Zain segera melaksanakan tugas yang diberikan oleh Hando. Ia tak pernah melawan apapun yang diperintahkan oleh lelaki paruh baya tersebut. Dengan tangan yang gemetar ia menaruh mesin ketik dan stempel yang diminta Hando ke atas meja. Jari-jemari lelaki itu mulai mengetuk beberapa abjad secara cepat di sana, Zain melihat hal itu dengan degup jantung yang cepat. Sedangkan Dea terkesan acuh karena tak ingin ikut campur dengan urusan kedua orang tersebut, bahkan Toni memilih keluar ruangan karena ia merasa bukan ranahnya berada di sana. “Sayang, taruh jempolmu ke tempat tinta tersebut. Lalu tempelkan di sini,” perintah Hando yang sedang mengulum senyum melihat hasil kerjanya. Alis Dea lantas mengkerut, “untuk apa Ayah?” “Lakukan saja. Nanti Ayah akan memberitahumu. Ini bukan kejahatan, hany

