Komisaris Alcaraz memperhatikan Henry dengan seksama. Dia kembali memeriksa surat-surat yang dibawa oleh Henry yang diserahkan oleh petugas jaga.
"Kau cukup berprestasi di kantor polisi sebelumnya sehingga kau direkomendasikan untuk menjadi seorang Detective di kepolisian San Quero ini," ucap Komisaris Alcaraz.
Henry hanya diam dan menjawab dengan anggukan kepala saja.
"Semua pekerjaan yang kau lakukan semuanya bersih dan tidak ada catatan indisipliner sama sekali. Kau jadi Polisi biasa saja karena tugas Detective tidak cocok untuk polisi yang bersih tanpa cacat seperti dirimu," ucap Komisaris Alcaraz lagi.
"Apa maksud anda pak?" tanya Henry tak mengerti.
Komisaris Alcaraz menarik nafas sejenak lalu dia berjalan menghampiri Henry yang berdiri tegap di hadapannya.
"Aku tidak yakin jika kau bisa mengemban tugas menjadi seorang Detective karena pekerjaan Detective itu sedikit kotor bahkan rela melakukan apa saja untuk mentersangkakan seseorang," ucap Komisaris Alcaraz.
"Jelaskan apa yang membuat saya tidak cocok untuk menjadi seorang Detective pak," pinta Henry.
"Aku ingin menanyakan beberapa hal kepada mu, apa kau bisa menjawabnya," ucap Komisaris Alcaraz.
"Silahkan pak," sahut Henry.
"Apa kau bisa memukuli tersangka agar dia mau mengakui kejahatannya? Apa kau bisa meletakan atau menempatkan alat bukti palsu untuk menangkap seorang penjahat? Karena kadang Detective itu bisa melakukan hal-hal licik dan kotor untuk memecahkan sebuah kasus dan menangkan seseorang. Apa kau bisa melakukan hal seperti itu?" tanya Komisaris Alcaraz.
Henry diam sejenak dan dia pun menjawab,
"Jika ada cara lain mungkin saya akan menggunakan cara lain itu untuk mengungkap sebuah kasus tanpa memukul agar si penjahat mengaku. Mereka, para penjahat itu juga adalah manusia dan jika manusia diperlakukan dengan manusiawi, mereka pasti akan mengatakan yang sebenarnya dan mengakuinya tanpa kekerasan ataupun pemukulan bahkan meletakan barang bukti palsu,"
"Jawaban yang sangat menarik," ujar Komisaris sambil tersenyum.
"Terima kasih pak," sahut Henry.
"Kalau begitu, selamat bergabung di kepolisian San Quero," ujar Komisaris sambil mengulurkan tangan tanda bersalaman.
Henry menyambut uluran tangan itu dan mereka pun bersalaman.
Lalu Komisaris pun membawa Henry ke bagian kriminal yang mana atasannya adalah seorang Kapten polisi yang bernama Thoma De La Vega.
Thomas De La Vega sendiri adalah Detective senior di kepolisian San Quero.
"Kapten Thomas, perkenalkan ini adalah Letnan Henry Parker dia adalah Detective baru dan akan membantu tim yang kau pimpin," ucap Komisaris Alcaraz.
Henry pun memperkenalkan dirinya dihadapan Thomas.
Setelah sedikit berbasa-basi, Komisaris polisi itu pun kembali ke ruangannya.
"Detective Parker beruntung kau datang dan masuk ke dalam tim yang aku pimpin karena jujur sekali aku memang kekurangan anggota untuk saat ini," ucap Kapten Thomas.
"Terima kasih sudah diterima dengan baik Kapten," sahut Henry.
"Di tim ini hanya ada aku, Hanna dan Billy Hernandez. Sekarang ada kau jadi tim ini ada empat orang. Aku harap kau bisa bekerja sama dengan rekan-rekan mu yang lain," ucap Kapten Thomas lagi.
Henry memperhatikan sejenak ruangan yang tidak terlalu besar itu namun ada empat meja kerja di dalamnya.
Ada beberapa tumpuk map di atas meja dan lemari reot yang sepertinya tak kuat lagi menampung map-map atau berkas-berkas yang tersimpan di dalamnya.
"Saya akan mencoba untuk bekerja sama dengan baik di dalam tim anda Kapten," ucap Henry.
"Hanna dan Billy kemungkinan mereka akan datang sebentar lagi karena ada tugas penting yang sedang mereka kerjakan di luar. Jadi untuk saat ini kau rapikan saja ruangan ini dan kita lihat bagaimana perkembangannya dari mereka selanjutnya," ucap Kapten Thomas.
"Siap Kapten!" seru Henry dengan penuh semangat seperti biasanya.
Henry oun mulai merapikan ruangan tempat dia akan berkantor tersebut.
Sesekali dia melihat dari kaca ruangan dimana diluar sana tampak suasana sedikit riuh dan ramai.
Yang membuat Henry sedikit heran adalah seorang polisi yang berjalan lalu diikuti oleh beberapa orang kameramen yang merekam setiap gerak-geriknya.
"Itu adalah polisi seleb," ucap Thomas sambil tersenyum.
"Polisi seleb?" tanya Henry dengan wajah sedikit heran.
"Pria yang selalu diikuti oleh kameramen itu adalah Kapten Kenedy. Dia adalah pembawa acara dari sebuah acara yang bernama Polisi Sang Pelindung, konten mereka tentang kegiatan polisi yang melindungi masyarakat. Kadang juga meliput pekerjaan polisi yang sedang menangkap penjahat." terang Kapten Thomas.
"Saya baru tahu ada acara seperti ini," sahut Henry.
"Itu karena Kapten Kenedy bersahabat dengan salah satu produser stasiun televisi sehingga bisa membuat program seperti itu. Maklum saja ini demi memperbaiki citra polisi yang semakin buruk dimata masyarakat akhir-akhir ini," ucap Kapten Thomas.
Henry hanya mengangguk paham dan dia kembali melanjutkan pekerjaannya dan tidak memperdulikan lagi kegiatan rekam merekam yang sedang terjadi di kantor polisi tersebut.
*****
Di sebuah taman kota tampak sepasang suami istri sedang bertengkar hebat.
Keduanya tampak sedang beradu mulut dan sesekali saling tuding.
Tak sedikit juga kata-kata kasar keluar dari mulut mereka berdua.
Orang-orang disana hanya bisa menyaksikan tanpa bisa berbuat banyak sama sekali.
Sang suami berambut panjang pirang dan tubuh dipenuhi dengan tato.
Samar-samar dari pertengkaran mereka terdengar bahwa sang istri berniat hendak menceraikan suaminya itu.
Wanita tersebut sudah tidak tahan lagi dengan sikap dan perbuatan suaminya yang sering mabuk serta berbuat onar. Si suami juga sering keluar masuk penjara.
"Berani kau menceraikan aku, akan ku bunuh kau!" ancam si suami sambil berteriak.
"Kau hanya bisa mengancam saja! Jadi suami dan ayah pun kau tidak berguna! Malah lebih sering keluar masuk penjara karena ulah mu yang selalu berbuat kriminal!" balas si istri tidak mau kalah.
"Coba saja kau menceraikan aku!" kembali si suami membentak dan kali ini membuat gerakan seolah-olah hendak menampar istrinya.
"Coba! Coba saja kau tampar aku!" tantang si istri sambil menghadapkan wajahnya ke arah si suami.
Plaak!
Tanpa pikir panjang si suami pun melepaskan satu tamparan keras ke wajah si istri yang membuat tubuh si istri terhuyung ke samping.
"Jangan coba-coba menantang ku!" kembali si suami membentak keras.
Si istri menangis sambil mengusap-usap pipinya yang terkena tamparan tadi.
"Kau..." si istri menunjuk suaminya sambil terisak.
Namun ketika si suami kembali hendak menampar si istri, tiba-tiba saja...
Buuk!
Sebuah tendangan mendarat mulus di punggung si suami yang membuat tubuhnya terdorong dan jatuh terjerembab ke depan.
"k*****t! Siapa yang berani ikut campur dengan urusan ku?" si suami membentak marah sambil berbalik badan dan berdiri.
Belum sempat dia berdiri, pundaknya di injak kembali oleh orang yang menendangnya tadi sehingga dia kembali terlentang di tanah.
"Aku tahu siapa kau dan aku tahu kau juga baru bebas dari penjara satu minggu ini," ujar orang itu sambil terus menginjak bahu si suami.
"Aku bisa kembali menahan mu dengan tuduhan memperkosa nenek-nenek dan ku pastikan kau masuk penjara dalam waktu yang sangat lama jika kau kembali berbuat kasar terhadap istrimu itu!" ancam si pria.
"Letnan Hernandez," desis si suami mengenali orang yang menginjak bahunya tersebut.
"Kau Logan bukan? Kriminil yang kelas teri yang selalu berbuat onar di kota ini?" tanya Letnan Hernandez.
"I... Iya, aku Logan," jawab si suami sambil tertegun.
"Selesaikan urusan kalian tanpa kekerasan atau kau ku masukan lagi ke penjara dalam waktu yang sangat lama. Kau paham itu?" ancam Letnan Hernandez.
"Ba... Baiklah," jawab Logan.
Pria yang tadi tampak gagah sekarang mirip ayam sayur dan tak bisa berkutik di hadapan Letnan Billy Hernandez.
"Bagus," sahut Billy sambil melepaskan injakan nya dan berlalu pergi.