Episode 3 : Mantan Yang Kembali Datang

1112 Kata
Seorang wanita cantik berjalan menyusuri kantor polisi tersebut. Wajahnya yang cantik dan aroma parfumnya yang sangat wangi benar-benar manarik perhatian para polisi yang berada disana. Wanita itu berjalan menuju ruangan Detective Thomas setelah menanyakan kepada petugas di depan dimana ruangan Detective Thomas berada. Detective Thomas ketika itu sedang berbincang dengan Detective Henry, seorang Detective baru yang bertugas di kota San Quero. "Masuk!" sahut Detective Thomas ketika mendengar suara pintu ruangannya diketuk dari luar. Wanita itu segera masuk setelah mendapat sahutan dari dalam ruangan tersebut. Klik! Pintu terbuka dan aroma yang sangat wangi langsung menyebar bersamaan dengan masuknya wanita cantik tersebut. "Apa anda Detective Thomas?" tanya wanita itu yang ketika itu belum memperkenalkan diri dan langsung mengajukan pertanyaan. "Anda betul nona! Aku Detective Thomas dan anda tidak salah orang," jawab Detective Thomas sembari tersenyum. Henry menoleh ke arah wanita itu dan dari aroma parfum yang dia cium, aroma itu sangat familiar di hidungnya. Wanita itu tanpa sengaja juga melirik ke arah Henry dan keduanya saling beradu pandang. "Kau!" seru keduanya serentak. "Hei! Apa kalian berdua saling mengenal?!" seru Detective Thomas sambil bertanya dan merasa heran. "Dia... Dia Elisabeth, temanku semasa sekolah dulu," jawab Henry. "Begitu rupanya. Baiklah Nona Elisabeth, anda ingin bertemu dengan ku atau mencari pemuda ini?" tanya Detective Thomas. "Tentu saja saya ingin bertemu dengan Anda Detective Thomas," jawab Elisabeth. "Kalau begitu sebaiknya saya pergi dulu," ucap Henry sambil bangkit dari tempat duduknya. "Tidak usah! Kau tetap disini saja," cegah Detective Thomas. "Silahkan duduk Nona Elisabeth," ujar Thomas mempersilahkan wanita cantik itu untuk duduk. Elisabeth duduk di kursi dan bersebelahan dengan Henry. "Terima kasih," ucap Elisabeth. "Katakan ada keperluan apa anda mencari ku?" tanya Thomas. "Saya tidak tahu harus memulai dari mana tapi yang saya rasakan akhir-akhir ini adalah sebuah rasa takut yang menghantui," jawab Elisabeth. "Rasa takut yang menghantui? Seharusnya anda datang ke psikolog bukan ke kantor polisi nona," ujar Thomas. "Ini bukan rasa takut soal penyakit Detective," ucap Elisabeth. "Lantas hal apa yang membuat anda merasa ketakutan? Apa anda sudah melakukan sebuah kesalahan?" selidik Detective Thomas. "Saya baru saja mendapatkan kabar dari pengacara keluarga saya tentang perihal harta warisan yang mana harta warisan keluarga itu jatuh sepenuhnya ke tangan saya," ucap Elisabeth. "Itu bukanlah hal yang harus anda takuti nona. Bahkan seharusnya anda senang akan menjadi orang yang kaya raya," sahut Detective Thomas. "Kalau boleh tahu, anda dari keluarga mana dan sebanyak apa harta yang akan anda dapatkan itu?" tanya Detective Thomas. "Contreras, Nama saya Elisabeth Contreras dan ayah saya bernama Romano Contreras," jawab Elisabeth. Jawaban yang membuat Detective Thomas terkejut sambil menutup mulutnya yang terbuka lebar. "Romano Contreras? Seorang multi miliuner dan seorang pengusaha yang sukses diberbagai bidang bisnis," desis Detective Thomas masih tidak percaya. "Itu benar Detective," sahut Elisabeth sambil mengangguk pelan. Henry sendiri menoleh dan melongo mendengar bahwa Elisabeth merupakan seorang pewaris dari keluarga yang sangat kaya raya. "Aku tidak tahu jika kau adalah putri dari orang yang sangat kaya raya," ucap Henry pelan. "Karena kau tidak pernah bertanya kepada ku," jawab Elisabeth. "Apa ketakutan mu itu menyangkut kematian Tuan Romano yang tidak wajar itu?" tanya Detective Thomas. "Betul Detective," jawab Elisabeth singkat. Detective Thomas membuka file dan laporan tentang kematian Romano Contreras. "Tuan Romano tewas karena ada kandungan racun dalam insulin yang disuntikan ke tubuhnya. Saat ini Dokter yang menangani Tuan Romano masih diperiksa namun tidak ditemukan bukti cukup untuk menjerat sang Dokter," ucap Detective Thomas setelah membaca laporan kematian Romano Contreras. "Jika apa yang disampaikan oleh Pengacara itu benar bahwa harta warisan ayah jatuh sepenuhnya ke tangan saya, saya tidak ingin ada prasangka buruk dari kedua saudara laki-laki saya atas meninggalnya ayah kami. Saya tidak ingin ada perpecahan di dalam keluarga setelah pembacaan wasiat dilaksanakan. Jadi, saya datang untuk meminta bantuan anda Detective," ucap Elisabeth panjang lebar. "Jadi pada dasarnya anda takut kedua saudara laki-laki anda curiga bahwa anda adalah pelaku pembunuhan ayah kalian? Apa lagi seluruh harta warisan itu akan jatuh ke tangan anda, bukan begitu?" terka Detective Thomas. Elisabeth menjawab dengan anggukan. "Bagaimana Tuan Parker?" kali ini Detective Thomas bertanya dan melirik ke arah Henry. "Apanya yang bagaimana Pak?" Henry balik bertanya. "Berhubung kalian berdua sudah saling mengenal jadi kasus ini akan aku serahkan kepada mu saja," ucap Detective Thomas. "Saya siap pak!" seru Henry dengan semangat. "Jadi Nona Elisabeth, apa pun yang menyangkut kasus Tuan Romano Contreras akan diurus oleh Detective Henry Parker mulai hari ini," ujar Detective Thomas. "Terima kasih Detective," sahut Elisabeth. Detective Thomas hanya tersenyum dan mengangguk menimpali ucapan Elisabeth. ***** "Aku benar-benar tidak tahu bahwa kau adalah anak orang kaya dan akan mewarisi seluruh harta warisan dari ayahmu," ucap Henry sambil berjalan keluar kantor polisi. "Jadi setelah mengetahui akan hal itu apa kau menyesal sekarang?" tanya Elisabeth sambil mendelik. "Menyesal? Untuk apa aku menyesal?" Henry malah balik bertanya. "Ya menyesal karena dulu telah meninggalkan aku," jawab Elisabeth. "Apa? Aku yang meninggalkan mu? Apa itu tidak salah?" tanya Henry dengan sengit. Langkah keduanya terhenti di pelataran parkir dimana seorang sopir telah berdiri disamping sebuah mobil mewah sambil membukakan pintu. Elisabeth lantas memberikan kartu namanya seraya berkata, "Ini kartu namaku dan disana tertera alamat rumah ku. Datanglah dan lakukan tugas mu sebaik-baiknya," Henry menerima kartu nama itu dan memasukan ke dalam saku tanpa membaca kartu nama itu terlebih dahulu. "Baiklah," sahut Henry singkat. "Aku pamit dulu karena masih banyak pekerjaan yang harus aku urus." tutup Elisabeth. Henry cuma mengangguk pelan dan menatap mobil mewah itu meninggalkan dirinya yang masih berdiri terpaku di pelataran parkir itu. "Nampaknya ada suatu hubungan serius antara kau dan Nona Elisabeth itu," terdengar suara seseorang dari belakang. Henry menoleh dan sedikit terkejut karena yang berbicara adalah atasannya sendiri yaitu Kapten Thomas. "Dia... Dia hanya teman waktu kami sama-sama sekelolah di sekolah menengah atas," ucap Henry. "Aku rasa hubugan kalian tidak hanya sekedar teman saja. Aku pun melihat kau lebih mengenal nona pewaris itu makanya aku menugaskan kau untuk menangani kasus ini," ucap Thomas. "Sebagai seorang bawahan tentu saya akan siap ditugaskan apa pun bentuk tugas yang anda berikan," sahut Henry. "Tapi kau harus ingat satu hal, bagaimana pun hubungan mu dengan nona pewaris itu dimasa lalu jangan pernah mempengaruhi apa yang sedang kau kerjakan dan kau selidiki. Tetap bertugas berdasarkan kebenaran walau itu berlawanan dengan perasaan hatimu," ucap Thomas mengingatkan. "Tentu kapten, saya akan melaksanakan tugas dengan seprofesional mungkin sebagai seorang polisi dan detective," balas Henry. "Bagus!" seru Thomas sambil tersenyum dan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir tidak jauh dari situ. Henry dan Elisabeth dulu adalah pasangan kekasih ketika mereka sama-sama sekolah di sekolah menengah. Akan tetapi ada satu hal yang membuat hubungan mereka berantakan dan berakhir begitu saja. "Sial! Kenapa harus dia yang datang?" gumam Henry bertanya-tanya sambil melangkah ke dalam kantor polisi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN