Bab 38 - Sesak Yang Tak Terkira

1620 Kata

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ Allah selalu memanggil lebih dulu hamba-Nya yang paling baik. Hilya pingsan setelah sebelumnya menangis keras lantaran nyawa anaknya tidak bisa tertolong. Dengan kepala yang bersandar di bahu Eliza, bibir Hilya terus mengucapkan nama putrinya. "Lubna ... Jangan tinggalkan Ibu, Lubna." Eliza tak kuat menahan tangis. Bukan hanya Hilya, dia juga ikut merasakan luka ketika mendengar bahwa Aiza sudah pergi meninggalkan mereka semua. Eliza juga harus merasakan luka lain, yaitu melihat Mario yang terluka lantaran telah kehilangan istrinya. "Lubna jangan tinggalkan Ibu, Nak. Apa mentang-mentang kamu sudah menghafal 30 juz Al-Quran kamu meninggalkan Ibu? Lubna ..." "... Lubna anak Ibu." Lalu tak lama kemudian, kedua mata Hilya terbuka, dia pun tersadar da

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN