dengan percaya diri. "Iya maap!" ucap Laura pelan, tapi dalam hati tidak senang dengan sifat Hasta yang terlalu percaya diri itu. "Dia pikir dia ganteng banget kali yah,tapi emang ganteng sih!" ucap Laura dalam hati sambil menatap Hasta. "Jangan ngeliatin Mulu, nanti suka lagi!" ucap Hasta. Tidak berapa lama ada seorang laki laki menggunakan motor Harley-Davidson berhenti di depan Hasta. Sepertinya dia teman Hasta, mereka berdua terlihat seumuran. "Lain kali jangan asal nuduh gue sembarangan yah!" ucap Hasta tersenyum. Dia merasa lucu dengan kejadian yang baru saja terjadi. "Lagian yang mau ketemu sama dia lagi siapa!" Ucap Laura dalam hati. "Hai!" Sapa teman Hasta ke Laura. Laura hanya membalas tersenyum. ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN