Tangis Anthea pecah seketika. Dia menutup wajahnya yang memerah dan air mata yang mengalir membasahi wajah pucatnya. Gale bergerak mendekatinya, membuka kedua tangannya saat Anthea maju untuk memeluknya. Gale menundukkan kepalanya, berbisik di telinganya. "Aku tidak akan membiarkan mereka menyakitimu. Kau tidak bersalah." Gale merasakan tubuh Anthea semakin bergetar hebat. "Jangan menangis ..." Kepalanya mendongak ke atas, mendapati mata biru pucat itu menatapnya kosong. Wajah pucatnya kian bertambah pucat. Mereka bertatapan sebentar sampai Gale memutuskannya secara sepihak dan ia tidak lagi melihat sosok itu berdiri di depan sana. Sai tersenyum lirih di dalam mobilnya. Di depan kemudinya, hanya menatap dari kaca spion, dia bisa melihat semuanya. Dia melihat bagaimana wanita itu menangi

