Terenggutnya Kesucian

1178 Kata
Axel sudah sampai di mansionnya, dia melangkah cepat ke tempat Lily. Dia menyalakan flash ponselnya karena ruangan tersebut sangat gelap. Axel mencari Lily di kamar itu, tetapi tidak ada orang di sana. Mendengar suara langkahan kaki, perlahan mata Lily mulai terbuka. “Lily! Di mana kau?!” teriak Axel menggelegar. Dia takut kalau gadis itu melarikan diri lagi. “Sa—saya di sini, Tuan.” Lily keluar dari bawah meja itu. Dengan perasaan takut dia menghampiri Axel. Ketakutannya pun semakin bertambah ketika menghirup bau alkohol dari mulut Axel. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Axel menyeret Lily. Membawa gadis itu ke kamarnya. Axel mendorong kuat Lily sehingga terlentang di ranjang luas milik Axel. “Mau apa kau?” tanya Lily ketakutan saat Axel mendekatinya. “Sesuai dengan ucapanku, akan membuat hidupmu hancur!” Axel mengikis jarak di antara mereka. Pergerakan Lily sudah terkunci di sana, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi. Axel memberikan tanda kepemilikan di leher Lily sehingga gadis tersebut menjerit, sebab pria itu menggigit leher Lily. “Kau tidak usah sok suci, lagaknya seperti gadis perawan saja! Sudah berapa pria yang mencicipi tubuh anak pembunuh ini?” “Tuan Axel, tolong jangan dilanjutkan lagi!” teriak Lily memberontak. Namun, dia tidak bisa mengalahkan tubuh kuat Axel. Axel merobek baju Lily sehingga kancing kemeja Lily berjatuhan ke lantai. Lily semakin menangis ketakutan di sana. “Ini baru permulaan, Lily. Aku akan membalas semua perbuatan orang tuamu!” Axel mencium bibir Lily dengan kasar membuat gadis tersebut semakin memberontak. Axel benar-benar sudah semakin b*******h sehingga ia menulikan pendengarannya. Pria tersebut mulai membuka bajunya. Merentangkan kaki Lily, gadis tersebut semakin berteriak kencang ketika pria b******k itu memulai penyatuan. *** Malam itu merupakan malam paling bersejarah bagi Lily. Kesuciannya sudah direnggut paksa oleh pria b***t tersebut. Rasanya tubuh Lily sudah remuk, sebab pria tersebut menghujaminya dengan kasar tanpa memberikan Lily istirahat. Rasa sakit itu membuat Lily trauma. Sejak masuk ke mansion besar ini, entah sudah berapa banyak Lily menumpahkan air matanya. ‘Aku membencimu, Axel. Kau sudah melewati batasmu,’ batin Lily sambil melihat wajah pria yang sedang tidur di sana. “Aku sudah kotor. Tidak ada lagi yang bisa dibanggakan dari tubuhku. Pria berengsek itu memang keterlaluan.” Ingin sekali Lily keluar dari kamar Axel, tetapi kakinya sangat sakit. Sesaat kemudian, dia pun tertidur di samping pria yang sudah merenggut kesuciannya karena hari sudah memasuki dini hari. Pagi harinya. Seseorang menyiram Lily dengan air dingin sehingga gadis tersebut membuka matanya dengan lemah. Dia benar-benar kehabisan energi karena dari semalam dia tidak dikasih makan dan minum. Ditambah lagi perbuatan buas Axel. “Tuan putri, silakan makan,” ucap Axel. Membuat suasana semakin horor bagi Lily. Gadis malang itu menarik selimutnya sampai ke atas karena dia tidak memakai sehelai benang pung. “Cepat makan! Aku belum mengizinkanmu mati cepat! Ah, gadis sialan ini!” teriak Axel menggelegar. “I—iya, Tuan. Iya.” Cepat-cepat Lily duduk sambil menutupi tubuh polosnya. Secepat mungkin dia mengambil makanan yang ada di nakas itu. Karena ketakutan melihat Axel, tangan Lily pun bergetar sehingga makanan tersebut jatuh ke lantai. Axel semakin murka, dia langsung berdiri dan melangkah ke arah Lily dengan tatapan tajamnya. “Tuan, maafkan saya. Saya tidak sengaja. Maaf,” mohon Lily terisak. Dia sangat takut kalau Axel akan menghukumnya lagi. “Dasar gadis tidak tau diri! Rasakan sendiri, aku tidak akan memberimu makan!” marah Axel. Lily diam sambil menunduk, tidak berani menatap wajah Axel yang sedang sangat kesal itu. Seorang pelayan datang sambil membawa pakaian. “Tuan, ini.” Axel menerima pakaian itu, kemudian melemparnya ke arah Lily sehingga gadis tersebut terkejut. “Cepat pakai baju itu! Dan kau, pergilah!” Pelayan itu segera pergi meninggalkan Lily dan Axel. Melihat baju merah yang sangat seksi itu membuat Lily meneguk salivanya. ‘Kan kuhancurkan mental dan fisikismu,’ batin Axel sambil menyeringai. “Cepat pakai! Atau aku yang harus memakaikannya untukmu?!” sergah Axel lagi. “Tuan, apa tidak ada yang lain,” ucap Lily pelan. “Anak ini banyak maunya!” Axel langsung menarik selimut yang menutupi tubuh polos Lily. Namun, gadis itu terus menahannya. “Tuan, iya-iya. Aku akan memakainya.” “Kalau begitu cepatlah pakai, Bicht!” Lily langsung turun dari tempat tidur. Berjalan pelan ke kamar mandi. Di sana, Lily membersihkan badannya sebentar, lalu memakai baju yang sangat seksi itu. Lily berkaca di wastafel melihat dirinya. Banyak sekali warna-warna merah di sana. Hal itu mengingatkan Lily pada kebuasan Axel tadi malam. Lily menghapus air matanya, lalu keluar dengan langkah yang sangat pelan. Kakinya masih sangat perih dan ngilu. “Lamban banget!” Axel menarik tangan gadis itu sehingga ia harus berlari kecil. ‘Sakit banget,’ batin Lily. Axel mendorong Lily ke dalam mobil, lalu pria tersebut menjalankan mobil dengan cepat. Lily menutup matanya sambil memegang sabuk pengamannya. Sangat takut dengan lajuan mobil yang sangat cepat. Tidak memerlukan waktu yang banyak, mereka sudah sampai di depan sebuah rumah. Di sana terdapat banyak wanita-wanita berpakaian seksi juga. Lily menatap wajah Axel, sedang pria tersebut hanya diam saja. Axel membuka sabuk pengamannya, lalu turun dari mobil. “Tuan, kenapa kita ke sini?” tanya Lily ketakutan. Ia yakin, rumah itu pasti rumah bordil. “Tidak usah banyak bicara! Cepat keluar!” Lily menggeleng cepat sambil mengeluarkan air matanya. “Ahhh! Sialan ini! Haruskah aku selalu berbuat kasar agar kau menuruti perkataanku?! Apa kau sudah lupa dengan kata-kataku, jika kau masih ingin bernafas lakukan apa yang kuperintahkan!” “Aku lebih baik mati dari pada menuruti ucapanmu yang akan berakhir di rumah terkutuk itu!” jawab Lily setengah berteriak. “Banyak bicara!” Axel langsung menarik tangan gadis itu sehingga memberontak. Lily tidak mau masuk ke rumah itu yang akan berakhir menjadi wanita penghibur. Lily langsung menendang aset masa depan Axel sehingga pria tersebut kesakitan. Tanpa membuang waktu yang banyak lagi, Lily langsung melarikan diri. “Sialan! Mau ke mana kau?! Awas saja! Aku benar-benar akan membunuhmu, sialan!” teriak Axel sambil mengejar Lily. Lily terus berlari, mengabaikan sakitnya. Dia harus bebas dari Axel. Namun, Lily tidak tahu kemana dia harus pergi agar Axel tidak menemukannya lagi. “Manda? Iya, aku harus ke rumah, Amanda,” gumam gadis tersebut. Axel mengeluarkan ponselnya, lalu menelepon anak buahnya agar juga mengejar Lily yang mulai menghilang. Setelah berlari yang lumayan cukup jauh, Lily akhirnya sudah sampai di depan rumah kontrakan temannya. Tok! Tok! Tok! Terdengar suara decitan pintu, Lily pun tersenyum. “Ma—manda.” Bughk! Lily terjatuh dan tidak sadarkan diri lagi. “Lily! Lily! Heh, bangun. Kamu kenapa? Tolong!” Beberapa warga datang dan membantu membawa Lily masuk ke dalam rumah Amanda. “Dek, segera telpon dokter. Sepertinya temanmu ini sedang sakit karena wajahnya terlihat sangat pucat seperti mayat ....” “Iya, Buk.” *** Tidak lama dari itu, seorang dokter datang dan langsung memeriksa keadaan Lily. “Dok, bagaimana dengan keadaan teman saya?” tanya Amanda panik. “Teman Anda dehidrasi. Tenang saja, saya sudah memberikan obat melalui infus itu. Nanti jika temanmu sudah sadar, suruh dia minum yang banyak ya ....” “Baik, Dok. Terima kasih, ya,” ucap Amanda.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN