BAB 29

1096 Kata

Rumah. Sejak kembali dari pemakaman, Mas Kisam lebih banyak termenung. Tidak ada air mata. Hanya ada awan kelabu yang membayang di air mukanya—kelam. Aku meletakkan kopi s**u—yang aku tahu kesukaan Mas Kisam—di atas meja. “Minum dulu, Mas. Biar anget,” bisikku mengusap punggung tangannya. Mas Kisam mengangguk, tapi malah menggenggam tanganku. Aku membawa Mas Kisam ke pelukanku, mengelus rambutnya. Pasti berat kehilangan sosok yang menjadi tumpuannya selama ini. “Mas yang sabar, Ibu pasti sudah tenang di sana, di sisi Allah. Masih ada Citra yang akan selalu ada di samping Mas. Citra akan selalu ada.” Mas Kisam mengangguk lemah. Acara tahlilan Bu Rahma nggak dilaksanakan di rumah, tapi di masjid. Mengundang bapak-bapak kompleks. Sementara untuk konsumsi pembagian nasi berkat dikerjaka

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN