3. Arcane (1)

1433 Kata
Chapter 3 : Arcane (1) ****** HYUN Jinwoo adalah pemuda yang memiliki berbagai kelebihan. Dia bukan tipe yang sempurna, melainkan tipe pemuda ‘tidak sempurna’ yang disenangi oleh banyak perempuan. Dia biasa dipanggil Jinwoo, tetapi sejak beberapa waktu terakhir, julukan ‘Casanova’ telah melekat padanya. Dialah sang ‘Casanova Kampus’ di universitasnya. Dia mulai diberi julukan itu sejak ia sering terlihat menggoda para perempuan yang tengah mendekatinya. Paras yang tampan serta jiwanya yang bebas (berhubung dia adalah seorang pembalap andal yang sering mengikuti balap liar) pun ikut mendukung julukan tersebut. Jinwoo memang seorang pemuda yang berparas luar biasa. Wajahnya tampan, sangat mampu membuatmu kagum tiap kali kau melihatnya. Walau kau hanya melihatnya dari kejauhan, kau akan terpesona dan terpikat; kau takkan mau melepaskan pandanganmu darinya. Kau akan merasa seolah tersihir. Dia memiliki rahang yang tegas, hidung yang mancung, dan rambut hitam kecoklatan dengan style yang sangat cocok untuk wajahnya. Dia memiliki beberapa tindik di telinganya yang diberi hoop earrings. Dia punya lumayan banyak tato di leher sebelah kanannya dan juga di kedua area bahu hingga lengannya. Tubuhnya proposional; dia tinggi tegap, bahunya lebar, lengannya berotot dan banyak urat yang terlihat jelas di sana. Dadanya bidang dan perutnya six pack. Benar, dia memiliki tubuh yang sangat luar biasa. Tidak hanya itu, dia juga memiliki bibir yang seksi dan kedua bola mata yang sangat jernih. Sekarang mari kita bahas tentang ketidaksempurnaannya. Ketidaksempurnaan yang Hyun Jinwoo miliki adalah kenyataan bahwa dia terlihat seperti bad boy atau playboy yang hanya akan mempermainkanmu. Menidurimu hanya untuk bersenang senang; tidak akan menganggapmu serius. Ini lumayan didukung dengan kenyataan bahwa Jinwoo memang sering terlihat bersenang-senang dengan para perempuan dalam beberapa waktu belakangan. Dia yang sering ikut balap liar—dan bahkan dia selalu juara pertama di sana—itu juga sering terlihat asyik mengobrol dengan perempuan yang berbeda-beda di sirkuit balap liar tersebut. Dia hobi bersenang-senang dengan para wanita, dia sering minum alkohol, dia bertato dan bertindik, dia merokok, dan dia benar-benar merupakan tipe penakluk wanita yang tidak mungkin bisa kau buat bertekuk lutut. Tidak bisa diminta untuk ‘serius’ dan hanya setia kepadamu. Di luar seluruh ketidaksempurnaan itu, Jinwoo sebetulnya adalah pemuda yang cerdas. Dia suka bersenang-senang, tetapi otaknya terbilang cerdas. Hanya saja dia bukanlah kutu buku, jadi dia tidak begitu top di kampus dalam segi akademis. Dia bisa olahraga apa saja, didukung dengan tubuhnya yang atletis. Dia juga tidak pernah membolos di kampusnya, tetapi perihal ini sebenarnya ada beberapa faktor. Pertama, dia bukan orang yang tidak mau belajar; dia hanya berjiwa bebas. Kedua, dia adalah pewaris tunggal JA International, perusahaan multinasional milik ayahnya. Tidak lucu kalau seorang pewaris memiliki jejak pendidikan yang hancur. Ketiga, dia memiliki seorang kekasih bernama Seo Harin yang kuliah satu kampus dengannya. Tiga faktor itu adalah alasan Jinwoo tidak pernah membolos kuliah meski dia adalah manusia yang berjiwa bebas dan penuh dengan skandal. Kekasih Jinwoo, Seo Harin, adalah seorang gadis cantik yang sangat cerdas; dia tipikal gadis pintar yang terlihat begitu composed, berwibawa, dan mampu berusaha sendirian. Kulitnya putih, rambutnya sepunggung dan berwarna hitam kelam. Dia adalah jenis gadis yang pergaulannya hanya sebatas circle kecil dan tidak sering hang out ke mana-mana. Dia adalah seorang juara umum sejak masih sekolah dan dia juga menjabat sebagai Ketua Student Council di SMA-nya dulu. Dia sekolah di SMA yang sama dengan Jinwoo dan mereka mulai berpacaran di tahun terakhir mereka SMA. Hingga kini, di kampus pun, Seo Harin adalah mahasiswa top yang sering ikut olimpiade Matematika sana-sini. Dia anak yang rajin mengerjakan tugas kuliahnya dan selalu belajar sebelum ujian; hidupnya tertata dan terencana. Namun, kalau dibilang ambisius…dia sebenarnya tidak seambisius itu. Dia tidak setiap hari berkutat dengan buku. Sebenarnya, dia hanya kebetulan memiliki otak yang cerdas serta sifat yang rajin, tenang, dan mandiri. Jadi, secara natural, dia selalu diandalkan oleh orang-orang yang ada di sekitarnya. Akan tetapi, dunia memang se-plot twist itu. Dia dan Jinwoo bisa dibilang bagaikan Ying dan Yang, tetapi dari seluruh kemungkinan yang lebih masuk akal di dunia ini, mereka justru jadi sepasang kekasih. Hubungan mereka bahkan sudah terjalin selama lima tahun hingga kini. Namun, bukan berarti lamanya sebuah hubungan bisa menjamin kalau hubungan tersebut tidak akan hancur. Hubungan yang lama bukan berarti hubungan tersebut benar-benar baik-baik saja. ****** Dari kejauhan terlihat sebuah mobil sport berwarna merah yang mendekat ke keramaian orang-orang yang berdiri di pinggir jalan. Pakaian orang-orang tersebut bermacam-macam; ada orang yang memakai hoodie, ada yang memakai jeans jacket, ada yang memakai leather jacket, ada yang memakai kaus, dan ada juga yang memakai baju serta rok yang seksi. Para perempuan di sana kebanyakan memakai rok mini, baju tanpa lengan, dan sepatu boots berhak tinggi. Ada yang membawa racing flag, ada yang tertawa seraya mengobrol satu sama lain, ada yang bersorak demi menyemangati para pembalap, ada umbrella girls, dan ada juga yang sedang bermesraan. Suasana saat itu cukup riuh mengingat balap mobil sebentar lagi akan diadakan di area tersebut. Tatkala melihat mobil sport berwarna merah itu mulai datang dan mendekati kerumunan tersebut, orang-orang yang ada di sana spontan langsung bersorak kencang. Seakan sangat senang dengan kehadiran orang yang ada di dalam mobil itu; seakan kedatangan orang itu sangatlah mereka tunggu-tunggu sejak tadi. Mereka bersikap seakan balapan itu tidak akan seru jika orang tersebut tidak datang. Para perempuan yang ada di sana juga mulai berteriak histeris, bersorak, dan berdecak kagum. Mereka tergila-gila. Dari sorakan-sorakan itu, bisa ditebak bahwa mereka semua sedang memikirkan hal yang sama: This is the MVP. The butterfly of this race. The star of the day. Pintu mobil sport berwarna merah itu pun terbuka. Keluarlah sosok Hyun Jinwoo dari sana; dia disambut dengan sorakan yang lebih meriah daripada sebelumnya, terutama dari para perempuan. Pendukungnya amat ramai. Banyak orang yang langsung mendekati mobil Jinwoo dan mengerumuninya begitu dia turun dari mobil. Jinwoo menutup pintu mobilnya dan menerima sambutan dari orang-orang tersebut dengan senyuman yang semringah. Dia terlihat senang, begitu segar dan siap untuk mengikuti pertandingan hari ini. Sesekali Jinwoo tertawa dan menyambut salam yang berupa gerakan ‘tos’ dari teman-temannya. Mereka lalu saling mengangkat tangan mereka dan menepuk telapak tangan satu sama lain dengan akrab. “Yo, Jeooon!” “Heyyaa, Broo!” sapa yang lain. “Looks great today!” “Yes, I am,” jawab Jinwoo seraya tertawa. Mereka pun saling berpelukan sejenak dan mengobrol. Jinwoo duduk di kap mobilnya. Para perempuan yang mengerumuni Jinwoo itu pun mulai semakin mendekati tubuh Jinwoo; ada yang duduk di sampingnya, ada juga yang langsung menempelinya dan memeluk lengannya. Sebagian dari kenalannya yang ada di sana adalah teman-teman sekampusnya, baik itu senior maupun seangkatan. Ada juga yang dari kampus lain dan ada juga yang sudah bekerja. Banyak orang-orang pencinta balap mobil yang mengikuti acara balap liar tersebut. Dua perempuan yang menempeli sisi kiri dan kanan Jinwoo itu kini benar-benar semakin bergelendot pada Jinwoo. Mereka memeluk lengan berotot milik Jinwoo dan menekankan d**a besar mereka di sana. Salah satu dari mereka mulai mendekatkan wajahnya dengan genit ke leher Jinwoo. “Jinwoo, tampan sekali seperti biasa, Sayang.” Jinwoo menoleh ke arah perempuan itu. Tersenyum miring dengan tatapan yang menggoda, Jinwoo pun mendekatkan wajahnya ke wajah perempuan itu. Jemari Jinwoo menyentuh dagu perempuan itu, lalu Jinwoo berbisik, “Kaulah yang sangat cantik. Kok bisa kau terlahir secantik ini?” Setelah mengatakan itu, mereka berdua sama-sama tertawa pelan. Sebuah tawa rahasia di antara mereka berdua saja. Jika dilihat sekilas, mereka seperti sedang kasmaran dan saling tertawa malu-malu karena habis dirayu. Jinwoo juga memeluk pinggang perempuan yang satu lagi. Dari kejauhan, tampaklah seorang pemuda yang tengah berdiri bersama teman-temannya; dia telah memperhatikan Jinwoo sejak tadi. Dia adalah seorang pemuda yang rambutnya di-bleaching berwarna platinum blonde. Wajahnya tampan, perawakannya tidak terlalu tinggi dan tidak terlalu besar. Dia lebih ke arah kurus, sebenarnya, tetapi masih cukup berisi dan enak untuk dipandang. Wajahnya tampan, tetapi dia memiliki tipe wajah yang kelihatan lebih ‘lembut’ daripada Jinwoo yang wajahnya bertipe maskulin. Telinga pemuda itu bertindik, dia memakai anting-anting berwarna silver dan memakai leather jacket berwarna hitam kecoklatan. Dia memiliki dua tato, ada tato segitiga di bawah jempol kanannya dan ada tato bunga mawar di belakang telinga kirinya, yang tangkainya memanjang hingga ke leher. “Sungguh pemandangan yang memuakkan,” komentarnya. Matanya menatap tajam ke arah Jinwoo yang sibuk saling menggoda dengan para perempuan yang ada di kerumunan itu. Rahangnya mulai mengetat, tangannya hampir terkepal dan jempolnya mengusap jemarinya yang lain. Dia menatap ke arah kerumunan itu dengan penuh kekesalan sekaligus penuh dengan pertanyaan dan rasa heran. “…padahal dia sudah punya pacar, tetapi selingkuh terus,” lanjutnya. Teman-temannya yang sedang berdiri di dekatnya pun hanya tertawa pelan. “Yoonjae. Ini bukan pertama kalinya kau melihat dia seperti itu, ‘kan?” []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN