Dea dan Devano saling bertatapan dalam diam, ia merasa ada petir antara mereka. Lelaki itu tak berkedip sama sekali membuat jantung Dea berdetak semakin cepat. Dia merasa seperti terhipnotis oleh tatapan tajam dari mata Devano. “Masuklah Nak,” ucap Hando dengan senyum ceria. Akhirnya pupil wanita itu berani bergerak ke arah lain karena suara penghuni kamar. Kakinya melangkah dengan anggun menuju pasien yang hendak ia antar pulang. Mulut wanita itu lantas terbuka, melontarkan pertanyaan pada Hando. “Bagaimana keadaan Ayah?” “Lebih baik dari sebelumnya,” jawab Hando dengan lembut. Mendengar jawaban itu membbuat hati Dea lega, ia lantas menambah pertanyaan. “Hari ini ayah pulang sama aku?” “Tentu Sayang. Daritadi ayah menunggu kedatanganmu.” Netra lelaki paruh baya itu berbinar menatap

