Chapter 4 :
Arcane (2)
******
PEMUDA itu, Lee Yoonjae, kemudian mendengkus. “Mau berapa kali dilihat pun, tetap saja aku tidak habis pikir. Pacarnya itu bukan tipe perempuan yang biasa-biasa saja. Dia berkualitas. Namun, apa-apaan yang pemuda itu lakukan di belakangnya?”
Salah satu teman Yoonjae itu lantas menepuk pundak Yoonjae dengan pelan. “Sudahlah. Jinwoo bukan orang yang mudah untuk dimengerti. Kadang-kadang dia membawa pacarnya ke sini dan dia benar-benar terlihat overprotective pada pacarnya. Sikapnya terlihat betul-betul berbeda jika kepada pacarnya; dia terlihat…sangat emosional. Namun, aku tak tahu apakah itu hanyalah aktingnya saja atau bukan.”
Teman Yoonjae yang lain pun ikut berbicara, “Pacarnya itu…yang namanya Seo Harin itu, ‘kan? Yang mahasiswa jurusan Matematika itu? Setahuku mereka sudah lama berpacaran. Banyak yang bilang begitu. Hubungan mereka cukup fenomenal sebab Jinwoo itu terkenal di mana pun dia berada. Seo Harin juga mahasiswi top kampus, setahuku.”
“Iya, nama pacarnya itu Seo Harin,” jawab Yoonjae. “Aku sudah pernah bertemu dan berkenalan dengannya. Walau dibilang Jinwoo terkenal atau apa pun itu, menurutku justru Jinwoo yang tak pantas untuknya.”
Temannya Yoonjae tertawa. “Kalau diperhatikan, Jinwoo memang takkan kelihatan menoleh pada perempuan lain jika pacarnya ke sini. Sungguh berbeda dengan sikapnya saat pacarnya tidak ada.”
“Iya.” Temannya Yoonjae yang satu lagi terkekeh. “Aku pernah lihat itu juga. Aktingnya luar biasa. Kalau ada pacarnya, dia kelihatan seperti pemuda yang bertekuk lutut, ‘kan? Dia akan mengekori dan mengawasi di mana pun Seo Harin berdiri. Namun, jika tidak ada Seo Harin, dia…”
“Bagaimanapun perbedaan sikapnya pada pacarnya atau bagaimanapun aktingnya, intinya dia itu hobi selingkuh,” tukas Yoonjae. “Hampir setiap hari kita semua melihat dia bermesraan sana-sini dengan banyak perempuan.”
“Iya, sih,” jawab salah satu teman Yoonjae lagi. “Memang sepertinya dia selalu bermesraan dengan perempuan lain. Apa dia sampai berhubungan seks juga dengan para perempuan itu?”
Teman yang satu lagi tertawa. “Bisa jadi. Soalnya memang sesering itu aku melihat dia menempel dengan perempuan lain selain pacarnya. Menempelnya itu tidak wajar. Dia juga orang yang bebas, jadi menurutku mungkin mereka sudah sampai berhubungan seks atau minimal sudah sampai make out panas.”
Yoonjae semakin mengetatkan rahang; giginya bergemeletuk. Luar biasa gila. Harin betul-betul harus meninggalkan Hyun Jinwoo. Pemuda seperti itu harus ditinggalkan atau Harin akan makan hati sepanjang hidupnya, menelan rasa pahit yang menghancurkan mental, lalu membuang-buang masa mudanya.
Tidak lama setelah itu, terdengar bunyi pistol pertama yang menandakan bahwa para pembalap harus mulai masuk ke mobilnya dan menuju ke garis start. Yoonjae pun mulai bersiap menuju ke mobilnya, setelah sebelumnya temannya menepuk pundak Yoonjae dan berkata, “Semangat, Bro!”
Yoonjae pun ber-tos dengan teman-temannya itu, lalu menyahut, “Oke.”
Yoonjae mulai berjalan menuju ke mobilnya yang sebetulnya terparkir tak jauh dari mobil Jinwoo beserta peserta-peserta yang lain. Pemuda itu berjalan seraya melihat ke arah Jinwoo yang sedang ber-tos—menggunakan kepalan tangan—dengan orang-orang yang sedang mengerumuninya. He looks so fresh and confident. Menurut Yoonjae sikap Jinwoo itu adalah sebuah keangkuhan. Yaa walaupun sebenarnya Yoonjae tahu alasan di balik kepercayaan diri Jinwoo. Pemuda itu memang bukan pembalap abal-abal. Dia top 1 di sini, dia mencetak rekor sebagai yang tak terkalahkan sejak dia baru masuk sebagai anggota. Dia juga tak pernah meremehkan pembalap lain atau pun menganggap sepele suatu arena. Dia serius menyukai dunia balap. Malah, dulunya dia adalah pembalap motor. Dia terbilang cukup baru berkecimpung dalam dunia balap mobil, tetapi dia mampu mengalahkan orang-orang yang sudah veteran.
Akan tetapi, hal itu juga berlaku untuk Yoonjae.
Yoonjae juga bukan seorang pembalap yang abal-abal. Dia senior, dia lebih dulu join di sini. Dia memang belum pernah mengalahkan Jinwoo, tetapi seringkali nyaris mengalahkannya. Kemampuannya semakin berkembang pesat seiring dengan berjalannya waktu dan dia mulai menyaingi Jinwoo.
Tatkala keduanya—Yoonjae dan Jinwoo—sama-sama membuka pintu mobil mereka, Yoonjae yang telah lama memendam rasa tidak sukanya tersebut mendadak ingin angkat bicara. Entah apa yang terjadi, tetapi hari ini rasanya Yoonjae ingin menyudahi perasaan gundahnya dan melakukan sebuah tindakan. Dia menoleh ke arah Jinwoo, memiringkan kepalanya, dan mulai tersenyum miring. Jinwoo yang menyadari hal itu pun lantas menoleh balik ke arah Yoonjae dan mengernyitkan dahi.
Setelah itu, tak ada angin dan tak ada hujan, Yoonjae tiba-tiba berbicara. Dia mengatakan sesuatu yang terdengar seperti sebuah petir di siang bolong.
“Mari kita bertaruh, Jinwoo,” buka Yoonjae, pemuda itu pun sedikit mengangkat dagunya, menatap Jinwoo dengan tatapan yang dingin. “Kalau aku menang, berikan Harin padaku.”
Tatapan mata Yoonjae kini benar-benar terlihat seperti sedang menantang Jinwoo. Matanya berkilat; dia menyeringai. Iya, inilah sumber kegelisahannya dan ketidaksukaannya selama ini. Seharusnya dari dulu saja dia mengatakan ini pada Hyun Jinwoo, seharusnya dari dulu saja dia mengonfrontasi b******n itu.
“Apa kau bilang?” tanya Jinwoo, ingin memastikan kalau pendengarannya tidak salah. Dia lalu menutup pintu mobilnya dengan cukup kencang. Dia kini sudah benar-benar menghadap ke arah Yoonjae, kedua alisnya menyatu dan matanya menatap Yoonjae dengan murka. Rahangnya mulai mengeras dan ekspresi wajahnya terlihat penuh dengan amarah. Akan tetapi, tidak, dia masih mencoba untuk memastikan bahwa telinganya tidak salah dengar. “What did you just say?!”
Dengan tatapan yang terlihat semakin menantang Jinwoo, Yoonjae pun mengulangi perkataannya sekali lagi dengan lebih kuat. Lebih terang-terangan. Penuh penekanan.
“Kalau aku menang, berikan Harin padaku.”
Sontak Jinwoo langsung berlari ke arah Yoonjae. Dia berlari secepat kilat, lalu dengan cepat dia menarik bagian leher baju Yoonjae dan meninju rahang Yoonjae hingga pemuda itu nyaris tersungkur. Tinjuan itu benar-benar kuat, tenaga Jinwoo yang luar biasa itu dibantu dengan amarahnya yang memuncak hingga ke ubun-ubun. Matanya nyalang, dia terlihat seperti seekor beruang yang sedang mengamuk karena diganggu. Sebenarnya, respons ini tidak sepenuhnya terduga. Orang-orang memang menduga bahwa Jinwoo setidaknya pasti akan marah atau kesal, tetapi tidak ada yang menduga bahwa Jinwoo ternyata akan luar biasa mengamuk seperti ini. Dia terlihat seperti kehilangan kendali. Untungnya Yoonjae masih mampu mengimbangi tubuh Jinwoo yang besar itu, jadi pemuda itu pun langsung kembali mendekati Jinwoo dan berencana untuk meninjunya balik. Mereka berdua hampir meninju satu sama lain kalau saja tidak ada orang-orang di sana yang langsung melerai mereka. Berbeda dengan Yoonjae yang hanya butuh dua hingga tiga orang untuk menariknya, Jinwoo butuh empat hingga lima orang untuk menahan tubuhnya. Dia seolah sedang dikuasai oleh iblis. Belum lagi tubuhnya yang besar dan tinggi.
“Sudah, Jinwoo, sudah! Kendalikan dirimu!” teriak salah satu pemuda yang sedang menahan Jinwoo, dia merupakan seorang senior di sana. “Ayo, lebih baik kalian berlomba melalui balapan saja. Kalau kau memang marah pada Yoonjae maka mengamuklah di pertandingan. Jangan kalian rusak acara pertandingan ini.”
Yoonjae tersenyum miring. Ia yang tadinya ikutan mengamuk pada Jinwoo itu pun mulai bisa mendinginkan kepala.
Iya, benar. Ayo kita bersaing.
Jinwoo yang masih menatap Yoonjae dengan penuh kemurkaan itu pun sontak melepaskan kedua tangannya dari orang-orang yang telah menahannya sejak tadi. Dengan penuh amarah, dia pun langsung berjalan ke arah mobilnya, membuka pintu mobil tersebut, lalu masuk dan menutup pintu mobil itu dengan kencang.
Yoonjae tersenyum puas. Dia akhirnya juga melepaskan diri dari orang-orang yang sejak tadi menahan tubuhnya, lalu dia mengusap darah yang keluar dari sudut bibirnya akibat ditinju oleh Jinwoo. Setelah itu, dia pun masuk ke dalam mobilnya dan mulai menjalankan mobil tersebut hingga ke garis start.
Tatkala semua mobil sudah sampai di garis start, ada seorang gadis yang membawa racing flag seraya berjalan ke tengah-tengah garis start. Gadis itu akhirnya berdiri di sana dan mengangkat bendera tersebut. Semua peserta mulai bersiap untuk menginjak pedal gas, berencana untuk langsung berkendara dengan kencang, terutama Yoonjae dan Jinwoo.
Gadis yang membawa bendera itu pun berteriak, “Ready?!”
Setelah itu, gadis tersebut menggerakkan bendera itu ke bawah…bersamaan dengan bunyi pistol sebagai pertanda bahwa balapan telah dimulai.
“GO!!” []