Malam harinya, saat Amanda sudah tidur lelap di samping Lily, tiba-tiba dia mendengar ketukan pintu. Terpaksa gadis tersebut turun dari tempat tidurnya. Dia melihat ke dinding dan melihat jam yang sudah memasuki jam sebelas malam.
“Siapa, sih, yang datang malam-malam begini? Mengganggu banget!” gerutu Amanda. Dia semakin kesal kala orang itu semakin kuat mengetuk pintu.
“Iya! Sebentar!” sahut Amanda setengah berteriak.
Dia segera membuka pintu dan terkejut melihat beberapa pria berbadan kekar berdiri di depannya.
“Ada apa malam-malam datang ke sini? Sepertinya kalian salah alamat.”
Amanda berniat menutup pintu karena ketakutan melihat pria-pria yang beriris mata tajam itu. Namun, langsung ditahan oleh Axel.
“Di mana gadis itu bersembunyi?”
“Gadis? Gadis yang mana?” tanya Amanda heran.
Axel langsung menerobos masuk ke dalam. Di dalam kamar, dia melihat seorang gadis sedang diinfus dengan wajah yang sangat pucat.
Axel mendekat, melihat wajah itu dengan dingin. Segera ia menarik infus yang ada di tangan Lily sehingga sang empu menjerit kesakitan, darah segar berkeluaran. Lily sudah sadar sejak sore tadi.
“Sudah selesai main petak umpatnya. Ayo ikut aku!”
Axel menarik tangan Lily sehingga gadis tersebut langsung berdiri. Amanda yang tidak tahu apa-apa, tidak tahu harus berbuat apa.
“Amanda, tolong aku,” lirih Lily menatap sayu sahabatnya.
“Tuan, kalau kau membawa Lily saya akan menelepon polisi!” ancam Amanda. Namun, Axel dan anak buahnya malah tertawa.
“Silakan. Tapi sebelum itu kau harus mati dulu. Kau sudah berani menyembunyikan gadis kurang ajar ini!”
Axel mengkode anak buahnya. Melihat sang anak buah yang mengeluarkan senjata, Amanda langsung ketakutan.
“Tu—tuan, Amanda tidak salah. Aku yang datang ke rumahnya dan bersembunyi di sini, dia benar-benar tidak tau apa-apa. Ayo bawa aku dan hukum aku, bukan Amanda,” ujar Lily yang panik.
“Amanda, maafkan aku, ya,” ucap Lily merasa tidak enak karena sudah menempatkan Amanda pada posisi sulit.
“Tidak usah banyak drama!”
Axel kembali menarik tangan Lily, mendorongnya sehingga gadis tersebut terjerembap di dalam mobil. Lily hanya pasrah saja.
Axel melirik gadis yang di sebelahnya. Sudah pucat seperti mayat hidup, tetapi secuil upil pun dia tidak merasa kasihan, dia masih ingin membuat gadis tersebut tertekan. Lily menunduk sambil menghapus darah yang ada di tangannya.
“Punya nyawa berapa kamu sehingga menendangku dan ingin melarikan diri?!”
Lily hanya diam saja, menunduk sambil memainkan jemarinya. Baru mendengar suara Axel saja sudah membuatnya ketakutan dan tidak bisa berkata-kata lagi.
Axel yang kesal langsung menjambak rambut Lily sehingga gadis tersebut mendongak. Air mata Lily lolos begitu saja.
“Kamu tuli?!”
Lily menggeleng cepat. “Maafkan saya, Tuan. Maaf, tapi tolong jangan bawa saya ke tempat itu. Saya janji tidak akan lari lagi,” jawab Lily ketakutan. Bibirnya bergetar.
“Tapi, tempat itu sangat pantas untukmu,” bisik Axel.
Lily menggeleng. “Tuan, saya mohon jangan bawa saya ke sana lagi.”
Axel mendorong kepala Lily sehingga jambakan Axel terlepas.
Lily sudah sangat mengantuk, perlahan mata sayu itu mulai tertutup dan gadis tersebut ambruk di lengan Axel. Axel yang merasa risih langsung mendorong kepala Lily agar menjauh darinya.
Sesaat kemudian, mobil sport hitam itu sudah sampai di depan mansion besar. Segera Axel turun dan membuka pintu Lily, tetapi gadis itu masih terlelap.
“Heh! Bangun! Jangan harap kalau aku akan menggendongmu! Bangun atau aku akan menyarat paksa kau!”
Suara bariton Axel langsung membangunkan Lily, gadis tersebut langsung turun. Dia mengikuti langkah panjang pria kejam itu. Axel sudah masuk ke kamar, Lily berpikir sejenak, tidak mungkin dia sekamar dengan pria itu.
‘Tidak! Aku tidak mau lagi masuk ke kamar itu,’ batin Lily. Segera ia pergi dari sana.
Di ruang tamu dia melihat kalau ada sofa. Tanpa pikir panjang, Lily langsung ke sana. Dia benar-benar sangat mengantuk dan kepalanya juga masih sangat pusing. Lily merebahkan badannya di sana dan melanjutkan tidurnya.
***
Byurrr!
Lily langsung duduk ketika ada orang yang menyiramnya lagi dengan air. Kali ini bukan Axel, tetapi pelayan yang kemarin dia dorong.
“Bisa-bisanya kau masih tidur nyenyak saat semua pelayan yang ada di sini sudah bangun. Kau pikir kau ratu di sini? Cepat pel ruangan yang ada di sana!” perintah Netty.
Lily mengangguk, ia langsung mengambil ember yang berisi air itu dan alat pelnya. Dia segera memulai pekerjaannya.
“Selamat pagi, Tuan.” Pelayan itu menunduk hormat. “Ada yang bisa saya bantu?” sambungnya.
“Di mana, Lily?” tanya Axel yang duduk di sofa sejak tadi. Iris matanya memantau Lily, tetapi gadis tersebut tidak kunjung terlihat.
“Dia sedang mengepel di sana, Tuan,” jawab pelayan muda itu sesopan mungkin.
“Cepat panggilkan dia ke sini,” perintah Axel. Pelayan muda itu mengangguk, lalu pergi menghampiri Lily yang sedang sibuk mengepel di sana.
“Hallo, Lily,” sapa pelayan bernama Venny itu. “Tuan memanggilmu, dia sekarang sedang menunggu di ruang tamu,” sambung Venny.
Darah Lily langsung berdesir saat pelayan tersebut menyuruhnya ke ruangan tamu untuk menemui Axel. Padahal gadis tersebut sudah sangat bersyukur ketika pelayan yang menyiramnya tadi menyuruhnya mengepel di sini. Lily sudah sangat berharap kalau pagi ini dia tidak ketemu dengan Axel, tetapi kenyataannya ... sudah bisa Lily tebak pasti Axel sebentar lagi akan membalanya.
“Lily,” ucap Venny lagi.
“Ba—baik, saya akan ke sana,” jawab Lily terbata-bata.
“Ada apa, Tuan?” tanya Lily ketika sudah berada di ruangan tamu.
Axel melirik gadis yang ia cari sejak dari tadi.
“Cepat buatkan aku kopi,” perintah Axel. Lily langsung mengangguk cepat dan segera ke dapur untuk membuat kopi.
Lily merasa lega ketika pria iblis itu hanya mencarinya untuk membuat kopi. Setelah selesai, Lily segera memberikan kopi ini pada Axel.
“Tuan, ini kopinya.”
Lily meletakkan kopi panas tersebut di meja.
“Ini pakai gula?”
Lily mengangguk.
“Aku tidak suka kopi manis ....”
“Baik, Tuan.”
Lily kembali lagi ke dapur untuk mengganti kopi. Dia kembali menyeduhkan kopi tersebut tanpa gula. Setelah selesai, dia segera menjumpai Axel lagi.
“Tuan, ini kopinya. Saya sudah mengganti kopinya dengan yang baru,” ujar Lily. Axel melirik gadis itu dengan ekor matanya.
“Tadi aku bilang apa?”
“Tuan tidak suka kopi manis,” jawab Lily.
“Lalu kenapa kau memberikan aku kopi tanpa gula? Kapan aku menyuruhmu mengganti kopi yang tadi?”
“Maaf, Tuan. Maaf,” lirih Lily.
“Cepat bawa lagi kopi yang tadi!”
“Iya Tuan.”
Lily kembali lagi ke dapur dan membuat kopi seperti yang tadi, sedangkan Axel menyeringai di sofanya.
“Kita pemanasan dulu, ya, Lily,” gumam pria angkuh itu.
“Ini kopinya, Tuan.” Lily kembali meletakkan kopi tersebut di meja.
Axel segera menyeruput kopi itu dan mulutnya terasa terbakar karena minuman tersebut masih sangat panas. Axel langsung memuntahkan kopi itu.
“Sialan! Kau berniat untuk membunuhku?!” teriak Axel kesetanan sambil berdiri.
“Tidak, Tuan. Kopi itu memang panas karena harus melarutkan gulanya,” jawab Lily ketakutan.
“Jadi kau menyalahkanku?!”
Lily menggeleng cepat. “Tidak, Tuan. Maafkan saya.”
Axel mencengkeram pipi Lily sehingga mulut gadis tersebut terbuka. Segera Axel menyiramkan kopi itu ke mulut Lily.
“Aaaa! Panas-panas!” teriak Lily. Mulut dan bibirnya terasa terbakar, Lily mengeluarkan air matanya karena kesakitan.